Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 Episode 39: Istana coklat


Perpisahan, bahkan tanpa pertemuan.


begitu hancur nya hati mereka, setelah


bertahun tahun berharap Ayah nya kembali


untuk menanyakan kabar.


ternyata di saat bertemu pun ia tak


mengenali.


Bagaimana bisa seorang Ayah melupakan


darah daging nya sendiri?


tak terbesit kah di hati nya untuk


melepaskan rindu barang sedetik saja?


Rindu yang selam ini terpendam,


kini telah pecah karena takdir


mempertemukan mereka dalam keadaan


yang paling menyedihkan.


yakni kematian...


Di pemakaman, hanya Evi yang menangis


tak henti henti nya.


ketiga anak mereka bahkan tak


menampakkan raut wajah kehilangan


kepada lelaki yang bertahun tahun


telah membesarkan mereka itu.


"Ayah.. ini siapa sih yang meninggal?"


tanya El tak mengerti.


"dia keluarga bunda El.."


sahut Vino.


"keluarga? kok El tidak pernah bertemu?"


"Om Vino juga nggak kenal ya sama


orang ini?" tanya Keenan juga.


"kok mama dan bina menangis Om?


memang nya orang itu penting?"


tanya Ica dan Keenan enteng.


"Keenan, Ica.. El...


untuk saat ini kalian belum mengerti


walaupun Ayah jelaskan.


jadi bersabar lah.. suatu hari kalian


akan mengerti.." bisik Vino.


Vino merasa itu tindakan tepat,


karena jika ia menjawab yang meninggal


itu Ayah kandung Fani dan Nurul.


maka mereka akan bertanya soal


Adit yang sekarang menjadi papa mereka.


malah akan semakin susah nanti nya,


lebih baik ia membiarkan anak anak


tau sedikit demi sedikit seiring


bertambahnya usia mereka untuk mengerti.


Para pelayat satu persatu meninggalkan


area pemakaman. Evi menghampiri mereka


dengan tatapan penuh amarah.


"heh!! kamu lihat itu?!!


lihat anak anak ku!!


kehidupan dan pendidikan mereka


terancam karena ulah keji mu!!"


ia menunjuk Nurul yang berlindung


di belakang Vino.


"kalian semua memang iblis!!


kalian menghancurkan hidup anak anakku!!"


"maaf bu.."


hanya kata itu yang mampu Nurul


ucapkan.


"maaf? kamu pikir maaf bisa


mengembalikan semua nya?!


kehidupan ku hancur sekarang!!


hancur!! kalian bahkan menghancurkan


masa depan anak anak ku!!


dasar anak pembawa sial!!!!"


ia mencerca Nurul habis habisan.


PLAKKK!!!!


tangan Rianti yang sudah gatal


dari kemarin ingin menampar Evi


kini mendarat keras saat tak tahan lagi


dengan hinaan nya kepada Nurul.


"dasar wanita tak tau diri!!!


masa depan anak anak mu??


jangan harap aku akan menanggung


semua keperluan kalian!


karena anak anak mu bukan


anak kandung korban!


seharus nya kau sadar !!!!


saat dulu kau merebut ayah mereka


pernah kah kau berpikir bagaimana


nasib mereka!!


mereka tumbuh besar dengan jerih payah


ibu nya dan sekarang kau mengatakan


dia menghancurkan hidup mu?!


yang terjadi antara dia dan Ayah nya


adalah kecelakaan.


tapi yang kau lakukan pada mereka


adalah kesengajaan!!


jadi berpikirlah dengan otak mu!


siapa yang pantas di sebut iblis di sini!!"


"ayo kita pergi nak..."


Rianti membawa semua anak anak nya


angkat kaki dari sana.


Padahal niat mereka datang untuk


memberikan sedikit jaminan


kehidupan mereka karena telah


kehilangan kepala keluarga.


namun perkataan Evi yang terus menerus


menyalahkan Nurul membuat Rianti


murka.


Fani dan Nurul sampai terheran.


baru kali ini mereka melihat sosok


Rianti yang begitu menyeramkan.


ternyata di balik kelembutan nya


ada jiwa pemberani yang tertidur.


dan begitu di usik, maka ia tak segan segan


menelan bulat bulat korban nya.


"kalian pulang duluan ya.."


ucap Vino kepada Dimas yang


sedang menggendong si kembar


di kanan dan kiri nya.


"kau mau kemana?"


tanya Dimas.


"aku mau mengajak Ran ke suatu tempat


untuk meringankan pikiran nya."


"El ikut??" tanya Dimas lagi.


"tidak, dia akan pulang bersama


mama ku."


"baiklah..


tadi nya aku tak ingin mengatakan ini,


tapi karena El tidak ikut kurasa aku


harus mengatakan nya.


