Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 28: Berangkat


Pagi pagi sekali Nurul dan Vino tengah


bersiap siap untuk mengantarkan Ayu ke


tur wisata nya. tak lupa si tuyul El juga


ikut karena ia takkan mau di tinggal


ayah bunda nya.


"memang nya kita nginap bunda?"


tanya El saat melihat Nurul menyiapkan


beberapa baju untuk nya.


"nggak sih, cuma jaga jaga aja soal nya perjalanan kita jauh.."


tiga jam perjalanan, yang berarti jika


pulang balik memakan waktu 6 jam


itupun kalau tidak macet nanti di tol


karena ini akhir pekan.


"sini..." baru saja hendak membantu El


memasangkan sepatu nya ternyata El sudah mengikat tali sepatu nya dengan sangat rapi. seperti nya Nurul lupa kalau El sudah terbiasa mandiri.


"bunda..


pagi ini El belum di cium loh hehe.."


ia menagih jatah hariannya yakni mendapat kecupan hangat dari sang bunda.


"oh iya.. sini...


mwahh.. mwahh.." senyum dan kecupan


lembut Nurul menjadi Vitamin


tersendiri untuk El.


Vino datang memeriksa persiapan El.


"El,sudah siap?? eh ada Ran."


"bapak gimana sih, mau pergi anak nya


di suruh siap siap sendiri."


ujar Nurul memarahi Vino.


"dia sudah biasa kok.. ya kan El?"


Vino menjentikkan jari dan mengedipkan


mata ke anak nya.


"iya dong.." sahut El semangat.


"ayah, El tadi minta cium sama bunda..


ayah tidak mau??" celetuk El, ia menganggap ciuman adalah hal yang wajar karena menganggap bunda dan ayah nya bersaudara.


Vino tersenyum kecil menatap Nurul


seakan mengatakan kalau diri nya


siap kok di cium. sedangkan Nurul ia langsung salah tingkah mendengar kepolosan El.


"El, lain kali jangan begitu ya..


ayah dan bunda itu nggak boleh cium cium


seperti bunda dan El karena kami bukan


anak anak.."


tutur Nurul lengkap dengan penjelasan


agar El tak bingung dan banyak bertanya.


"kenapa?? tapi El lihat papa Dimas cium mama Fani kemarin. kok bunda sama ayah tidak boleh..?"


"hh.. kakek tua itu memang tak pernah


lihat tempat kalau mesra mesra-an."


batin Vino.


"karena mereka sudah menikah El.."


jawab Vino. entah El atau mengerti atau tidak.


"ayah sama bunda kenapa tidak menikah saja..? biar bisa cium cium juga.."


El semakin banyak bertanya karena rasa


penasaran nya.


"wwuuhh...


anak ayah ini memang banyak bertanya.."


ia segera mengambil tas El dan menggendong nya.


"ayo kita berangkat.. bunda.."


ucap Vino sambil menggandeng


tangan Nurul.


"i..iya.."


Nurul sampai keringat dingin,


setelah di pojok kan El dengan


pertanyaan pertanyaan nya, kini ia


harus menahan jantung yang hampir meledak karena tatapan Vino pada nya.


...~~~~...


Di dalam mobil, El dan Ayu asik bercerita


di belakang, sedangkan Vino dan Nurul


hanya diam. entah kenapa suasana jadi


terasa canggung semenjak kejadian


kemarin dengan Bian.


"Pak.. di SPBU depan berhenti ya, Ayu kebelet BAB." pinta nya sambil memegangi perut.


"oke.." sahut Vino.


Setelah beberapa menit, mereka pun


sampai di SPBU. Ayu segera berlari


karena sudah di ujung peluru, sedangkan El,


ia tertidur pulas karena angin semilir yang ia dapat sepanjang jalan.


ya memang harus di buka kaca mobil nya.


jika tidak, Ayu akan mabuk dan sudah pasti


tak bisa melanjutkan tur nya.


"Ran.. kamu kenapa diam saja?"


"hmm? emang harus nya gimana pak?"


"ya ngobrol gitu.."


"kan bapak nggak ngajak ngobrol."


sahut Nurul tanpa menatap Vino.


"sekarang kita bagaimana?"


tanya Vino lagi.


"bagaimana apa nya pak?"


