
Mata Vino dan Nurul saling bertatapan, mereka seperti mengenang sesuatu yang sangat indah dari masa lalu. sesuatu yang tak pernah mereka lupakan berupa kenangan yang sampai kapan pun takkan pernah bisa lepas dari ingatan.
kenangan yang hanya bisa mereka rasakan, tanpa orang lain tau seperti apa sakit nya perpisahan tanpa memulai ikatan.
"gelang ayah sama bunda sama.."
El menunjuk kedua tangan mereka.
Seketika mereka berdua tersadar dan langsung melepaskan tangan mereka dari kemeja El.
"ayo sini sama tante, yuk kita pulang ayah..."
ucap Nurul tanpa sadar dengan kepala panas dingin, ia berlari kecil menuju parkiran sambil menggendong El.
"hh.. iya bunda.." lirih Vino dengan wajah tersipu.
...~~~~...
Di temani semilir angin malam, Nurul mengerjakan tugas nya di balkon paling atas sambil mendengarkan lagu kesukaan nya dari dalam laptop. lagu itu yang kerap di nyanyikan
nya bersama Bian saat di dalam mobil.
Nurul bernyanyi seolah sedang berduet dengan sang artis yang menyanyikan.
akan ku lakukan apa yang kau mau...
akan ku berikan seluruh hidup ku..
asal jangan kau pergi tinggalkan aku..
ku mohon padamu...
Kemudian di sahuti Vino yang entah dari mana dengan secangkir kopi di tangan nya.
Sadar kah diri mu.. kau langit bumi ku..
buka lah mata mu kau semua bagi ku..
asal jangan kau pergi tinggalkan aku..
ku mohon pada mu..
Nurul tersenyum tipis mengikuti Vino yang mengambil kursi lalu duduk di sebelah nya.
"El udah tidur pak?"
"hmm.." Vino mengangguk, ia menyeruput
kopi nya lalu menawarkan kepada Nurul.
"nggak suka kopi.." ucap Nurul geleng kepala.
"karena pahit?" tanya Vino.
"asam lambung..."
"hh.. kamu sekarang perhatian banget sama kesehatan. apa karena pacar mu dokter?"
"apa harus ada alasan khusus untuk sayang sama diri sendiri?"
"tidak..
kamu masih pakai gelang itu?"
"mm.. ini gelang kesayangan Nur..
bapak juga masih pakai itu?"
"mm.. karena ini dari orang yang paling ku sayang." Vino tersenyum kecil.
kedua nya sangat merasa canggung,
padahal banyak hal yang ingin mereka tanyakan satu sama lain.
"m..maaf Nur nggak tau soal tante Zey..
karena semua orang di rumah nggak ada yang
bahas tentang kabar kalian."
"tidak apa apa.." sahut Vino datar, tatapan nya memandang semu ke arah langit lepas yang gelap gulita.
"El.. dia tak sempat berkenalan dengan mama nya. saat berumur 2 tahun, dia sering bertanya tentang mama nya. saat itu aku bingung harus bagaimana menjelaskan pada nya.
kadang dia menatap sedih kepada anak anak lain yang sedang di gendong ibu nya."
tutur nya dengan mata berkaca kaca.
rasa sesak membelenggu erat batin Vino, ia merasa gagal memberikan El keluarga yang utuh.
"dia pasti sangat bahagia sekarang, karena mempunyai ayah yang sangat hebat."
ucap Nurul. Vino tersenyum bangga karena mendapat pujian itu dari Nurul.
Angin bertiup kencang menghamburkan dedaunan yang ada di sana.
wuuusshhhhhhh........
jdddaaarrr!!!
pintu balkon pun tertutup dengan sangat keras karena tiupan angin.
Seketika Nurul panik dan berlari ke arah pintu itu.
"ya ampun!! astaga pintu nya..?!"
"kenapa?" Vino terheran melihat kepanikan Nurul.
"pintu nya.." Nurul mendorong pintu itu dengan sangat kuat namun seperti dugaan nya. tuas pengunci pintu itu turun hingga menyebabkan mereka berdua terkurung di sana.
"bik...!! maaa!!! kak Dika..!!!"
teriak Nurul, namun suara nya sama sekali tak menembus pintu kaca tersebut.
Vino menghampiri Nurul.
"kita korban selanjut nya dari pintu ini.
ssshh!! padahal kemarin kak Dika sudah bilang sama papa untuk mengganti pintu nya."
