
"lembur.. ini, mau lanjut foto foto.
kan sampai malam acara nya heheh.."
elak Vino menyeringai.
El tak terlalu menanggapi, karena
hati nya sangat senang saat itu.
yang ada di pikiran nya hanyalah
mulai malam ini ia akan tidur berdua
dengan Ayah Bunda nya.
"tunggu..! tunggu..!
kami mau ikut foto juga.."
seru si kembar setengah berlari.
mereka bahkan tak perduli dengan
bibir yang belepotan dengan coklat
kue pengantin.
"aduh... itu bersihkan dulu mulutnya
Ica.. kena baju bina nanti.."
bisik Nurul ngeri ngeri sedap.
"sini..sini..."
Fani langsung sigap menyeka bibir
Ica dengan tissu.
"ayo naik semua dong..
kita foto sama sama.."
ajak Nurul kepada seluruh keluarga nya.
"yang bukan keluarga boleh tidak??"
seru Mila lantang seakan tak mau
ketinggalan momen.
"boleh..boleh...
ayo By, kesini.."
panggil Nurul pada Gaby.
Berjajar lah mereka semua.
Dimas,Fani,Mila,Riko, berjajar di
sebelah Vino. sedangkan Gaby,Ayu,
Dika dan Bian berjajar di sebelah Nurul.
di barisan depan ada tiga bocil sultan yang
berdiri tegap bak anggota dewan.
"siap... satu.. dua..."
jepret.....๐ธ satu gambar berhasil
di abadikan.
Berpindah posisi lah mereka, kini Bian
berdiri tepat di sebelah Nurul.
"oke.. bagus, sekali lagi gaya bebas..
satu..dua.."
Sesuai peraturan nya, Bian memanfaatkan
gaya bebas tersebut untuk mengacaukan
senyum sumringah nya Vino.
dalam sekejap ia nyelip di tengah tengah
Vino dan Nurul sambil berpose riang gembira.
"woy... apa apaan nih?!"
rutuk Vino kesal.
"gaya bebas kan? jadi bebas dong.."
sahut Bian santai.
"ya nggak gitu juga bang.."
ujar Nurul sedikit terkejut.
"cie... ada yang belum move on cie...."
ledek Ayu saat hendak turun dari panggung.
Wajah Bian langsung bersemu merah.
ia juga segera turun dari panggung
dengan langkah cepat.
"cieee... lipstik nya menor cie..."
ledek Bian balik agar ia tak mati kutu.
kedekatan mereka memang sudah
seperti saudara, itu lah mengapa Ayu
selali jadi team Bian sampai akhir.
"ya nggak apa apa dong..
nama nya ada acara, kalau redup
ntar pucet nggak enak di lihat."
bantah Ayu sambil tersenyum.
"emang siapa yang mau lihat hah?"
"ya banyak lah.. kan banyak tamu tuh.."
tunjuk Ayu dengan bibir nya.
"memang banyak. tapi mereka
tidak mungkin memperhatikan mu
hahahahahah...."
Sifat humor receh mereka memang
sefrekuensi, namun sayang beribu sayang
kecocokan mereka sebagai saudara
ipar gagal karena tuhan tak merestui.
"setidak nya Ayu nggak kesepian
hahahahahha....."
Di saat mereka sedang tertawa bersama,
tiba tiba Rey lewat tepat di tengah tengah
mereka sambil membawa beberapa kado
tanpa permisi bahkan basa basi.
Ayu menyingkir agar tak menyenggol
tumpukan kado di tangan Rey.
"wuushhh!!"
"siapa sih? anggota WO?"
tanya Bian.
"sekertaris Mas Dimas."
"ohh..."
"Yu... sini nak.."
panggil Rianti. Ayu pun meninggalkan
Bian seorang diri di sana.
Beruntung Dika datang, jadi nggak
nampak ngenes banget lah.
"salad.."
ujar Dika menawarkan.
"berdua sini.."
Bian tampak tak selera, tapi ingin
mencicipi.
"ambil sendiri.."
"berdua..!"
tegas Bian.
"Dita...."
panggilan itu membuyarkan perdebatan
mereka. pandangan Dika langsung
teralih kepada seorang ibu paruh baya
yang tengah memanggil putri nya.
"issh!! mama..!"
rutuk Gaby sedikit kesal, sudah
berkali kali ia mengatakan panggil
diri nya Gaby, karena itu lebih keren
ketimbang Dita.
"iya ma.."
ia menghampiri mama nya sambil
tersenyum kecut.
"mama sama papa pulang duluan ya.."
pamit nya, setelah itu mereka pergi.
Sayang Dika tak bisa melihat jelas
wajah ibu paruh baya tersebut walaupun
sudah berusaha. banyak nya orang membuat
wajah si ibu tak bisa terlihat jelas.
