
Di sebuah perumahan Elite berlantai dua,
beberapa orang anak kecil tengah
bermain dengan selendang, bunga,
dan gaun putih milik si anak perempuan
berusia empat tahun, berambut curly,
mata coklat, dan wajah bulat nya yang
menggemaskan.
Dita, begitu ia biasa di panggil.
ia sedang di dandani bak pengantin
oleh anak yang sedikit lebih tua usia nya
yang tak lain adalah Fani kecil.
Bersama anak anak lainnya, mereka
merias balkon untuk di jadikan
altar pernikahan.
entah siapa yang memulai ide itu,
yang pasti mereka menikmati
pernikahan mainan itu.
"Dita... cepat, pengantin pria mu sudah
menunggu.."
teriak salah satu anak yang berperan
sebagai pemimpin acara.
Fani kecil dengan senyum polos nya
pun membawa keluar Dita dengan
riasan acak acakan ala kadar nya.
Si bocah pengantin Pria hanya tersenyum
dengan ingus keluar masuk, ia pasrah
saja di jadikan korban oleh para
teman teman wanita nya.
"Pangeran..
mau kah kau menikahi ku..๐ป"
ucap Dita tersenyum memamerkan
gigi ompong nya.
"aku bersedia menikahi mu
tuan Putri.."
ujar si bocah lelaki sambil menyerahkan
cincin mainan yang mereka dapatkan
dari jajan seribuan.
"yeeeeyyyy... hore...."
mereka semua menaburkan
bunga sambil melompat lompat
kegirangan.
Tak ada yang tau bahwa hari itu
menjadi pertemuan terakhir mereka.
karena ternyata Ibu nya Fani menjemput
mereka untuk pulang dan mengemasi barang.
Mereka akan segera pindah dari sana.
Nita dengan perut besar nya berpamitan
kepada keluarga Dita sekaligus berterimakasih
karena telah banyak membantu nya.
pertemanan anak anak itu pun
terputus begitu saja, begitu pula
pernikahan itu.
Dita masih dengan gaun putih nya
mengantarkan kepergian dua orang
teman kecil nya di iringi isak tangis.
"ini.. untuk kenang kenangan..."
Dita memberikan sebuah gantungan
kunci dari batok kelapa berbentuk hati.
...-...
...-...
byuurrrrr๐ฆ
Nurul menyiramkan setengah gelas
air ke wajah Dika.
Dika pun langsung bangkit dari kasur nya
karena terkejut.
"astaga!! apaan sih dek?"
"bangun kak.. bangun!
dari tadi Nur tendang tendang
nggak bangun. udah jam 9 nih,
kata nya kakak masuk sift pagi."
"huifftt...
iya iya..! bawel banget lu buk duda."
ledek Dika sambil menjulurkan lidah nya.
"kak.. plis deh, Nur masih ting ting.
yang duda itu Mas Vino.
jadi jangan panggil Nur buk duda."
sewot Nurul tak terima.
"hilih..hilih.....
udah manggil manggil Mas..
bau bau bucin udah mulai kecium nih,
cieeee....."
kalau tak usil kepada adik nya, bukan
Dika nama nya.
"ihh.. dasar sumianto!
buruan mandi, di tunggu di meja makan
sama papa mama."
"iya iya.. buk duda.. hahahaha.."
"hahahah...."
Nurul menirukan tawa Dika dengan bibir
monyong monyong.
"ganggu banget buk duda satu itu..."
rutuk Dika.
Ia mengeluarkan gantungan kunci
berbentuk hati yang terbuat dari
tempurung kelapa.
benda itu ia bawa tidur di dalam saku
piyama saat merindukan si pengantin
wanita nya.
Di balik nya gantungan kunci itu,
terukir di belakang nya nama
Dika & Dita. ukiran dari jarum peniti
yang mereka buat waktu gantungan
itu masih baru.
"hhh...."
Dika tersenyum tipis,
pernikahan mainan itu ternyata
masih tersimpan rapi di hati Dika.
sampai sekarang bahkan ia mengharapkan
bertemu kembali dengan pengantin
wanita nya.
...~~~~...
Hari ini Vino dan Nurul mengunjungi
makam mendiang Nita.
ia membawakan setangkai buket mawar
putih sambil meminta restu untuk
pernikahannya yang akan di laksanakan
minggu depan.
"Buk...
pernikahan Nur hanya tinggal menunggu
hari, doakan Nur dan Mas Vino ya..
Nur janji akan menjadi istri yang baik
seperti yang ibuk katakan."
buliran air mata mengaliri pipi
Nurul.
"Bu.., saya calon suami nya Ran."
Nurul menoleh sambil tersenyum,
Vino pun membalas senyuman Nurul.
untuk beberapa menit mereka
hanya saling menatap dan tersenyum
hingga sampai Nurul memudarkan
senyuman nya.
