Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
episode 60: Curi kesempatan


Di rumah sakit hanya Mila yang masih terbaring kekanan dan lemas karena luka di punggung nya lumayan lebar hingga dia kehabisan banyak darah dan mendapatkan beberapa jahitan.


tampak Riko tak bergerak dari tempat duduk nya sambil memandangi Mila yang belum juga membuka mata nya.


wajah nya memang terlihat tenang,tetapi hati nya sangat kacau seperti sedang meletuskan balon hijau.


Sementara kondisi Zey lebih baik dari Mila,lengan nya hanya tergores sedikit dan hanya membutuhkan perban. tapi tetap saja,mereka berdua benar benar hebat karena sudah melindungi Fani.


Di luar ruangan 2 orang polisi sudah menunggu Zey untuk di mintai keterangan karena Sean menyeret nama nya juga saat di interogasi.


"tidak apa apa, aku akan memastikan kau baik baik saja" ucap Vino menenangkan Zey yang terlihat ketakutan.


Di ruangan yang lain,Fani sedang memeriksakan keadaan janin nya,sebab kepanikan yang tadi terjadi bisa saja berdampak buruk untuk diri nya maupun kandungan nya.


Rianti dan Nurul juga ada di sana karena mereka sangat khawatir saat mendengar kabar kericuhan yang terjadi di kantor.


Sementara Adit langsung menuju ke perusahaan untuk memeriksa kekacauan di sana.


"Dokter,istri dan anak saya baik baik saja kan?"


Dimas tampak sangat gelisah.


"Bapak tenang saja,istri dan anak bapak aman. hanya saja detak jantung si ibu terlalu cepat mungkin karena terlalu panik tadi."


terang Dokter yang memeriksa Fani.


"huuhhhhh... syukurlah, manusia kepar*t itu benar benar keterlaluan!" rutuk Dimas.


Fani mengusap tangan Dimas sambil tersenyum.


"sabar Mas.. "


"mana bisa Mas sabar sayang, kamu dan anak kita hampir celaka karena dia"


"iya tapi sekarang kan Fani baik baik aja, anak kita juga nggak kenapa kenapa tu.."


ucap nya sembari meletakkan tangan Dimas di atas perut.


Dimas tersenyum sambil mengusap lembut perut Fani.


"terimakasih sayang.."


"hmm??? untuk apa Mas?"


"karena sudah menjadi wanita kuat dan melindungi anak kita" Dimas mengecup tipis kening Fani,ia benar benar lega atas nasib baik yang menghampiri keluarga kecil nya.


"nak...gimana kalau untuk beberapa hari ini kalian tinggal di rumah mama. sampai hukuman Sean di tetapkan."


Rianti merasa khawatir Sean akan melukai anak anak nya lagi. walaupun sekarang dia sudah di tahan,tapi ia belum merasa lega karena persidangan belum di laksanakan.


"iya..Dimas rasa juga akan lebih baik begitu,


gimana sayang? kamu mau tinggal di rumah mama sementara?"


"iya Mas.. " sahut Fani menganggukkan kepala nya dengan senyum mengembang.


...-...


...-...


Setelah selesai dengan pemeriksaan kandungan. Dimas dan yang lain nya menjenguk Zey dan Mila untuk mengucapkan terimakasih.


jrenggg jreng jrrengg......


Kepala Vino langsung berputar 360 derajat dengan mata berbinar saat Nurul memasuki ruangan itu.(burung hantu kali🙄)


sampai sampai buah yang hendak ia suapkan ke Zey jadi melenceng ke hidung.


Dengan megap megap seperti orang lomba makan kerupuk,Zey mengejar potongan buah yang berbelok itu dengan mulut nya.


"ya ampun Buk Mila belum bangun??"


Fani menangis haru kala melihat Mila yang sedang terbaring tak berdaya.


ia menggenggam tangan Mila sambil terus mengucapkan maaf dan terimakasih.


"uhuk..huk.." tiba tiba Mila terbatuk lalu perlahan menggerakkan kelopak mata nya.


Rikopun langsung bangkit dari kursi nya dan memanggil dokter.


Sementara dokter memeriksa,Fani menghampiri Zey dan mengucapkan terimakasih juga.


"kak Zey.. terimakasih banyak ya,dan maaf gara gara saya kakak jadi terluka"


"ini bukan karena kamu Fani, ini memang kesalahan saya." Zey menundukkan wajah nya menahan tangis.


"ini tante.. biar rileks.." Nurul memberikan sebotol yogurt dingin kepada Zey.


"terimakasih manis.." ucap Zey.


ia dengan senyuman nya menerima yogurt pemberian Nurul.


"Nur yang harus nya berterimakasih sama tante karena udah menyelamatkan kak Fani.."


"hei.. kamu nggak mau ucapin terimakasih sama saya? saya loh yang mukulin Sean sambe bonyok bonyok." potong Vino,ia sangat berharap mendapatkan ucapan itu juga.


"aahh.. terimakasih kalau gitu pak."


Nurul menjulurkan tangan nya untuk menjabat Vino. dengan senang hati Vino pun membalas jabatan tangan Nurul sambil tersenyum bak pahlawan.


