
Vino tertegun mendengar pernyataan
Nurul itu, jika di pikir pikir kan memang
menikah tujuan nya untuk menyatukan
dua insan dalam bahtera rumah tangga
dan menghasilkan keturunan dengan
cara nganu.
"ya.. memang nya tujuan menikah
untuk apa Ran?"
sahut nya terbata.
"untuk mewujudkan cinta dan membangun
keluarga.." jawab Nurul sambil menaikkan
bola mata nya.
"mewujudkan cinta dengan cara apa?"
tanya Vino lagi seperti mengintimidasi.
"nikah.."
Vino menggaruk kepala nya kesal.
"iya.. saya ajak kamu nikah Kirana..
jawab iya... atau iya?"
"iya.. t,tapi dua tahun lagi."
mau sih banget.. tapi Nurul belum
siap dan ingin lulus kuliah lebih dulu.
"kelamaan Ran.. lama...!!!"
ucap Vino sambil menekan gigi
geraham nya.
"eh.. maaf Pak, kak, Ayu kelamaan ya..
maaf. mules banget soal nya."
ucap Ayu tergesa.
"bukan kamu.."
sahut Vino dan Nurul berbarengan.
hingga ekpresi bingung dan segan bercampur menjadi satu di wajah Ayu.
...~~~~...
Setelah menempuh hampir 4 jam perjalanan. Vino dan Nurul akhirnya sampai
di lokasi tur nya Ayu.
mereka mampir sebentar di sana
sambil melihat lihat tempat yang akan
di jadikan penginapan oleh semua siswa.
Ayu akan menginap tiga hari di sana,
jadi Nurul menyiapkan semua keperluan
nya Ayu mulai dari sabun hingga snack
agar Ayu tidak bingung nanti nya.
setelah berkeliling dan istirahat, mereka
pun pamit pulang mengingat hari sudah hampir sore.
Di dalam perjalanan, Nurul dan Vino
kembali diam dan canggung seperti
tadi. hingga sampai El bertanya tentang
percakapan mereka saat tidur tadi.
"ayah sama bunda mau nikah ya...?"
ledek nya dari kursi belakang.
"eh..? nggak El, masih rencana.."
sahut Nurul gugup.
"Pak.. kok mobil nya aneh sih,
ban nya bocor kali ya?"
ujar Nurul.
"benarkah??
saya cek dulu kalau begitu.."
Vino segera menepi dan turun dari mobil
untuk mengecek keadaan ban nya.
dan benar, ban depan sebelah kanan
nya sudah kandas tak berangin.
"bocor Ran.."
ujar Vino.
Nurul pun bingung, ini kedua kali nya
ban mobil mereka bocor.
jalan berbatu dekat pegunungan membuat
mereka sulit menyesuaikan angin di mobil.
bertambah resah lagi mereka saat melihat sekeliling hanya pedesaan dan matahari
pun sudah hampir terbenam.
"gimana ini pak? ban serep kita udah
nggak ada.."
"entah lah, jaringan pun tidak ada di sini."
Vino berusaha naik ke dataran yang agak tinggi untuk mencari sinyal.
"bunda.. El takut..
nanti ada zombi.."
El merangkak ke kursi Nurul.
"Zombi??"
tentu Nurul heran, kok bisa bisa nya
El berpikiran ada zombie.
Ternyata El berpikiran begitu karena sering
melihat film zombi bersama ayah nya.
ya, di film horor kan memang biasa nya
hantu atau zombie datang di saat saat
genting seperti itu. apalagi langit sudah
mulai redup di sana, membuat El semakin
berimajenasi bahwa mereka akan tersesat.
"Mobil nya kenapa pak?"
tanya seorang bapak tua yang baru
saja pulang kerja dengan motor dan
keranjang ekspedisi di belakang nya.
ya, bapak itu tak lain adalah Rudi/ ayah
kandung Nurul.
"bocor Pak, di sekitar sini ada bengkel
tidak ya pak?" tanya Vino.
"wah.. kalau jam segini udah tutup
pak, karena yang buka bengkel orang
dari desa lain juga."
"ahh.. begitu ya pak.."
Vino tampak semakin bingung, mau
nelpon orang di rumah juga tidak bisa.
ya kali nginap di mobil malam ini?
"kalau bapak mau, nginap aja
di rumah saya, nggak jauh kok dari
sini. besok baru bawa mobil nya ke
bengkel.." senyum ramah Rudi membuat
Nurul yang sedang memperhatikan
dari dalam mobil teringat sesuatu.
"boleh kah? apa tidak merepotkan
bapak?"
"nggak pak.. nggak apa apa, mari ikuti saya.."
Vino pun mengambil semua keperluan
nya dan El, ia juga menggendong El
mengikuti Rudi. sedangkan Nurul ia
berjalan di belakang Vino sambil menenteng
tas jinjing nya.
"firasat mu untuk membawa pakaian
ganti benar benar bagus Ran.."
bisik nya sambil tersenyum kecil
pada Nurul.
...-...
...-...
Setelah beberapa menit berjalan, mereka
pun sampai di rumah pak Rudi.
rumah sederhana dengan dinding berbata
merah dan lantai tanah yang dari dulu
belum ada perubahan.
"tapi rumah saya begini pak..
jauh lah dari kata nyaman.."
ucap Rudi segan.
"bapak sudah menolong kami
saja, saya sangat bersyukur pak..",
ucap Vino, jujur saja ia agak tak nyaman
menginjakkan kaki nya di rumah itu.
maklum, dari kecil hingga setua ini hidup
nya selalu berkecukupan.
berbeda dengan Nurul yang merasa
nyaman nyaman saja karena ia besar
di rumah yang bahkan jauh lebih usang
dari pada rumah pak Rudi.
kita ada tamu buk.."
panggil Rudi kepada istri nya yang
sedang memasak nasi di atas kompor.
