Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 61: Jangan ingkar


"lembur.. ini, mau lanjut foto foto.


kan sampai malam acara nya heheh.."


elak Vino menyeringai.


El tak terlalu menanggapi, karena


hati nya sangat senang saat itu.


yang ada di pikiran nya hanyalah


mulai malam ini ia akan tidur berdua


dengan Ayah Bunda nya.


"tunggu..! tunggu..!


kami mau ikut foto juga.."


seru si kembar setengah berlari.


mereka bahkan tak perduli dengan


bibir yang belepotan dengan coklat


kue pengantin.


"aduh... itu bersihkan dulu mulutnya


Ica.. kena baju bina nanti.."


bisik Nurul ngeri ngeri sedap.


"sini..sini..."


Fani langsung sigap menyeka bibir


Ica dengan tissu.


"ayo naik semua dong..


kita foto sama sama.."


ajak Nurul kepada seluruh keluarga nya.


"yang bukan keluarga boleh tidak??"


seru Mila lantang seakan tak mau


ketinggalan momen.


"boleh..boleh...


ayo By, kesini.."


panggil Nurul pada Gaby.


Berjajar lah mereka semua.


Dimas,Fani,Mila,Riko, berjajar di


sebelah Vino. sedangkan Gaby,Ayu,


Dika dan Bian berjajar di sebelah Nurul.


di barisan depan ada tiga bocil sultan yang


berdiri tegap bak anggota dewan.


"siap... satu.. dua..."


jepret.....๐Ÿ“ธ satu gambar berhasil


di abadikan.


Berpindah posisi lah mereka, kini Bian


berdiri tepat di sebelah Nurul.


"oke.. bagus, sekali lagi gaya bebas..


satu..dua.."


Sesuai peraturan nya, Bian memanfaatkan


gaya bebas tersebut untuk mengacaukan


senyum sumringah nya Vino.


dalam sekejap ia nyelip di tengah tengah


Vino dan Nurul sambil berpose riang gembira.


"woy... apa apaan nih?!"


rutuk Vino kesal.


"gaya bebas kan? jadi bebas dong.."


sahut Bian santai.


"ya nggak gitu juga bang.."


ujar Nurul sedikit terkejut.


"cie... ada yang belum move on cie...."


ledek Ayu saat hendak turun dari panggung.


Wajah Bian langsung bersemu merah.


ia juga segera turun dari panggung


dengan langkah cepat.


"cieee... lipstik nya menor cie..."


ledek Bian balik agar ia tak mati kutu.


kedekatan mereka memang sudah


seperti saudara, itu lah mengapa Ayu


selali jadi team Bian sampai akhir.


"ya nggak apa apa dong..


nama nya ada acara, kalau redup


ntar pucet nggak enak di lihat."


bantah Ayu sambil tersenyum.


"emang siapa yang mau lihat hah?"


"ya banyak lah.. kan banyak tamu tuh.."


tunjuk Ayu dengan bibir nya.


"memang banyak. tapi mereka


tidak mungkin memperhatikan mu


hahahahahah...."


Sifat humor receh mereka memang


sefrekuensi, namun sayang beribu sayang


kecocokan mereka sebagai saudara


ipar gagal karena tuhan tak merestui.


"setidak nya Ayu nggak kesepian


hahahahahha....."


Di saat mereka sedang tertawa bersama,


tiba tiba Rey lewat tepat di tengah tengah


mereka sambil membawa beberapa kado


tanpa permisi bahkan basa basi.


Ayu menyingkir agar tak menyenggol


tumpukan kado di tangan Rey.


"wuushhh!!"


"siapa sih? anggota WO?"


tanya Bian.


"sekertaris Mas Dimas."


"ohh..."


"Yu... sini nak.."


panggil Rianti. Ayu pun meninggalkan


Bian seorang diri di sana.


Beruntung Dika datang, jadi nggak


nampak ngenes banget lah.


"salad.."


ujar Dika menawarkan.


"berdua sini.."


Bian tampak tak selera, tapi ingin


mencicipi.


"ambil sendiri.."


"berdua..!"


tegas Bian.


"Dita...."


panggilan itu membuyarkan perdebatan


mereka. pandangan Dika langsung


teralih kepada seorang ibu paruh baya


yang tengah memanggil putri nya.


"issh!! mama..!"


rutuk Gaby sedikit kesal, sudah


berkali kali ia mengatakan panggil


diri nya Gaby, karena itu lebih keren


ketimbang Dita.


"iya ma.."


ia menghampiri mama nya sambil


tersenyum kecut.


"mama sama papa pulang duluan ya.."


pamit nya, setelah itu mereka pergi.


Sayang Dika tak bisa melihat jelas


wajah ibu paruh baya tersebut walaupun


sudah berusaha. banyak nya orang membuat


wajah si ibu tak bisa terlihat jelas.


