
Fani mengajak Zey ke taman yang ada di halaman kantor,karena sebelum nya Zey bilang ingin berbicara secara empat mata.
mereka duduk di sebuah kursi besi terlihat Fani sangat penasaran dengan apa yang ingin Zey katakan, sementara Zey terlihat bingung harus memulai dari mana.
"bagaimana cara mengatakan nya ya.." batin Zey sambil terus meremas jari nya.
Fani: "ada apa sebenar nya kak?"
Zey belum juga membuka mulut nya, ia sangat bingung harus mengambil jalan yang mana.
ia tak tega jika harus merusak rumah tangga Fani,apalagi di usia nya yang masih muda.tapi ia juga takut kalau Sean mengekuarkan nya dari agensi dan membongkar semua kebusukan nya.
"aishhh..!! Sean sialan itu.! ku pikir lelaki yang di maksut masih lajang. kalau tau sudah menikah aku tidak akan menyetujui permintaan Sean gila itu.
hhh!!! merusak rumah tangga orang? bagaimana nanti kalau aku kena karma nya."
Zey terus saja membatin kebingungan.
"Kak Zey??" Fani menepuk pelan bahu Zey hingga membuat Zey buyar dari pikiran kalut nya.
"Sebelum nya aku akan bersikap santai pada mu ya, agar aku tidak canggung." ujar Zey memastikan agar ia bersikap sebagai teman saja pada Fani.
" ini .. lelaki itu..Vino, aku dengar dia saudara Suami mu.....
heheh aku ingin minta bantuan mu agar kami bisa berkenalan." tiba tiba saja Zey mengatakan itu. karena sehina hina nya dia,ia tak tega jika harus sampai merusak kebahagiaan wanita lain.
Fani mengernyitkan alis nya,ia berpikir Zey akan mengatakan hal yang sangat serius. tapi ternyata hanya ingin berkenalan dengan Vino.
"apa dia sudah menikah??" Zey bertanya ragu ragu pada Fani,karena ia melihat Fani hanya terdiam.
Fani: "Kakak yakin hanya ingin membicarakan itu?"
Zey: "iyaa.. hanya itu. ehh,omong omong panggil nama ku saja."
"Jangan dong,usia kakak pasti jauh lebih tua dari Saya." Fani terlihat sungkan dan merendah.
"ahaha..tapi aku merasa lebih nyaman jika kita seperti sebaya saja" sahut Zey sambil tersenyum hangat. ya tentu saja, dia biasa tinggal di luar Negeri jadi ia biasa bersikap santai dengan semua kalangan usia.
"ahh.. Saya jadi nggak enak.." ucap Fani.
Zey: "tidak apa apa.. aku akan senang jika kita bisa berteman"
"yaa.. aku tidak boleh menghancurkan kebahagiaan nya. aku hanya harus berpura pura menuruti Sean,dan mendekati si pangeran tampan itu hahahaha.... kau pikir hanya kau yang bisa menipu ku Sean! " lagi lagi Zey berbicara dalam hati nya tanpa menghiraukan Fani yang terheran heran melihat tingkah laku nya.
...~~~~...
"Mas,,," Fani berlari girang ke depan pintu saat mendengar suara mobil Dimas.
ia pun keluar menyambut Dimas dengan wajah berbinar.
"Sayang??" Dimas tersenyum lebar ketika melihat Fani yang seperti menanti nanti kepulangan nya. walaupun ia masih heran dengan perubahan sifat Fani,biasa nya ia terlihat kaku dan canggung. tapi akhir akhir ini Fani terlihat sangat manja dan sangat menempel pada Dimas.
"Mas tau nggak.. tadi jari jari Fani kena pisau" ujar nya merengek dengan wajah manja.
"kok bisa sayang..?? mana coba Mas lihat." Dimas tampak sangat khawatir mendengar itu.
"ini..." Fani menunjukkan jari telunjuk kanan nya yang tergores pisau saat memasak tadi.
Tanpa ba bi bu Dimas langsung menghisap jari telunjuk Fani, ntah apa tujuan nya. mungkin ia berpikir kalau jigong keramat nya bisa menyembuhkan luka.
"dahh.. nanti hilang perih nya tu, ayo kita masuk."
"wahhh... iya Mas, beneran ilang loh. wahhh Mas hebat banget ternyata."
"iyaa dong.. siapa dulu...."
