Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 112: Rindu



Bian Vino


Dimas menatap bingung kepada semua orang di sana yang diam tak berkutik. ia tak menyadari gesekan besar antar tatapan Bian dan Vino yang menyebabkan seluruh ruangan menjadi terasa panas.


"waahh.. semua orang sedang berkumpul di sini.." ucap Dimas dengan santai nya.


Zey bergeser ke sebelah Vino agar Dimas duduk di dekat Fani.


"bagaimana keadaan istri saya pak dokter?"


Dimas menatap Bian, namun tak ada respon dari Bian.


"apa maksut mu tidak menganggu nya?! memang nya kau siapa?" ucap Vino tiba tiba, nada nya sangat ketus dan terdengar kesal.


"kenapa? anda kesulitan? perlu bantuan?"


sahut Bian dengan senyuman smirk nya.


"kau pun pengganggu di antara kami. jadi bisakah kau menyingkir saja?" ujar Vino.


"apa yang kalian bicarakan? apa ada hal serius yang terjadi di sini?" Dimas menyela pembicaraan panas mereka.


"Vino.. kau antarkan Zey pulang, jangan sampai dia di ketahui wartawan" perintah Dimas.


Vino langsung berdiri dengan kepala panas dan menarik tangan Zey keluar dari sana. sampai di pintu pun ia masih melirik ke arah Nurul berharap Nurul memandang nya tapi Nurul tetap bersembunyi dan tak berani menatap Vino, ia masih ingat persis waktu terjatuh di pangkuan Vino malam itu, dan itu sangat memalukan.


"bye Fani..." ucap Zey sambil melambaikan tangan.


"kau kenapa Vino? apa kau ada masalah dengan dokter itu?" Zey penasaran.


"iya.. masalah besar" sahut Vino malas.


"Vino.. mau kemana??" seru seorang wanita dari arah berlawanan yang tak lain adalah Duma.


ia datang untuk menjenguk Fani,karena selama di rawat Duma belum sempat menjenguk nya karena repot dengan urusan klinik nya.


Vino berbalik badan.


"mama?"


"kalian sudah mau pulang?" Duma bertanya kepada Vino tapi pandangan nya ke arah Zey seakan bertanya siapa dia.


Menyadari hal itu, Zey pun mengulurkan tangan dan menyapa Duma.


"hallo tante.. aku Zey, teman nya Vino"


"iya hallo.. saya mama nya Vino"


Duma menyambut jabat tangan nya Zey, namun wajah nya menunjukkan kalau ia tak suka dengan penampilan Zey yang sangat terbuka, terlebih ia bisa melihat bahwa Zey seperti nya pernah memakai obat terlarang.


"tante mau menjenguk Fani?" tanya Zey.


"iya nih, kalian sudah mau pulang?"


"iya tante, kita sudah dari tadi juga di sini.


Vin, kalau kau mau bersama mama mu aku pulang naik taksi saja" ucap Zey sungkan.


"jangan.. berbahaya kalau sampai orang orang tau"


"ma.. Vino antar Zey ya, sekalian pulang capek banget"


"iya.. hati hati ya.." Duma melemparkan senyum tipis kepada mereka.


"apa dia pacar nya Vino? cantik sih.. tapi kok..


ahh kalau mereka sama sama cinta ya peduli apa. soal penampilan bisa lah nanti di bilangin pelan pelan, yang penting cepet punya cucu hihihi..." batin Duma sembari mengikuti langkah Vino dengan pandangan nya.


...-...


...-...


"Aaak..." Dimas menyuapkan buah yang sudah di kupas nya.


"makan yang banyak sayang.. agar kuat dan cepet sehat" ucap Dimas.


Sebenarnya mulut Fani sama sekali tidak nyaman memakan buah buahan itu, tapi demi mencukupi kebutuhan vitamin dan gizi nya ia terpaksa mengunyah walau dengan rasa tak karuan.


Dimas: "Vino dan pak dokter kenapa sih sayang?"


Fani: "nggak tau Mas, selama sepuluh menit tadi mereka saling menatap dengan tatapan serem banget, Fani sampai bingung. apa mungkin Vino punya hutang sama pak dokter ya?"


Dimas: "nggak mungkin soal hutang sayang, kamu denger tadi kan ini soal menganggu. apa Vino menganggu pekerjaan dokter?"


Fani: "tapi kata nya 'dia' tadi, apa Vino menganggu pacar nya pak Bian?"


Dimas: "apa mereka menyukai orang yang sama?"


"mungkin Mas..


tapi yang kita tau Vino kan menyukai Nurul..


Hhh!! jangan jangan"


mereka berdua serempak menatap ke arah Bian dan Nurul yang sedang membahas hasil USG Fani, mereka tampak akrab dan saling tertawa membuat chimestry di antara kedua nya semakin manis dan hangat.


