
Hidangan berikutnya datang. Kali ini mereka tampak diam dan tidak berani berbicara karena wajah Dimas belum berubah dari mode gahar.
Fani pun berinisiatif mencairkan suasana yang beku ini. "Apa keinginan ibu di tahun ini yang belum tercapai?" ia berbasa-basi kepada Mila.
"Menikah." Jawab Mila cepat.
"Ibu belum punya pasangan?" Fani sedikit tak percaya, masa iya wanita hebat dan cantik itu tak memiliki kekasih.
"Mana ada lelaki yang tahan dengan wanita tukang gosip seperti dia." celetuk Riko melempar tatapan songong.
"Walau begitu, setidaknya aku masih suka lawan jenis." balas Mila sambil memasang wajah jengah.
"Kalau kamu apa keinginanmu yang belum tercapai?" Mila bertanya balik kepada Fani.
"Ada banyak keinginan saya yang belum tercapai." Fani menjawab sungkan sambil cengengesan agar suasana tidak terlalu mencekam.
"Dulu aku juga sama sepertimu, tapi saat aku mulai berpacaran aku merasa lupa dengan keinginanku yang menggunung."
"Benarkah?" sahut Fani dengan wajah polosnya.
"Benarkah..?" Mila mengulangi perkataan Fani dengan wajah penasaran.
"Jangan bilang kau belum pernah berpacaran." tambah Mila sambil menggoda. Jaman sekarang ada orang dewasa yang tidak pernah berpacaran?
Fani tersenyum tipis, lalu menggeleng sebagai jawaban.
Tiba-tiba Dimas tersenyum tipis. Padahal dalam hatinya sangat senang saat mendengar Fani belum pernah berpacaran. Jika ia berhasil merebut hati Fani, itu artinya dialah pria pertama yang bertahta di hati gadis itu. Sebagai pengusaha jiwa-jiwa teritorialnya memang sangat tinggi.
"Mau saya kasih pengalaman? Saya paling jago kalau masalah pacaran hahahhahah...." Vino tertawa keras, setelah memamerkan bakatnya yang terpendam itu.
"Saya rasa itu bukanlah hal yang perlu di pelajari." ujar Fani santai, membuat tawa Vino kicep.
"hahaha...kamu benar Fani. Untuk apa kita belajar tentang hal yang sia-sia." Mila tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Fani. Mila tampak nya sangat setuju dengan jawaban Fani karena pengalamannya yang selalu membuang buang waktu dengan berpacaran.
...~...
keesokan paginya....
Dimas menjemput Fani ke rumahnya seperti biasa, namun entah kenapa hari ini Fani terlihat pucat dan lemas.
"Kamu sakit?" tanya Dimas kepada Fani yang baru saja masuk ke dalam mobilnya.
"nggak om, cuma melilit sedikit perut Fani. mungkin karena salah makan kemarin."
"Kamu yakin?" tanya Dimas lagi memastikan. Sepertinya bukan sakit perut biasa.
"Iya..." Fani menganggukkan. Ia mengamati wajah sayu Dimas,ia menyadari kalau dari kemarin wajah Dimas tak ceria dan hangat seperti biasanya.
Fani pun memberanikam diri untuk bertanya apakah gerangan yang membuat Dimas murung begitu.
"Om lagi ada masalah ya?" tanya Fani gugup.
"Tidak.." sahut Dimas singkat.
"Atau Fani ada salah sama om?"
"Tidak juga." lagi-lagi Fimas menjawab datar.
"Aku cemburu Fani.! tapi yang lebih menjengkelkan aku tidak punya hak untuk mengatakannya." Batin Dimas kesal sembari menggenggam erat setir mobilnya.
"oh iya om, nanti Fani izin pulang agak cepat boleh? Soalnya teman-teman SMA Fani mengadakan reunian."
"hmmm." lagi-lagi Dimas menjawab datar.
"Reunian? Berarti Fani akan bertemu dengan teman-teman pria juga kan? Apakah ada cinta pertamanya juga? Atau ada orang yang dia sukai dulu?" Dimas terus menduga hal yang tidak-tidak di dalam benaknya.