JANGAN MACAM MACAM.."


"hei?!! kau pikir aku tidak punya nurani..


mana mungkin aku begitu di saat


orang yang ku cintai sedang bersedih..


hahahhaha..."


"ishh!! dasar bunglon bertanduk!"


"kenapa?? kau selalu menyinggung


tanduk ku, apa kau mau melihat nya?"


"chh.. ukuran nya bahkan sama


dengan ulat daun pisang..!"


tukas Dimas merendahkan.


"wehhhei!!


itu kan dulu, sekarang dia telah


bertransformasi menjadi gagah dan


berotot."


"tanduk apa sih Pa..?"


tanya Keenan dan Ica bersamaan.


Dari belakang Fani menarik telinga


Dimas hingga berputar seribu derajat.


"hmmm.... tu maka nya jangan


ngomong aneh aneh di depan anak anak!!"


"ah!! Vino yang mulai sayang..


aduh!!!" rintih Dimas kesakitan.


"sama aja kalian berdua!!"


sewot Fani kesal dengan mata sembab nya.


"ehh beda dong.. jangan sama samain


aku dengan suami mu!!"


sahut Vino membuat Fani tambah


kesal.


...~~~~...


Dari info yang Vino baca, untuk memulihkan


mood seorang wanita cukup simple


namun akan terasa rumit jika tidak


di lakukan sepenuh hati.


Setelah banyak memikirkan hal hal


yang bisa membuat Nurul menjadi


lebih bersemangat, Vino terpikirkan


istana coklat. yakni sebuah toko


yang menyediakan mainan, jajanan


bahkan aksesoris yang terbuat dari


coklat.


"istana coklat??


ngapain kita ke sini pak??"


"banyak hal yang bisa kita


lakukan disini. saya membaca


80 persen orang yang datang kesini


pulang dengan kegembiraan yang besar."


ucap Vino sok pacarable, padahal


itu hanya slogan iklan toko tersebut.


"wahh.. Nur nggak tau tempat


ini benar benar ada.."


tentu saja, istana coklat biasa nya


ia baca di buku buku dongeng saja.


Melihat mata Nurul berbinar, Vino sangat


lega bisa membantu Nurul melupakan


apa yang terjadi hari ini sejenak.


"mereka punya air terjun coklat di luar..


dan punya koleksi mainan coklat di dalam..


mau main di luar atau di dalam?"


"di dalam dulu deh pak..


nanti baru di luar."


sahut nya tersenyum.


"hmm..


kombinasi yang bagus.."


bibir Vino menyeringai tipis.


ia segera keluar dan membukakan


pintu nya untuk Nurul.


"perut kamu masih sakit?"


"nggak pak, itu biasa berlaku di hari


pertama aja.."


"kesan pertama memang selalu seperti


itu rasa nya.


omong omong sampai kapan


kamu mau panggil saya bapak?"


"hmm?"


Nurul juga baru terpikirkan hal itu.


pernikahan mereka hanya tinggal


satu bulan lagi, dan ia masih memanggilnya


bapak?


"hmm?"


Vino menirukan mimik wajah Nurul


yang kebingungan.


"saya ini calon suami kamu.


bukan bapak kamu.."


Vino tertawa kecil.


"bapak juga manggil Nur masih


kaya biasa nya.."


celetuk Nurul seperti berharap


Vino memanggil nya dengan panggilan


spesial juga.


"kamu mau panggilan apa??


sayang....."


bisik nya di dekat telinga Nurul.


Nurul mengalihkan pandangan nya.


"khmm...


kok tiba tiba Nur lemas ya..


apa karena belum makan ya.."


ia segera berlari memasuki istana coklat


itu tanpa menghiraukan Vino.


"Ran.. sayang...


bunda.... tunggu.."


seru Vino dengan nada manja sengaja


untuk membuat Nurul semakin salah tingkah.


Langkah Nurul terhenti di terowongan


besar yang terbuat dari coklat.


"waaaaahhhhhhh.....


apa ini bisa di makan?"


"hhhh.. dasar anak kecil.


ini bukan untuk di makan."


ledek Vino.


"kenapa? kan ini coklat.."


"ya bayangkan saja..


kalau ini boleh di makan, semua pengunjung


pasti sudah memakan nya dan dalam


hitungan detik terowongan ini akan roboh."


Susah payah Vino menjelaskan, eh Nurul


malah asik menempelkan telapak tangannya


ke dinding terowongan itu.


"waahh.. rasa nya seperti menemukan


bongkahan emas.."


"hh.. apa yang spesial dari bongkahan


emas? aku saja sangat muak melihat nya."


gumam Vino.


"kenapa Pak?"


"Vino???"


seorang wanita blasteran tiba tiba


memotong percakapan mereka.


...*********...