Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 Episode 21: Terbang


Dari jam delapan malam tadi, Vino membuat


satu dus besar bangau kertas sebagai


permintaan maaf nya kepada Nurul.


ia mendapatkan saran ini dari El, karena El


bilang waktu itu ia di maafkan.


"waktu itu El buat nya sedikit, karena kesalahan


El kecil. nah karena kesalahan ayah besar


ayah harus buatkan yang banyak agar


bunda mau memaafkan.." begitu saran El


tadi sore saat melihat ayah nya risau gegana.


Kini jam sudah menunjukkan 22:10 menit.


sudah satu jam Vino menunggu Nurul


di kamar nya, namun Nurul belum kunjung


pulang dari kencannya.


...-...


...-...


Begitu taksi berhenti, Nurul langsung menghapus


jejak air mata nya yang membuat mata sembab.


beruntung ia pulang agak malam, jadi semua


keluarga nya pasti sudah tidur.


"pak.. bayarin taksi nya ya, nanti Nur ganti."


pinta nya pada pak satpam.


"iya non.. aman.."


Nurul segera berlari masuk kerumah sambil


menutupi wajah dengan rambut nya


seperti mbak kunti agar tak ada penjaga


yang melihat maya bengkak nya.


Begitu sampai di anak tangga, ia berjalan


pelan pelan seperti maling.


"aah.. apa yang ku lakukan??


bodoh!! bodoh!!" batin nya jengkel.


krieet....


Nurul membuka pintu kamar nya perlahan.


suasana kamar yang gelap membuat Vino


mengira itu beneran mbak kunti yang lagi


inspeksi.


"HAAAAA!!!!!!!!!"


teriak Vino, di susul Nurul yang juga berteriak


kaget. yang tadi nya mau ngasih kejutan, eh malah melompat kaget sampai tersandung


pinggiran meja. untung pintu kamar tertutup,


jika tidak pastilah orang di rumah heboh


mendengar teriakan mereka.


Nurul langsung menghidupkan saklar lampu


nya. "Pak Vino??!!"


"Ran??!"


"bapak ngapain gelap gelapan di kamar


Nur kaya bab! ngepet gitu?!!"


"kamu yang ngapain? masuk kamar


rambut nya begitu? saya kira set@n tau?!"


Nurul menyibakkan rambut nya perlahan


namun pandangannya tetap menunduk


agar kelopak mata bunting nya tidak


kentara.


"ini apaan lagi?!"


Nurul menendang pelan kardus besar


berisi ratusan bangau kertas itu.


"itu.. saya buatkan banyak bangau kertas


untuk meminta maaf.."


walaupun yakin itu hanya akan di anggap


sampah oleh Nurul, tapi Vino tetap optimis.


Nurul menaikkan pandangan nya perlahan


sambil berkaca kaca,karena terharu sih iya.


tapi ia lebih sedih saat teringat kejadian


yang ia lewati bersama Bian tadi.


"eh.. jangan nangis Ran, plis..


saya bener bener minta maaf..


saya janji nggak akan bercanda seperti itu


lagi.. pliss.." Vino sampai berlutut memasang


tampang persis seperti El yang sedang memelas.


hiks...hikss...hikss..


isak tangis kembali di tumpahkan Nurul


karena tak tahan, niat nya sampai rumah


mau nangis sepuas puasnya tadi. eh malah


ada Vino, ya gagal rencana Nurul untuk


menumpahkan air mata nya.


Vino meraih tangan Nurul dan


menggenggamnya.


"Ran..? hei.. jangan menangis plis.."


"semarah itu kamu sama saya??


pukul saja saya nggak apa apa, tapi


jangan menangis.."


"marah lah!! bayangin kalau Nur


pingsan atau meninggal tadi?


atau bapak emang bener bener mau


melenyapkan Nur ya?"


Nurul sengaja mengatakan itu untuk


menghibur diri walaupun tangis nya tak


bisa berhenti.


"sumpah!!


saya tidak berniat begitu Ran.."


"ya emang bapak nggak berniat, kalau


kejadian gimana coba? bapak bisa apa?"


"ya nggak bisa apa apa sih..


tapi suatu kehormatan pasti nya meninggal


di pelukan pria paling tampan sejagat perduda'an." ucap Vino berbangga diri.


"hhh.. status bapak itu bukan duda nggak sih?


bapak kan belum nikah!"


"jangan bahas bahas status deh..


eh, tapi kalau kita nikah ceritanya kamu


nikah sama duda atau perjaka?"


sableng nya Vino mulai merembet seakan


tau kalau Nurul butuh asupan kebahagiaan.


"Perjaka.. tapi di atas kertas doang.


di asli nya mah udah duda...


bekasan banyak orang lagi.."


sahut Nurul terasa tajam menikam hingga


ke tulang ekor Vino.


"Ran.. saya sudah taubat. serius.


saya hampir lima tahun nggak... itu."


