
Drrrttttt ....
"Pak Adit?" gumam Rey sedikit panik, apa gerangan yang membuat Adit menelponnya pagi-pagi begini.
"Selamat pagi Pak.."
"kamu kenal pria muda bernama Glen?" tanya Adit tanpa basa basi. ia sengaja membuat pertanyaan menjebak untuk mengetahui benar atau tidak pembelaan Ayu tadi.
Glekk... Rey menggigit kuku ibu jarinya "apa dia ketahuan?"
"Rey?" panggil Adit dari seberang telepon.
"dia, pacarnya Ayu Pak.." sahut Rey gugup, dalam hatinya ia terus meminta maaf pada Ayu karena membocorkan hal itu, padahal Adit sudah tau duluan.
"apa kau pernah bertemu dengannya?"
"Ya.. mungkin sekitar 2 atau 3 kali Pak."
"kau bersama Ayu saat menemuinya?"
Rey merasa ada yang tidak beres mendengar pertanyaan-pertanyaan Adit itu "iya Pak, Saya menemaninya beberapa kali. kalau boleh tau ada apa ya Pak?"
"ada sedikit kejadian tadi....." Adit menceritakan sepenggal insiden tegang pagi tadi, setelah mendengar jawaban dari Rey, kini ia percaya kalau Ayu mengatakan yang sebenarnya.
Setelah obrolan singkat mereka, Adit menutup telponnya. sebagai manusia yang menjunjung tinggi martabat wanita Rey merasa kesal hingga ia menggenggam erat ponselnya.
"sss!! anak ingusan brengs*k! berani-beraninya dia melecehkan..."
Namun amarahnya terhenti saat melihat ekpresi dirinya sendiri di cermin "apa aku berlebihan? kurasa tidak. aiss! bocah itu!"
...~~~~...
Seharian Ayu mengunci diri di kamar, ia merasa sangat malu untuk menunjukkan wajahnya di hadapan keluarganya.
"padahal dia baik banget selama ini, kenapa sih harus begini.. apa dia memang nggak tulus sama aku dari awal?" lirihnya sambil menghapus satu persatu foto mereka di galery ponsel.
"dek.." panggil Dika sambil mengetuk pintu kamar Ayu. namun Ayu tak menjawabnya.
"gimana?? nyahut nggak?" bisik Rianti dari kejauhan, ia pun merasa bersalah karena tak mendengarkan penjelasan Ayu tadi.
Dika menggeleng pelan "mama tau sendiri kan, dia susah kalau lagi ngambek."
Raut wajah Rianti tampak sangat cemas "gimana dong.. dia belum makan dari tadi, mama nyesel banget nggak dengerin dia dulu tadi."
"mama tenang aja.. Dika ada ide hehe.." ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Rey.
...-...
...-...
Satu jam berselang, ratusan foto dan video dari galery Ayu bersih dari wajah Glenn. tap.. satu foto terakhir dari tangkapan layar saat mereka sedang melakukan panggilan video. dan saat itu terhapus, muncul lah foto lama ia dan Rey.
"hfff... seandainya dia membalas perasaanku waktu itu, pasti ini semua tidak akan terjadi. aaagrrrhh! semua ini benar-benar gila! nasib mu Yu..Ayu. suka sama cowok nggak bener semua! yang satu belok, eh yang satu lagi sayang sayang nya malah ternyata lebih parah๐ญ ngenes banget sih Yu.." ia meraung-raung sambil menendang kepala dipan, rambut nya sudah seperti singa karena dari tadi ia terus berputar-putar di atas kasur seperti jarum jam.
klung..klung..
(mau cari udara segar? Saya di depan.)
"chh.." Ayu hanya berdecak kesal, tapi jika di pikir pikir boleh juga. karena hampir seharian ia di dalam kamar, terasa pula lapar menggaruk lambung Ayu.
Ayu berjalan pelan melewati lorong kamar yang sepi "syukurlah, seperti nya mereka semua lagi sibuk di belakang." batin Ayu lega, padahal semua orang sengaja bersembunyi agar Ayu bisa keluar dari kamar nya.
...~~~~...
