Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 30 : Folder penuh


Vino tertegun mendengar pernyataan


Nurul itu, jika di pikir pikir kan memang


menikah tujuan nya untuk menyatukan


dua insan dalam bahtera rumah tangga


dan menghasilkan keturunan dengan


cara nganu.


"ya.. memang nya tujuan menikah


untuk apa Ran?"


sahut nya terbata.


"untuk mewujudkan cinta dan membangun


keluarga.." jawab Nurul sambil menaikkan


bola mata nya.


"mewujudkan cinta dengan cara apa?"


tanya Vino lagi seperti mengintimidasi.


"nikah.."


Vino menggaruk kepala nya kesal.


"iya.. saya ajak kamu nikah Kirana..


jawab iya... atau iya?"


"iya.. t,tapi dua tahun lagi."


mau sih banget.. tapi Nurul belum


siap dan ingin lulus kuliah lebih dulu.


"kelamaan Ran.. lama...!!!"


ucap Vino sambil menekan gigi


geraham nya.


"eh.. maaf Pak, kak, Ayu kelamaan ya..


maaf. mules banget soal nya."


ucap Ayu tergesa.


"bukan kamu.."


sahut Vino dan Nurul berbarengan.


hingga ekpresi bingung dan segan bercampur menjadi satu di wajah Ayu.


...~~~~...


Setelah menempuh hampir 4 jam perjalanan. Vino dan Nurul akhirnya sampai


di lokasi tur nya Ayu.


mereka mampir sebentar di sana


sambil melihat lihat tempat yang akan


di jadikan penginapan oleh semua siswa.


Ayu akan menginap tiga hari di sana,


jadi Nurul menyiapkan semua keperluan


nya Ayu mulai dari sabun hingga snack


agar Ayu tidak bingung nanti nya.


setelah berkeliling dan istirahat, mereka


pun pamit pulang mengingat hari sudah hampir sore.


Di dalam perjalanan, Nurul dan Vino


kembali diam dan canggung seperti


tadi. hingga sampai El bertanya tentang


percakapan mereka saat tidur tadi.


"ayah sama bunda mau nikah ya...?"


ledek nya dari kursi belakang.


"eh..? nggak El, masih rencana.."


sahut Nurul gugup.


"Pak.. kok mobil nya aneh sih,


ban nya bocor kali ya?"


ujar Nurul.


"benarkah??


saya cek dulu kalau begitu.."


Vino segera menepi dan turun dari mobil


untuk mengecek keadaan ban nya.


dan benar, ban depan sebelah kanan


nya sudah kandas tak berangin.


"bocor Ran.."


ujar Vino.


Nurul pun bingung, ini kedua kali nya


ban mobil mereka bocor.


jalan berbatu dekat pegunungan membuat


mereka sulit menyesuaikan angin di mobil.


bertambah resah lagi mereka saat melihat sekeliling hanya pedesaan dan matahari


pun sudah hampir terbenam.


"gimana ini pak? ban serep kita udah


nggak ada.."


"entah lah, jaringan pun tidak ada di sini."


Vino berusaha naik ke dataran yang agak tinggi untuk mencari sinyal.


"bunda.. El takut..


nanti ada zombi.."


El merangkak ke kursi Nurul.


"Zombi??"


tentu Nurul heran, kok bisa bisa nya


El berpikiran ada zombie.


Ternyata El berpikiran begitu karena sering


melihat film zombi bersama ayah nya.


ya, di film horor kan memang biasa nya


hantu atau zombie datang di saat saat


genting seperti itu. apalagi langit sudah


mulai redup di sana, membuat El semakin


berimajenasi bahwa mereka akan tersesat.


"Mobil nya kenapa pak?"


tanya seorang bapak tua yang baru


saja pulang kerja dengan motor dan


keranjang ekspedisi di belakang nya.


ya, bapak itu tak lain adalah Rudi/ ayah


kandung Nurul.


"bocor Pak, di sekitar sini ada bengkel


tidak ya pak?" tanya Vino.


"wah.. kalau jam segini udah tutup


pak, karena yang buka bengkel orang


dari desa lain juga."


"ahh.. begitu ya pak.."


Vino tampak semakin bingung, mau


nelpon orang di rumah juga tidak bisa.


ya kali nginap di mobil malam ini?


"kalau bapak mau, nginap aja


di rumah saya, nggak jauh kok dari


sini. besok baru bawa mobil nya ke


bengkel.." senyum ramah Rudi membuat


Nurul yang sedang memperhatikan


dari dalam mobil teringat sesuatu.


"boleh kah? apa tidak merepotkan


bapak?"


"nggak pak.. nggak apa apa, mari ikuti saya.."


Vino pun mengambil semua keperluan


nya dan El, ia juga menggendong El


mengikuti Rudi. sedangkan Nurul ia


berjalan di belakang Vino sambil menenteng


tas jinjing nya.


"firasat mu untuk membawa pakaian


ganti benar benar bagus Ran.."


bisik nya sambil tersenyum kecil


pada Nurul.


...-...


...-...


Setelah beberapa menit berjalan, mereka


pun sampai di rumah pak Rudi.


rumah sederhana dengan dinding berbata


merah dan lantai tanah yang dari dulu


belum ada perubahan.


"tapi rumah saya begini pak..


jauh lah dari kata nyaman.."


ucap Rudi segan.


"bapak sudah menolong kami


saja, saya sangat bersyukur pak..",


ucap Vino, jujur saja ia agak tak nyaman


menginjakkan kaki nya di rumah itu.


maklum, dari kecil hingga setua ini hidup


nya selalu berkecukupan.


berbeda dengan Nurul yang merasa


nyaman nyaman saja karena ia besar


di rumah yang bahkan jauh lebih usang


dari pada rumah pak Rudi.


kita ada tamu buk.."


panggil Rudi kepada istri nya yang


sedang memasak nasi di atas kompor.