"ya udah sih..bodo amat mau taubat mau


"ya kali aja kamu mau periksa.."


"emang ada beda nya?"


lempeng saja Nurul bertanya tanpa beban.


"ada Ran...mau saya kasih tau?"


ucap Vino sambil berpura pura membuka


resleting celana nya.


"Ehh!! nggak nggak!! apaan sih pak..


jangan aneh aneh..!!!!!"


siapa yang nggak panik?mata polos nan


suci milik Nurul belum siap ternodai dengan


pemandangan belut listrik bervolume tinggi itu.


"hahahhahahhaha.....


bercanda Ran.. tenang saja, ada waktu nya


nanti kamu yang memegang kendali."


ujar Vino yaqqin.


(pake qolqolah baca nya ye..πŸ˜…πŸ™)


"pak.. keluar.."


Nurul memasang wajah sangar nya sambil


mengayunkan raket nyamuk.


"kamu bertengkar ya sama Bian?"


Satu pertanyaan itu membuat Nurul kembali


teringat hal menyedihkan yang menimpa


hubungannya.


"Ran..?" Vino mengejar tatapan Nurul


yang berusaha menghindari nya.


"bangau nya tolong tebar di kasur pak."


"untuk apa?"


"siapa tau dia bisa bawa Nur terbang,


jadi lah walau cuma mimpi.."


Nurul menyingkirkan selimutnya sambil


menitikkan air mata.


Vino menuruti nya, ia menuangkan ratusan


bangau warna warni itu ke atas kasur Nurul.


"jadi bikin sampah ini saya.."


"nggak.. Nur suka kok.."


senyum pahit membuat wajah sedih Nurul


semakin jelas.


"kamu mau terbang?"


"mmm.. ke tempat yang jauh.."


sahut Nurul kembali menunduk terisak.


Jari Vino menaikkan dagu Nurul agar


menatap wajah nya.


"saya bisa bawa kamu terbang jauh..


dan saya bisa bawa kamu terbang ke tempat


yang indah.." bisik nya sambil menyeka air mata Nurul.


"cara nya??"


"kamu pilih yang mana?"


"yang jauh?"


"pesawat.. kamu mau kemana?


pulau wisata? Luar Negeri?"


"chh.. merepotkan."


rutuk Nurul sedikit tersenyum.


"lalu kamu mau ke tempat yang indah?


kemana? bulan?"


"nggak bisakah kedua nya?


jauh dan indah?" tatapan Nurul haru sekali


seakan membutuhkan tempat bercurah.


"bisa.."


Vino menutup mata Nurul dengan telapak


tangan nya, lalu perlahan mengecup bibir


Nurul penuh perasaan.


rasa yang telah lama membuncah itu kini


sedikit tersalurkan, untuk pertama kali Vino menyalurkan cinta nya tanpa ada


penolakan dari Nurul.


Setelah beberapa detik, Vino membuka mata


Nurul lalu bertanya.


"Saya cinta sama kamu, rasa cinta yang


sama saat saya ucapkan di bandara


lima tahun yang lalu.


kamu masih ingat??"


Tatapan sendu Nurul membalas hangat


mata Vino yang menatap nya penuh cinta.


"kenapa bapak pergi waktu itu?


pernah kah bapak pikirkan seberapa lelah


Nur menahan rindu selama itu?"


tutur nya sambil berlinangan air mata.


Tanpa ragu lagi, Vino membawa tubuh mungil


Nurul kedalam pelukan nya.


ia juga melepaskan air mata nya tanpa sadar


karena terharu akan perasaan nya yang terbalas


setelah sekian lama terkubur.


"tolong katakan Ran..


katakan kalau kamu juga mencintai saya."


"Nur selalu merindukan bapak..


bahkan Nur selalu memimpikan bapak.


Cinta Nur hanya untuk, bapak.


kenapa Nur baru menyadari itu sekarang...


hiks..hiks..hiks..."


isak tangis memenuhi kamar Nurul malam itu.


beribu penyesalan seakan menimpa Nurul,


kenapa harus sekarang? di saat ia sudah


mengikat komitmen dengan Bian.


di saat dia menerima cinta nya Bian.


kenapa? kenapa baru sekarang ia baru


menyadari kalau ternyata cinta nya hanya


milik Vino sejak awal.


"jika kamu sudah mencintai saya..


berarti kamu milik saya..


dan apa yang saya miliki,akan saya rebut


kembali dan tidak akan pernah jatuh


lagi ke tangan orang lain.


kamu milik saya dari awal Ran..


ingatlah itu.." bisik Vino tegas dan yakin


untuk menenangkan Nurul agar tak mengkhawatirkan cinta nya yang


kusut di tangan orang lain.


Vino berjanji akan meluruskan benang itu,


kemudian memindahkan ke tangannya


dengan posisi tergulung rapi.


...*******...