
jeklekk..
Rey membuka pintu dari dalam karena
merasa panik dan terkejut juga.
"kenapa? ada apa??"
tanya Rey sambil buru buru mengancingkan
kemeja nya.
Bingung lah Ayu, apa yang harus ia katakan
karena yang membuat diri nya terkejut
tadi adalah suguhan roti sobek nya Rey
yang tengah berganti pakaian.
"Disha dan Keenan.. saya cari mereka pak."
sahut nya tanpa berbalik menghadap Rey.
"mereka, barusan di antar pak Dimas
ke kantin. kamu tidak berpapasan dengan nya?"
"kalau berpapasan ngapain aku ke sini.."
batin Ayu.
"maaf karena membuat mu terkejut.
saya buru buru jadi tidak sempat
mengganti baju ke toilet."
"hah..?" Ayu terheran, kok bisa Rey tau
hal itu yang membuat nya terkejut.
"saya permisi dulu ya.."
ia langsung berjalan terburu buru
menuju ruang rapat.
"aishh.. kopi sialan itu."
rutuk nya masih terdengar oleh Ayu.
"ko..kopi? baju??!
ck..ck..ck.. jadi dia luwak yang tadi
di bicarakan Bu Mila?"
gumam Ayu sambil memandangi
sinis punggung Rey yang perlahan menjauh.
...~~~~...
Entah karena kelelahan, atau memang
bawaan. menstruasi kali ini benar benar
menguras tenaga Nurul.
hari pertama, kelas pagi pula.
bahkan ia sampai melilitkan syal di perutnya
agar nyeri nya berkurang.
Sambil mendengarkan Dosen, ia mengingat
apa saja tips yang pernah dikatakan Bian
untuk meringankan nyeri datang bulan.
"ah.. benar, bantalan hangat.."
"Pak.. saya izin ke UKS ya.."
pinta nya dengan wajah pucat.
"iya.. apa ada yang sakit?
butuh bantuan?" tanya sang Dosen.
"cuma kram perut kok pak.."
"oke..." sahut pak Dosen melanjutkan
sesi mengajar nya.
Setelah cukup lama berjalan tertatih
menahan nyeri, akhirnya Nurul sampai
di UKS. ia langsung mencari bantalan
penghangat yang biasa nya di sediakan
di sana.
"datang bulan..?"
tanya Bian, ia juga sedang mencari sesuatu
di sana.
"eh.., iya bang."
"bantalan kita sedang kosong,
kalau mau minum lah Mefenamic Acid."
ucap nya lalu segera pergi dari sana.
"bang..
terimakasih, kado nya.."
Langkah Bian langsung berputar
menghadap lagi ke arah Nurul.
"kamu suka?"
Nurul mengangguk.
"hmm.."
"syukur lah.." Bian tersenyum lebar,
namun tampak tidak tulus terlihat
dari kerutan bibir nya.
...-...
...-...
Hari ini benar benar menjadi hari yang
sangat berat untuk Nurul.
perut nyeri, pinggang pegal dan kepala
pusing bercampur aduk mengacaukan
semangat nya. di tambah ia menyetir mobil
sendiri karena Dika sedang tidak bertugas.
Tangan kanan menyetir, tangan kiri
memegangi perut. ia berusaha semaksimal
mungkin mengendarai mobil nya.
Di tengah tengah jalan yang cukup ramai,
ia mulai kehilangan pandangan nya.
masih dengan kecepatan 50 km per jam
ia gagal menjaga keseimbangan hingga
akhir nya tak sadarkan diri.
Dddrrrrrrkkkkk!!!!!!
brakk!!!!!!!!!
sebuah motor berkecepatan tinggi dari
arah berlawanan tertabrak oleh nya hingga
korban terseret beberapa meter.
...~~~~...
wiu...wiu..wiu.... π¨π¨π¨πππ
Dua mobil ambulance parkir tepat
di depan IGD.
berbeda dengan kondisi Nurul yang hanya
pingsan. korban yang di tabrak Nurul luka
parah terutama di bagian kepala nya karena
ia terseret, setelah itu terbentur di trotoar.
Tim medis segera berlarian karena kondisi
korban sangat fatal. darah tak henti hentinya
keluar dari kepala korban. bahkan beberapa
kali korban mengalami kejang.
...-...
...-...
"hiks..hiks.. Bunda...."
panggil El sambil menangis sesenggukan.
"El, jangan nangis ya..
bunda nya nggak kenapa kenapa kok..
tenang ya nak.."
ujar Rianti mengelus kepala El.
Nurul yang masih setengah sadar belum
bisa mengingat apa sebenarnya yang terjadi.
"Bunda nggak apa apa El..
jangan nangis ya.."
lirihnya berusaha tersenyum.
Vino mengusap lembut tangan Nurul.
"masih sakit Ran..?"
"hmm.." balas nya mengangguk.
Beberapa saat kemudian seluruh keluarga
kondisi Nurul. ya bisa kalian bayangkan
betapa ramai nya ruangan itu sekarang.
