
"maaf Bu.. maaf..
saya tidak sengaja.."
karyawan berkacamata itu memohon
maaf kepada Fani karena telah
menjatuhkan kotak nasi nya.
"lain kali lebih hati hati kamu!"
tukas Dimas kesal.
"Mas.."
Fani menggenggam tangan Dimas
agar tak terlalu emosi.
"saya nggak apa apa kok..
kamu lanjut aja kerja nya.."
Fani segera masuk bersama Dimas.
Karyawan itu memperhatikan Fani
sangat serius.
"kenapa aku seperti pernah bertemu
dengannya di tempat lain?"
batin nya.
...~~~~...
Saat menuju kantin, Nurul tiba tiba
di hadang oleh Mei.
"aku mau bicara sama kamu!"
ia menarik paksa Nurul ke lorong
yang sepi.
"soal apa? orang tua mu?
soal latar belakang mu yang ternyata
HOAX??" ujar Nurul tersenyum sinis.
"heh..! pelankan suara mu!
puas kamu sekarang?
karena tau aku ini miskin
dan jauh di bawah kamu?!"
Mei malah tersulut emosi membayangkan
Nurul akan menyebarkan tentang
kebenaran keluarga nya.
"puas? untuk apa aku puas?
aku hanya merasa miris melihat
sikap mu. apa salah nya jujur
tentang keluarga mu?
apa mempunyai keluarga seperti
itu sangat menjijikkan bagi mu?"
ujar Nurul tajam agar Mei mau merubah
sikap nya, bukan nya dia tak tau
kalau selama ini Mei memperlakukan
orang tua nya dengan sangat buruk.
"lalu apa aku salah kalau ingin
terlihat seperti kalian?
aku terpaksa seperti ini karena
orang orang seperti kalian pasti
akan menginjakku jika berada
di lingkungan kalian dengan identitas ku."
"maka berdiri lah yang tegap
kalau kamu nggak mau terinjak."
Nurul menepis tangan Mei lalu
meninggalkan nya.
"aku juga tak pernah meminta
di lahirkan seperti ini..
seandainya bisa, aku pasti memilih
terlahir seperti kalian.
berlimpah kekayaan...dan..
memiliki orang tua yang utuh.."
lirih nya dengan mata berkaca kaca.
tentu saja dia mengatakan itu karena
tak tau bahwa di sekitar nya lebih banyak
orang yang lebih menderita, namun mereka
berhasil melewati nya dengan lapang dada.
Memiliki kehidupan sempurna, keluarga
yang utuh, dan berlimpah kasih sayang
adalah impian semua orang.
termasuk Mei yang merindukan
keutuhan orang tua nya.
Nurul yang selalu mengirim doa untuk
ibu dan ayah nya yang tak pernah terlihat.
serta El yang ingin mengenal seperti
apa sosok mama nya.
Perselingkuhan, *****, keegoisan.
pada awal nya akan membuat pelaku nya
merasa menang dan bahagia.
namun seiring berjalan nya waktu,
semua itu akan berubah menjadi
penyesalan yang amat besar.
penyesalan yang akan menghantui
mereka selama hidup atau pun mati.
Karena mereka lebih mementingkan
ke egoisan, ada hati yang terluka
karena harus menyaksikan pernikahan
dari hasil perselingkuhan.
ada hati yang hancur karena harus
kehilangan masa kecil nya.
dan ada hati yang harus menahan
rindu kepada orang yang bahkan
tidak ia kenali.
...~~~~...
Di rumah Rianti, dekorasi dan
perlengkapan lain nya tengah di tata mengikuti permintaan Nurul.
nuansa biru muda dan putih mulai
tampak mendominasi halaman luas itu.
ya, tinggal satu hari lagi waktu nya.
hari yang menentukan takdir hidup
Nurul dan juga Vino yang akan saling
mengikat janji awal untuk sampai
ke jenjang yang lebih serius yakni
pernikahan.
Vino berdiri di depan cermin sambil
memandangi wajah nya yang masih
terlihat gagah walau usia tak lagi muda.
"hhhfff.....
akhir nya, dia akan menjadi milikku.
aku berjanji akan membahagiakan nya.
hei kau!! jika kau membuat nya menangis
aku akan memotong lidah mu!"
ia menunjuk diri nya sendiri di cermin.
Sementara di kamar nya, Nurul sedang
gigit jari sambil termenung.
ia tak menyangka Vino tak gentar
dengan keputusan nya untuk melamar
padahal ia mengatakan kemarin bahwa
ia sudah tidak peraw@n.
"aahhh....!
padahal aku berharap pak Vino
membutuhkan waktu lebih lama untuk
berpikir. aku nggak nyangka dia
"Ran..."
