Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 34: Keegoisan


"maaf Bu.. maaf..


saya tidak sengaja.."


karyawan berkacamata itu memohon


maaf kepada Fani karena telah


menjatuhkan kotak nasi nya.


"lain kali lebih hati hati kamu!"


tukas Dimas kesal.


"Mas.."


Fani menggenggam tangan Dimas


agar tak terlalu emosi.


"saya nggak apa apa kok..


kamu lanjut aja kerja nya.."


Fani segera masuk bersama Dimas.


Karyawan itu memperhatikan Fani


sangat serius.


"kenapa aku seperti pernah bertemu


dengannya di tempat lain?"


batin nya.


...~~~~...


Saat menuju kantin, Nurul tiba tiba


di hadang oleh Mei.


"aku mau bicara sama kamu!"


ia menarik paksa Nurul ke lorong


yang sepi.


"soal apa? orang tua mu?


soal latar belakang mu yang ternyata


HOAX??" ujar Nurul tersenyum sinis.


"heh..! pelankan suara mu!


puas kamu sekarang?


karena tau aku ini miskin


dan jauh di bawah kamu?!"


Mei malah tersulut emosi membayangkan


Nurul akan menyebarkan tentang


kebenaran keluarga nya.


"puas? untuk apa aku puas?


aku hanya merasa miris melihat


sikap mu. apa salah nya jujur


tentang keluarga mu?


apa mempunyai keluarga seperti


itu sangat menjijikkan bagi mu?"


ujar Nurul tajam agar Mei mau merubah


sikap nya, bukan nya dia tak tau


kalau selama ini Mei memperlakukan


orang tua nya dengan sangat buruk.


"lalu apa aku salah kalau ingin


terlihat seperti kalian?


aku terpaksa seperti ini karena


orang orang seperti kalian pasti


akan menginjakku jika berada


di lingkungan kalian dengan identitas ku."


"maka berdiri lah yang tegap


kalau kamu nggak mau terinjak."


Nurul menepis tangan Mei lalu


meninggalkan nya.


"aku juga tak pernah meminta


di lahirkan seperti ini..


seandainya bisa, aku pasti memilih


terlahir seperti kalian.


berlimpah kekayaan...dan..


memiliki orang tua yang utuh.."


lirih nya dengan mata berkaca kaca.


tentu saja dia mengatakan itu karena


tak tau bahwa di sekitar nya lebih banyak


orang yang lebih menderita, namun mereka


berhasil melewati nya dengan lapang dada.


Memiliki kehidupan sempurna, keluarga


yang utuh, dan berlimpah kasih sayang


adalah impian semua orang.


termasuk Mei yang merindukan


keutuhan orang tua nya.


Nurul yang selalu mengirim doa untuk


ibu dan ayah nya yang tak pernah terlihat.


serta El yang ingin mengenal seperti


apa sosok mama nya.


Perselingkuhan, *****, keegoisan.


pada awal nya akan membuat pelaku nya


merasa menang dan bahagia.


namun seiring berjalan nya waktu,


semua itu akan berubah menjadi


penyesalan yang amat besar.


penyesalan yang akan menghantui


mereka selama hidup atau pun mati.


Karena mereka lebih mementingkan


ke egoisan, ada hati yang terluka


karena harus menyaksikan pernikahan


dari hasil perselingkuhan.


ada hati yang hancur karena harus


kehilangan masa kecil nya.


dan ada hati yang harus menahan


rindu kepada orang yang bahkan


tidak ia kenali.


...~~~~...


Di rumah Rianti, dekorasi dan


perlengkapan lain nya tengah di tata mengikuti permintaan Nurul.


nuansa biru muda dan putih mulai


tampak mendominasi halaman luas itu.


ya, tinggal satu hari lagi waktu nya.


hari yang menentukan takdir hidup


Nurul dan juga Vino yang akan saling


mengikat janji awal untuk sampai


ke jenjang yang lebih serius yakni


pernikahan.


Vino berdiri di depan cermin sambil


memandangi wajah nya yang masih


terlihat gagah walau usia tak lagi muda.


"hhhfff.....


akhir nya, dia akan menjadi milikku.


aku berjanji akan membahagiakan nya.


hei kau!! jika kau membuat nya menangis


aku akan memotong lidah mu!"


ia menunjuk diri nya sendiri di cermin.


Sementara di kamar nya, Nurul sedang


gigit jari sambil termenung.


ia tak menyangka Vino tak gentar


dengan keputusan nya untuk melamar


padahal ia mengatakan kemarin bahwa


ia sudah tidak peraw@n.


"aahhh....!


padahal aku berharap pak Vino


membutuhkan waktu lebih lama untuk


berpikir. aku nggak nyangka dia


"Ran..."


