
Dari jam delapan malam tadi, Vino membuat
satu dus besar bangau kertas sebagai
permintaan maaf nya kepada Nurul.
ia mendapatkan saran ini dari El, karena El
bilang waktu itu ia di maafkan.
"waktu itu El buat nya sedikit, karena kesalahan
El kecil. nah karena kesalahan ayah besar
ayah harus buatkan yang banyak agar
bunda mau memaafkan.." begitu saran El
tadi sore saat melihat ayah nya risau gegana.
Kini jam sudah menunjukkan 22:10 menit.
sudah satu jam Vino menunggu Nurul
di kamar nya, namun Nurul belum kunjung
pulang dari kencannya.
...-...
...-...
Begitu taksi berhenti, Nurul langsung menghapus
jejak air mata nya yang membuat mata sembab.
beruntung ia pulang agak malam, jadi semua
keluarga nya pasti sudah tidur.
"pak.. bayarin taksi nya ya, nanti Nur ganti."
pinta nya pada pak satpam.
"iya non.. aman.."
Nurul segera berlari masuk kerumah sambil
menutupi wajah dengan rambut nya
seperti mbak kunti agar tak ada penjaga
yang melihat maya bengkak nya.
Begitu sampai di anak tangga, ia berjalan
pelan pelan seperti maling.
"aah.. apa yang ku lakukan??
bodoh!! bodoh!!" batin nya jengkel.
krieet....
Nurul membuka pintu kamar nya perlahan.
suasana kamar yang gelap membuat Vino
mengira itu beneran mbak kunti yang lagi
inspeksi.
"HAAAAA!!!!!!!!!"
teriak Vino, di susul Nurul yang juga berteriak
kaget. yang tadi nya mau ngasih kejutan, eh malah melompat kaget sampai tersandung
pinggiran meja. untung pintu kamar tertutup,
jika tidak pastilah orang di rumah heboh
mendengar teriakan mereka.
Nurul langsung menghidupkan saklar lampu
nya. "Pak Vino??!!"
"Ran??!"
"bapak ngapain gelap gelapan di kamar
Nur kaya bab! ngepet gitu?!!"
"kamu yang ngapain? masuk kamar
rambut nya begitu? saya kira set@n tau?!"
Nurul menyibakkan rambut nya perlahan
namun pandangannya tetap menunduk
agar kelopak mata bunting nya tidak
kentara.
"ini apaan lagi?!"
Nurul menendang pelan kardus besar
berisi ratusan bangau kertas itu.
"itu.. saya buatkan banyak bangau kertas
untuk meminta maaf.."
walaupun yakin itu hanya akan di anggap
sampah oleh Nurul, tapi Vino tetap optimis.
Nurul menaikkan pandangan nya perlahan
sambil berkaca kaca,karena terharu sih iya.
tapi ia lebih sedih saat teringat kejadian
yang ia lewati bersama Bian tadi.
"eh.. jangan nangis Ran, plis..
saya bener bener minta maaf..
saya janji nggak akan bercanda seperti itu
lagi.. pliss.." Vino sampai berlutut memasang
tampang persis seperti El yang sedang memelas.
hiks...hikss...hikss..
isak tangis kembali di tumpahkan Nurul
karena tak tahan, niat nya sampai rumah
mau nangis sepuas puasnya tadi. eh malah
ada Vino, ya gagal rencana Nurul untuk
menumpahkan air mata nya.
Vino meraih tangan Nurul dan
menggenggamnya.
"Ran..? hei.. jangan menangis plis.."
"semarah itu kamu sama saya??
pukul saja saya nggak apa apa, tapi
jangan menangis.."
"marah lah!! bayangin kalau Nur
pingsan atau meninggal tadi?
atau bapak emang bener bener mau
melenyapkan Nur ya?"
Nurul sengaja mengatakan itu untuk
menghibur diri walaupun tangis nya tak
bisa berhenti.
"sumpah!!
saya tidak berniat begitu Ran.."
"ya emang bapak nggak berniat, kalau
kejadian gimana coba? bapak bisa apa?"
"ya nggak bisa apa apa sih..
tapi suatu kehormatan pasti nya meninggal
di pelukan pria paling tampan sejagat perduda'an." ucap Vino berbangga diri.
"hhh.. status bapak itu bukan duda nggak sih?
bapak kan belum nikah!"
"jangan bahas bahas status deh..
eh, tapi kalau kita nikah ceritanya kamu
nikah sama duda atau perjaka?"
sableng nya Vino mulai merembet seakan
tau kalau Nurul butuh asupan kebahagiaan.
"Perjaka.. tapi di atas kertas doang.
di asli nya mah udah duda...
bekasan banyak orang lagi.."
sahut Nurul terasa tajam menikam hingga
ke tulang ekor Vino.
"Ran.. saya sudah taubat. serius.
saya hampir lima tahun nggak... itu."
