
Perpisahan, bahkan tanpa pertemuan.
begitu hancur nya hati mereka, setelah
bertahun tahun berharap Ayah nya kembali
untuk menanyakan kabar.
ternyata di saat bertemu pun ia tak
mengenali.
Bagaimana bisa seorang Ayah melupakan
darah daging nya sendiri?
tak terbesit kah di hati nya untuk
melepaskan rindu barang sedetik saja?
Rindu yang selam ini terpendam,
kini telah pecah karena takdir
mempertemukan mereka dalam keadaan
yang paling menyedihkan.
yakni kematian...
Di pemakaman, hanya Evi yang menangis
tak henti henti nya.
ketiga anak mereka bahkan tak
menampakkan raut wajah kehilangan
kepada lelaki yang bertahun tahun
telah membesarkan mereka itu.
"Ayah.. ini siapa sih yang meninggal?"
tanya El tak mengerti.
"dia keluarga bunda El.."
sahut Vino.
"keluarga? kok El tidak pernah bertemu?"
"Om Vino juga nggak kenal ya sama
orang ini?" tanya Keenan juga.
"kok mama dan bina menangis Om?
memang nya orang itu penting?"
tanya Ica dan Keenan enteng.
"Keenan, Ica.. El...
untuk saat ini kalian belum mengerti
walaupun Ayah jelaskan.
jadi bersabar lah.. suatu hari kalian
akan mengerti.." bisik Vino.
Vino merasa itu tindakan tepat,
karena jika ia menjawab yang meninggal
itu Ayah kandung Fani dan Nurul.
maka mereka akan bertanya soal
Adit yang sekarang menjadi papa mereka.
malah akan semakin susah nanti nya,
lebih baik ia membiarkan anak anak
tau sedikit demi sedikit seiring
bertambahnya usia mereka untuk mengerti.
Para pelayat satu persatu meninggalkan
area pemakaman. Evi menghampiri mereka
dengan tatapan penuh amarah.
"heh!! kamu lihat itu?!!
lihat anak anak ku!!
kehidupan dan pendidikan mereka
terancam karena ulah keji mu!!"
ia menunjuk Nurul yang berlindung
di belakang Vino.
"kalian semua memang iblis!!
kalian menghancurkan hidup anak anakku!!"
"maaf bu.."
hanya kata itu yang mampu Nurul
ucapkan.
"maaf? kamu pikir maaf bisa
mengembalikan semua nya?!
kehidupan ku hancur sekarang!!
hancur!! kalian bahkan menghancurkan
masa depan anak anak ku!!
dasar anak pembawa sial!!!!"
ia mencerca Nurul habis habisan.
PLAKKK!!!!
tangan Rianti yang sudah gatal
dari kemarin ingin menampar Evi
kini mendarat keras saat tak tahan lagi
dengan hinaan nya kepada Nurul.
"dasar wanita tak tau diri!!!
masa depan anak anak mu??
jangan harap aku akan menanggung
semua keperluan kalian!
karena anak anak mu bukan
anak kandung korban!
seharus nya kau sadar !!!!
saat dulu kau merebut ayah mereka
pernah kah kau berpikir bagaimana
nasib mereka!!
mereka tumbuh besar dengan jerih payah
ibu nya dan sekarang kau mengatakan
dia menghancurkan hidup mu?!
yang terjadi antara dia dan Ayah nya
adalah kecelakaan.
tapi yang kau lakukan pada mereka
adalah kesengajaan!!
jadi berpikirlah dengan otak mu!
siapa yang pantas di sebut iblis di sini!!"
"ayo kita pergi nak..."
Rianti membawa semua anak anak nya
angkat kaki dari sana.
Padahal niat mereka datang untuk
memberikan sedikit jaminan
kehidupan mereka karena telah
kehilangan kepala keluarga.
namun perkataan Evi yang terus menerus
menyalahkan Nurul membuat Rianti
murka.
Fani dan Nurul sampai terheran.
baru kali ini mereka melihat sosok
Rianti yang begitu menyeramkan.
ternyata di balik kelembutan nya
ada jiwa pemberani yang tertidur.
dan begitu di usik, maka ia tak segan segan
menelan bulat bulat korban nya.
"kalian pulang duluan ya.."
ucap Vino kepada Dimas yang
sedang menggendong si kembar
di kanan dan kiri nya.
"kau mau kemana?"
tanya Dimas.
"aku mau mengajak Ran ke suatu tempat
untuk meringankan pikiran nya."
"El ikut??" tanya Dimas lagi.
"tidak, dia akan pulang bersama
mama ku."
"baiklah..
tadi nya aku tak ingin mengatakan ini,
tapi karena El tidak ikut kurasa aku
harus mengatakan nya.