Saat itu juga Zey terfokus pada pergelangan tangan mereka yang mengenakan gelang couple.


lalu ia menatap wajah Vino yang sangat ceria serta senyum nya yang merekah,tapi sayang tatapan dan senyuman Vino bukan kepada nya.


"tidak mungkin kan Vino menyukai gadis kecil ini?"


Plakk..!


Dimas memukul tangan Vino yang tak melepaskan saat Nurul hendak menarik tangan nya.


"kau mau ku hajar hah?" bisik Dimas sambil mencengkram bahu Vino.


"chh.. kenapa kau selalu mengangguku" balas Vino juga berbisik.


Dimas menarik Vino keluar karena mereka harus memberikan kesaksian terhadap Sean.


Zey pun ikut keluar karena dia juga akan memberikan keterangan.


Jadi gini..


Dimas sebagai penuntut.


Vino akan bersaksi agar Zey tidak terseret.


dan Zey sebagai saksi kejahatan Sean.


Fani dan Rianti pun berpamitan kepada Riko dan Mila,karena kondisi Fani juga masih membutuhkan istirahat.


sekarang hanya ada Riko dan Mila di ruangan itu,


Mila masih di awang awang antara sadar dan tidak. tapi dokter sudah memastikan tadi kalau kondisi Mila sudah membaik dan akan segera siuman.


"Fani tidak apa apa?" ujar Mila masih dengan suara serak.


"ch,kau yang paling parah di antara mereka"


sahut Riko ketus.


"syukur lah.." gumam Mila lagi.


"Bahu ku sakit.." lirih Mila. karena memang sudah 3 jam ia terbaring kekanan hingga membuat bahu nya terasa nyeri.


Riko memegang bahu Mila dan membantu nya berbaring ke arah kiri.


"berbalik lah perlahan.."


"bagaimana dengan lelaki itu?" Mila membicarakan Sean.


"aku hampir membunuh nya tadi"


Riko teringat seberapa ganas nya dia menghajar Sean tadi.


Bukan nya mendengarkan Mila malah bergidik geli karena beberapa helai rambut nya terjuntai menyentuh punggung nya.


"ehh apa sih itu gatel geli.. tolong singkirkan itu dari punggung ku"


"a..apa?" Riko langsung gugup,karena Mila memakai baju pasien khusus dimana bagian belakang nya terbuka,jika Riko menyingkirkan rambut itu berarti dia akan menyentuh punggung telanjang nya Mila kan?


padahal dari tadi dia sudah menahan mata nya agar tak melihat punggung Mila.


"ishh cepat lah.. gatel tau!!"


"i..iya sebentar.."


Riko pun meraba raba punggung nya seminimal mungkin sambil menutup mata.


"langsung saja!! kenapa kau malah meraba raba. kau curi kesempatan ya?!"


risih Mila sambil membelalakkan mata nya.


"hhuuufffff..."


Riko menarik nafas panjang.


"aku berusaha tidak melihat punggung mu yang di penuhi kurap itu! kenapa kau malah menuduh ku?"


Mila: "apa?!! kurap?? mau ku cungkil mata mu hah?!"


Riko: "kau mau ku bantu tidak?!"


Mila: "mau!! maka nya cepetan dan jangan curi kesempatan lagmm..."


Riko mencium bibir Mila lagi sambil menyibakkan helaian rambut di punggung nya.


"itu baru nama nya curi kesempatan"


ucap Riko dengan enteng nya.


"berani kau!!!" Mila berusaha menendang Riko namun apa daya tenaga nya belum kembali.


ia juga berusaha memukul Riko namun tidak sampai.


Bukan nya lari atau meminta maaf,Riko dengan cepat menangkap tangan Mila lalu mencium nya sekali lagi.


kali ini Mila tak memberontak,ia terdiam sambil terpikirkan sesuatu.


Riko pun jadi semakin leluasa menjalankan aksi nya,setelah beberapa detik bibir Mila di vakum.


akhir nya Riko melepaskan nya dengan nafas yang tersengal sengal.


Mila tidak marah,ia malah menatap Riko dengan penuh tanda tanya.


"Kau... menyukai ku?"


tanya Mila ragu ragu,ya tidak mungkin Riko terus terusan mencium nya jika tak ada rasa bukan?


ia baru terpikirkan hal itu.


"Tidak.. aku mencuri kesempatan" jawab Riko dengan wajah beku dan senyuman Smirk nya.


"haishhh!!!!!! dasar kau laki laki kurang ajar!!!"


kali ini Mila berhasil menendang paha Riko walaupun dengan tenaga seada nya.


"chh.. bodoh sekali aku berpikiran begitu."


rutuk Mila kesal sambil memandang sinis ke arah Riko.


Riko hanya tersenyum tipis sambil menaikkan alis nya. padahal di dalam hati nya jingkrak jingkrak saat Mila menanyakan perasaan nya.


tapi bukan Riko nama nya kalau belum membuat Mila mengeluarkan tanduk dan marah marah.


...******** ...