"Dek.. kok bisa sih? coba kamu nurut
kakak untuk nggak masuk kuliah dulu tadi.
kakak kan udah bilang, darah kamu rendah.
kamu juga kurang tidur di tambah
sedang datang bulan hari pertama
wek..wek.wek.wek.."
Dika mengoceh panjang lebar mengomeli
Nurul tak henti henti.
"kalau nggak presentasi juga Nur males
kuliah kak.."
"ya kenapa kamu bersikeras bawa mobil
sendiri tadi? atau setidak nya kalau kamu
sadar kondisi kamu nggak memungkinkan
telpon kek calon suami mu ini minta jemput.
atau minta antar teman kamu si baby itu."
Bahkan Rianti kalah cerewet nya di banding
Dika. Fani sampai tertawa geli melihat sifat
adik lajang nya yang bersifat sangat keibuan
itu.
"Gaby.. nama nya Gaby..!"
sahut Nurul malas.
"sudah ya.. kakak ipar kecil ku..
jangan di marah terus Ran.. kasian.."
goda Vino menenangkan Dika.
"masalah nya dia nggak cuma
membahayakan nyawa nya adik ipar tua ku.
nyawa orang juga jadi dalam bahaya gara gara
kecerobohan nya."
tukas Dika kesal, khawatir, panik
pokok nya ngublek jadi satu.
Senyum di wajah Vino langsung pudar
mendengar kata 'tua'.
"nama nya kecelakaan pak Dokter..
siapa juga yang mau seperti ini,
ini takdir nahas untuk Ran dan korban nya."
"korban? tunggu!!
Nur baru ingat. gimana keadaan nya?
apa orang itu baik baik aja?
kalau sampai orang itu kenapa kenapa??!"
jadi tersangka lah dia akibat kecerobohan.
Vino mendekat.
"kondisi nya kritis Ran..
tapi nggak semua nya salah kamu,
dia juga keluar jalur dengan kecepatan
tinggi. jadi kamu jangan panik ya.."
"nggak.. bawa Nur lihat keadaan nya.
setidak nya Nur tau udah mencelakai
siapa.."
"orang nya lagi di UGD nak..
nanti kita jenguk kalau dia sudah siuman ya."
ujar Rianti menenangkan putri nya.
"iya Ran.. benar kata mama, lagian
kamu kenal kok orang nya.."
imbuh Vino lagi.
deg...
perasaan Nurul sudah tak enak akan hal ini.
"hah?? siapa Pak??"
"Bapak Titian Agung yang beberapa
waktu lalu menolong kita.
siapa nama nya ya.."
"Apa?!!!!!"
Nurul langsung mengambil botol infusnya
dan berlari menuju UGD.
"nggak.. nggak mungkin..
ayah.. tolong ya tuhan, selamatkan dia.."
Nurul menangis sejadi jadi nya.
Mereka semua pun langsung mengikuti
Nurul sambil bertanya tanya.
ada apa dengan Nurul?
Di ruang UGD...
Berbagai upaya telah di lakukan dokter.
namun sayang, banyak nya pembuluh darah
yang pecah di otak Rudi mengakibatkan
nyawa nya tak bisa tertolong.
tttiiiiiiiiiiiiittttttttttt.....
"satu.. dua..."
dokter memberikan rangsangan
detak jantung dengan Defibrilator
namun Rudi tak bereaksi.
"naikkan Volt nya.."
titah pak Dokter.
"satu.. dua..." zrrttt...
Setelah lima kali percobaan tak berhasil
Dokter pun menggelengkan kepala ke arah
suster. para suster mengangguk kemudian
melepaskan semua alat bantu yang melekat
di tubuh Rudi kemudian menutupi wajah nya
dengan kain.
Evi langsung menghampiri dokter
berharap kabar baik yang ia dengar.
"bagaimana Pak. suami saya sudah siuman?"
"parah nya pendarahan di otak membuat
kami gagal menyelamatkan nyawa
suami ibu..
mari kita doakan agar kepulangan
suami ibu di beri kelancaran.."
ucap Dokter sambil menunduk
mengisyaratkan permohonan maaf.
Bagi seorang tenaga medis, hal ini sudah
lumrah. walaupun tak tega karena menyampaikan berita duka itu.
mau tak mau mereka harus siap karena
itulah pekerjaan mereka.
Namun bagi seorang keluarga yang
di tinggalkan tentu terasa sangat hancur.
bagaimana bisa ia menerima suami nya
meninggal dengan sangat mengenaskan.
"nggak!! Pak..! bapak!!
bangun Pak..! bapak kenapa??
huuuhuuuuuuπππ
kata nya mau jemput Cindy pulang
bapakπππ kenapa bapak pergi!!!
bapak!!! jangan tinggalin ibuk Pak...
hwuuuuπππππ"
isak tangis Evi mengiringi jenazah suami nya
yang hendak di bawa ke ruang mayat untuk
di bersihkan lebih dulu.
...**********...