Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 55: Mimpi.


Di sebuah perumahan Elite berlantai dua,


beberapa orang anak kecil tengah


bermain dengan selendang, bunga,


dan gaun putih milik si anak perempuan


berusia empat tahun, berambut curly,


mata coklat, dan wajah bulat nya yang


menggemaskan.


Dita, begitu ia biasa di panggil.


ia sedang di dandani bak pengantin


oleh anak yang sedikit lebih tua usia nya


yang tak lain adalah Fani kecil.


Bersama anak anak lainnya, mereka


merias balkon untuk di jadikan


altar pernikahan.


entah siapa yang memulai ide itu,


yang pasti mereka menikmati


pernikahan mainan itu.


"Dita... cepat, pengantin pria mu sudah


menunggu.."


teriak salah satu anak yang berperan


sebagai pemimpin acara.


Fani kecil dengan senyum polos nya


pun membawa keluar Dita dengan


riasan acak acakan ala kadar nya.


Si bocah pengantin Pria hanya tersenyum


dengan ingus keluar masuk, ia pasrah


saja di jadikan korban oleh para


teman teman wanita nya.


"Pangeran..


mau kah kau menikahi ku..๐Ÿ˜ป"


ucap Dita tersenyum memamerkan


gigi ompong nya.


"aku bersedia menikahi mu


tuan Putri.."


ujar si bocah lelaki sambil menyerahkan


cincin mainan yang mereka dapatkan


dari jajan seribuan.


"yeeeeyyyy... hore...."


mereka semua menaburkan


bunga sambil melompat lompat


kegirangan.


Tak ada yang tau bahwa hari itu


menjadi pertemuan terakhir mereka.


karena ternyata Ibu nya Fani menjemput


mereka untuk pulang dan mengemasi barang.


Mereka akan segera pindah dari sana.


Nita dengan perut besar nya berpamitan


kepada keluarga Dita sekaligus berterimakasih


karena telah banyak membantu nya.


pertemanan anak anak itu pun


terputus begitu saja, begitu pula


pernikahan itu.


Dita masih dengan gaun putih nya


mengantarkan kepergian dua orang


teman kecil nya di iringi isak tangis.


"ini.. untuk kenang kenangan..."


Dita memberikan sebuah gantungan


kunci dari batok kelapa berbentuk hati.


...-...


...-...


byuurrrrr๐Ÿ’ฆ


Nurul menyiramkan setengah gelas


air ke wajah Dika.


Dika pun langsung bangkit dari kasur nya


karena terkejut.


"astaga!! apaan sih dek?"


"bangun kak.. bangun!


dari tadi Nur tendang tendang


nggak bangun. udah jam 9 nih,


kata nya kakak masuk sift pagi."


"huifftt...


iya iya..! bawel banget lu buk duda."


ledek Dika sambil menjulurkan lidah nya.


"kak.. plis deh, Nur masih ting ting.


yang duda itu Mas Vino.


jadi jangan panggil Nur buk duda."


sewot Nurul tak terima.


"hilih..hilih.....


udah manggil manggil Mas..


bau bau bucin udah mulai kecium nih,


cieeee....."


kalau tak usil kepada adik nya, bukan


Dika nama nya.


"ihh.. dasar sumianto!


buruan mandi, di tunggu di meja makan


sama papa mama."


"iya iya.. buk duda.. hahahaha.."


"hahahah...."


Nurul menirukan tawa Dika dengan bibir


monyong monyong.


"ganggu banget buk duda satu itu..."


rutuk Dika.


Ia mengeluarkan gantungan kunci


berbentuk hati yang terbuat dari


tempurung kelapa.


benda itu ia bawa tidur di dalam saku


piyama saat merindukan si pengantin


wanita nya.


Di balik nya gantungan kunci itu,


terukir di belakang nya nama


Dika & Dita. ukiran dari jarum peniti


yang mereka buat waktu gantungan


itu masih baru.


"hhh...."


Dika tersenyum tipis,


pernikahan mainan itu ternyata


masih tersimpan rapi di hati Dika.


sampai sekarang bahkan ia mengharapkan


bertemu kembali dengan pengantin


wanita nya.


...~~~~...


Hari ini Vino dan Nurul mengunjungi


makam mendiang Nita.


ia membawakan setangkai buket mawar


putih sambil meminta restu untuk


pernikahannya yang akan di laksanakan


minggu depan.


"Buk...


pernikahan Nur hanya tinggal menunggu


hari, doakan Nur dan Mas Vino ya..


Nur janji akan menjadi istri yang baik


seperti yang ibuk katakan."


buliran air mata mengaliri pipi


Nurul.


"Bu.., saya calon suami nya Ran."


Nurul menoleh sambil tersenyum,


Vino pun membalas senyuman Nurul.


untuk beberapa menit mereka


hanya saling menatap dan tersenyum


hingga sampai Nurul memudarkan


senyuman nya.