"Suami Fani gitu loohh..." potong Fani cepat sambil tersenyum manis.
muaahh muaachh mwaach.." Dimas mengecup kening Fani berkali kali saking gemas nya akan tingkah manja Fani.
"ihhh.. kan Mas.. bau mulut nya nempel nanti di jidat Fani ih..." Fani berusaha menghentikan sosoran kilat nya Dimas.
"hahhahahahha...biarin biar kening kamu glowing.."
"Mas.! nggak mau.. nanti yang ada lalat pada nempel loh."
"wahhh.. kamu benar benar, dengar ya mulut Mas ini wangi lihat aja nanti pasti banyak semut yang nempel di situ karena harum."
"sejak kapan semut suka harum.. semut kan suka nya manis"
"hehe...ya kan manis nya udah di kamu..."
"hahahha Mas ih.."
pipi Fani menjadi merah karena tersipu malu.
Mereka terus saja bercanda tawa sambil memasuki rumah dan saling merangkul romantis.
kebahagiaan jelas terpancar dari wajah mereka yang berseri seri,terutama Dimas.
ia merasa sangat sangat bahagia karena baru kali ini ia merasakan kehangatan dalam berumah tangga, walaupun di benak nya masih bertanya tanya apakah gerangan yang membuat istri tercinta nya tiba tiba berubah menjadi sangat manja.
Sementara itu di seberang Sean sedang berdiri di tempat biasa,yaitu di balik tanaman bonsai nya sambil mengintip Dimas dan Fani dari kejauhan.
namun kali ini ia lebih terbakar lagi kala melihat Fani dan Dimas semakin lengket dan bahagia.
"hhh... hari kehancuran mu sudah di depan mata Dimas! kau bisa tertawa hari ini. tapi aku yakin besok kau akan menangis darah karena aku akan menghancurkan kebahagiaan mu!!!" gumam Sean sambil meremas kuat teropong yang di gunakan nya untuk mengintai.
"Zey si jal*ng itu pasti akan berhasil menggoda Dimas" tambah nya lagi sambil menyeringai licik,ia seperti nya tak sabar menunggu Zey beraksi.
...~~~~...
Di sisi lain....
Mila sedang berjalan di lorong apartemen menuju kamar nya, terlihat ia sedang menelpon seseorang sambil sesekali tertawa kecil.
"ahahah...iya iya baik lah, kalau begitu aku akan datang nanti malam. di tempat biasa kan.." ujar nya dengan orang di seberang telepon yang seperti nya seorang pria. setelah itu Mila mematikan telepon nya sambil bersenandung ria.
"Siapa??!"
"astaga ..!! kenapa bapak selalu muncul tiba tiba!!!" Mila tersentak kaget ketika mendengar suara Riko.
Sedari tadi Riko berjalan di belakang Mila,karena kebetulan mereka pulang berbarengan dari kantor.
"Siapa?!!" tanya Riko lagi masih dengan wajah es nya.
"hhh.. kenapa bapak mau tau dengan siapa saya bicara? apa urusan pribadi saya perlu juga melapor pada bapak?!!"
"Kau harus mengerjakan proposal 5A itu segera!! kalau besok belum siap aku akan mengurangi insentif mu!!" ancam Riko dengan mata tajam nya.
"ccihh.. aku bahkan sudah menyerahkan nya pada Pak Dimas" ujar Mila sambil menaikkan sebelah bibir nya. tak lupa ia melempar pandangan sinis ke arah Riko.
Riko langsung tak berkutik mendengar itu, namun ia tak kehabisan akal untuk mencari tau siapa yang berbicara dengan nya di telepon tadi.
"hhh... itu sebab nya kau terlihat sangat lega?! ingat proposal mu masih ada 3 lagi dan hanya punya tenggat waktu 1 hari. jadi sebaik nya kau minta bantuan dengan teman wanita mu tadi untuk mencari ide." ujar Riko dengan cepat,datar dan lurus.
"aku tidak butuh ide. lagi pula teman ku laki laki" sahut Mila dengan wajah jenga,lalu ia masuk dan membanting pintu sekuat kuat nya karena kesal.
"apa kata nya?! laki laki?!!
ckk.. tak bisa ku percaya..dia berlagak sok polos saat tidur dengan ku waktu itu, padahal tiap malam dia keluar dengan laki laki." Riko terlihat sangat kesal mendengar jawaban Mila tadi,lalu ia berjalan menuju kamar nya dengan wajah tak kalah jengah dari Mila.
...*******...