"apa dia Dita ku?
tidak mungkin tahi lalat sebesar itu
menghilang. bukankah seharus nya
bertambah besar saat pemilik nya
bertambah usia?"
batin Dika sembari menatap wajah
Gaby dari kejauhan.
"Pak? nama lengkap dia siapa sih?"
tanya Dika pada Bian, pasti lah Bian
tau karena Gaby juga murid nya.
"dia siapa?"
Bian malah bertanya balik karena Dika
tak menunjuk objek nya.
"Gaby."
"ouh..
Gabriella Arandita kalau tidak salah.
kenapa.."
Bian masih ingin bertanya, namun
Dika langsung berdiri dan menghampiri
Gaby.
Tatapan akan rasa rindu terpendam
begitu tampak bergejolak di mata nya.
jika memang benar Gaby adalah pengantin
yang ia cari cari, maka dunia ini benar benar
menyusun kisah cinta nya dengan sangat
indah.
Dika menatap mata Gaby dalam dalam.
"hei... kamu mengingatku??"
Gaby tercengang, tentu saja dia masih
ingat karena otak nya baik baik saja.
"garing banget deh bercanda nya kak."
sahut Gaby tertawa.
"Dita... nama mu Dita??
di mana tahi lalat mu yang di sana?"
tunjuk nya ke arah bibir Gaby.
"ihh.. jangan ikut ikut manggil begitu ah.
malu tau, nggak keren nama nya."
Melihat Gaby kebingungan, Dika
mengeluarkan gantungan kunci
berbentuk hati yang sangat ikonik
bagi hubungan Dika dan pengantinnya.
"kamu ingat ini??"
Gaby kebingungan dengan sikap Dika.
ia memperhatikan gantungan kunci itu
dengan alis mengkerut.
"aisshh!! sudah ku duga bukan
kamu orang nya."
gumam Dika, ia yakin betul Dita nya
akan langsung ingat jika melihat
gantungan kunci itu.
Dika lantas berbalik badan dengan
wajah lesu.
"hhh. kenapa aku sangat berharap
dia orang nya."
gerutu Dika.
...~~~~...
Malam berlalu menjadi larut.
Nurul masuk ke kamar nya lebih dulu
untuk membersihkan diri, sementara
Vino masih di bawah. ia sedang membujuk
El agar tidur bersama Oma nya malam ini.
Setelah selesai mandi, bukan nya
langsung keluar Nurul malah mematung
di depan cermin dengan jubah handuk nya
sambil berbicara dengan diri sendiri.
"status mu sudah menjadi istri sekarang.
bukan cuma itu, kamu juga seorang ibu
sambung anak laki laki berumur 4 tahun.
jadi,, mainkan lah peranmu dengan baik.
semangat....!"
ia seperti sedang menyemangati orang
yang hendak bertempur di medan perang.
Setelah itu, ia keluar kamar mandi.
yang ia pikirkan Vino masih di ruangan
bawah. tapi ternyata Vino sudah berbaring
di atas kasur dengan dada telanjang.
๐ณ๐ณ๐ณ
Nurul sampai tak bisa berkata kata
saking terkejutnya melihat itu.
"cantik banget sih istri ku habis mandi..๐คค๐"
goda Vino sambil menopang kepala nya
dengan telapak tangan.
"eheheh..."
Nurul nyengir sambil menggenggam
erat kerah handuk nya.
Vino berdiri dari kasur nya secepat kilat.
"baik lah.. mari kita lihat apa yang
ada di balik..."
"jangan!!! jangan!!
tunggu dulu!! plis..!
Nur belum pakai baju.!"
panik nggak??? panik lah
masa enggak๐ต
"benar kah...?"
Vino semakin mendekat sambil
menggigit bibir bawah nya dan
tersenyum.
"e..
Bapak.. eh Mas nggak mandi dulu?"
keringat dingin, kaki bergetar, tenggorokan
kering bibir pecah pecah itu panas dalam.
iya suhu tubuh Nurul jadi naik
berkali-kali lipat.
Kalau Vino mandi, Nurul berencana
kabur agar selamat setidak nya malam
ini saja.
"mm.. iya yakan.
saya mandi dulu kalau gitu.."
ucap Vino namun malah ke arah depan.
ternyata Vino malah mengunci kamar itu
lalu di bawa ke kamar mandi.
"loh.. kenapa kunci nya..?"
"jangan coba coba ingkar janji kamu.."
bisik Vino saat melewati Nurul sambil
menarik tali jubah handuk nya Nurul.
gleek...
tenggorokan Nurul benar benar
gersang saat itu. seperti nya malam
ini akan menjadi malam paling menyeramkan
sepanjang hidup nya.
...**********...
udah lama up nya. pendek lagi ..
maafkan lh otor yg kelimpungan ini๐