Rey mengajak Ayu ke salah satu restaurant china, selama perjalanan bahkan saat makan, mereka hanya diam. Ayu merasa malu dan bingung mau membuka topik dari mana.
"jadi.. kamu putus?" entah menyinggung atau tidak, yang pasti pertanyaan ini membuat Rey penasaran dari tadi.
"mm.." sahut Ayu tertunduk lesu.
"jangan terlalu di pikirkan, putus dan memulai yang baru amat biasa di kalangan remaja. jadi jangan terlalu terbebani."
"yang aku takutkan dia buat onar di sosial media.." bahkan Ayu tak berani membuka sosial media nya karena menghawatirkan hal itu. akun yang ia dirikan sejak 3 tahun lalu itu kini mempunyai lebih dari 4 juta pengikut. bisa di bilang ia cukup populer di kalangan remaja sejak memenangkan medali emas di olimpiade Sains saat duduk di kelas 1 SMA.
"kamu punya Papa, dan dua kakak ipar yang hebat. kenapa mengkhawatirkan hal itu?" ujar Rey menyemangati. ya tidak mungkinkan mereka semua akan tinggal diam apalagi ini bisa menyangkut nama baik perusahaan.
"ck.. seandainya yang di hadapanku lelaki normal, pasti bisa jadi pengobat luka ini." Ayu dengan gamblang nya mengutarakan itu sambil tersenyum datar. curhat sambil kasih kode keras, siapa tau yang di tuju tepat sasaran๐.
Rey tersenyum smirk dengan alis naik sebelah "jika aku normal seleraku bukan kamu."
Raut wajah penuh harap Ayu berubah ngenes "jangan jujur jujur banget napa Pak, hibur dikit kek bocah yang lagi putus cinta ini ๐"
"justru karena masih bocah kamu harus belajar menghadapi kenyataan. ayo, kita cari tempat asik lainnya." Rey berdiri dan menggandeng tangan Ayu beranjak dari sana.
cekreekk..๐ธ tanpa mereka sadari dua anak remaja yang sepertinya admin lambe turah mengambil foto mereka diam-diam.
...~~~~...
Sementara itu di taman belakang rumah Rianti, semua orang tengah membicarakan bocah kurang ajar yang bertingkah mesum kepada bungsu mereka.
"enak nya kita apakan bocah itu? berani sekali dia menodai mata adik dan keponakan ku." ucap Dika geram kala teringat El yang pertama kali melihat foto tak senonoh itu.
Dimas yang sedari dari berpikir keras akhirnya buka suara "Ayu memutuskan nya secara tiba-tiba, apa dia akan diam saja? melihat tingkah nya yang amat berani tampak nya ia tak takut untuk berbuat lebih jauh."
"benarkan Mas, Fani juga kepikiran. apalagi Ayu di kenal sebagai murid berprestasi di sekolah, Fani takut lelaki itu akan mencoreng mama baiknya." imbuh Fani sepemikiran dengan Dimas.
"berhenti lah memikirkan hal-hal konyol seperti itu, dia takkan berani bertingkah sejauh itu. itu hanya kenakalan bocah remaja, tidak usah di ambil pusing. kalian begitu mengkhawatirkan hubungannya dengan lelaki itu, tapi membiarkannya bergaul dengan Pria jadi-jadian? kalian tidak takut Rey menggoda Ayu atau semacamnya?" tampaknya hanya Vino yang berbeda pendapat.
"menggoda? chh.." Dimas tersenyum geli.
"Rey itu menyukai mu hahahha.. lagi pula bagus bukan kalau dia 'menggoda' Ayu sebagai lelaki. dan satu lagi, aku tidak suka kau menganggap enteng kejadian ini dengan mengatakan kenakalan remaja biasa. bahkan Casanova seperti mu terlahir dari remaja biasa." sambung nya terdengar mengolok Vino.
"benar, tindakan ini juga termasuk pelecehan. apalagi ia berani mengajak Ayu untuk melakukannya. bukankah itu keterlaluan?" imbuh Dika membuat Vino merasa semakin terpojok.
"Casanova katamu? setidaknya aku tidak pernah di selingkuhi seperti mu hahha.." balas Vino tertawa sinis.
