Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 Episode 35: Pertunangan..


Cincin putih berhias permata sudah


siap menunggu di pakai kan ke pemilik nya.


alunan musik menyambut perlahan


para keluarga besar dan kerabat mereka


sembari menunggu Nurul dan Vino


keluar dari kamar rias nya.


Gaun berwarna pink muda dengan perpaduan gold itu tampak membalut


sempurna tubuh Nurul yang molek.


tatanan rambut yang di tata ala


princess kejaraan inggris membuat


aura manis nya semakin keluar.


"maaf...."


lirih nya sedih saat meletakkan


cincin pemberian Bian.


Di sisi lain, Vino dengan tuxedo


abu abu nya tampak gagah menawan.


di belakang nya, Duma dan Steve mengiri


sambil membawakan kotak cincin bersampul


beludru hitam nan mewah.


...-...


...-...


"Dengan sepenuh hati...


saya meminta mu untuk menjadi


calon pendamping Vino anak saya.


saya berharap, kamu akan menjadi


pelengkap kekurangan anak saya.


akan menjadi sumber kebahagiaan


anak saya..."


ucap Duma sambil menahan isak


tangis nya karena terharu akan momen


bahagia itu, momen yang sudah lama


ia nanti nantikan yakni melihat putra


semata wayang nya meminang wanita.


Setelah itu, Duma menyerahkan mic ya


kepada Vino.


"Alisha Kirana...


hh... saya tidak akan bertanya


mau kah kau bla..bla..bla..


saya akan langsung mengatakan nya.


mulai hari ini, kamu akan menjadi


calon istri saya..


calon ibu dari anak anak saya..


maka terimalah lamaran saya


dengan lapang dada..."


basa basi? seperti nya memang tidak


ada di rumus Vino.


Para keluarga dan kerabat yang


menyaksikan itu pun menahan tawa


mereka melihat tingkah Vino.


begitu juga dengan Nurul yang tertawa


padahal tadi air mata nya hampir menetes.


"hmm..


Nur terima lamaran bapak dengan


lapang dada.." sahut nya mengangguk


sambil menahan tawa haru yang bercampur


aduk.


"kalau begitu kemari tangan mu.."


pinta Vino malu malu dan gugup


karena banyak yang melihat mereka.


"harus di pakaikan?


Nur pakai sendiri aja deh pak.."


bisik nya. ia pun sama, merasa malu


karena banyak keluarga yang menyaksikan.


"dimana mana tunangan itu


saling bertukar cincin..


kalau pakai sendiri sendiri ya aneh Ran.."


"Nur malu pak..."


"kamu pikir saya tidak?!"


Melihat mereka berdebat, El pun


turun tangan. ia merebut kotak cincin


yang di pegang Vino.


"ck..ck..ck...


sini El saja yang pakai kan..


keburu lapar tamu nya.."


tukas nya tersenyum kecil.


"hahahahha...."


semua orang di sana tertawa gemas


melihat kepintaran El.


"ini untuk bunda....."


ucap nya sambil memakaikan


cincin ke jari manis Nurul.


"ini untuk ayah.."


ia juga memakaikan nya ke Vino.


"ma... El sudah kabulkan permintaan


mama.. mama bahagia kan?"


ucap nya dalam hati.


Semua orang terharu akan kebersamaan


mereka yang telah melengkapi kesunyian


El, di lihat dari senyuman El yang merekah.


"semoga.. ayah dan bunda bisa


bersama selama nya..."


pinta El.


"amin....."


sahut seluruh keluarga nya di iringi


tepuk tangan meriah.


Senyum bahagia pun saling di lontarkan


Vino dan Nurul bergantian.


akhir nya, setelah sekian tahun mereka


bisa mewujudkan cinta mereka.


cinta yang benar benar tulus karena


tetap utuh setelah melewati beberapa


fase kehancuran.


"terimakasih, bunda..."


bisik Vino lembut.


"sama sama, ayah nya El.."


sahut Nurul tersipu malu.


Setelah acara tukar cincin selesai, para tamu


pun mulai menikmati jamuan yang di berikan.


di antara banyak nya teman Nurul di kampus


hanya Gaby yang ia undang,karena memang


hanya itu teman dekat nya.


"uuuhhh baby....


selamat yaa...."


bisik Gaby terharu sambil memeluk


sahabat nya itu.


"terimakasih Gaby ku...."


balas Nurul juga terharu.


"ayo...Gaby ikutan foto yuk.."


ajak Rianti tersenyum ramah.


"eh, tapi kan saya..."


bukan keluarga. ia hendak mengatakan itu,


karena di sana seluruh keluarga


Nurul yang berjajar hendak berfoto.


