
"kamu lah yang nyetir dek.. kakak capek."
ucap Dika saat hendak masuk ke mobil.
"hmm.." sahut Nurul singkat.
"oh iya, denger denger teman Pak Bian yang itu
di mutasi ke sini loh."
"iya udah tau, udah ketemu juga tadi.."
"ohh..." Dika sengaja tak membahas itu lagi karena seperti nya Nurul sedikit kesal.
sedikit banyak nya, Dika lah yang menjadi teman curhat Nurul saat terjadi sesuatu dengan hubungan nya.
drrt..drrt...
Nurul mendapatkan pesan masuk dari Bian.
"dek, besok malam kita nonton film ini ya..
Viona yang merekomendasikan ini, kata nya
film ini sangat bagus." begitu isi pesan
tersebut di sertai foto dua lembar
tiket film romantis.
"iya bang.." balas Nurul di sertai beberapa emot hati. namun senyum nya tampak masam setelah itu.
...~~~~...
Sesampai nya di rumah, Dika turun duluan
sambil berlari karena kebelet BAK.
Nurul hanya geleng kepala melihat Dika
kalang kabut begitu.
"dari tadi di tawari mampir nggak mau,dasar!"
rutuk nya.
Saat hendak masuk, Nurul di kejutkan
oleh El dari balik pintu.
"bunda...." sambut nya sambil merentangkan tangan.
"ya ampun El.. tan.. bunda kaget tau.."
ia mengelus dada nya yang hampir copot.
"heheh.. bunda lama banget sih sekolah nya.
El rindu.."
"ohh ada yang kangen sama bunda..
sini yuk.." Nurul menggendong El lalu membawa nya duduk di sofa.
"El udah makan?"
"sudah bunda.. tadi oma masakin mie aceh
enak banget.."
"oh ya.. bunda nggak di kasih?"
"sudah habis hehehe.."
El tertawa memamerkan susunan gigi nya
yang rapi dan bersih.
"ihh.. gemesin banget sih kamu, bunda gigit
mau?"
"mau.." jawab El dengan tatapan polos sambil mengangguk membuat Nurul semakin gemas.
"Ayah El mana?" tanya Nurul.
"bunda kangen ya sama ayah?"
celetuk El sambil tersenyum.
"hm? ng.. nggak, bunda cuma tanya aja."
"saya di sini..." sahut Vino yang ternyata sedari tadi memperhatikan mereka dari lantai atas sambil senyum senyum melihat ke akraban El dan Nurul. Vino pun turun menghampiri mereka.
"kenapa? kangen sama saya?"
ucap Vino percaya diri.
"mama kemana pak? kok sepi?"
Nurul sengaja mengalihkan topik nya.
"belanja sama mama saya, biasalah nenek nenek berdua itu kerjaan nya shoping terus."
"bapak nggak kerja kok di sini terus?"
"saya kan pengangguran, lagian El yang minta
ke sini. setiap di rumah selalu minta ke sini.
mau sama bunda, bunda. dan bunda..
apa kamu nya aja ya saya bawa ke rumah hahaha"
"main bawa aja, emang nya Nur anak kucing."
"bunda lagi ketakutan ya?" potong El tiba tiba.
Tentu saja Nurul terheran.
"hah? enggak tuh? kenapa emang El?"
"kok suara jantung nya cepat sekali,
kaya El kalau lagi ketakutan."
tentu El bisa mendengar dengan jelas detak jantung Nurul karena dia duduk di pangkuan nya.
"bunda mu lagi berdebar karena pesona ayah.."
ucap Vino sambil tertawa. wajah Nurul langsung merah padam mendengar itu. di bilang nggak tapi bener, di bilang bener ya nggak juga.
"duh.. jangan ngawur kamu Nur..
cinta mu milik bang Bian, punya bang Bian!"
tegas nya dalam hati.
"El, ambilkan ponsel ayah di atas bisa?
di dekat gelas susu El.." pinta Vino.
"bisa ayah.." El langsung meluncur
meninggalkan mereka berdua.
Nurul semakin kikuk karena Vino terus saja melihat ke arah nya. ia berusaha sesantai mungkin, namun hawa panas di kepala nya semakin menjadi bercampur aduk dengan keringat dingin.
"El kenapa bisa lengket banget sih sama kamu?"
tanya Vino.
"ng.. nggak tau.."
sahut Nurul singkat. di pikiran nya paling juga Vino yang suruh.
Vino berpikir selama masa kehamilan Zey, perasaan tak pernah sekalipun Zey
menunjukkan sesuatu yang bersangkutan
dengan Nurul.
"ahhh!! mungkin karena..." Vino menatap syok ke arah Nurul membuat Nurul juga terkejut.
ia baru ingat, saat berhubungan dengan Zey waktu mabuk. Zey mengatakan kalau dia terus menyebut nama Ran.