"kamu sudah putus dengan Bian,


bisa kita mulai memikirkan hubungan kita?"


"eh.. iya sih, tapi.."


Tubuh Nurul seperti kesetrum saat


mendengar kata menikah.


"hah?!! nikah?


Nur masih muda banget loh pak.."


"tapi saya sudah tua.."


"tapi Nur masih kuliah.."


"apa tujuan kamu kuliah?"


"dapat gelar.. pekerjaan yang baik


dengan hasil memuaskan. cita cita.."


ya memang itu kan tujuan orang kuliah,


agar bisa menjadikan hobi dan


potensi nya sebagai ladang usaha dan


bisa melanjutkan cita cita nya.


"saya bisa memberi semua itu tanpa


membuat mu bekerja.."


"e.. nunggu Nur lulus dulu deh pak.


baru nanti Nur pikirin lagi."


memang bisa sih, kuliah dan menikah.


toh kelas nya hanya 4 kali dalam seminggu.


tapi bukankah merepotkan menjadi ibu


dan istri sekaligus sambil kuliah?


yang ia cita citakan adalah menjadi istri


dan ibu yang baik untuk keluarga nya kelak dengan menghabiskan waktu dan


mencurahkan kasih sayang sebanyak


mungkin.


"berapa lama lagi?"


"dua..tahun."


"apa?! kelamaan Ran.."


ekpresi wajah Vino seperti orang yang


kebagian antrian paling belakang.


udah capek nunggu, Eh ternyata


masih lama lagi gilirannya.


Nurul hanya bengong sambil kedip kedip


melihat ekpresi mengejutkan Vino.


ya memang kelamaan untuk Vino,


mengingat umur nya saja sudah 36 tahun.


namun bagi Nurul tentu dua tahun waktu yang ideal karena usia nya baru 21 tahun.


"dua bulan deh.. gimana?"


tawar Vino tanpa tedeng aling aling.


"hah?!! pak jangan buru buru ih..


Nur itu masih ingin fokus kuliah, lagian


dua tahun itu sebentar kok."


"Ran,saya bahagia sekali kamu mau


berencana menikah dengan saya..


tapi dua tahun kamu bilang sebentar?


kamu nggak pernah sih ngerasain berdiri


tengah malam..."


kata kata Vino berhenti saat ia menyadari


hampir membuka aib di depan Nurul.


"ngapain bapak berdiri tengah malam?"


Nurul menebak pasti lah Vino masih suka bergadang tanpa kepentingan.


Vino menaikkan bola mata nya ke kanan


dan kiri mencari alasan yang tepat.


"mm.. anu,, saya berdiri itu..."


sebringas bringas nya Vino, masih bisa


grogi jika di dekat Nurul apalagi jika


membahas hal yang sensitif.


Karena jawaban Vino yang terpatah patah,


Nurul pun jadi benar sangka. ya, bukan salah sangka karena prasangka nya memang benar.


"hhhaaah?? anu bapak berdiri?


tengah malam? maksut nya hhhhh!!?"


ia menutup mulutnya syok membayangkan


belut listrik Vino berdiri di tengah malam.


"sekarang kamu paham?


coba bayangkan, selama bertahun tahun


saya selalu memaksa nya tidur saat dia berdiri merindukan kehangatan, dan


dua tahun lagi?? sehari saja dia bisa


berkali kali bangun apalagi saat melihat mu.


bayangkan berapa banyak lagi saya harus menahan itu?"


kata kata Vino memang selalu lepas


tanpa filter, tak di pikirkan nya pikiran


Nurul yang panas dingin membayangkan itu.


"ya.. kenapa di tahan pak..


kan bisa di lepaskan sendiri.."


Nurul bermaksut tentang olahraga lima jari.


"wahh.. tampak nya kamu tau banyak.


apa Bian yang mengajari mu?"


sahut Vino kesal membayangkan Nurul


dapat ilmu lewat Bian.


"IPA. hal itu pelajaran sejak masih SMA kan?"


"ya.. saya.. sering..


t..tapi kan tidak senikmat anu.."


Vino panas dingin karena merasa tertangkap basah sering melakukan olahraga mandiri.


"jadi bapak ngajak nikah untuk


kepentingan anu semata??"


...*******...