Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 63: Ketemu


Jam menunjukkan pukul delapan pagi.


"Ayah... Bunda... "


panggil El sambil mengetuk pintu kamar


Nurul.


Sontak saja mereka kelabakan,


Vino cepat membereskan ranjang


karena berserakan habis tempur tadi


malam. sementara Nurul ia tak bisa


apa apa karena kehilangan daya 98


persen terutama di bagian kaki nya.


"Ayah...Bunda...ayo sarapan.."


panggil El lagi, rasa nya tidak lengkap


jika sarapan tanpa kehadiran orang tua.


"sayang.. pakai baju nya cepat.."


bisik Vino.


"hm??"


seperti nya nyawa Nurul belum


sepenuh nya kumpul karena baru


tidur 3 jam yang lalu.


"pakai baju nya.. ada El di luar.."


"hah??! El??"


Vino dengan cepat membantu Nurul


memakai baju tidur nya setelah ia


selesai menggulung sprei yang akan


di cuci.


"aduh.. nggak bisa jalan.."


rintih nya, akibat ulah Vino yang


amat brutal.


"hehe.. masih sakit ya?


gendong??"


"nggak ah, malu.."


ya, walaupun lebih malu lagi jalan


ketangklingan karena abis di borπŸ™‰


"ngapain malu sayang..


kita udah suami istri, wajar aja dong."


"Ayah... kok lama sih?"


panggil El lagi sedikit frustasi.


"iya nak.. iya..."


Vino langsung berlari membuka kan


pintu.


"bunda...."


ia langsung berlari memeluk bunda nya.


rindu banget lah pasti, karena seharian


nggak ada waktu mereka untuk quality


time.


"iya anak bunda...😘"


Nurul memberikan kecupan hangat nya.


Vino langsung merasa di kucilkan


saat itu.


"oh.. gitu. sekarang nggak kenal


sama Ayah hm??"


"hehehe..


kan Ayah udah lama jadi Ayah nya El.


kalau Bunda kan baru hari ini resmi


jadi bunda nya El, jadi El mau menyambut


Bunda..😁"


Vino dan Nurul terkejut mendengar


aksen bule nya El sudah mulai hilang.


"wahh.. El ngomong nya udah


sama kaya bunda hahah..."


"masa iya Bunda? berarti kita


semakin mirip dong..?"


wajah El berbinar mendengar itu.


"oh iya.. Ayah sama Bunda kapan


mau buat dede bayi nya?


El mau ikut bantu."


😳


"khm..!


El, ayo kita sarapan nak.."


"iya.. ayo, bunda udah laper banget.."


"okeey.. ayo..."


seketika El lupa dengan pertanyaan nya


barusan, ia pum menggandeng tangan


kedua orang tua nya sambil tersenyum


lebar.


Saat menuruni tangga, Nurul merasa


semua keluarga nya sedang mengamati


gerak tubuh nya. padahal mereka


cuma ngeliat biasa, biasa aja gitu.


"oke saudara saudara..


mari lah kita sambut pasangan


pengantin baru kita..."


suara Dimas menggema, ia mengambil


bunga yang terpajang di meja makan


untuk di berikan kepada Vino.


"jreng.. jreng.. jreng....


selamat tuan Vino, karena anda berhasil


mendapatkan berlian yang kami jaga,


dengan wajah anda yang tidak


seberapa ini.."


Vino mengambil bunga itu lalu


menyelipkan nya ke telinga Dimas.


"tolong kalau mau ngajak duel


nanti aja habis makan, aku butuh


isi daya dulu hahahah...."


"wuhuuiii... oke oke,


aku mengerti.. hahaha..."


Baru saja Nurul menghempaskan


bokong nya di kursi, sudah di buat


kaget lagi dengan pertanyaan Ica.


"Bina sama Ayah Vino kapan buat


dede bayi nya? kita di suruh El untuk


bantuin supaya cepet jadi."


celetuk nya tanpa dosa sambil


mengunyah makanan.


"uhukk! huk!!! khmm!"


Adit sampai keselek irisan timun


karena pertanyaan konyol cucu nya.


"Ica?? jangan ngomong gitu nak.."


bisik Fani.


"kan biar cepat punya adik baru


kami ma.."


"kalau nggak kita bantuin mama sama


papa aja bikin dedek bayi gimana?"


sahut Keenan sontak membuat semua


orang menahan tawa.


"tenang Kei.. Papa bisa sendiri,


kamu mau berapa? Papa siap buatkan


untuk kamu."


ini mah Dimas yang ngebet nyemai


bibit baru.


"mau segini...😁"


Keenan menunjukkan empat jari.