"udah? gitu aja?"


tanya Nurul.


Vino malah bertanya balik.


"saya calon suami nya Ran.


gitu doang? nggak ada kata lain gitu


yang mau Mas sampaikan?"


Vino menggeleng.


"mmm,,, tidak."


"tidak? apa gitu kek, Mas berjanji


gitu di depan ibuk.


atau apa gitu.."


"mmuaachhhh..๐Ÿ˜˜"


Vino mengecup bibir Nurul yang


nyerocos terus dari tadi.


Plak!!!


pukulan hangat mendarat di bahu Vino.


"ih Mas!! ini di kuburan loh! pamali.."


"biar ibu kamu tau, kalau saya itu


cinta... cintaa.. cintaa banget sama


kamu..๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š"


Nurul berdiri dan menarik Vino.


"iss.. pulang yuk.. keburu hujan


tuh langit nya udah gelap banget."


"Ibu mertua.. saya pamit dulu ya.."


bisik Vino ke arah batu Nisan Nita.


...-...


...-...


Saat dalam perjalanan pulang,


hujan deras mengguyur sepanjang


jalan membuat mobil mereka harus


jalan perlahan. padahal mereka sudah


berencana tadi nya untuk mampir


ke wedding organizer untuk menentukan


warna dekorasi.


Ya bisa sih di kasih lihat foto nya dari


handphone, tapi kan kalau lihat


langsung lebih enak.


Vino menggeliat sambil memandangi


ke arah luar, jalanan jadi sedikit macet


karena banyak mobil yang juga memenuhi


ruas jalan dengan kecepatan rendah.


"hhhfff....


hujan hujan begini enak nya.."


srrringg!!!!๐Ÿ˜’


wajah dan tatapan sewot Nurul


membelah imajenasi nya Vino.


"enak apa?? bisa nggak sih


sekali aja otak nya jangan


ngeres Mas..?"


bukan apa apa, setiap Vino berpikiran


begitu tubuh Nurul langsung hilang


kontrol dan gemetaran.


mungkin karena belum nyoba๐Ÿ™ˆ


ntar kalau sudah nyoba paling biasa aja


dengar begituan.


"ih.. apaan sih sayang..?


ngeres apa nya? orang saya mau bilang


makan bakso kok tadi.


kamu nih yang ngeres terus."


ledek Vino membuat wajah Nurul


semakin merah.


"alah.. bohong..


udah hapal Nur, kelihatan tuh


dari mata Mas.."


Vino tersenyum.


"lah.. kenapa emang nya mata saya?


perasaan biasa aja.


lagian emang nya kalau saya lagi


mikir aneh aneh mata saya jadi


berdiri tegang gitu? nggak kan?


sok tau ih kamu.."


"apaan lagi yang bediri??


jangan menggiring pikiran Nur


ke hal aneh ya Mas."


"mau saya cium kamu?"


tantang Vino gemas karena Nurul


ngajak debat terus dari tadi.


Seketika Nurul langsung tutup mulut


dan menghadap ke depan.


tangan nya juga ******* ***** erat


rok yang ia kenakan karena cemas Vino akan


benar benar melakukan itu.


...~~~~...


Di rumah sakit..


"Pak..


pasien di kamar 302 tidak ada di kamar nya.


padahal masih dua hari lagi dia harus


di rawat."


ujar suster sedikit khawatir.


"biarkan saja..


mungkin dia bosan di sini."


sahut Dika malas karena pasien yang


di maksud suster itu adalah Mei.


"t..tapi Pak..


masih dua hari lagi seharus nya,


baru dia boleh keluar."


"kamu mau mencari nya?"


Suster itu geleng kepala.


"ya sudah, biarkan saja.."


ketus Dika sambil menggerakkan


jari nya sebagai isyarat agar suster


segera keluar dari ruangan nya.


...~~~~...


Saat hujan sudah mulai reda,


Vino mulai melajukan mobil nya.


di saat yang bersamaan, mata Nurul


menangkap seseorang yang tampak


tak asing bagi nya.


Seorang wanita yang masih mengenakan


baju pasien tengah berjalan di bawah


rintikan air hujan sambil memeluk


erat tas sekolah nya.


"Mas.. berhenti deh.."


"kenapa sayang??"


"itu.. Mei kan??"


Vino menurunkan kaca mobil nya


untuk memperjelas penglihatan.


"oh.. iya benar..."


ia lalu kembali menekan pedal gas nya.


"putar balik Mas..."


pinta Nurul.


"hahh??!!"


...*********...


Hei..hei heiii....๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™


bebeb tercintahh๐Ÿ˜˜


otor udh siap rewang nih, tapi


dikit dulu ya UP nya. badan otor masih


remek banget rasa nya๐Ÿ˜Œ


makasih banyak pokok nya untuk


suport setia kalian๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


oh iya.. ada yang mau wajik?


keripik? atau rendang?


sini buruan๐Ÿ˜…๐Ÿ˜