Nurul menendang pintu itu karena sangat kesal.
"korban?" Vino mengernyitkan alis nya.
"pintu ini akan terkunci dari dalam kalau
kebanting kaya tadi."
"chh.. lalu kenapa kamu panik? tinggal telpon orang yang ada di sini.."
"ahh.. benar, cepat telpon mama pak."
"saya? ponsel saya di kamar.."
"kamu saja yang telpon.."
pinta Vino.
"handphone Nur di cas pak.." ia terduduk lemas di sana.
Vino berlari ke arah depan, ia berharap satpam akan mendengar teriakan nya. namun usaha nya sia sia, karena angin cukup kencang dan posisi mereka cukup jauh, jadi satpam tak bisa mendengarkan nya.
"eh...? eh?! mau ngapain kamu?"
Vino terkejut melihat Nurul memanjat pagar balkon.
"mau ngerayap kebawah pak.."
Nurul berniat merayap melalui paralon besar yang ada di sana. kemarin saat Dika terjebak dia juga merayap dari paralon itu.
Vino menarik tangan Nurul.
"kamu gila? kita di lantai lima. kalah jatuh bisa meninggal kamu!"
"ya sudah kalau gitu bapak aja yang turun."
"terus kalau saya yang jatuh gimana?"
"meninggal.." sahut Nurul.
"kamu senang saya meninggal?"
"ya nggak pak, kan tadi bapak sendiri yang
bilang kalau jatuh bisa meninggal."
"ya udah gini aja, kita sama sama turun. jadi kalau jatuh kita sama sama meninggal. gimana?"
ucap Nurul, ia sudah kembali memanjat pagar balkon setinggi 1,3 meter tersebut.
"Ran.. kamu gegabah banget sih. santai aja dong, kan kita bisa nunggu di sini siapa tau ada orang rumah yang ke sini."
"nunggu sampai kapan? lihat dong ini udah jam berapa? bapak mau nunggu sampai pagi?"
Vino melihat ke arah arloji nya yang sudah menunjukkan pukul 23:00. ya orang di rumah pasti tak akan keluar kamar lagi jika sudah jam segitu. "saya nggak keberatan nunggu di sini."
"aahh.. coba kamu kirim surel ke Dika atau Om Adit, siapa tau mereka belum tidur."
"iya bener..." Nurul langsung berlari ke laptop nya. ia mengirimkan pesan spam kepada Dika dan papa nya.
...-...
...-...
Sudah hampir 2 jam mereka duduk di depan laptop sambil terus mengirim pesan melalui surel.
tapi tak ada balasan dari Dika maupun papa nya.
mata Nurul sampai hampir tak bisa terbuka karena sangat mengantuk.
"tidur lah.. biar saya yang..." belum selesai bicara, Nurul sudah menjatuhkan kepala nya di atas meja. seperti nya ia tak bisa lagi melawan rasa kantuk itu.
Vino mengambil laptop Nurul lalu melanjutkan spam nya. karena merasa tak ada harapan, ia pun menyudahi itu. ia beralih ke galeri dan melihat lihat foto foto Nurul bersama Bian.
"mereka tampak bahagia.." gumam nya.
"hh..sama sekali tidak ada tentangku di sini,
apa kamu tidak merindukan ku.."
ia memandangi wajah Nurul yang sudah tertidur pulas. wajah cantik yang selalu mengisi kekosongan hati nya selama 4 tahun ini.
Vino membelai lembut pipi Nurul sambil meniup nya perlahan. "dia beruntung memiliki mu.."
"ssshh... bisakah kamu memutuskan nya saja?
tidak ..tidak.. untuk apa dia memutuskan nya..
pacar nya tampan, pintar, dokter, kehidupan nya juga tertata. tidak seperti aku yang sudah tua, berantakan, duda. tunggu aku tidak menikah, tapi aku punya anak. bisakah ku sebut diri ku duda?" Vino terus saja bertengkar dengan imajenasi nya sendiri.
Nurul mendongakkan kepala nya dengan
tatapan kesal.
"hiihh!! bisa diem nggak pak! berisik tau..."
ia menutup mulut Vino dengan telapak tangan nya.
Vino menggenggam tangan Nurul lalu mengecup lembut tepat di pergelangan tangan Nurul.
ia bisa merasakan denyut nadi Nurul yang berderu kencang seperti kepakan sayap kupu kupu.
"jangan sentuh saya..
karena rasa cinta saya kepadamu masih sama."
...*******...