Evi/istri pak Rudi pun menyambut ramah


mereka, ia menyuguhkan minum bahkan


memberikan camilan sederhana khas desa


sana.


"anak nya umur berapa nak??"


tanya Evi.


"empat tahun buk.."


sahut Nurul tersenyum ramah.


"hebat kamu, anak nya sudah besar tapi


masih cantik.." puji Evi.


"eh.. hehehe, iya makasih buk..


ibuk sama bapak ini cuma


tinggal berdua?"


"anak kami ada tiga nak,


yang sulung dan kedua ngekos di


kota, mereka kuliah semua.


dan yang bungsu tadi main sama


temen nya, biasalah anak anak.


kalau belum di susul belum pulang


main dia.. hahahah.."


Evi terlihat sangat santai mengobrol


dengan Nurul, sedangkan Nurul


dari tadi ia berpikir di mana pernah


melihat ibu dan bapak ini?


"Ran.. baju El di mana ya??"


tanya Vino yang baru selesai


memandikan El.


"sebentar ya buk.."


Nurul menyusul masuk ke kamar


yang di siapkan Evi.


"loh? kok El nya nangis pak?"


"saya marahin, abis dia tidak mau mandi."


Dengan wajah lembut nya, Nurul


mendekati El dan bertanya.


"El kenapa nggak mau mandi tadi?"


El mendekat dan berbisik ke Nurul.


"kamar mandi nya jorok bunda.."


"hhhhff..."


Nurul pun bingung harus berkata apa.


ia hanya tersenyum sambil mengusap usap


kepala El. El tidak memberitahu ayah nya


apa alasan nya sampai tidak mau mandi.


ia takut nanti ayah nya marah karena mencela orang lain.


"bapak? ngapain masih di sini?


kok nggak mandi? keburu malam loh.."


Vino celingukan lalu berbisik juga


pada Nurul.


"kamar mandi nya jorok Ran.."


"ya ampun..


kalian berdua ini benar benar sama aja."


...-...


...-...


Di ruang depan, Evi dan Rudi sedang membicarakan Vino dan Nurul.


"suami nya ulet banget ya pak..


mau mandikan anak, dan memperlakukan


istri nya seperti ratu.."


"hmm.. mulai..


memang nya bapak nggak begitu sama


ibuk?"


"heheh.. kita udah tua pak.


nggak pantes juga kalau mau seperti


mereka hahah..."


"tapi ibuk iri deh sama mereka pak..


masih muda, kehidupannya udah mapan.


nggak kaya kita pak, udah tua masih


harus kelimpungan cari uang untuk


sekolah anak.."


"haduh. buk..buk..


bapak masih sehat, bisa cari uang aja


udah syukur banget..


lagian Cindy mendingan suruh balik


ke sini aja buk, dari pada di sana.


ngapain cuma ngabis ngabiskan uang."


"iya pak, kalau semester ini nilai nya anjlok


lagi, ibuk suruh pulang aja."


"nih.. uang untuk semester nya besok.


bilangin juga sama Mei, suruh dia ajarin


adik nya yang bener. percuma punya


kakak pinter tapi nilai nya anjlok terus."


Rudi menyerahkan uang gaji nya lalu beranjak keluar mencari udara segar.


beberapa tahun belakangan ini, ia sering


melamun dan merasa usaha kerasnya


selama ini sia sia. bagaimana tidak?


banting tulang dari pagi ketemu pagi


tapi yang di sekolahkan, yang ia nafkahi


malah anak orang. sementara anak


kandungnya sendiri ntah bagaimana nasib nya. rasa penyesalan itu menghantui nya


belakangan ini.


"apa kalian baik baik saja??


apa kalian semua sehat??"


batinnya lirih.


...~~~~...


Jam 22:30 malam, Vino dam Rudi masih


mengobrol di luar, sedangkan Nurul dan


El sudah berbaring di kasur lantai yang


di sediakan.


"bunda.. tolong ini gimana??"


El yang sedang asik menonton animasi


terganggu karena ponsel Vino ngelag.


"memori penuh, hapus beberapa folder


untuk menstabilkan kinerja ponsel anda"


begitu tulisan yang terdapat di layar


ponsel Vino.


"bentar ya bunda bersihkan dulu.."


El menurut dan menunggu dengan sabar


padahal mata nya sudah sayu.


Nurul menekan tombol pembersih,


namun ponsel menyarankan agar dia


membersihkan folder video. ia pun pergi


ke folder Video. bingung lah Nurul sebab


di sama banyak Video animasi nya El.


kalau salah hapus nanti sedih si El.


kemudian, Nurul menemukan folder terkunci.


di buka lah folder itu dengan memasukkan


sandi andalan Vino yakni 0999.


siapa tau isi nya file rusak yang tak


terpakai kan? lumayan untuk meringankan


memori.


Dan betapa terkejut nya Nurul saat melihat


isi folder itu ribuan film anu dari berbagai


ras, jepang, cina, barat, hingga indonesia


semua nya lengkap dengan durasi yang


panjang pula.


"astaga...??!"


Nurul langsung menoleh ke samping


karena takut El melihat itu, tapi beruntung


El sudah tidur.


"El sudah tidur Ran..?"


Sontak Nurul panik dan menyembunyikan


ponsel itu di bawah selimut.


padahal kan itu aib nya Vino, entah


kenapa dia malah ketakutan dan malu.


...********...