
Di rumah Rudi, Evi panik sekaligus terharu
karena menemukan uang sebesar
20 juta rupiah di dalam amplop.
di sertai tulisan yang mengucapkan bahwa ia sangat berterimakasih kepada mereka.
"ya ampun pak, adik kemarin baik
banget ya.. dia ngasih uang
segini banyak cuma untuk ucapan
terimakasih." ujar Evi meneteskan air
mata bahagia.
"iya buk.. beruntung banget kita..
ini bisa untuk tambahan memperbaiki
rumah kita buk.."
Sayang nya, Nurul bahkan tak menceritakan
dimana dia tinggal, bahkan nomor
telepon nya. jadi niat Evi dan Rudi
mengucapkan terimakasih secara langsung sepertinya terhambat.
...~~~~...
Masih di taman, Nurul mengeluarkan
selembar foto dari tas nya,
foto usang keluarga nya saat masih utuh dulu. Nita menggandeng Fani, Nurul di
gendong ayah nya, sementara Dika
tersenyum lebar di tengah tengah
mereka. foto itu di ambil sekitar 17 tahun
yang lalu, kala Nita sedang hamil muda
si Ayu.
Foto usang itu membuat Nurul menangis
sesenggukan hingga Vino kebingungan.
apa perkataan nya begitu menyinggung?
"Ran..? ada apa??"
"ini alasan gigih Nur ingin menjadi
wanita serba bisa yang tak
mengandalkan laki laki,
yang bisa berdiri sendiri tanpa
merasa di rendahkan oleh lelaki."
ucap nya di iringi isak tangis.
Vino menatap lembut Nurul sambil
menggeggam tangan nya.
"dengar..
kamu bisa berpikiran begitu jika yang
melamar mu pria lain, ini saya Ran..Vino,
saya akui saya memang bejat. brengsek.
rusak! tapi saya mencintai kamu..
walaupun dulu saya sering berhubungan
dengan wanita, tapi saya janji akan setia.
cinta saya dari lima tahun yang lalu
hingga sekarang masih sama Ran..
masih kamu.. dan akan terus kamu.."
"chh.. bangga banget berhubungan
dengan banyak wanita.."
ucap Nurul tersenyum meledek.
"ya bukan gitu bunda..
saya cuma mau tau kalau hati
saya ini benar benar untuk kamu.."
"apa bapak bisa setia nanti nya?
Nur takut suatu saat nanti penyakit
bapak kambuh, dan sering jajan di luar."
"saya sudah buat perjanjian di atas
materai.. tunggu ya."
Vino ternyata sudah memprediksi semua
keraguan Nurul saat ini.
ia mengambil surat perjanjian yang
sudah di siapkan kemarin di mobilnya.
"nih, baca baik baik..
kalau kurang pas kamu tulis saja sendiri."
ia menyerahkan selembar kertas bertulis
kan beberapa perjanjiannya lengkap
dengan materai di bawah nya.
Berikut isi surat perjanjian nya.
Saya Alvino Giandra, berjanji akan
memperlakukan Alisha Kirana
sebaik baik nya sebagai istri sah saya.
Saya berjanji akan setia seumur hidup.
Saya berjanji hanya akan mencintai nya.
dan jika istri saya/ Alisha Kirana mendapati
saya bermain wanita(selingkuh)
maka saya siap menerima hukuman
apapun yang akan di berikan istri saya
sekalipun itu merenggut nyawa saya.
Tertanda : ----- (Alvino Giandra)
"ganti hukumannya menjadi
apabila Saya kedapatan selingkuh
maka saya bersedia di potong Anu nya."
ucap Nurul dengan alis di naikkan
sebelah.
Vino langsung merapatkan kaki nya.
"hah??"
"mau nggak.. kalau nggak mau
ya udah nggak jadi nikah.."
ancam Nurul.
Dengan bercucuran keringat dingin,
Vino mengganti tulisan itu sesuai
permintaan Nurul.
"waktu nulis rela sekalipun merenggut
nyawa enteng bener. giliran di suruh
tulis potong anu kok gemeteran.?"
"kehilangan nyawa itu lebih masuk akal
di bandingkan kehilangan tanduk saya
Ran, apa guna nya saya hidup kalau
tidak bisa ....
ngeri saya bayangin nya..brrrrr!!!"
ia bergidik merinding.
"bapak membayangkan anu nya di potong
berarti ada kemungkinan bapak punya
niat untuk selingkuh??!"
"ya..ng..nggak.. bukan..
nggak gitu.." sahut Vino gugup.
"awas aja!! kalau begitu!!
Nur langsung bawa ini surat perjanjian
ke pengadilan! dan langsung eksekusi
crass!!!!" ia mempraktekkan gerakan
orang menerbas rumput.
"kamu yakin mau menikah sama saya kan?"
tanya Vino tiba tiba. biasa nya ia tak perduli
saat Nurul bahkan berkali kali menolak nyA
ia tetap memaksa.
"hmm.. kenapa pak?
kok tiba tiba?" tentu saja Nurul terheran.
