
deg.. deg.. deg...
Nurul mengerjapkan mata nya untuk memastikan kalau ia tidak sedang bermimpi.
"a.. apa Pak??"
"hah..? saya? saya bilang apa memang nya?" Vino malah gugup salah tingkah, namun tangan nya masih tetap menggenggam lengan Nurul.
"apa yang masih sama?" tanya Nurul lagi.
"kamu.. ee.. kita.. saya.. semua nya masih sama."
Nurul menaikkan alis nya ke arah tangan mereka agar Vino melepaskan genggaman nya.
"ahh.. iya maaf." ucap Vino. ia langsung membuang pandangan nya dengan wajah merah merona.
"jam berapa pak? apa ini sudah pagi?"
"nah.. lihat sendiri.." Vino menyodorkan arloji di tangan nya ke wajah Nurul.
"ishhh!! masih lama pagi nyaa..."
Nurul mulai sedikit menggigil karena sudah terlalu lama kena angin malam.
"dingin ya..?" tanya Vino.
"mm.. lumayan.." sahut nya dengan bibir sedikit bergetar.
"kemari lah.. saya akan menghangatkan mu."
Vino membuka kemeja nya hendak di berikan untuk Nurul. namun Nurul yang salah mengartikan malah mendekat sambil merentangkan tangan. ia terbiasa begitu karena setiap diri nya kedinginan Bian akan memberinya pelukan hangat.
Vino tersenyum tipis melihat Nurul yang salah merespon. sedangkan Nurul wajahnya langsung merah seperti tomat karena malu pake banget.
"hhh... nah pakailah ini." ujar Vino. ia menyelimutkan kemeja nya pada Nurul.
"hehehe.. ma..makasih pak."
"aihh.. Nur.. bodoh nya kamu!
sadar kamu tidak sedang bersama pacar mu!"
rutuk nya memarahi diri sendiri.
...~~~~...
Pagi hari nya, mereka akhir nya keluar dari balkon terkutuk itu dengan wajah pucat seperti mayat hidup. kedinginan, ngantuk, bentol bentol
hingga pusing mereka rasakan. Nurul masih tertolong karena kemeja nya Vino. sedangkan Vino langsung muntah muntah karena masuk angin sebab hanya mengenakan kaos dalam semalaman.
"ayah dari mana saja??" tanya El masih dengan piyama dan wajah bantal nya.
"ayah terkunci di balkon nak.. bbbrrrrr...
matikan AC nya ya. ayah menggigil banget ini."
Vino langsung meringkuk di dalam selimut dan melanjutkan tidur nya.
Melihat sang ayah seperti itu, El langsung berlari ke kamar Nurul. niat nya ia ingin meminta bantuan.
"bunda... eh? bunda sakit juga?"
"zzhhh!! anak pak tua ini benar benar keras kepala. sudah ku bilang jangan panggil bunda"
rutuk nya kesal.
"iya El.. tante nggak enak badan.."
"kenapa bunda?"
"tante terkunci di balkon El..
udah El pergi dulu ya nak.. tante mau istirahat."
Nurul juga langsung tepar di atas kasur nya.
"ayah dan bunda.. sama sama terkunci di sana?
hihihihi...." El tampak bahagia melihat musibah yang menimpa kedua manusia itu.
yang ada di pikiran nya, semakin sering ayah nya bersama Nurul. maka semakin besar kemungkinan Nurul menjadi bunda nya.
...~~~~...
Di rumah sakit..
"bapak Rudi.. silahkan masuk.." panggil seorang suster dari depan ruangan Dika.
Rudi pun masuk di tuntun istri nya. sudah hampir satu tahun ini, ia merasakan sakit di sekitar dada nya. ia juga sering mengalami sesak jantung tiba tiba. maka dari itu dokter yang sebelum nya menangani dia menyarankan untuk memeriksakan diri ke ahli organ dalam.
"selamat siang bapak Rudi mahendra..."
Dika tertegun sejenak saat membaca nama itu.
"apa keluhan nya pak??" ia memandangi wajah lelaki tua itu.
"nggak mungkin..." pikir nya.
"buk!! minta duit sini!! kami mau pulang aja naik taksi! nggak berguna juga nunggu di sini!" bentak kedua anak gadis bapak itu yang tak lain adalah Mei dan Cindy.
Evi/ ibu mereka melemparkan uang 20 ribu kepada mereka dengan wajah kesal. anak anak itu selalu saja tak pandang tempat.
"tolong di jaga sikap nya. ini ruangan dokter bukan bar!" bentak Dika kesal karena mereka sembarangan masuk.
