Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Episode 32: Kesepakatan


Di rumah Rudi, Evi panik sekaligus terharu


karena menemukan uang sebesar


20 juta rupiah di dalam amplop.


di sertai tulisan yang mengucapkan bahwa ia sangat berterimakasih kepada mereka.


"ya ampun pak, adik kemarin baik


banget ya.. dia ngasih uang


segini banyak cuma untuk ucapan


terimakasih." ujar Evi meneteskan air


mata bahagia.


"iya buk.. beruntung banget kita..


ini bisa untuk tambahan memperbaiki


rumah kita buk.."


Sayang nya, Nurul bahkan tak menceritakan


dimana dia tinggal, bahkan nomor


telepon nya. jadi niat Evi dan Rudi


mengucapkan terimakasih secara langsung sepertinya terhambat.


...~~~~...


Masih di taman, Nurul mengeluarkan


selembar foto dari tas nya,


foto usang keluarga nya saat masih utuh dulu. Nita menggandeng Fani, Nurul di


gendong ayah nya, sementara Dika


tersenyum lebar di tengah tengah


mereka. foto itu di ambil sekitar 17 tahun


yang lalu, kala Nita sedang hamil muda


si Ayu.


Foto usang itu membuat Nurul menangis


sesenggukan hingga Vino kebingungan.


apa perkataan nya begitu menyinggung?


"Ran..? ada apa??"


"ini alasan gigih Nur ingin menjadi


wanita serba bisa yang tak


mengandalkan laki laki,


yang bisa berdiri sendiri tanpa


merasa di rendahkan oleh lelaki."


ucap nya di iringi isak tangis.


Vino menatap lembut Nurul sambil


menggeggam tangan nya.


"dengar..


kamu bisa berpikiran begitu jika yang


melamar mu pria lain, ini saya Ran..Vino,


saya akui saya memang bejat. brengsek.


rusak! tapi saya mencintai kamu..


walaupun dulu saya sering berhubungan


dengan wanita, tapi saya janji akan setia.


cinta saya dari lima tahun yang lalu


hingga sekarang masih sama Ran..


masih kamu.. dan akan terus kamu.."


"chh.. bangga banget berhubungan


dengan banyak wanita.."


ucap Nurul tersenyum meledek.


"ya bukan gitu bunda..


saya cuma mau tau kalau hati


saya ini benar benar untuk kamu.."


"apa bapak bisa setia nanti nya?


Nur takut suatu saat nanti penyakit


bapak kambuh, dan sering jajan di luar."


"saya sudah buat perjanjian di atas


materai.. tunggu ya."


Vino ternyata sudah memprediksi semua


keraguan Nurul saat ini.


ia mengambil surat perjanjian yang


sudah di siapkan kemarin di mobilnya.


"nih, baca baik baik..


kalau kurang pas kamu tulis saja sendiri."


ia menyerahkan selembar kertas bertulis


kan beberapa perjanjiannya lengkap


dengan materai di bawah nya.


Berikut isi surat perjanjian nya.


Saya Alvino Giandra, berjanji akan


memperlakukan Alisha Kirana


sebaik baik nya sebagai istri sah saya.


Saya berjanji akan setia seumur hidup.


Saya berjanji hanya akan mencintai nya.


dan jika istri saya/ Alisha Kirana mendapati


saya bermain wanita(selingkuh)


maka saya siap menerima hukuman


apapun yang akan di berikan istri saya


sekalipun itu merenggut nyawa saya.


Tertanda : ----- (Alvino Giandra)


"ganti hukumannya menjadi


apabila Saya kedapatan selingkuh


maka saya bersedia di potong Anu nya."


ucap Nurul dengan alis di naikkan


sebelah.


Vino langsung merapatkan kaki nya.


"hah??"


"mau nggak.. kalau nggak mau


ya udah nggak jadi nikah.."


ancam Nurul.


Dengan bercucuran keringat dingin,


Vino mengganti tulisan itu sesuai


permintaan Nurul.


"waktu nulis rela sekalipun merenggut


nyawa enteng bener. giliran di suruh


tulis potong anu kok gemeteran.?"


"kehilangan nyawa itu lebih masuk akal


di bandingkan kehilangan tanduk saya


Ran, apa guna nya saya hidup kalau


tidak bisa ....


ngeri saya bayangin nya..brrrrr!!!"


ia bergidik merinding.


"bapak membayangkan anu nya di potong


berarti ada kemungkinan bapak punya


niat untuk selingkuh??!"


"ya..ng..nggak.. bukan..


nggak gitu.." sahut Vino gugup.


"awas aja!! kalau begitu!!


Nur langsung bawa ini surat perjanjian


ke pengadilan! dan langsung eksekusi


crass!!!!" ia mempraktekkan gerakan


orang menerbas rumput.


"kamu yakin mau menikah sama saya kan?"


tanya Vino tiba tiba. biasa nya ia tak perduli


saat Nurul bahkan berkali kali menolak nyA


ia tetap memaksa.


"hmm.. kenapa pak?


kok tiba tiba?" tentu saja Nurul terheran.


