
Jam menunjukkan pukul delapan pagi.
"Ayah... Bunda... "
panggil El sambil mengetuk pintu kamar
Nurul.
Sontak saja mereka kelabakan,
Vino cepat membereskan ranjang
karena berserakan habis tempur tadi
malam. sementara Nurul ia tak bisa
apa apa karena kehilangan daya 98
persen terutama di bagian kaki nya.
"Ayah...Bunda...ayo sarapan.."
panggil El lagi, rasa nya tidak lengkap
jika sarapan tanpa kehadiran orang tua.
"sayang.. pakai baju nya cepat.."
bisik Vino.
"hm??"
seperti nya nyawa Nurul belum
sepenuh nya kumpul karena baru
tidur 3 jam yang lalu.
"pakai baju nya.. ada El di luar.."
"hah??! El??"
Vino dengan cepat membantu Nurul
memakai baju tidur nya setelah ia
selesai menggulung sprei yang akan
di cuci.
"aduh.. nggak bisa jalan.."
rintih nya, akibat ulah Vino yang
amat brutal.
"hehe.. masih sakit ya?
gendong??"
"nggak ah, malu.."
ya, walaupun lebih malu lagi jalan
ketangklingan karena abis di borπ
"ngapain malu sayang..
kita udah suami istri, wajar aja dong."
"Ayah... kok lama sih?"
panggil El lagi sedikit frustasi.
"iya nak.. iya..."
Vino langsung berlari membuka kan
pintu.
"bunda...."
ia langsung berlari memeluk bunda nya.
rindu banget lah pasti, karena seharian
nggak ada waktu mereka untuk quality
time.
"iya anak bunda...π"
Nurul memberikan kecupan hangat nya.
Vino langsung merasa di kucilkan
saat itu.
"oh.. gitu. sekarang nggak kenal
sama Ayah hm??"
"hehehe..
kan Ayah udah lama jadi Ayah nya El.
kalau Bunda kan baru hari ini resmi
jadi bunda nya El, jadi El mau menyambut
Bunda..π"
Vino dan Nurul terkejut mendengar
aksen bule nya El sudah mulai hilang.
"wahh.. El ngomong nya udah
sama kaya bunda hahah..."
"masa iya Bunda? berarti kita
semakin mirip dong..?"
wajah El berbinar mendengar itu.
"oh iya.. Ayah sama Bunda kapan
mau buat dede bayi nya?
El mau ikut bantu."
π³
"khm..!
El, ayo kita sarapan nak.."
"iya.. ayo, bunda udah laper banget.."
"okeey.. ayo..."
seketika El lupa dengan pertanyaan nya
barusan, ia pum menggandeng tangan
kedua orang tua nya sambil tersenyum
lebar.
Saat menuruni tangga, Nurul merasa
semua keluarga nya sedang mengamati
gerak tubuh nya. padahal mereka
cuma ngeliat biasa, biasa aja gitu.
"oke saudara saudara..
mari lah kita sambut pasangan
pengantin baru kita..."
suara Dimas menggema, ia mengambil
bunga yang terpajang di meja makan
untuk di berikan kepada Vino.
"jreng.. jreng.. jreng....
selamat tuan Vino, karena anda berhasil
mendapatkan berlian yang kami jaga,
dengan wajah anda yang tidak
seberapa ini.."
Vino mengambil bunga itu lalu
menyelipkan nya ke telinga Dimas.
"tolong kalau mau ngajak duel
nanti aja habis makan, aku butuh
isi daya dulu hahahah...."
"wuhuuiii... oke oke,
aku mengerti.. hahaha..."
Baru saja Nurul menghempaskan
bokong nya di kursi, sudah di buat
kaget lagi dengan pertanyaan Ica.
"Bina sama Ayah Vino kapan buat
dede bayi nya? kita di suruh El untuk
bantuin supaya cepet jadi."
celetuk nya tanpa dosa sambil
mengunyah makanan.
"uhukk! huk!!! khmm!"
Adit sampai keselek irisan timun
karena pertanyaan konyol cucu nya.
"Ica?? jangan ngomong gitu nak.."
bisik Fani.
"kan biar cepat punya adik baru
kami ma.."
"kalau nggak kita bantuin mama sama
papa aja bikin dedek bayi gimana?"
sahut Keenan sontak membuat semua
orang menahan tawa.
"tenang Kei.. Papa bisa sendiri,
kamu mau berapa? Papa siap buatkan
untuk kamu."
ini mah Dimas yang ngebet nyemai
bibit baru.
"mau segini...π"
Keenan menunjukkan empat jari.
"heh.. aduh.. ini anak anak
nggak ada yang bener nih..
sama semua kaya bapak nya."
rutuk Fani membelalakkan mata nya.