"udah? gitu aja?"
tanya Nurul.
Vino malah bertanya balik.
"saya calon suami nya Ran.
gitu doang? nggak ada kata lain gitu
yang mau Mas sampaikan?"
Vino menggeleng.
"mmm,,, tidak."
"tidak? apa gitu kek, Mas berjanji
gitu di depan ibuk.
atau apa gitu.."
"mmuaachhhh..๐"
Vino mengecup bibir Nurul yang
nyerocos terus dari tadi.
Plak!!!
pukulan hangat mendarat di bahu Vino.
"ih Mas!! ini di kuburan loh! pamali.."
"biar ibu kamu tau, kalau saya itu
cinta... cintaa.. cintaa banget sama
kamu..๐๐๐"
Nurul berdiri dan menarik Vino.
"iss.. pulang yuk.. keburu hujan
tuh langit nya udah gelap banget."
"Ibu mertua.. saya pamit dulu ya.."
bisik Vino ke arah batu Nisan Nita.
...-...
...-...
Saat dalam perjalanan pulang,
hujan deras mengguyur sepanjang
jalan membuat mobil mereka harus
jalan perlahan. padahal mereka sudah
berencana tadi nya untuk mampir
ke wedding organizer untuk menentukan
warna dekorasi.
Ya bisa sih di kasih lihat foto nya dari
handphone, tapi kan kalau lihat
langsung lebih enak.
Vino menggeliat sambil memandangi
ke arah luar, jalanan jadi sedikit macet
karena banyak mobil yang juga memenuhi
ruas jalan dengan kecepatan rendah.
"hhhfff....
hujan hujan begini enak nya.."
srrringg!!!!๐
wajah dan tatapan sewot Nurul
membelah imajenasi nya Vino.
"enak apa?? bisa nggak sih
sekali aja otak nya jangan
ngeres Mas..?"
bukan apa apa, setiap Vino berpikiran
begitu tubuh Nurul langsung hilang
kontrol dan gemetaran.
mungkin karena belum nyoba๐
ntar kalau sudah nyoba paling biasa aja
dengar begituan.
"ih.. apaan sih sayang..?
ngeres apa nya? orang saya mau bilang
makan bakso kok tadi.
kamu nih yang ngeres terus."
ledek Vino membuat wajah Nurul
semakin merah.
"alah.. bohong..
udah hapal Nur, kelihatan tuh
dari mata Mas.."
Vino tersenyum.
"lah.. kenapa emang nya mata saya?
perasaan biasa aja.
lagian emang nya kalau saya lagi
mikir aneh aneh mata saya jadi
berdiri tegang gitu? nggak kan?
sok tau ih kamu.."
"apaan lagi yang bediri??
jangan menggiring pikiran Nur
ke hal aneh ya Mas."
"mau saya cium kamu?"
tantang Vino gemas karena Nurul
ngajak debat terus dari tadi.
Seketika Nurul langsung tutup mulut
dan menghadap ke depan.
tangan nya juga ******* ***** erat
rok yang ia kenakan karena cemas Vino akan
benar benar melakukan itu.
...~~~~...
Di rumah sakit..
"Pak..
pasien di kamar 302 tidak ada di kamar nya.
padahal masih dua hari lagi dia harus
di rawat."
ujar suster sedikit khawatir.
"biarkan saja..
mungkin dia bosan di sini."
sahut Dika malas karena pasien yang
di maksud suster itu adalah Mei.
"t..tapi Pak..
masih dua hari lagi seharus nya,
baru dia boleh keluar."
"kamu mau mencari nya?"
Suster itu geleng kepala.
"ya sudah, biarkan saja.."
ketus Dika sambil menggerakkan
jari nya sebagai isyarat agar suster
segera keluar dari ruangan nya.
...~~~~...
Saat hujan sudah mulai reda,
Vino mulai melajukan mobil nya.
di saat yang bersamaan, mata Nurul
menangkap seseorang yang tampak
tak asing bagi nya.
Seorang wanita yang masih mengenakan
baju pasien tengah berjalan di bawah
rintikan air hujan sambil memeluk
erat tas sekolah nya.
"Mas.. berhenti deh.."
"kenapa sayang??"
"itu.. Mei kan??"
Vino menurunkan kaca mobil nya
untuk memperjelas penglihatan.
"oh.. iya benar..."
ia lalu kembali menekan pedal gas nya.
"putar balik Mas..."
pinta Nurul.
"hahh??!!"
...*********...
Hei..hei heiii....๐๐
bebeb tercintahh๐
otor udh siap rewang nih, tapi
dikit dulu ya UP nya. badan otor masih
remek banget rasa nya๐
makasih banyak pokok nya untuk
suport setia kalian๐๐
oh iya.. ada yang mau wajik?
keripik? atau rendang?
sini buruan๐ ๐