Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 37: Takdir buruk


jeklekk..


Rey membuka pintu dari dalam karena


merasa panik dan terkejut juga.


"kenapa? ada apa??"


tanya Rey sambil buru buru mengancingkan


kemeja nya.


Bingung lah Ayu, apa yang harus ia katakan


karena yang membuat diri nya terkejut


tadi adalah suguhan roti sobek nya Rey


yang tengah berganti pakaian.


"Disha dan Keenan.. saya cari mereka pak."


sahut nya tanpa berbalik menghadap Rey.


"mereka, barusan di antar pak Dimas


ke kantin. kamu tidak berpapasan dengan nya?"


"kalau berpapasan ngapain aku ke sini.."


batin Ayu.


"maaf karena membuat mu terkejut.


saya buru buru jadi tidak sempat


mengganti baju ke toilet."


"hah..?" Ayu terheran, kok bisa Rey tau


hal itu yang membuat nya terkejut.


"saya permisi dulu ya.."


ia langsung berjalan terburu buru


menuju ruang rapat.


"aishh.. kopi sialan itu."


rutuk nya masih terdengar oleh Ayu.


"ko..kopi? baju??!


ck..ck..ck.. jadi dia luwak yang tadi


di bicarakan Bu Mila?"


gumam Ayu sambil memandangi


sinis punggung Rey yang perlahan menjauh.


...~~~~...


Entah karena kelelahan, atau memang


bawaan. menstruasi kali ini benar benar


menguras tenaga Nurul.


hari pertama, kelas pagi pula.


bahkan ia sampai melilitkan syal di perutnya


agar nyeri nya berkurang.


Sambil mendengarkan Dosen, ia mengingat


apa saja tips yang pernah dikatakan Bian


untuk meringankan nyeri datang bulan.


"ah.. benar, bantalan hangat.."


"Pak.. saya izin ke UKS ya.."


pinta nya dengan wajah pucat.


"iya.. apa ada yang sakit?


butuh bantuan?" tanya sang Dosen.


"cuma kram perut kok pak.."


"oke..." sahut pak Dosen melanjutkan


sesi mengajar nya.


Setelah cukup lama berjalan tertatih


menahan nyeri, akhirnya Nurul sampai


di UKS. ia langsung mencari bantalan


penghangat yang biasa nya di sediakan


di sana.


"datang bulan..?"


tanya Bian, ia juga sedang mencari sesuatu


di sana.


"eh.., iya bang."


"bantalan kita sedang kosong,


kalau mau minum lah Mefenamic Acid."


ucap nya lalu segera pergi dari sana.


"bang..


terimakasih, kado nya.."


Langkah Bian langsung berputar


menghadap lagi ke arah Nurul.


"kamu suka?"


Nurul mengangguk.


"hmm.."


"syukur lah.." Bian tersenyum lebar,


namun tampak tidak tulus terlihat


dari kerutan bibir nya.


...-...


...-...


Hari ini benar benar menjadi hari yang


sangat berat untuk Nurul.


perut nyeri, pinggang pegal dan kepala


pusing bercampur aduk mengacaukan


semangat nya. di tambah ia menyetir mobil


sendiri karena Dika sedang tidak bertugas.


Tangan kanan menyetir, tangan kiri


memegangi perut. ia berusaha semaksimal


mungkin mengendarai mobil nya.


Di tengah tengah jalan yang cukup ramai,


ia mulai kehilangan pandangan nya.


masih dengan kecepatan 50 km per jam


ia gagal menjaga keseimbangan hingga


akhir nya tak sadarkan diri.


Dddrrrrrrkkkkk!!!!!!


brakk!!!!!!!!!


sebuah motor berkecepatan tinggi dari


arah berlawanan tertabrak oleh nya hingga


korban terseret beberapa meter.


...~~~~...


wiu...wiu..wiu.... πŸš¨πŸš¨πŸš¨πŸ”ŠπŸ”ŠπŸ”Š


Dua mobil ambulance parkir tepat


di depan IGD.


berbeda dengan kondisi Nurul yang hanya


pingsan. korban yang di tabrak Nurul luka


parah terutama di bagian kepala nya karena


ia terseret, setelah itu terbentur di trotoar.


Tim medis segera berlarian karena kondisi


korban sangat fatal. darah tak henti hentinya


keluar dari kepala korban. bahkan beberapa


kali korban mengalami kejang.


...-...


...-...


"hiks..hiks.. Bunda...."


panggil El sambil menangis sesenggukan.


"El, jangan nangis ya..


bunda nya nggak kenapa kenapa kok..


tenang ya nak.."


ujar Rianti mengelus kepala El.


Nurul yang masih setengah sadar belum


bisa mengingat apa sebenarnya yang terjadi.


"Bunda nggak apa apa El..


jangan nangis ya.."


lirihnya berusaha tersenyum.


Vino mengusap lembut tangan Nurul.


"masih sakit Ran..?"


"hmm.." balas nya mengangguk.


Beberapa saat kemudian seluruh keluarga


kondisi Nurul. ya bisa kalian bayangkan


betapa ramai nya ruangan itu sekarang.


