Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 48 : Rujak


Dimas melesatlan mobil nya dengan cepat dari sana. wajah nya pun terlihat sangat gusar dan panik karena ia takut terjadi apa apa kepada Fani dan calon bayi nya.


Kepala Dimas? jangan di tanya. rambut nya yang masih terlumuri muntahan Fani kini mulai mengeras dan membentuk gumpalan seperti sarang walet.tapi masa bodoh dengan kepala,yang penting istri cepat di tangani.


Layar telepon di mobil Dimas berdering,tertulis si penelpon 'mama'.


Dimas pun menekan tombol hijau dan menjawab panggilam Rianti.


"Nak?? kalian di mana? mama di depan rumah kamu ini tapi kok nggak ada orang?"


ujar Rianti dari seberang sana.


"Dimas mau ke rumah sakit ma.. Fani pingsan."


jawab Dimas buru buru.


"hahh?!!! kok bisa??! rumah sakit mana?"


"Kencana ma.." sahut Dimas.


"oke mama kesana sekarang.." Rianti langsung menutup telepon nya dan langsung bergegas dari sana.


...~~~~...


Di rumah sakit...


"anda tidak mau mencuci kepala dulu?" ujar salah satu perawat yang memasang infus di tangan Fani. ia terlihat geli saat melihat kepala Dimas seperti tumpukan karang yang mengeras.


"Bagaimana bisa saya kepikiran cuci kepala di saat istri saya dalam keadaan begitu.!" jawab Dimas ketus.


Si perawat pun hanya diam sambil menahan rasa antara ingin tertawa sekaligus jijik.


"Istri saya nggak apa apa kan dok? apa kandungan nya baik baik saja?" Dimas menatap khawatir pada Dokter yang memeriksa Fani.


"kedua nya dalam kondisi baik pak, tapi Bu Fani mengalami stres berat dan kurang tidur hingga membuat tekanan darah nya rendah.


jadi saya sarankan bu Fani istirahat total selama 1 minggu mengingat kandungan nya masih sangat muda.


dan yang paling penting,jaga agar Si ibu tidak stress. karena itu bisa sangat berbahaya untuk janin dan ibu nya." terang Dokter Spog tersebut.


"ba.baik pak.." sahut Dimas tergagap.


ia benar benar merasa bersalah sekarang karena telah membuat anak dan istrinya dalam bahaya.


"Maafin Mas sayang..." ujar Dimas dalam hati sambil menciumi tangan Fani.


Setelah di periksa dan di beri infus,Fani akhir nya siuman walaupun kepala nya masih terasa sakit.


mata nya langsung melirik panas kearah Dimas, walupun habis pingsan ntah kenapa rasa kesal kepada Dimas masih melekat utuh sampai saat ini.


"Sayang?? kamu udah bangun? ada yang sakit? kepala kamu gimana? sakit?" Dimas langsung menyerbu Fani dengan kekhawatiran nya.


Fani hampir saja tertawa melihat rambut Dimas yang di gelayuti pecahan nasi dan sayuran yang ia muntahkan tadi, namun ia berusaha menahan nya. jual mahal dikit laahh,biar tau rasa tu om om.


"sayang?? gimana?ada yang sakit?" Dimas menanyakan lagi karena Fani tak menjawab nya.


" Nak??gimana keadaan Fani??" tiba tiba Rianti masuk dengan nafas terengah engah.


"Fani nggak apa apa ma..." sahut Fani sambil tersenyum ke arah Rianti.


"aahh.. syukur lah.." Rianti menghela nafas lega.


"memang nya kenapa kok sampe pingsan nak?"


sambung Rianti lagi.


"karena stress dan kurang tidur ma.."


sahut Dimas lesu.


"stress?? kok bisa? memangnya kenapa kok sampai stress dan kurang tidur? kamu nggak macem macem sama Fani kan?!" Rianti menatap heran ke arah Dimas,ia sudah curiga pasti ada sesuatu karena tadi pagi Dimas seperti orang linglung.


Dimas langsung terdiam dan bingung, ia tidak tau harus menjelaskan apa kepada mama nya.


jika mama nya tau kalau Fani jadi drop karena ulah nya. sudah pasti Rianti akan mengomeli Dimas habis habisan 7 hari 7 malam bahkan bisa jadi 7 turunan.


tubuh Dimas pun menjadi keringat dingin,saat bertatapan langsung dengan mata Rianti yang penuh kecurigaan.


Dimas coba memberanikan diri untuk menjawab mama nya.


"ah anu.. Fa,,Fani..."