"hahh?!! itu kan!" Mei terperangah melihat Dika di sana. dan dia baru menyadari dengan siapa Dika mirip. yaitu dengan pria tua di hadapan nya yang tak lain bapak tiri Mei dan ayah kandung Dika.
"suster suruh mereka keluar!"
tegas Dika. kedua suster pendamping langsung menyeret dua anak tak sopan itu keluar.
ini lagi ibuk! ngasih duit cuma 20 ribu! mana cukup untuk naik taksi. naik ojek juga nombok ini!" gerutu Mei sambil menghentakkan kaki nya ke lantai.
"udah lah kak. pakai aja duit kita! dari pada disini
nunggu orang tua itu!" imbuh Cindy tak kalah kesal nya.
Dika memperhatilan sejenak wajah pria renta itu.
tak banyak yang bisa ia ingat, karena ia tak banyak memiliki momen bersama ayah nya.
"nggak.. nggak mungkin dia orang nya."
batin Dika. image sang ayah di ingatan nya adalah sosok lelaki gagah, berpenampilan rapi.
pasal nya kehidupan mereka dulu termasuk
orang yang berkecukupan.
"apa ada masalah serius dokter?" tanya Rudi.
"syukur nya tidak ada pak, ini pengaruh
gangguan sesak nafas bapak jadi sering menimbulkan nyeri di bagian dada.
saya sarankan bapak untuk tidak melakukan aktivitas terlalu berat ya.." sahut Dika tersenyum ramah khas dokter. ia memberikan hasil Ct-scan nya kepada Rudi dan menjelaskan apa saja yang bisa memicu rasa sesak dan sakit di bagian paru paru nya. ia juga memberikan saran untuk berolahraga ringan sesekali.
...~~~~...
"tante.. El mana?" tanya Vino pada Rianti.
"lagi di kamar Keenan, habis berenang mereka.
kamu mau ajak El pulang?"
"iya tante.. lagian malam ini si kembar juga pulang kan ke rumah nya. kasian nanti El tidak ada teman nya."
"mmm.. iya iya.. ya sudah susul gih di kamar Keenan."
Vino pun menaiki tangga menuju kamar Keenan.
dari kejauhan sudah terdengar suara tiga bocil yang sedang bercanda riang meramaikan sunyi nya istana Rianti itu.
"bina.. El sama Keenan pakai baju ini ya..
biar jadi kembar banyak.." ucap Keenan menunjukkan piyama milik nya.
"wahh iya.. kita jadi kembar tiga hahahhaha.."
sahut Ica juga tertawa girang. ia dengan handuk mungil nya menjajarkan tiga set piyama berwarna senada.
Nurul tersenyum gemas melihat tingkah mereka.
"iya.. buruan sini pakai minyak telon dulu biar hangat.. ayo sini siapa yang pertama.."
El gesit maju ke depan untuk mendapat giliran pertama. "El duluan..."
"wahh.. El pintar.." dengan sangat telaten ia mengoleskan minyak telon ke punggung dan perut El.
Nurul menghirup nafas dalam di dekat
dada nya El.
"hhhffffmm.... harumnya.."
"bunda.. boleh cium tidak?" pinta El.
"mm.. boleh.." Nurul mengangguk dengan senyum lebar. kemudian El mencium pipi kanan dan kiri Nurul.
Dari celah pintu, Vino yang sedari tadi memperhatikan itu tersenyum tipis.
di balik keceriaan anak nya, tentu ada segudang rindu akan perhatian dari seorang ibu.
"bunda harum.." ucap El tersenyum manis.
Vino memasuki kamar Keenan.
"khm."
"ayahhh..." El langsung berlari girang.
"Om Vino...." dua jagoan Dimas pun tak mau kalah, mereka juga menempel kepada Vino.
"wihh..anak anak ayah pada harum banget sih."
"iya dong.. kita tadi mandi berenang loh ayah.."
"Keenan tadi salto sama El.. tuuing..tuing..."
ujar nya sambil mempraktikkan gerakan berenang mereka yang sebenarnya hanya gaya kodok lompat.
"iya iya.. sini cium dulu coba.."
Vino menciumi pipi mungil mereka satu persatu.
"hhhmmm... harumnya .."
"bunda juga harum ayah, coba deh cium.."
celetuk El dengan enteng nya. ia tak menyadari ucapan nya membuat Nurul jadi panik seketika.
"Ran..." panggil Vino.
"eh jangan pak.. Nur nggak mau di cium."
sahut nya gugup dan panik.
...*********...