"Kalau saya bilang tidak boleh..?" tanya Dimas basa-basi. Pria tua ini tampaknya mulai dijalari rasa posesif.
"Alasannya?" tentu Fani ingin tau, apa sebab sampai Dimas ingin melarangnya.
"ssh... Lupakan saja. Pergilah semaumu."
Dimas jadi semakin be-te dan kesal mengingat dia tidak berhak melarang Fani. Karena perasaannya saja tidak terbalas, bukankah akan terlihat egois kalau Dimas melarangnya tanpa ada ikatan apapun?
...~...
Tepat setelah jam kerja selesai, Fani berangkat menggunakan taksi menuju cafe yang sudah ditentukan teman-teman nya. Akan tetapi ia tidak menyadari kalau Dimas mengikutinya diam-diam.
Sesampainya di cafe Fani disambut hangat oleh teman-temannya. "haii... sini..." seru salah satu teman nya sambil melambaikan tangan.
"Ya ampun... Sudah lama banget kita nggak jumpa sama kamu Fani." ujar salah satu dari mereka.
"iya.. baru kali ini kamu bisa ikut reunian." imbuh yang lainnya dengan wajah berbinar.
"hehehe yaa maklum lah, dari lulus sekolah aku langsung jadi anak rantau." sahut Fani sembari memegang tangan teman-temannya.
Mereka pun berbincang-bincang melepaskan rindu, ada beberapa yang sudah menikah bahkan ada yang sudah mempunyai anak.
Sementara Dimas duduk tak jauh dari kursi mereka sembari menutupi wajahnya dengan majalah. Tak hanya itu, Dimas juga berusaha menguping obrolan mereka.
"ehh.. omong-omong kemarin aku jumpa sama kak Dio loh.." Ujar teman Fani menggoda, ya mereka semua tahu kalau Dio dulu dikenal sebagai fanboy nya Fani, namun Fani tidak pernah menanggapi perasaan Dio.
"iya.. beberapa hari lalu aku juga ketemu sama kak Dio." imbuhnya membuat semua orang penasaran.
"wah... beneran?"
"Terus, kamu ngerasa nggak sinyal-sinyal cinta yang lama terpendam timbul kembali...hihihi..." goda salah satu teman Fani cekikikan.
"atau jangan jangan kalian sudah tukeran nomor handphone." timpal yang lainnya.
"Sayang banget loh kalian nggak pacaran. Padahal serasiii banget." ujar mereka bersahut-sahutan dengan sangat antusias.
Dimas yang mendengarkan itu langsung meradang,terlebih Dimas juga melihat sendiri seperti apa si Dio itu. Ya Dimas merasa tersaingi karena selain Dio tampan, usianya juga masih muda. Tidak seperti Dimas yang sudah tua dan duda pula. Kalah telak deh pokoknya.... tapi kalau soal duid ya jangan ditanya.🤭
"haiss hentikan lah.., kalian ini,dia bukan tipe idamanku." jawab Fani sambil terkekeh.
"jadi yang seperti apa tipe idaman mu..??" tanya teman Fani diiringi anggukan penasaran teman yang lainnya.
"mmm... aku suka yang mempunyai sifat lembut, hangat, ceria, dan yang paling penting dewasa. Karena aku merasa akan mendapatkan cinta dan kasih sayang dari kekasih dan ayah sekaligus dari orang yang lebih dewasa." tutur Fani sambil tersenyum manis, entah darimana tiba-tiba di kepalanya malah muncul wajah Dimas.
"hahh.. masa iya tipe idaman ku itu ada pada om Dimas?" batin Fani sambil mengerjapkan kelopak mata agar Dimas menghilang dari kepalanya.
Ekspresi wajah Dimas berubah seketika, dari mendidih menjadi senyum-senyum sendiri setelah mendengarkan penuturan Fani.
"wiihhh.. tipe ideal mu benar-benar sempurna." sahut teman teman nya Fani sambil mengacungkan ibu jari mereka.
...************...