Fani dan Nurul hanya menghela nafas berat, apapun pembahasannya. jika ada Vino dan Dimas maka akan berakhir saling mengolok masalalu.
"sudahlah.. kalian tidak malu sama uban kalian hah?" Dika melerai mereka bak wasit di ring tinju.
"apa aku sudah ubanan? Sayang, coba lihatkan di mana uban nya?" tanya Vino menyodorkan kepalanya pada Nurul.
"hahhahahahha...." mereka menertawakan wajah konyol Vino.
"aku pergi dulu..." pamit Dika sambil memamerkan panggilan telepon dari Gaby.
"mm.. hati hati.." sahut Fani dan Nurul bersamaan.
"oh iya dek.. besok sore kita jadi kan ke makam Ibuk? minggu lalu kakak kesana, bunga mawar yang kita taburkan waktu itu tumbuh subur banget." sorot mata Fani tampak menunjukkan kerinduan kepada sang Ibu.
Nurul menatap ke langit sambil meneteskan air mata "seandainya Ibuk ada di sini ya kak.."
"Ibuk pasti sudah bahagia di sana, jadi kalian jangan sedih." ujar Dimas seraya mengusap lembut punggung tangan Fani.
"jangan nangis Sayang.." Vino juga tampak terharu sambil menghapus titik air mata di pipi Nurul menggunakan ibu jarinya.
Fani yang kini tak perlu bekerja keras untuk adik-adik nya. ia yang kini sudah bahagia dengan suami dan anak kembar yang amat menyayanginya. Nurul yang juga telah di jadikan Ratu oleh suami nya, serta Dika yang kini sukses dengan gelar dokter nya. apa ada alasan untuk Mendiang Nita tak bahagia menyaksikan kebahagiaan anak-anak nya sekarang?
Jikalau Nita bisa kembali dan mengucapkan terimakasih, maka Dimas lah orang yang akan mendapatkan ucapan itu. berkat ketulusan nya, ia bisa menjaga dengan baik semua buah hati Nita. tanpa nya, mereka pasti akan tetap berada di jurang kepedihan yang tiada hentinya.
Lalu Ayu? apa dia tidak bahagia? tentu saja ia bahagia seperti semua kakak-kakaknya. menjadi kesayangan di dalam keluarga malaikat itu, serta menjadi yang paling populer di sekolahnya. berkat orang tuanya yang sekarang, ia benar-benar merasakan kasih sayang Ayah yang dari lahir tak pernah di dapat. ia bisa dengan tenang ke sekolah tanpa harus terburu-buru pulang karena sepatunya bergantian dengan Nurul. bibit kesabaran mereka semua kini terbalas dengan buah manis yang senantiasa melengkapi kebahagiaan.
Hanya saja seperti nya bibit kesabaran Ayu belum begitu matang.
Ia berjalan cepat mengejar langkah jenjang Rey "pliss anggap Saya perempuan kali ini aja" ucap nya dengan nafas tersengal-sengal.
Rey menghentikan langkahnya dan berbalik badan "memangnya selama ini Saya menganggap kamu apa?"
Rey tertawa menyaksikan kegigihan Ayu yang tampak konyol itu.
"di mata Saya kamu itu wanita, maka jangan berharap lebih soal perasaan." imbuhnya sambil menatap dalam wajah Ayu.
Kata-kata itu membuat Ayu sadar, bahwa ia bukan salah menaruh perasaan. hanya saja ia salah memilih objek nya.
Sekian dan terimakasih.............
Terimakasih banyak otor ucapkan untuk semua readers yang masih setia. bonus chapter otor akhiri sampe di sini yaโค๏ธโค๏ธโค๏ธ
Karena masih ada yang minta kejelasan Rey dan Ayu, kapan kapan otor buatin mereka judul sendiri. mudah mudahan ya secepatnya, jadi jangan unfav judul ini ya. nanti kalau sudah pasti otor bakal kasih pengumumannya di sini๐
see you bebeb bebeb kuhhh๐๐๐๐๐
Mohon maaf lahir dan batin semua nyaa๐๐๐๐