"astaga...!"
lamunan Nurul langsung buyar
karena di kejutkan Vino.
"ngapain pak?"
"mau lihat kamu.."
Vino dengan santai nya duduk
di ranjang Nurul sambil melihat lihat
koleksi komik nya Nurul.
ia membuka komik bersampul merah
muda dengan banyak gambar hati
di depan nya. sudah bisa di pastikan
itu pasti komik percintaan.
"wahh.. kamu pasti banyak belajar dari
sini.." ujar Vino saat melihat banyak
adegan kiss tipis tipis di komik itu.
"mm.. dulu kami memiliki hobi yang sama"
sahut Nurul santai karena ia berpikir
Vino membicarakan tentang hobi
membaca nya.
Vino menutup komik itu lalu
memulai introgasi.
"berapa kali kalian melakukan nya?"
Sambil asik merapikan alat kosmetik
di meja rias nya, Nurul santai menjawab
"setiap bertemu kami melakukan nya.."
"kamu menikmati nya?"
"tentu saja.. sesuatu yang di lakukan
dengan pasangan itu selalu menyenangkan."
pikiran Nurul mulai curiga, seperti
ada yang tidak beres dengan pertanyaan
Vino. masa iya baca komik aja di persoalkan.
Sedangkan Vino, ingin sekali ia marah
kepada Nurul. tapi ya malu lah...
soal nya dia lebih parah kan.
"hhhfff... buku komik ini bagus..
beli di mana kamu?"
ia berusaha menenangkan hati nya.
"nggak tau, bang Bian yang beli.."
"ck.! saya tidak suka ada barang barang
dari mantan yang masih di simpan.
saya buang ya.."
ia berdiri menuju tempat sampah.
"sama..! Nur juga nggak suka.
jadi apa boleh anak bapak Nur buang??"
tukas Nurul, Vino langsung menghentikan
langkah nya.
"hah? kok El?"
"iya.. El kan juga peninggalan MANTAN
bapak kan? sama dong kaya buku
komik itu."
"El manusia Ran.. jangan di samakan
dong sama buku ini.."
sahut Vino tak terima.
"bapak aja bisa mencintai El tanpa
mengingat mama nya.
kenapa bapak ragu Nur bakal
susah move on cuma gara gara
buku itu? dengar ya pak. ini buku
edisi terbatas! ada tanda tangan nya tuh!"
"saya bisa pertemukan kamu sama
penulis nya. jadi saya tetap akan buang."
goda Vino sambil mengangkat buku
itu setinggi mungkin.
"ihhh!! nggak!!!"
Nurul melompat karena mengira Vino
akan benar benar membuang komik
itu. tapi karena tak menperhitungkan
bumper bagian depan Nurul pun
menabrak dada bidang Vino.
langsung berdiri lah belut listrik Vino
saat merasakan benda kenyal itu
terasa lembut membelai.
Sadar akan hal memalukan itu,
Nurul langsung panas dingin dan
berusaha pura pura tak menyadari nya.
"masih kencang ya.."
mulut losdol Vino mulai beraksi.
"apa..apa nya Pak?"
Vino tak menjawab, ia memandang
ke arah bukit jelly Nurul sambil
menggigit bibir bawah nya.
"Nur keluar dulu ya pak.."
ia langsung berputar badan karena
tau apa yang ada di pikiran Vino.
"tunggu!! berhenti di sana.."
Nurul langsung menghentikan langkah
nya, kaki nya pun gemetar karena
menduga hal yang tidak tidak.
"benarkah kamu sudah melakukan nya?"
"melakukan apa?"
"itu.. saya ragu karena saya perhatikan
seluruh tubuh mu masih terlihat
seperti gadis pada umum nya."
"hah?! ihhhs!! dasar orang tua mesum!"
rutuk nya kesal karena Vino ternyata diam
diam memperhatikan seluruh tubuh nya.
"jawab saja.. iya atau tidak?"
Vino mendekat sambil memainkan
lidah di dalam mulut nya.
"ya nggak lah!!!
emang bapak! ketemu perempuan
pinggir jalan juga mmmmh....!!"
c!uman maut dari lidah Vino
membuat Nurul tak bisa berkutik lagi.
hanya dalam hitungan detik lutut
Nurul sudah menggigil tak karuan
seperti ingin lepas.
"belajar lah menahan diri agar
tidak pingsan.. karena ini akan
menjadi kegiatan rutin kita...
bunda.." bisik nya sambil megecup
lembut daun telinga Nurul.
...*******...
Seharian jaringan mati total gara2
hujan geledek beb..
macam orang utan otoe seharian
nggak pegang hp๐
pengen pindah domisili jadi nya๐