Evi/istri pak Rudi pun menyambut ramah
mereka, ia menyuguhkan minum bahkan
memberikan camilan sederhana khas desa
sana.
"anak nya umur berapa nak??"
tanya Evi.
"empat tahun buk.."
sahut Nurul tersenyum ramah.
"hebat kamu, anak nya sudah besar tapi
masih cantik.." puji Evi.
"eh.. hehehe, iya makasih buk..
ibuk sama bapak ini cuma
tinggal berdua?"
"anak kami ada tiga nak,
yang sulung dan kedua ngekos di
kota, mereka kuliah semua.
dan yang bungsu tadi main sama
temen nya, biasalah anak anak.
kalau belum di susul belum pulang
main dia.. hahahah.."
Evi terlihat sangat santai mengobrol
dengan Nurul, sedangkan Nurul
dari tadi ia berpikir di mana pernah
melihat ibu dan bapak ini?
"Ran.. baju El di mana ya??"
tanya Vino yang baru selesai
memandikan El.
"sebentar ya buk.."
Nurul menyusul masuk ke kamar
yang di siapkan Evi.
"loh? kok El nya nangis pak?"
"saya marahin, abis dia tidak mau mandi."
Dengan wajah lembut nya, Nurul
mendekati El dan bertanya.
"El kenapa nggak mau mandi tadi?"
El mendekat dan berbisik ke Nurul.
"kamar mandi nya jorok bunda.."
"hhhhff..."
Nurul pun bingung harus berkata apa.
ia hanya tersenyum sambil mengusap usap
kepala El. El tidak memberitahu ayah nya
apa alasan nya sampai tidak mau mandi.
ia takut nanti ayah nya marah karena mencela orang lain.
"bapak? ngapain masih di sini?
kok nggak mandi? keburu malam loh.."
Vino celingukan lalu berbisik juga
pada Nurul.
"kamar mandi nya jorok Ran.."
"ya ampun..
kalian berdua ini benar benar sama aja."
...-...
...-...
Di ruang depan, Evi dan Rudi sedang membicarakan Vino dan Nurul.
"suami nya ulet banget ya pak..
mau mandikan anak, dan memperlakukan
istri nya seperti ratu.."
"hmm.. mulai..
memang nya bapak nggak begitu sama
ibuk?"
"heheh.. kita udah tua pak.
nggak pantes juga kalau mau seperti
mereka hahah..."
"tapi ibuk iri deh sama mereka pak..
masih muda, kehidupannya udah mapan.
nggak kaya kita pak, udah tua masih
harus kelimpungan cari uang untuk
sekolah anak.."
"haduh. buk..buk..
bapak masih sehat, bisa cari uang aja
udah syukur banget..
lagian Cindy mendingan suruh balik
ke sini aja buk, dari pada di sana.
ngapain cuma ngabis ngabiskan uang."
"iya pak, kalau semester ini nilai nya anjlok
lagi, ibuk suruh pulang aja."
"nih.. uang untuk semester nya besok.
bilangin juga sama Mei, suruh dia ajarin
adik nya yang bener. percuma punya
kakak pinter tapi nilai nya anjlok terus."
Rudi menyerahkan uang gaji nya lalu beranjak keluar mencari udara segar.
beberapa tahun belakangan ini, ia sering
melamun dan merasa usaha kerasnya
selama ini sia sia. bagaimana tidak?
banting tulang dari pagi ketemu pagi
tapi yang di sekolahkan, yang ia nafkahi
malah anak orang. sementara anak
kandungnya sendiri ntah bagaimana nasib nya. rasa penyesalan itu menghantui nya
belakangan ini.
"apa kalian baik baik saja??
apa kalian semua sehat??"
batinnya lirih.
...~~~~...
Jam 22:30 malam, Vino dam Rudi masih
mengobrol di luar, sedangkan Nurul dan
El sudah berbaring di kasur lantai yang
di sediakan.
"bunda.. tolong ini gimana??"
El yang sedang asik menonton animasi
terganggu karena ponsel Vino ngelag.
"memori penuh, hapus beberapa folder
untuk menstabilkan kinerja ponsel anda"
begitu tulisan yang terdapat di layar
ponsel Vino.
"bentar ya bunda bersihkan dulu.."
El menurut dan menunggu dengan sabar
padahal mata nya sudah sayu.
Nurul menekan tombol pembersih,
namun ponsel menyarankan agar dia
membersihkan folder video. ia pun pergi
ke folder Video. bingung lah Nurul sebab
di sama banyak Video animasi nya El.
kalau salah hapus nanti sedih si El.
kemudian, Nurul menemukan folder terkunci.
di buka lah folder itu dengan memasukkan
sandi andalan Vino yakni 0999.
siapa tau isi nya file rusak yang tak
terpakai kan? lumayan untuk meringankan
memori.
Dan betapa terkejut nya Nurul saat melihat
isi folder itu ribuan film anu dari berbagai
ras, jepang, cina, barat, hingga indonesia
semua nya lengkap dengan durasi yang
panjang pula.
"astaga...??!"
Nurul langsung menoleh ke samping
karena takut El melihat itu, tapi beruntung
El sudah tidur.
"El sudah tidur Ran..?"
Sontak Nurul panik dan menyembunyikan
ponsel itu di bawah selimut.
padahal kan itu aib nya Vino, entah
kenapa dia malah ketakutan dan malu.
...********...