Vino pun berpikir mungkin karena pas bikin
nyebut nama Ran maka nya El lengket banget sama Nurul.
"k..karena apa pak??"
"dia benar benar penurut bahkan saat masih berbentuk zigot." gumam Vino.
"apaan sih pak? gak jelas banget!"
rutuk Nurul kesal. udah penasaran karena
di buat kaget, eh Vino nya malah ngedumel.
"kamu mau saya perjelas?"
Vino menatap penuh rasa ke arah kalung
yang masih di kenakan Nurul.
ctakk!!!
Vino melihat ke arah pay*dara nya.
"astaga!!
sakit Ran.."
"bapak ngapain ngeliatin ke sini?"
Nurul menutupi dada dengan kedua tangannya.
"agrhh..
hahahha... saya lihat kalung kamu.
bukan itu. lagian saya juga sudah pernah lihat."
"apa?! kapan??
nggak pernah ya pak!
jangan ngarang deh!"
"punya perempuan lain maksut saya..
bentuk nya kan sama, paling beda
ukuran nya doang."
"bapak mau pamer kalau dulu sering tidur
sama perempuan?!"
"kamu tau dari mana?"
"jadi beneran?? is..is..is..
dasar kadal hutan!"
"kadal ya di hutan, mana ada kadal di dalam rumah."
"ada..ini dia.." Nurul menunjuk Vino.
"jadi saya kadal hutan atau kadal rumahan ni?"
Vino semakin memancing kekesalan Nurul.
"ihh.. Pak!!"
"iya..." sahut Vino lembut dengan senyum nya.
ia merasa senang masih bisa bercanda seperti ini
dengan Nurul. ternyata setelah lama berpisah
Nurul masih saja menyenangkan jika di ajak
debat.
"itu kalung yang saya kasih waktu ulang
tahun kan?" tampak nya Vino menyudahi itu sebelum Nurul kesal beneran.
"hmm. kenapa?! mau di minta lagi?"
"nggak lah..
saya takjub saja, masih kamu pakai selama ini."
"jadi mau di apain? di buang sayang. pasti mahal. mau di jual pun nggak bisa, bapak
ngasih nggak pakai surat." ketus Nurul.
"walaupun tidak ada surat nya, berlian itu murni.
jadi tetap mahal harga nya kalau di jual."
"sekarang bapak pamer karena ngasih hadiah mahal?"
"ya ampun..
nggak bunda... saya cuma berpikir saja.
kaya nya kok kamu sayang banget sama barang barang yang bersangkutan dengan saya."
"barang barang? emang nya apa aja?"
tanya Nurul tak mengerti.
"gelang kita.." Vino menyentuh gelang yang
ada di tangan Nurul.
"dan nomor saya.."
ucap nya lembut dan berbisik.
Nurul termanggu saat menatap dari dekat
raut wajah Vino. wajah usil yang selalu
membuat hari nya berwarna.
"ayah.. ini ponsel nya.."
ucap El sangat riang hingga membuat Vino
dan Nurul kaget.
"khmm.."
"khmm..!" mereka berdua langsung menjauh
sambil membuang muka.
El mendekat sambil memegang lutut Nurul.
"bunda.. besok ikut kita pinik yuk.."
"piknik nak.. bukan pinik."
imbuh Vino mengoreksi.
"iya.. mau ya bunda.." pinta El memelas.
"iya iya.." bisa? tentu saja, toh jadwal
kencan nya dengan Bian malam hari.
"buatin El nasi bola ayam lagi ya bunda..."
"hah? jadi El yang bawa nasi bunda?"
"ayah salah bawa. tapi enak loh bunda.."
"terus nasi goreng itu??"
Dengan pede nya Vino mendongakkan wajah.
"iya.. itu buatan saya, gimana enak kan?"
"hahahah.. enak? asin iya pak."
raut wajah Nurul cukup jelas kalau dia
puas meledek Vino.
Wajah Vino langsung suram, ngarep nya di puji
eh malah di banting.
"tapi kamu makan kan? itu saya buat pakai perasan keringat dari bulu ketiak. biar rasa nya
legit,asam asin nikmat.."
"pak! / ayah!! jorok banget sih!!"
pekik El dan Nurul berbarengan dengan nada tinggi hingga telinga Vino berdenging.
"aarhh!! suara kalian..!" rutuk nya sambil mengusap telinga.
...~~~~...
Bian merenung di meja nya sambil
membayangkan sekuat apa gelombang
yang akan ia hadapi karena Vino kembali.
"ku lihat Vino masih memiliki rasa pada nya.
tidak tidak.. berpikirlah positif. maka nasib
baik akan menghampiri mu."
gumam nya menenangkan diri.
"ah benar.. Viona bilang ada Mall baru buka
dengan fasilitas mewah. adek pasti senang jika
ku ajak ke sana.." Bian langsung mengechek
lokasi dari mall tersebut di ponsel nya.
...*******...