"apa dia Dita ku?


tidak mungkin tahi lalat sebesar itu


menghilang. bukankah seharus nya


bertambah besar saat pemilik nya


bertambah usia?"


batin Dika sembari menatap wajah


Gaby dari kejauhan.


"Pak? nama lengkap dia siapa sih?"


tanya Dika pada Bian, pasti lah Bian


tau karena Gaby juga murid nya.


"dia siapa?"


Bian malah bertanya balik karena Dika


tak menunjuk objek nya.


"Gaby."


"ouh..


Gabriella Arandita kalau tidak salah.


kenapa.."


Bian masih ingin bertanya, namun


Dika langsung berdiri dan menghampiri


Gaby.


Tatapan akan rasa rindu terpendam


begitu tampak bergejolak di mata nya.


jika memang benar Gaby adalah pengantin


yang ia cari cari, maka dunia ini benar benar


menyusun kisah cinta nya dengan sangat


indah.


Dika menatap mata Gaby dalam dalam.


"hei... kamu mengingatku??"


Gaby tercengang, tentu saja dia masih


ingat karena otak nya baik baik saja.


"garing banget deh bercanda nya kak."


sahut Gaby tertawa.


"Dita... nama mu Dita??


di mana tahi lalat mu yang di sana?"


tunjuk nya ke arah bibir Gaby.


"ihh.. jangan ikut ikut manggil begitu ah.


malu tau, nggak keren nama nya."


Melihat Gaby kebingungan, Dika


mengeluarkan gantungan kunci


berbentuk hati yang sangat ikonik


bagi hubungan Dika dan pengantinnya.


"kamu ingat ini??"


Gaby kebingungan dengan sikap Dika.


ia memperhatikan gantungan kunci itu


dengan alis mengkerut.


"aisshh!! sudah ku duga bukan


kamu orang nya."


gumam Dika, ia yakin betul Dita nya


akan langsung ingat jika melihat


gantungan kunci itu.


Dika lantas berbalik badan dengan


wajah lesu.


"hhh. kenapa aku sangat berharap


dia orang nya."


gerutu Dika.


...~~~~...


Malam berlalu menjadi larut.


Nurul masuk ke kamar nya lebih dulu


untuk membersihkan diri, sementara


Vino masih di bawah. ia sedang membujuk


El agar tidur bersama Oma nya malam ini.


Setelah selesai mandi, bukan nya


langsung keluar Nurul malah mematung


di depan cermin dengan jubah handuk nya


sambil berbicara dengan diri sendiri.


"status mu sudah menjadi istri sekarang.


bukan cuma itu, kamu juga seorang ibu


sambung anak laki laki berumur 4 tahun.


jadi,, mainkan lah peranmu dengan baik.


semangat....!"


ia seperti sedang menyemangati orang


yang hendak bertempur di medan perang.


Setelah itu, ia keluar kamar mandi.


yang ia pikirkan Vino masih di ruangan


bawah. tapi ternyata Vino sudah berbaring


di atas kasur dengan dada telanjang.


๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ


Nurul sampai tak bisa berkata kata


saking terkejutnya melihat itu.


"cantik banget sih istri ku habis mandi..๐Ÿคค๐Ÿ˜"


goda Vino sambil menopang kepala nya


dengan telapak tangan.


"eheheh..."


Nurul nyengir sambil menggenggam


erat kerah handuk nya.


Vino berdiri dari kasur nya secepat kilat.


"baik lah.. mari kita lihat apa yang


ada di balik..."


"jangan!!! jangan!!


tunggu dulu!! plis..!


Nur belum pakai baju.!"


panik nggak??? panik lah


masa enggak๐Ÿ˜ต


"benar kah...?"


Vino semakin mendekat sambil


menggigit bibir bawah nya dan


tersenyum.


"e..


Bapak.. eh Mas nggak mandi dulu?"


keringat dingin, kaki bergetar, tenggorokan


kering bibir pecah pecah itu panas dalam.


iya suhu tubuh Nurul jadi naik


berkali-kali lipat.


Kalau Vino mandi, Nurul berencana


kabur agar selamat setidak nya malam


ini saja.


"mm.. iya yakan.


saya mandi dulu kalau gitu.."


ucap Vino namun malah ke arah depan.


ternyata Vino malah mengunci kamar itu


lalu di bawa ke kamar mandi.


"loh.. kenapa kunci nya..?"


"jangan coba coba ingkar janji kamu.."


bisik Vino saat melewati Nurul sambil


menarik tali jubah handuk nya Nurul.


gleek...


tenggorokan Nurul benar benar


gersang saat itu. seperti nya malam


ini akan menjadi malam paling menyeramkan


sepanjang hidup nya.


...**********...


udah lama up nya. pendek lagi ..


maafkan lh otor yg kelimpungan ini๐Ÿ™ƒ