"astaga...!"


lamunan Nurul langsung buyar


karena di kejutkan Vino.


"ngapain pak?"


"mau lihat kamu.."


Vino dengan santai nya duduk


di ranjang Nurul sambil melihat lihat


koleksi komik nya Nurul.


ia membuka komik bersampul merah


muda dengan banyak gambar hati


di depan nya. sudah bisa di pastikan


itu pasti komik percintaan.


"wahh.. kamu pasti banyak belajar dari


sini.." ujar Vino saat melihat banyak


adegan kiss tipis tipis di komik itu.


"mm.. dulu kami memiliki hobi yang sama"


sahut Nurul santai karena ia berpikir


Vino membicarakan tentang hobi


membaca nya.


Vino menutup komik itu lalu


memulai introgasi.


"berapa kali kalian melakukan nya?"


Sambil asik merapikan alat kosmetik


di meja rias nya, Nurul santai menjawab


"setiap bertemu kami melakukan nya.."


"kamu menikmati nya?"


"tentu saja.. sesuatu yang di lakukan


dengan pasangan itu selalu menyenangkan."


pikiran Nurul mulai curiga, seperti


ada yang tidak beres dengan pertanyaan


Vino. masa iya baca komik aja di persoalkan.


Sedangkan Vino, ingin sekali ia marah


kepada Nurul. tapi ya malu lah...


soal nya dia lebih parah kan.


"hhhfff... buku komik ini bagus..


beli di mana kamu?"


ia berusaha menenangkan hati nya.


"nggak tau, bang Bian yang beli.."


"ck.! saya tidak suka ada barang barang


dari mantan yang masih di simpan.


saya buang ya.."


ia berdiri menuju tempat sampah.


"sama..! Nur juga nggak suka.


jadi apa boleh anak bapak Nur buang??"


tukas Nurul, Vino langsung menghentikan


langkah nya.


"hah? kok El?"


"iya.. El kan juga peninggalan MANTAN


bapak kan? sama dong kaya buku


komik itu."


"El manusia Ran.. jangan di samakan


dong sama buku ini.."


sahut Vino tak terima.


"bapak aja bisa mencintai El tanpa


mengingat mama nya.


kenapa bapak ragu Nur bakal


susah move on cuma gara gara


buku itu? dengar ya pak. ini buku


edisi terbatas! ada tanda tangan nya tuh!"


"saya bisa pertemukan kamu sama


penulis nya. jadi saya tetap akan buang."


goda Vino sambil mengangkat buku


itu setinggi mungkin.


"ihhh!! nggak!!!"


Nurul melompat karena mengira Vino


akan benar benar membuang komik


itu. tapi karena tak menperhitungkan


bumper bagian depan Nurul pun


menabrak dada bidang Vino.


langsung berdiri lah belut listrik Vino


saat merasakan benda kenyal itu


terasa lembut membelai.


Sadar akan hal memalukan itu,


Nurul langsung panas dingin dan


berusaha pura pura tak menyadari nya.


"masih kencang ya.."


mulut losdol Vino mulai beraksi.


"apa..apa nya Pak?"


Vino tak menjawab, ia memandang


ke arah bukit jelly Nurul sambil


menggigit bibir bawah nya.


"Nur keluar dulu ya pak.."


ia langsung berputar badan karena


tau apa yang ada di pikiran Vino.


"tunggu!! berhenti di sana.."


Nurul langsung menghentikan langkah


nya, kaki nya pun gemetar karena


menduga hal yang tidak tidak.


"benarkah kamu sudah melakukan nya?"


"melakukan apa?"


"itu.. saya ragu karena saya perhatikan


seluruh tubuh mu masih terlihat


seperti gadis pada umum nya."


"hah?! ihhhs!! dasar orang tua mesum!"


rutuk nya kesal karena Vino ternyata diam


diam memperhatikan seluruh tubuh nya.


"jawab saja.. iya atau tidak?"


Vino mendekat sambil memainkan


lidah di dalam mulut nya.


"ya nggak lah!!!


emang bapak! ketemu perempuan


pinggir jalan juga mmmmh....!!"


c!uman maut dari lidah Vino


membuat Nurul tak bisa berkutik lagi.


hanya dalam hitungan detik lutut


Nurul sudah menggigil tak karuan


seperti ingin lepas.


"belajar lah menahan diri agar


tidak pingsan.. karena ini akan


menjadi kegiatan rutin kita...


bunda.." bisik nya sambil megecup


lembut daun telinga Nurul.


...*******...


Seharian jaringan mati total gara2


hujan geledek beb..


macam orang utan otoe seharian


nggak pegang hp๐Ÿ˜‘


pengen pindah domisili jadi nya๐Ÿ˜Œ