
Tempo hari Nurul sudah bicara mengenai sekolah nya,ia bilang ingin melanjutkan SMA di luar kota saja.namun Rianti tidak mengizinkan,ia berkata
"kalau nanti kuliah boleh deh kamu mau keluar Kota atau Negeri mama dukung"
tentu saja ia mengkhawatirkan anak gadis nya yang baru menginjak 17 tahun itu,ia takut di usia nya yang masih muda akan salah pergaulan jika jauh dari orang tua. apalagi Nurul tipe anak yang penurut,ia takut ke polosan Nurul akan di salahgunakan oleh orang orang sekitar nya.
Rianti meminta Nurul melanjutkan sekolah nya di SMA Bhineka Intercultural School (BIS) yang merupakan sekolah paling terkenal di indonesia khususnya kalangan kelas atas.
BIS sendiri berada di bawah naungan yayasan BRAM'S Group.
namun BIS tetap mengemukakan pendidikan bagi orang orang kurang mampu yang berprestasi.
Nurul pun akhir nya menyetujui permintaan Rianti, lagi pula niat nya sekolah di luar kota kan untuk menghindari Vino. tapi sekarang ia tak terlalu khawatir setelah mengingat bahwa Vino sudah mempunyai pasangan,dan mungkin selama ini Nurul terlalu berlebihan menilai Vino.
...~~~~...
Zey terbangun dari tidur lelap nya masih dengan tubuh tanpa busana,hanya selembar selimut yang menutupi tubuh nya.
wajah nya tampak berseri karena semalam berulang kali saling hajar dengan Vino.
namun ia tak mendapati Vino di sana, seperti nya Vino sudah pulang lebih awal.
"chh.. Vino sialan" rutuk nya kesal,bukan karena di tinggal atau kurang maknyus..
tapi karena ia teringat setiap ronde yang mereka lewati hanya nama Ran yang terucap dari bibir Vino. meskipun sedang mabuk berat tetap saja Zey kesal,itu berarti si gadis mungil itu telah menduduki tahta tertinggi di hati Vino sehingga hanya nama nya yang di ingat bahkan ketika mabuk.
...-...
...-...
Di rumah nya,Vino sedang mandi dengan keadaan masih sedikit pengar.
ia terlihat sangat menyesal saat teringat perbuatan nya.
"bodoh sekali kau Vino!! kau sudah bilang tidak menyukai nya lalu kenapa kau tidur dengan nya?
isshh.!! tidak bisa kah kau memilih tempat yang tepat?!!" Vino menatap marah ke arah tonggak kemerdekaan nya yang tertunduk layu basah kuyup.
ia menyalahkan si buwung karena nggak bisa anteng kalau lihat barang bagus.
mungkin kalau nenek nenek yang di posisi Zey tadi malam tetep di embat sama Vino.
"aaaggggrhhhh!!!!!!" Vino berteriak kesal. padahal niat hati mau taubat dari dunia perbaku hantaman tapi malah terperosok dan menikmati bahkan sampai.. ntah lah berapa babak yang mereka lalui tadi malam.
...~~~~...
Dimas tengah menyiapkam dokumen kepulangan Fani,karena kondisi nya kian membaik dokter pun memperbolehlan Fani di rawat jalan saja.
Fani menunggu di atas kursi roda nya,tepat di sebelah nya seorang wanita paruh baya bersama anak gadis nya yang masih mengenakan baju sekolah tengah duduk,seperti nya mereka menunggu keluarga yang sedang berobat.
tanpa sengaja tatapan mereka pun bertemu,si wanita paruh baya pun menyapa dengan senyuman dan menundukkan kepala.
Fani membalas dengan senyuman hangat dari bibir pucat nya.
"berapa bulan.." tanya si wanita basa basi.
"masuk 5 Bu.." jawab Fani.
"kembar ya??"
"iya Bu,kok ibu tau?"
"kelihatan soal nya, baru 5 bulan sudah besar perut nya" si wanita tersenyum lagi,dari wajah nya sudah bisa di tebak dia orangnya ramah.
"siapa yang sakit Bu?" tanya Fani.
"suami..sudah seminggu lebih demam nggak turun turun"
"baru di bawa kerumah sakit hari ini??"
Fani terkejut,tiba tiba ia teringat mendiang Nita yang dulu demam hingga kejang kejang.