"mm..


saya cuma tidak mau saja suatu saat


nanti kamu mencela masa lalu saya.


karena dulu kamu kan pernah bilang,


kalau jodoh itu cerminan diri.


kamu gadis baik baik, sementara saya


pria brengsek yang mempunyai anak


dari hasil ***** semata."


Nurul dahulu saat mengatakan bahwa


jodoh itu pasti cerminan diri kita


sendiri.


"hahaha.. itukan dulu pak, sebelum Nur


tau kalau Nur mencintai bapak.


setelah Nur pikir pikir, cinta tak melulu


cerminan diri. bisa juga pelengkap diri,


seperti kapas putih yang membungkus


luka, walau di pandang dia mengotori


diri sendiri. sesungguhnya dia sedang


membersihkan luka itu."


tatapan Nurul kali ini sungguh berbinar


membuat jantung Vino semakin kejang kejang


jingkrak jingkrak tak karuan.


Senyum lebar dan tulus Vino


seakan mengungkapkan berjuta


rasa cinta.


"kamu mau kan jadi istri saya?


jadi bunda untuk El, bunda nya anak anak


kita nanti.."


"iya.. mau.."


jawab Nurul ragu..


Nurul menunduk sayu.


"tapi pak.. ada satu hal yang


belum bapak ketahui dari Nur.


sesuatu yang mungkin akan merubah


niat bapak untuk menikahi Nur.."


"bilang saja..


apapun itu saya pasti terima.."


"sebenarnya Nur....."


...~~~~...


Malam hari di rumah Rudi.


"buk...


ibuk yang beresin kamar ini kan?


ibuk ada lihat foto seukuran gini


nggak?" ia memperagakan lebar


foto itu dengan tangan nya.


"nggak tuh pak.. foto apa


memang nya..?"


Evi penasaran, foto apa yang membuat


suami nya itu sampai berkeringat mencarinya.


...~~~~...


Di rumah nya, Bian tengah mengemasi


barang barang yang ia beli/di belikan


oleh Nurul.


dari mulai Jam,kemeja,topi,jaket


bahkan cincin yang sudah ia siapkan


untuk melamar Nurul tahun depan.


"andai saja aku lebih cepat..


pasti saat ini dia sudah menjadi milikku.."


lirih nya sambil memandangi kaos pasangan


yang ia beli saat jalan jalan ke Singapore.


Hanya menarik nafas panjang yang bisa


meredakan perih yang masih membekas


di dada. ini pertama kali nya jatuh cinta,


pertama kali pula patah hati.


"Bi...kamu di dalam??"


panggil Viona dari luar.


"hmm.."


"keluar lah..


aku dan mama ingin jalan jalan.


kamu ikut?"


"tidak.."


jawab Bian pendek.


"semua yang ku katakan dia


menjawab nya dengan kata TIDAK.


ffff..." gumam Viona sambil beranjak


dari sana.


Bian memang belum cerita apa apa


tentang hubungan nya pada Viona.


namun, sorot mata yang penuh


keputusasan menjelaskan bahwa biduk


cina yang selama ini ia jalin telah karam.


...~~~~...


Setelah menerima lamaran Vino, kini


keluarga besar mereka sedang merencanakan


pesta pertunangan yang akan di laksanakan


minggu depan.


"aakhhh... senang nya..


tinggal menghitung bulan kamu


akan menjadi bunda El seutuh nya.."


bisik Vino di tengah tengah keluarga


besar yang sedang bermusyawarah.


"bulan??"


Nurul tampak terkejut.


"iya.. ini akan menjadi kado ulang


tahun El yang paling spesial."


bisik Vino lagi.


Nurul termanggu, ia menghitung hanya


dua bulan lagi hari ulang tahun El.


itu berarti..


"dua bulan pak??


kan Nur bilang tunggu lulus."


"loh.. bukannya kamu setuju kemarin??"


"iya Nur setuju menerima lamaran bapak.


tapi tetap nikah nya tunggu lulus.."


mereka mulai berdebat dengan suara halus


agar tak menjadi sorotan.


"saya tidak mau tau ya..


pokok nya dua bulan lagi. titik!"


tegas Vino.


"lah.. kalau Nur nggak mau gimana?!"


"wsshwhshshshhhhss...."


Vino membisikkan sesuatu yang tidak tidak.


"ihhh... amit amit...!!


pokok nya tunggu Nurul lulus.."


"tidak mau.."


"ih..kan ujung ujung nya bapak maksa


ini nama nya.."


"emang... kenapa??


kamu tau kan saya suka maksa."


"pak...!!!"


"mendingan mulai sekarang kamu ubah


panggilan itu menjadi sayang.. atau ayah..


atau beby..." pinta nya dengan nada manja.


Nurul hanya membelalakkan mata nya


ke arah Vino. sebenar nya sih bukan masalah.


toh nanti nya dia masih bisa lanjut kuliah.


tapi masalah nya ia hanya belum siap


menjadi seorang istri, apalagi membayangkan


yang anu anu...


waduh... anu lah pokok nya..


...*******...