"mm..
saya cuma tidak mau saja suatu saat
nanti kamu mencela masa lalu saya.
karena dulu kamu kan pernah bilang,
kalau jodoh itu cerminan diri.
kamu gadis baik baik, sementara saya
pria brengsek yang mempunyai anak
dari hasil ***** semata."
Nurul dahulu saat mengatakan bahwa
jodoh itu pasti cerminan diri kita
sendiri.
"hahaha.. itukan dulu pak, sebelum Nur
tau kalau Nur mencintai bapak.
setelah Nur pikir pikir, cinta tak melulu
cerminan diri. bisa juga pelengkap diri,
seperti kapas putih yang membungkus
luka, walau di pandang dia mengotori
diri sendiri. sesungguhnya dia sedang
membersihkan luka itu."
tatapan Nurul kali ini sungguh berbinar
membuat jantung Vino semakin kejang kejang
jingkrak jingkrak tak karuan.
Senyum lebar dan tulus Vino
seakan mengungkapkan berjuta
rasa cinta.
"kamu mau kan jadi istri saya?
jadi bunda untuk El, bunda nya anak anak
kita nanti.."
"iya.. mau.."
jawab Nurul ragu..
Nurul menunduk sayu.
"tapi pak.. ada satu hal yang
belum bapak ketahui dari Nur.
sesuatu yang mungkin akan merubah
niat bapak untuk menikahi Nur.."
"bilang saja..
apapun itu saya pasti terima.."
"sebenarnya Nur....."
...~~~~...
Malam hari di rumah Rudi.
"buk...
ibuk yang beresin kamar ini kan?
ibuk ada lihat foto seukuran gini
nggak?" ia memperagakan lebar
foto itu dengan tangan nya.
"nggak tuh pak.. foto apa
memang nya..?"
Evi penasaran, foto apa yang membuat
suami nya itu sampai berkeringat mencarinya.
...~~~~...
Di rumah nya, Bian tengah mengemasi
barang barang yang ia beli/di belikan
oleh Nurul.
dari mulai Jam,kemeja,topi,jaket
bahkan cincin yang sudah ia siapkan
untuk melamar Nurul tahun depan.
"andai saja aku lebih cepat..
pasti saat ini dia sudah menjadi milikku.."
lirih nya sambil memandangi kaos pasangan
yang ia beli saat jalan jalan ke Singapore.
Hanya menarik nafas panjang yang bisa
meredakan perih yang masih membekas
di dada. ini pertama kali nya jatuh cinta,
pertama kali pula patah hati.
"Bi...kamu di dalam??"
panggil Viona dari luar.
"hmm.."
"keluar lah..
aku dan mama ingin jalan jalan.
kamu ikut?"
"tidak.."
jawab Bian pendek.
"semua yang ku katakan dia
menjawab nya dengan kata TIDAK.
ffff..." gumam Viona sambil beranjak
dari sana.
Bian memang belum cerita apa apa
tentang hubungan nya pada Viona.
namun, sorot mata yang penuh
keputusasan menjelaskan bahwa biduk
cina yang selama ini ia jalin telah karam.
...~~~~...
Setelah menerima lamaran Vino, kini
keluarga besar mereka sedang merencanakan
pesta pertunangan yang akan di laksanakan
minggu depan.
"aakhhh... senang nya..
tinggal menghitung bulan kamu
akan menjadi bunda El seutuh nya.."
bisik Vino di tengah tengah keluarga
besar yang sedang bermusyawarah.
"bulan??"
Nurul tampak terkejut.
"iya.. ini akan menjadi kado ulang
tahun El yang paling spesial."
bisik Vino lagi.
Nurul termanggu, ia menghitung hanya
dua bulan lagi hari ulang tahun El.
itu berarti..
"dua bulan pak??
kan Nur bilang tunggu lulus."
"loh.. bukannya kamu setuju kemarin??"
"iya Nur setuju menerima lamaran bapak.
tapi tetap nikah nya tunggu lulus.."
mereka mulai berdebat dengan suara halus
agar tak menjadi sorotan.
"saya tidak mau tau ya..
pokok nya dua bulan lagi. titik!"
tegas Vino.
"lah.. kalau Nur nggak mau gimana?!"
"wsshwhshshshhhhss...."
Vino membisikkan sesuatu yang tidak tidak.
"ihhh... amit amit...!!
pokok nya tunggu Nurul lulus.."
"tidak mau.."
"ih..kan ujung ujung nya bapak maksa
ini nama nya.."
"emang... kenapa??
kamu tau kan saya suka maksa."
"pak...!!!"
"mendingan mulai sekarang kamu ubah
panggilan itu menjadi sayang.. atau ayah..
atau beby..." pinta nya dengan nada manja.
Nurul hanya membelalakkan mata nya
ke arah Vino. sebenar nya sih bukan masalah.
toh nanti nya dia masih bisa lanjut kuliah.
tapi masalah nya ia hanya belum siap
menjadi seorang istri, apalagi membayangkan
yang anu anu...
waduh... anu lah pokok nya..
...*******...