"Ibu Evi..." seru sang suster memotong pembicaraan mereka sembari membawa selembar kertas di tangan nya.
wanita paruh baya itu pun berdiri menghampiri sang suster.
tinggal lah si anak gadis tadi duduk di sana,ia juga tersenyum kepada Fani namun senyuman nya agak kecut.
"Meilinda.." gumam Fani membaca nametag di dada si gadis itu.
"kenapa kak?" si gadis bernama Meilinda itu merasa terpanggil.
"ini seragam BIS kan?" Fani langsung mengenali seragam sekolah elite yang berada di bawah naungan keluarga mertua nya.
"hehe.. iya kak" si gadis tersenyum lebar.
"kamu tinggal di mana?"
Fani penasaran,sebab tadi Ibu gadis ini mengatakan mereka tinggal di pelosok berarti jauh sekali jika dia sekolah di kota ini.
"di kecamatan batu agung kak, memang nya kakak tau?" sahut si gadis. ya kecamatan pelosok itu lumayan jauh,di butuhkan waktu 3 jam kurang lebih untuk kesana.
"batu agung? ya ampun itu jauh banget loh,terus kamu ngekos di sini?"
"iya kak.." si gadis itu menunjukkan raut wajah sombong karena merasa hebat bersekolah di BIS.
nggak tau dia ini makbun di sebelah mantu empunya tu sekolah.
"dari bentuk nya sih ini orang lebih katrok dari aku,gas sekalian ah.." batin Meilinda si gadis desa,jiwa jiwa congkak nya mulai meronta ronta.
apalagi melihat Fani masih muda,ia semakin merasa pantas pantas saja bicara santai pada Fani.
"nggak sembarangan orang loh bisa masuk ke sekolah itu kak,cuma orang orang kaya atau pintar yang di terima di sana.." ujar nya membanggakan diri.
"oh ya?? kamu bagian yang mana?"
Fani dengan wajah polos nya sangat ekspresif menanggapi si gadis.
"kebetulan aku yang kedua"
"waahh.. hebat dong kamu,ambil jurusan apa emang nya?"
"Akutansi.." si Mei terlihat sangat percaya diri,ya memang dia sangat pintar di antara teman teman nya. tapi untuk atitude seperti nya sedikit minus.
Di tengah obrolan mereka,Dimas datang dan memotong pembicaraan si hadis dan makbun.
"sayang... udah beres, mari kita otw pulang"
Dimas mendorong kursi roda si bumil.
Sementara si gadis pelosok itu terlihat kesal karena merasa tak di apresiasi oleh Fani setelah mendongeng.
"suami nya tuir banget dih..simpenan om om kaya nya tu perempuan" Mei melirik sinis ke arah Fani dan Dimas.
"Mei.. ibu sama bapak mampir bentar ke kos an ya, soal nya jam segini pasti susah dapet angkot"
si ibu keluar sambil merangkul bapak nya,kondisi nya lumayan membaik setelah mendapatkan infus vitamin dan pereda demam tipes nya.
"hihh!! bapak tu ngerepotin terus Bu! udah aku bilang balikin aja dia ke keluarga nya yang dulu biar kita nggak susah payah ngurus nya!" gerutu Mei kesal.
"Mei! mulut kamu kurang ajar banget,dia ini bapak kamu lo!" bentak Bu Evi ke anak sulung nya itu.
"sejak kapan?! lagian mana ada bapak ngerepotin istri dan anak nya terus!" Mei semakin menjadi hingga beberapa orang di sana memperhatikan mereka.
"bukan nya cari duit buat nyenengin anak nya malah sakit terus!! masih untung kita mau ngurusin!" Mei ngedumel kesal sambil berlalu pergi.
"awas kamu Mei!" Evi terlihat sangat geram dengan mulut putri nya itu. biasa nya kalau di rumah sudah di tabok tuh bibir,beruntung di sini tempat umum jadi Evi menahan diri nya.
Sementara si bapak yang baru saja merasa bugar seketika down lagi kala mendengar ucapan anak tiri nya itu. bukan kah seharus nya anak mengurus orang tua nya di saat begini,biar bagaimana pun si bapak lah yang membesarkan nya walaupun bukan bapak biologis. bukan kah seharus nya si anak bersyukur memiliki bapak yang tulus menyayangi dia,adik adik nya,dan juga ibu nya.
...*******...