"Mas setuju kalau memang iya.


kamu gimana sayang? dia lebih baik dari Vino kan?" bisik Dimas.


"wahh.. kalau ini Fani juga setuju banget..


ganteng,baik,pinter, uwaw lah pokok nya"


Fani berbinar menatap kearah Bian yang sangat bersahaja dengan senyuman lembut nya.


"khmm!!


ganteng ya.. baik lagi.. apa lagi? ohh pintar?"


"Mas juga ganteng kok.. 10 kali lipat malah, baik nya jangan di tanya, pinter nya juara hehehe..."


"nak lihat mama kamu tuh, mata nya jernih banget kalau lihat yang bening bening"


Dimas mengelus elus sang anak di dalam perut.


"papa kamu yang paling ganteng kan nak?"


imbuh Fani, si dimdim pun langsung memberikan sundulan kepada orang tua nya.


mereka tertawa girang karena sundulan dimdim semakin lincah.


...~~~~...


"kau tidak mau masuk dulu?" tawar Zey kepada Vino.


"tidak.." Vino menjawab datar.


bukan nya sombong, hanya saja Vino takut terulang lagi adu tinju di antara mereka.


"baik lah.. hati hati ya.."


Zey turun dengan sedikit kecewa karena berharap bisa mengobrol sebentar dengan Vino.


Begitu masuk ke rumah nya, Zey segera membuka laptop nya dan menghapus Video Dimas yang di edit nya sendiri. ia takut jika lengah sedikit saja bisa bisa Video itu akan menghancurkan kebahagiaan Dimas dan Fani lagi.


"aku tidak menyangka Sean bodoh sekali, bukankah terlihat jelas jika ini editan. atau memang skill ku yang hebat hahahah..."


ia merasa senang sekali karena akhir nya bisa membalas perbuatan Sean.


"aku akan membeli rumah di suatu tempat lalu memulai kehidupan baru ku dengan uang ini..."


gumam nya tersenyum lebar. uang yang di maksut tak lain adalah uang Sean yang berhasil di rampas nya dengan cara halus.


...~~~~...


Malam hari Vino tak bisa tidur saat teringat wajah nya Bian yang menyebalkan.


"chh.. memang nya dia siapa? meminta ku untuk tidak menganggu Ran, dia sendiri nempel terus"


rutuk Vino kesal.


Setelah hampir satu jam berguling kekanan dan kiri, Vino berpikiran untuk mengirim pesan kepada Nurul.


"sudah tidur Ran?"


...•••...


Di seberang sana Nurul bingung harus bagaimana membalas pesan Vino. ntah kenapa saat membayangkan hal hal yang menyangkut Vino dada nya berdebar hebat serasa akan pingsan.


Nurul: "baru mau tidur pak.."


Vino: "kamu tidur di mana?"


Nurul: "di sini pak"


Vino: "di rumah sakit? atau di rumah?"


Nurul: "di rumah pak"


Vino: "sudah makan?"


Merasa tak ingin basa basi dengan Vino, Nurul langsung to the point.


"bapak ada perlu apa ngechat Nur malam begini?"


"saya rindu sama kamu, kenapa setiap ketemu saya kamu menghindar?"


Semakin kesini Vino tampak nya semakin blak blakan agar Nurul semakin peka.


"takut pak"


balas Nurul.


Vino tersenyum tipis melihat balasan pesan Nurul yang sangat jujur.


"chh.. dia benar benar tidak bisa menyembunyikan nya" gumam Vino.


Vino: "takut apa?"


Nurul: "takut aja.."


"aaggrhh.. aku ingin udara segar"


Vino keluar dari kamar nya menuju taman karena ia ingin menghirup angin sejenak.


"mau kemana Vin?" tanya Rianti saat keluar dari kamar Ayu, ia baru saja memeriksa keadaan si bungsu itu karena akhir akhir ini sering demam menjelang tidur.


"mau ke taman tante.. suntuk" sahut Vino.


ya, ternyata Vino tidur di rumah Dimas karena malas pulang ke rumah nya.


"ohh.. mau tante temenin nggak, siapa tau butuh temen cerita" Rianti bisa membaca raut wajah Vino yang seperti nya sedang galau.


"nggak tante.. Vino cuma mau ngerokok sebentar kok"


"ya sudah kalau gitu, jangan lupa tutup pintu nya"


Rianti pun kembali ke kamar nya.


Di sisi lain Nurul yang juga tak bisa tidur berniat menjenguk bunga bunga kesayangan nya di taman. biasa nya ia akan rileks jika melihat bunga bungaan yang sedang mekar itu.


pikiran nya kini tengah terusik dengan Vino.


"rindu kata nya? pak Vino kan sudah punya pacar, kalau tante Zey tau bisa di jambak aku"


batin nya bingung.


...**********...