"Dek.. kok bisa sih? coba kamu nurut


kakak untuk nggak masuk kuliah dulu tadi.


kakak kan udah bilang, darah kamu rendah.


kamu juga kurang tidur di tambah


sedang datang bulan hari pertama


wek..wek.wek.wek.."


Dika mengoceh panjang lebar mengomeli


Nurul tak henti henti.


"kalau nggak presentasi juga Nur males


kuliah kak.."


"ya kenapa kamu bersikeras bawa mobil


sendiri tadi? atau setidak nya kalau kamu


sadar kondisi kamu nggak memungkinkan


telpon kek calon suami mu ini minta jemput.


atau minta antar teman kamu si baby itu."


Bahkan Rianti kalah cerewet nya di banding


Dika. Fani sampai tertawa geli melihat sifat


adik lajang nya yang bersifat sangat keibuan


itu.


"Gaby.. nama nya Gaby..!"


sahut Nurul malas.


"sudah ya.. kakak ipar kecil ku..


jangan di marah terus Ran.. kasian.."


goda Vino menenangkan Dika.


"masalah nya dia nggak cuma


membahayakan nyawa nya adik ipar tua ku.


nyawa orang juga jadi dalam bahaya gara gara


kecerobohan nya."


tukas Dika kesal, khawatir, panik


pokok nya ngublek jadi satu.


Senyum di wajah Vino langsung pudar


mendengar kata 'tua'.


"nama nya kecelakaan pak Dokter..


siapa juga yang mau seperti ini,


ini takdir nahas untuk Ran dan korban nya."


"korban? tunggu!!


Nur baru ingat. gimana keadaan nya?


apa orang itu baik baik aja?


kalau sampai orang itu kenapa kenapa??!"


jadi tersangka lah dia akibat kecerobohan.


Vino mendekat.


"kondisi nya kritis Ran..


tapi nggak semua nya salah kamu,


dia juga keluar jalur dengan kecepatan


tinggi. jadi kamu jangan panik ya.."


"nggak.. bawa Nur lihat keadaan nya.


setidak nya Nur tau udah mencelakai


siapa.."


"orang nya lagi di UGD nak..


nanti kita jenguk kalau dia sudah siuman ya."


ujar Rianti menenangkan putri nya.


"iya Ran.. benar kata mama, lagian


kamu kenal kok orang nya.."


imbuh Vino lagi.


deg...


perasaan Nurul sudah tak enak akan hal ini.


"hah?? siapa Pak??"


"Bapak Titian Agung yang beberapa


waktu lalu menolong kita.


siapa nama nya ya.."


"Apa?!!!!!"


Nurul langsung mengambil botol infusnya


dan berlari menuju UGD.


"nggak.. nggak mungkin..


ayah.. tolong ya tuhan, selamatkan dia.."


Nurul menangis sejadi jadi nya.


Mereka semua pun langsung mengikuti


Nurul sambil bertanya tanya.


ada apa dengan Nurul?


Di ruang UGD...


Berbagai upaya telah di lakukan dokter.


namun sayang, banyak nya pembuluh darah


yang pecah di otak Rudi mengakibatkan


nyawa nya tak bisa tertolong.


tttiiiiiiiiiiiiittttttttttt.....


"satu.. dua..."


dokter memberikan rangsangan


detak jantung dengan Defibrilator


namun Rudi tak bereaksi.


"naikkan Volt nya.."


titah pak Dokter.


"satu.. dua..." zrrttt...


Setelah lima kali percobaan tak berhasil


Dokter pun menggelengkan kepala ke arah


suster. para suster mengangguk kemudian


melepaskan semua alat bantu yang melekat


di tubuh Rudi kemudian menutupi wajah nya


dengan kain.


Evi langsung menghampiri dokter


berharap kabar baik yang ia dengar.


"bagaimana Pak. suami saya sudah siuman?"


"parah nya pendarahan di otak membuat


kami gagal menyelamatkan nyawa


suami ibu..


mari kita doakan agar kepulangan


suami ibu di beri kelancaran.."


ucap Dokter sambil menunduk


mengisyaratkan permohonan maaf.


Bagi seorang tenaga medis, hal ini sudah


lumrah. walaupun tak tega karena menyampaikan berita duka itu.


mau tak mau mereka harus siap karena


itulah pekerjaan mereka.


Namun bagi seorang keluarga yang


di tinggalkan tentu terasa sangat hancur.


bagaimana bisa ia menerima suami nya


meninggal dengan sangat mengenaskan.


"nggak!! Pak..! bapak!!


bangun Pak..! bapak kenapa??


huuuhuuuuuu😭😭😭


kata nya mau jemput Cindy pulang


bapak😭😭😭 kenapa bapak pergi!!!


bapak!!! jangan tinggalin ibuk Pak...


hwuuuu😭😭😭😭😭"


isak tangis Evi mengiringi jenazah suami nya


yang hendak di bawa ke ruang mayat untuk


di bersihkan lebih dulu.


...**********...