"heh.. aduh.. ini anak anak


nggak ada yang bener nih..


sama semua kaya bapak nya."


rutuk Fani membelalakkan mata nya.


Ayah sama Bunda buat barengan aja.


siapa tau bisa lebih semangat,


terus cepet jadi deh.."


sungguh usulan yang sangat bagus


dari El.


"haduh.. haduh.. kacau kacau..


udah makan dulu makan...


nanti bahas nya nanti lagi ya.."


potong Rianti, gawat memang kalau


tiga bocil itu sudah kumpul menjadi satu.


"pagi semua...."


sapa Ayu yang juga baru bangun.


"loh kak Dika kerja??"


ia heran, bukan nya hari ini libur.


biasa nya juga kalau libur Dika jadi


orang paling awal yang kumpul di meja


makan.


Tiba tiba Dika berlari sangat cepat


menuruni anak tangga.


"Ma.. Pa.. Dika pergi bentar ya.


penting..."


"loh, mau kemana kamu nak?


nggak sarapan dulu??"


seru Rianti.


"ntar Ma... penting..!"


teriak Dika, seperti nya ia bahkan belum


mencuci muka.


"Gaby, kamu dimana?"


tanya Dika melalui telepon.


"di kampus kak kenapa?"


"oke.. tunggu, aku ke sana.."


Dika langsung menutup telepon nya.


...~~~~...


"Mei.." panggil Gaby dari kejauhan.


"hai.." balas Mei, sedari tadi ia berjalan


menunduk karena seluruh siswi yang ia


lewati pasti menatap nya sinis.


"sudah sembuh? kaki kamu masih sakit?"


"udah kok, btw makasih banyak ya.."


"santai aja kali, kita kan teman.."


Gaby tersenyum lebar memamerkan


garis bibir nya yang manis.


"oh iya.. aku juga belum berterimakasih


sama Kirana, kapan dia masuk lagi?"


"mm.. mungkin lusa.."


grrppp.....


omongan Gaby terputus karena terkejut


saat seseorang memeluk nya dari


belakang.


"waahhhhh...


siapa tuh?"


"kalau nggak salah dia alumni sini deh,


anak kedokteran.."


"ganteng cuy.."


bisik para siswi yang mleyot melihat


keuwuan di depan mata.


Sementara Mei tercengang sambil


bertanya dalam hati nya.


"mereka pacaran??"


Gaby menoleh perlahan.


"kak Dika??"


"akhirnya aku menemukan mu..."


bisik Dika sambil memejamkan mata nya.


"Dita ku... pengantin ku.."


"apaan nih?? kok makin ngawur??"


batin Gaby panik. ia pun menggeret


Dika ke tempat yang agak sepi.


"kak.. plis, jelasin ada apa??


kenapa??"


raut wajah Gaby bercampur aduk,


senang karena di peluk, bingung,


juga panik karena Dika tiba tiba


menjadi hangat kepada nya.


"kamu nggak ingat aku hm?


aku suami masa kecil mu.."


Gaby malah salah fokus pada wajah


Dika yang tetap tampan walau belum


cuci muka.


"aku si bogel, dan kamu si tompel.


aku Dika, kita menikah di atas balkon


pake kain batik.


tapi sore nya aku pindah rumah


karena Ibu sama Ayah ku pisah.


ayo lah.. ingat itu... "


Dika tampak sangat antusias,


ia bisa sangat yakin setelah membaca


pesan dari Gaby tentang nama asli


orang tua nya.


"HHHHH!!!!!!😯😯😯😯"


Gaby terkejut bukan main.


"Dika...? jadi kak Dika si bogel


yang beraq di celana waktu kita


ke rumah sakit???"


"iya iya..."


Dika mengangguk cepat.


"aku inget..aku inget..


waktu kita nikah, kakak cium kening ku.


terus aku tabok karena ingus kakak


nempel di kening ku??"


"iya.. iya iya.."


tapi kok ini anak inget nya yang


jorok jorok ya.. batin Dika.


bikin mental down aja.


"Hhh!!!! serius kak???!!


awwwwwwww .....😍😍"


Gaby memeluk Dika sambil


jingkrak jingkrak. gimana nggak,


ini mah judul nya babang idola ku


suami ku.


"jadi sekarang kita apa?


apa masih suami istri? atau pacaran?


pdkt juga nggak apa apa kak.


ya tuhan.. rela aku rela..."


ujar Gaby tertawa girang.


"tega kamu..


20 tahun lebih aku cari kamu,


ternyata kamu ada di depan mata.


mana nggak bilang bilang lagi.."


"kak.. aku juga korban nih..


aku terombang ambing dengan


status nggak jelas antara janda atau


istri orang."


"eh.. tapi tompel kamu kemana?


kok hilang??"


...*********...