Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Bonus Chapter I


"Mas pijitin kaki Nur, pegel banget Mas." pinta nya manja sambil memajukan bibir bawah.


"pegel ya? sini sini.. " Vino segera meraih kaki istrinya. "anak Ayah jangan nakal ya, kasian Bunda nya nih jadi susah tidur." bisik Vino mengelus lembut perut Nurul yang mulai membuncit.


"perut nya kram😖" keluh Nurul lagi, rasa kantuk dan sakit memadu di wajahnya.


"gimana dong Sayang, Mas nggak bisa bantu banyak." ia merasa kasihan akan perjuangan awal Nurul menjadi seorang ibu.


"apa kita kerumah sakit saja hm?"


Nurul menggeleng pelan "nggak.. kata dokter nya normal sih, tapi nggak enak rasa nya nggak nyaman aaahhh😩"


Vino tersenyum kecil "hehe sabar ya Bunda.. nama nya berjuang itu nggak ada yang enak memang. tapi kalau mau yang enak enak Mas bisa kasih kok." garis tipis bibir Vino menggambarkan penawaran menarik dan menyenangkan.


"Mas? nggak salah denger nih, biasanya SAYA SAYA." ledek Nurul memperagakan gaya Vino sehari-hari.


"kenapa sih Sayang.. nggak boleh suami kamu ini nyebut dirinya begitu?"


"ya nggak gitu.. biasanya kan Mas kaku banget. Nur udah manggil Mas Mes Mas Mes, tetep aja Mas nyebut diri sendiri SAYA. sampe temen-temen kampus Nur ngira Mas terpaksa nikahin Nur kaya di film-film gitu. mereka anggap Nur yang bucin banget padahal mah yang ngibrit ngejar Nur duluan kan Mas."


"tapi kan kamu juga bucin sama Mas. buktinya lima tahun kita los kontak dan punya kehidupan masing-masing, Mas punya anak kamu punya pacar yang ganteng lagi. eh begitu Mas balik langsung klepek-klepek hahahahah...."


PlOK!! Nurul memukul bahu Vino yang sedang tertawa lepas. wajah nya seketika merah dan panas karena teringat masa-masa lima tahun itu dimana tak seharipun ia lewati tanpa bayangan Vino di kepala nya.


"ngaku deh, sebenarnya kamu udah mabuk kepayang sama Mas dari dulu kan? Mas paham sih kenapa kamu nggak mau terbuka karena pasti waktu itu kamu masih labil." lanjut Vino masih belum puas mengorek kenangan mereka.


"mmm.. kalau di pikir-pikir sih iya, tapi yang lebih labil siapa coba? ngomong nya cinta Kirana😒 tapi malah buntingin anak orang. anehh!" tegasnya sambil melirik sinis ke arah Vino.


"untung nggak semua perempuan yang Mas tiduri hamil, kalau hamil pasti banyak banget anak kita sekarang. anak dari si A, si B, sampai Z." sambungnya lagi masih dengan tatapan yang sama.


Mendengar ocehan sang istri bukannya minder atau kesal, Vino malah tersenyum kagum "anak kita? itu berarti seandainya keadaan Mas dulu memang benar begitu kamu masih mau nerima Mas? wahh.. secinta itu kamu sama Mas hm?" ia menyentuh pucuk dagu Nurul dengan tatapan menggoda.



"ih nggak gitu! udah udah ah, tidur. udah hampir jam dua tuh.." Nurul langsung salah tingkah dan membenamkan wajahnya di balik selimut.


Sambil terus tersenyum, Vino memaksa masuk juga ke dalam selimut "de.. lihat Bunda mu, sayang banget loh dia sama Ayah."


"ihhh...." grubuk..gruubuk... hanya suara rontakan selimut yang terdengar karena Nurul berusaha mengeluarkan Vino dari sana.


...~~~~...


Pagi hari nya...


Saat Vino masih tertidur lelap, Nurul sudah rapi dan wangi karena mau pergi ke mall dengan Rianti. di usia kandungan yang menginjak 18 minggu, berat badan Nurul kian bertambah. walau tidak banyak, namun bobot nya yang sekarang menjadikannya sulit memilih baju karena sudah pasti ukuran baju nya pun meningkat.


Karena itu lah Rianti dan Duma akan membelikannya baju yang pas dan nyaman di pakai sehari-hari selama masa kehamilannya ini.



"pagi Mas..." sapa Nurul dengan senyum cerahnya.


Vino menggeliat dengan mata separuh terpejam "hhooaammm...... pagi cantik, so sweet banget sih pagi-pagi bawaain Mas bunga."


"ih.. orang Nur mau ganti Vas bunga kok, ke PeDe-an hahahha..."