"cuma kecapek an aja kok ma..


bawaan si utun.." ujar Fani memotong ucapan Dimas sambil tersenyum hangat.


"sshh... bahkan dia menutupi kebodohan ku di depan mama" batin Dimas tersentuh dengan ketulusan Fani.


"hah? kamu hamil sayang?? beneran??" Rianti sangat senang sekali mendengar itu.


"makasih ya sayang..." Rianti mengecup kening Fani sambil meneteskam air mata saking bahagia nya.


Dimas menarik lengan Rianti agar menjauh dari Fani.


"maa.. udah jangan deket deket Fani,nanti dia pengap loh."


"ya ampun...pelit banget sih kamu." ujar Rianti sewot.


"ehh..rambut kamu kenapa? gaya baru??" Rianti menertawakan rambut Dimas yang sangat kotor dan bau.


"ini hadian dari cucu mama.." jawab Dimas sambil tersenyum masam.


"iiuuhhh...ayo mama bantu cuci. jorok banget kamu." Rianti menarik Dimas ke toilet untuk membersihkan kepala Dimas.


Sementara Fani hanya bisa menahan tawa geli melihat wajah pasrah nya Dimas.


...~~~~...


Pukul 19:00


Nurul,Dika dan Ayu ke rumah sakit untuk menjenguk Fani,mereka datang bersama Adit.


terlihat Vino juga sudah di sana sambil membawakan berkas yang perlu di tinjau ulang oleh Dimas.


"Mas..Fani pengen rujak.." ujar Fani tiba tiba. membuat semua orang di sana langsung sumringah.


"tuh Dimas.. buruan beli, nanti cucu papa nangis loh di dalam perut." sahut Adit sambil mennggoda Dimas.


"rujak?" Dimas bingung, pasal nya kerjaan Dimas sedang menumpuk dan harus di tinjau sekarang juga.


Melihat abang ipar nya bingung,Nurul langsung unjuk diri untuk membelikan rujak kakak nya.


"biar Nurul aja yang beliin..hehe sekalian pengen jalan jalan" ujar nya beralasan,ia sangat mengerti kondisi Dimas yang sedang di buru kerjaan.


"beneran Nur?" Dimas langsung lega.


Nurul menganggukkan kepala nya sambil tersenyum lebar.


"tapi kakak pengen nya yang di deket rumah lama kita itu dek.. rujak nya mang udin..." Fani menatap nurul dengan wajah melas.


Nurul menelan ludah nya seketika, bagaimana tidak.untuk kesana membutuhkan waktu minimal 1 jam itu pun kalau tidak macet.


tapi ia tak tega jika harus menolak keinginan sang kakak yang sedang mengidam.


" iyaa nggak apa apa kak, kan naik mobil. kebetulan kan biar Nurul bisa lebih jauh jalan jalan nya.. ayo kak Dika..." seru Nurul sambil berdiri dari kursi nya.


"loh kakak mana bisa bawa mobil dek.." ujar Dika meringis.


"sayang.. rujak deket sini aja yaa. biar Mas deh yang beliin ya.." bujuk Dimas pada istri nya.


"tapi pengen nya rujak mang udin..." Fani terlihat lesu sambil menahan air liur nya yang mencair kala membayangkan betapa segar nya rujak buatan mang udin.


" ya udah sama papa aja yuk nak.."


Adit pun mengajukan diri demi menuruti keinginan menantu kesayangan nya.


"Vino aja yang anter kalau gitu om.."


ujar nya menawarkan diri,sebab ia kasihan melihat sang paman yang seperti nya lelah dan mengantuk.


"wehh.. beneran Vin?? om jadi nggak enak ngerepotin kamu.." ujar Adit sambil melemparkan kunci mobil ke Vino.


Vino pun menangkap nya..


"kakek kakek ini 11 12 sama Dimas.."


rutuk Vino dalam hati.


Nurul dan Vino pun keluar dari ruangan itu berbarengan.


Vino: "kamu tau jalan nya kan?"


"tau dong pak.." sahut Nurul yakin sambil tersenyum ramah.


"cantik juga ni bocil.."


batin Vino, jiwa kejombloan nya langsung meronta ronta ketika melihat senyum polos nan menyejukkan nya ALISHA KIRANA.


ya itu lah nama asli Si rajin nan baik budi yang akrab di sapa Nurul itu. kok bisa di panggil Nurul?


Dulu mendiang ibu nya memberi nama


Alisha Kirana,namun ayah nya lebih suka nama Nurul.


karena sudah terlanjur di buat Akte kelahiran jadi kedua orang tua nya sepakat memberikan nama Alisha kirana tapi memanggil nya NURUL.


...*******...