"ya udah sih..bodo amat mau taubat mau
"ya kali aja kamu mau periksa.."
"emang ada beda nya?"
lempeng saja Nurul bertanya tanpa beban.
"ada Ran...mau saya kasih tau?"
ucap Vino sambil berpura pura membuka
resleting celana nya.
"Ehh!! nggak nggak!! apaan sih pak..
jangan aneh aneh..!!!!!"
siapa yang nggak panik?mata polos nan
suci milik Nurul belum siap ternodai dengan
pemandangan belut listrik bervolume tinggi itu.
"hahahhahahhaha.....
bercanda Ran.. tenang saja, ada waktu nya
nanti kamu yang memegang kendali."
ujar Vino yaqqin.
(pake qolqolah baca nya ye..π π)
"pak.. keluar.."
Nurul memasang wajah sangar nya sambil
mengayunkan raket nyamuk.
"kamu bertengkar ya sama Bian?"
Satu pertanyaan itu membuat Nurul kembali
teringat hal menyedihkan yang menimpa
hubungannya.
"Ran..?" Vino mengejar tatapan Nurul
yang berusaha menghindari nya.
"bangau nya tolong tebar di kasur pak."
"untuk apa?"
"siapa tau dia bisa bawa Nur terbang,
jadi lah walau cuma mimpi.."
Nurul menyingkirkan selimutnya sambil
menitikkan air mata.
Vino menuruti nya, ia menuangkan ratusan
bangau warna warni itu ke atas kasur Nurul.
"jadi bikin sampah ini saya.."
"nggak.. Nur suka kok.."
senyum pahit membuat wajah sedih Nurul
semakin jelas.
"kamu mau terbang?"
"mmm.. ke tempat yang jauh.."
sahut Nurul kembali menunduk terisak.
Jari Vino menaikkan dagu Nurul agar
menatap wajah nya.
"saya bisa bawa kamu terbang jauh..
dan saya bisa bawa kamu terbang ke tempat
yang indah.." bisik nya sambil menyeka air mata Nurul.
"cara nya??"
"kamu pilih yang mana?"
"yang jauh?"
"pesawat.. kamu mau kemana?
pulau wisata? Luar Negeri?"
"chh.. merepotkan."
rutuk Nurul sedikit tersenyum.
"lalu kamu mau ke tempat yang indah?
kemana? bulan?"
"nggak bisakah kedua nya?
jauh dan indah?" tatapan Nurul haru sekali
seakan membutuhkan tempat bercurah.
"bisa.."
Vino menutup mata Nurul dengan telapak
tangan nya, lalu perlahan mengecup bibir
Nurul penuh perasaan.
rasa yang telah lama membuncah itu kini
sedikit tersalurkan, untuk pertama kali Vino menyalurkan cinta nya tanpa ada
penolakan dari Nurul.
Setelah beberapa detik, Vino membuka mata
Nurul lalu bertanya.
"Saya cinta sama kamu, rasa cinta yang
sama saat saya ucapkan di bandara
lima tahun yang lalu.
kamu masih ingat??"
Tatapan sendu Nurul membalas hangat
mata Vino yang menatap nya penuh cinta.
"kenapa bapak pergi waktu itu?
pernah kah bapak pikirkan seberapa lelah
Nur menahan rindu selama itu?"
tutur nya sambil berlinangan air mata.
Tanpa ragu lagi, Vino membawa tubuh mungil
Nurul kedalam pelukan nya.
ia juga melepaskan air mata nya tanpa sadar
karena terharu akan perasaan nya yang terbalas
setelah sekian lama terkubur.
"tolong katakan Ran..
katakan kalau kamu juga mencintai saya."
"Nur selalu merindukan bapak..
bahkan Nur selalu memimpikan bapak.
Cinta Nur hanya untuk, bapak.
kenapa Nur baru menyadari itu sekarang...
hiks..hiks..hiks..."
isak tangis memenuhi kamar Nurul malam itu.
beribu penyesalan seakan menimpa Nurul,
kenapa harus sekarang? di saat ia sudah
mengikat komitmen dengan Bian.
di saat dia menerima cinta nya Bian.
kenapa? kenapa baru sekarang ia baru
menyadari kalau ternyata cinta nya hanya
milik Vino sejak awal.
"jika kamu sudah mencintai saya..
berarti kamu milik saya..
dan apa yang saya miliki,akan saya rebut
kembali dan tidak akan pernah jatuh
lagi ke tangan orang lain.
kamu milik saya dari awal Ran..
ingatlah itu.." bisik Vino tegas dan yakin
untuk menenangkan Nurul agar tak mengkhawatirkan cinta nya yang
kusut di tangan orang lain.
Vino berjanji akan meluruskan benang itu,
kemudian memindahkan ke tangannya
dengan posisi tergulung rapi.
...*******...