Ayah sama Bunda buat barengan aja.
siapa tau bisa lebih semangat,
terus cepet jadi deh.."
sungguh usulan yang sangat bagus
dari El.
"haduh.. haduh.. kacau kacau..
udah makan dulu makan...
nanti bahas nya nanti lagi ya.."
potong Rianti, gawat memang kalau
tiga bocil itu sudah kumpul menjadi satu.
"pagi semua...."
sapa Ayu yang juga baru bangun.
"loh kak Dika kerja??"
ia heran, bukan nya hari ini libur.
biasa nya juga kalau libur Dika jadi
orang paling awal yang kumpul di meja
makan.
Tiba tiba Dika berlari sangat cepat
menuruni anak tangga.
"Ma.. Pa.. Dika pergi bentar ya.
penting..."
"loh, mau kemana kamu nak?
nggak sarapan dulu??"
seru Rianti.
"ntar Ma... penting..!"
teriak Dika, seperti nya ia bahkan belum
mencuci muka.
"Gaby, kamu dimana?"
tanya Dika melalui telepon.
"di kampus kak kenapa?"
"oke.. tunggu, aku ke sana.."
Dika langsung menutup telepon nya.
...~~~~...
"Mei.." panggil Gaby dari kejauhan.
"hai.." balas Mei, sedari tadi ia berjalan
menunduk karena seluruh siswi yang ia
lewati pasti menatap nya sinis.
"sudah sembuh? kaki kamu masih sakit?"
"udah kok, btw makasih banyak ya.."
"santai aja kali, kita kan teman.."
Gaby tersenyum lebar memamerkan
garis bibir nya yang manis.
"oh iya.. aku juga belum berterimakasih
sama Kirana, kapan dia masuk lagi?"
"mm.. mungkin lusa.."
grrppp.....
omongan Gaby terputus karena terkejut
saat seseorang memeluk nya dari
belakang.
"waahhhhh...
siapa tuh?"
"kalau nggak salah dia alumni sini deh,
anak kedokteran.."
"ganteng cuy.."
bisik para siswi yang mleyot melihat
keuwuan di depan mata.
Sementara Mei tercengang sambil
bertanya dalam hati nya.
"mereka pacaran??"
Gaby menoleh perlahan.
"kak Dika??"
"akhirnya aku menemukan mu..."
bisik Dika sambil memejamkan mata nya.
"Dita ku... pengantin ku.."
"apaan nih?? kok makin ngawur??"
batin Gaby panik. ia pun menggeret
Dika ke tempat yang agak sepi.
"kak.. plis, jelasin ada apa??
kenapa??"
raut wajah Gaby bercampur aduk,
senang karena di peluk, bingung,
juga panik karena Dika tiba tiba
menjadi hangat kepada nya.
"kamu nggak ingat aku hm?
aku suami masa kecil mu.."
Gaby malah salah fokus pada wajah
Dika yang tetap tampan walau belum
cuci muka.
"aku si bogel, dan kamu si tompel.
aku Dika, kita menikah di atas balkon
pake kain batik.
tapi sore nya aku pindah rumah
karena Ibu sama Ayah ku pisah.
ayo lah.. ingat itu... "
Dika tampak sangat antusias,
ia bisa sangat yakin setelah membaca
pesan dari Gaby tentang nama asli
orang tua nya.
"HHHHH!!!!!!π―π―π―π―"
Gaby terkejut bukan main.
"Dika...? jadi kak Dika si bogel
yang beraq di celana waktu kita
ke rumah sakit???"
"iya iya..."
Dika mengangguk cepat.
"aku inget..aku inget..
waktu kita nikah, kakak cium kening ku.
terus aku tabok karena ingus kakak
nempel di kening ku??"
"iya.. iya iya.."
tapi kok ini anak inget nya yang
jorok jorok ya.. batin Dika.
bikin mental down aja.
"Hhh!!!! serius kak???!!
awwwwwwww .....ππ"
Gaby memeluk Dika sambil
jingkrak jingkrak. gimana nggak,
ini mah judul nya babang idola ku
suami ku.
"jadi sekarang kita apa?
apa masih suami istri? atau pacaran?
pdkt juga nggak apa apa kak.
ya tuhan.. rela aku rela..."
ujar Gaby tertawa girang.
"tega kamu..
20 tahun lebih aku cari kamu,
ternyata kamu ada di depan mata.
mana nggak bilang bilang lagi.."
"kak.. aku juga korban nih..
aku terombang ambing dengan
status nggak jelas antara janda atau
istri orang."
"eh.. tapi tompel kamu kemana?
kok hilang??"
...*********...