"AYU!!" teriak Rianti membuat seisi rumah terkejut dan buru-buru menuju ke sumber suara tersebut.


...-...


...-...


Kita bahas lebih dulu penyebab Rianti meneriaki Ayu.


Akan tetapi hal yang tak pernah di duga nya terjadi pagi ini. El meminjam ponselnya untuk mendownload game, mereka tidur bersama tadi malam. El kehabisan data internet nya dan berniat meminjam ponsel Ayu untuk mendownload aplikasi yang ia mainkan semalam.


"nih.. download lah game nya, nanti Biyu share ke tablet kamu." Ayu membukakan playstore lalu memasrahkan ponselnya pada El.


*Biyu panggilan para keponakan untuk Ayu yang artinya bibi Ayu


Setelah itu, Ayu pergi mandi dan membiarkan El mengutak-atik ponsel nya. ya nama nya anak kecil pasti selalu memiliki rasa penasaran, begitu pula dengan El yang amat penasaran dengan notifikasi pesan yang terus menerus timbul.



Terpampang foto tak pantas serta ajakan untuk melakukannya dari pacar Ayu. beruntung Rianti datang di saat yang tepat dan segera merebut ponsel Ayu dari tangan El.


"AYUU!!" teriak Rianti murka, ia tak menyangka akan melihat hal begitu di ponsel Ayu.


Ayu yang sedang di kamar mandi pun terburu-buru menyelesaikan hajatnya "i..iya ma kenapa?"


Langkah tegas penuh amarah di ayunkan Rianti menuju ke arah Ayu "siapa Glen?!" tatapan tajam yang sebelumnya tak pernah di tujukan kepada Ayu membuat Ayu gugup dan takut.


"t.. temen Ayu ma," sahutnya gugup.


"temen?! yakin kamu?" Rianti mengangkat ponsel ke hadapan Ayu.


"coba tebak, apa yang membuat mama marah. tebak apa yang mama lihat dari handphone kamu!"


Ayu memang merencanakan untuk menonton konser bersama pekan depan, tapi Ayu sungguh tidak tau kalau bukan hal itu lah masalah nya. ia sama sekali tidak berpikir bahwa pacarnya orang seperti itu.


"maaf ma, Ayu memang berniat nonton konser minggu depan. Ayu minta maaf karena nggak izin sama mama..."


"konser??" melihat tatapan dan jawaban Ayu, Rianti paham sepertinya Ayu tidak mengerti situasi ini.


Rianti menunjukkan foto serta pesan di ponsel Ayu "mama yakin pergaulan kamu nggak salah, mama harap kamu begitu." ia meletakkan ponsel itu di telapak tangan Ayu lalu pergi dari sana.


"dek??" Nurul yang sedari tadi mendengarkan mereka mencoba menenangkan Ayu yang tampak terguncang.


"kak, Ayu nggak tau kak. Ayu nggak kaya gitu kak sumpah.. Ayu pikir dia anak baik-baik hiks..hiks.." ia meluapkan tangisnya di pelukan Nurul, tangan nya tampak gemetar karena tak percaya akan kejadian ini.


"iya.. iya, kakak tau. kakak percaya kok sama kamu." bisik Nurul menenangkan Ayu.


...~~~~...


Karena tak mau anak gadis nya terjerumus ke pergaulan yang salah, Rianti mengambil tindakan tegas dengan mengikut sertakan Adit untuk mengintrogasi putri mereka.


Pagi indah yang mereka rencanakan untuk berlibur malah menjadi kacau karena kesalahpahaman ini.


"sudah berapa lama kalian kenal?" tanya Adit mengintrogasi Ayu.


"satu tahun Pa.." sahut Ayu pelan.


"tapi sumpah Pa, Ayu baru ketemu 3 kali dan itupun bareng Pak Rey Pa. Ayu nggak pernah ngelakuin hal-hal yang mengarah kesana Pa."


"Oke! Papa percaya sama kamu. tapi mulai sekarang putuskan hubungan kamu dengan manusia bej4t itu. awas kalau sampai Papa tau kamu masih kontak sama dia!" mata Adit membulat saat menegaskan kalimat itu.


"dan Papa akan telpon Rey sekarang, awas kalau jawaban kalian berbeda! papa gantung kamu!"


Ayu bernafas lega karena orang tua nya percaya, walaupun ia harus memutuskan hubungannya dengan sang kekasih. ia kembali ke kamar nya dengan perasaan kecewa, tanpa berpikir panjang ia merobek lalu membakar dua tiket konser pembawa sial itu.


"chh.. kurasa tidak sepenuhnya sial." batin Ayu saat mengingat kebenaran yang terungkap.


...*********...