JANGAN MACAM MACAM.."
"hei?!! kau pikir aku tidak punya nurani..
mana mungkin aku begitu di saat
orang yang ku cintai sedang bersedih..
hahahhaha..."
"ishh!! dasar bunglon bertanduk!"
"kenapa?? kau selalu menyinggung
tanduk ku, apa kau mau melihat nya?"
"chh.. ukuran nya bahkan sama
dengan ulat daun pisang..!"
tukas Dimas merendahkan.
"wehhhei!!
itu kan dulu, sekarang dia telah
bertransformasi menjadi gagah dan
berotot."
"tanduk apa sih Pa..?"
tanya Keenan dan Ica bersamaan.
Dari belakang Fani menarik telinga
Dimas hingga berputar seribu derajat.
"hmmm.... tu maka nya jangan
ngomong aneh aneh di depan anak anak!!"
"ah!! Vino yang mulai sayang..
aduh!!!" rintih Dimas kesakitan.
"sama aja kalian berdua!!"
sewot Fani kesal dengan mata sembab nya.
"ehh beda dong.. jangan sama samain
aku dengan suami mu!!"
sahut Vino membuat Fani tambah
kesal.
...~~~~...
Dari info yang Vino baca, untuk memulihkan
mood seorang wanita cukup simple
namun akan terasa rumit jika tidak
di lakukan sepenuh hati.
Setelah banyak memikirkan hal hal
yang bisa membuat Nurul menjadi
lebih bersemangat, Vino terpikirkan
istana coklat. yakni sebuah toko
yang menyediakan mainan, jajanan
bahkan aksesoris yang terbuat dari
coklat.
"istana coklat??
ngapain kita ke sini pak??"
"banyak hal yang bisa kita
lakukan disini. saya membaca
80 persen orang yang datang kesini
pulang dengan kegembiraan yang besar."
ucap Vino sok pacarable, padahal
itu hanya slogan iklan toko tersebut.
"wahh.. Nur nggak tau tempat
ini benar benar ada.."
tentu saja, istana coklat biasa nya
ia baca di buku buku dongeng saja.
Melihat mata Nurul berbinar, Vino sangat
lega bisa membantu Nurul melupakan
apa yang terjadi hari ini sejenak.
"mereka punya air terjun coklat di luar..
dan punya koleksi mainan coklat di dalam..
mau main di luar atau di dalam?"
"di dalam dulu deh pak..
nanti baru di luar."
sahut nya tersenyum.
"hmm..
kombinasi yang bagus.."
bibir Vino menyeringai tipis.
ia segera keluar dan membukakan
pintu nya untuk Nurul.
"perut kamu masih sakit?"
"nggak pak, itu biasa berlaku di hari
pertama aja.."
"kesan pertama memang selalu seperti
itu rasa nya.
omong omong sampai kapan
kamu mau panggil saya bapak?"
"hmm?"
Nurul juga baru terpikirkan hal itu.
pernikahan mereka hanya tinggal
satu bulan lagi, dan ia masih memanggilnya
bapak?
"hmm?"
Vino menirukan mimik wajah Nurul
yang kebingungan.
"saya ini calon suami kamu.
bukan bapak kamu.."
Vino tertawa kecil.
"bapak juga manggil Nur masih
kaya biasa nya.."
celetuk Nurul seperti berharap
Vino memanggil nya dengan panggilan
spesial juga.
"kamu mau panggilan apa??
sayang....."
bisik nya di dekat telinga Nurul.
Nurul mengalihkan pandangan nya.
"khmm...
kok tiba tiba Nur lemas ya..
apa karena belum makan ya.."
ia segera berlari memasuki istana coklat
itu tanpa menghiraukan Vino.
"Ran.. sayang...
bunda.... tunggu.."
seru Vino dengan nada manja sengaja
untuk membuat Nurul semakin salah tingkah.
Langkah Nurul terhenti di terowongan
besar yang terbuat dari coklat.
"waaaaahhhhhhh.....
apa ini bisa di makan?"
"hhhh.. dasar anak kecil.
ini bukan untuk di makan."
ledek Vino.
"kenapa? kan ini coklat.."
"ya bayangkan saja..
kalau ini boleh di makan, semua pengunjung
pasti sudah memakan nya dan dalam
hitungan detik terowongan ini akan roboh."
Susah payah Vino menjelaskan, eh Nurul
malah asik menempelkan telapak tangannya
ke dinding terowongan itu.
"waahh.. rasa nya seperti menemukan
bongkahan emas.."
"hh.. apa yang spesial dari bongkahan
emas? aku saja sangat muak melihat nya."
gumam Vino.
"kenapa Pak?"
"Vino???"
seorang wanita blasteran tiba tiba
memotong percakapan mereka.
...*********...