"ayo dong by... kenang kenangan nih.."


pinta Nurul, akhirnya Gaby pun menurut saja.


Gaby berdiri tepat di sebelah babang dokter


idola siapa lagi kalau bukan Dika.


namun Dika hanya memandang dingin


ke arah nya.


"payung nya?"


tanya Dika.


"hah..?"


"kata nya mau di kembalikan."


"iya kak.. nant.., eh besok ya.."


...---...


"huuufff.. akhir nya bisa nyicipin


kue ini.." ucap Nurul sambil mengunyah


potongan pudding manis berwarna pink itu.


ia langsung lari ke meja makanan saat


acara sudah selesai.


Vino yang melihat itu tentu saja geleng


kepala.


"Ran..? wahh...


saya kira kamu akan mengatakan


kata kata, atau membahas rencana


selanjut nya."


"membahas apa?"


tanya Nurul tampak cuek.


"entah lah.. setidak nya beri saya


kata kata selamat karena berhasil


memenangkan hati mu."


Nurul tersenyum kecil, ia tau bahwasanya


Vino tak mau jauh dari nya.


maka nya ia mencari cari alasan untuk


di jadikan bahan.


"hh.. mau ini? enak loh.."


ia menyodorkan pudding itu.


Dengan tatapan nakal nya, Vino mendekat


dan menempelkan ibu jari nya ke bibir


Nurul kemudian mencicipi itu.


"tidak.. ini terlalu manis.."


bisik nya.


"cieee.....


cieee....."


ledek El,Ica dan Keenan bersamaan.


Terkejut, Nurul yang hampir jantungan


oleh tingkah Vino tadi pun reflek menimpuk


wajah Vino dengan sisa pudding di tangan nga.


"Ran?!!"


Vino terkejut.


"iya..? iya Pakk.."


sahut Nurul gugup sambil berusaha


membersihkan wajah Vino.


"maaf pak... kaget Nur.


lagian bapak ngapain sih tadi pake


acara gitu.."


"gitu gimana??"


tanya Vino, momen saat Nurul salah


tingkah adalah momen yang paling


epik bagi Vino.


"ya.. gitu.. tadi.."


walau tangan nya bergetar, ia berusaha


membersihlan wajah lengket Vino dengan


tissu.


"nunduk sedikit ngapa Pak..!"


tukas nya mengalihkan topik.


"kamu pendek banget sih.."


"bapak yang ketinggian.."


Vino menundukkan badan nya,


tatapan menusuk nya pun membidik


tepat mata Nurul yang terlihat masih


gugup.


"hahaha.. tapi enak sih..


mungil, ringan. jadi mudah nanti


gerak nya kalau di atas."


"hah??"


entah kemana maksut perkataan Vino,


yang pasti Nurul langsung tau kalau itu


pasti hal yang aneh aneh.


...~~~~...


Hari yang panjang nan indah telah mereka


lewati, kini sudah waktu nya untuk mengistirahatkan tubuh di atas kasur yang


empuk dan nyaman.


"kak..."


panggil Ayu sambil mengetuk pintu


kamar Nurul.


Tak lama Nurul membuka pintu kamar nya.


tampak ia baru selesai membersihkan


wajahnya.


"nih.. tadi Ayu dapet titipan.."


ia menyerahkan kotal berukuran 20


cm berwarna biru muda.


"apa ini dek..?"


"kado.. nih ya..


selamat tidur.."


setelah menyerahkan kado itu Ayu


langsung berlari ke kamar nya.


Beberapa detik, Nurul membolak balik


kotak itu mencari nama pemberi nya


namun tidak ada. ia pun masuk ke kamar nya.


"apa ya isi nya.."


gumam Nurul, ia membuka kado


itu perlahan.


"bang Bian..."


seketika ia langsung tau dari siapa kado


tersebut. isi nya sebuah sepatu bayi berwarna


coklat muda.


Sepatu itu...


saat mereka jalan jalan di sebuah mall,


mereka pernah sepakat untuk membeli


sepatu dan barang barang lainnya yang


berwarna coklat terang. karena warna itu


netral untuk bayi laki laki maupun perempuan.


"ishh.. kenapa dia memberiku sepatu bayi?


aku kan bertunangan bukan menikah.."


lirih Nurul sedikit terharu.


...-...


...-...


Sementara itu di kamar nya,


Bian mengumpulkan semua barang barang


kenangan mereka lalu memasukkan nya


ke sebuah kotak.


"berbahagia lah..


jika tidak aku akan menculikmu


dari tangannya."


senyum pahit ia kembangkan


sambil menatap kosong ke arah


kotak tersebut.


...~~~~...


Pagi hari nya...


"bunda mau sekolah..?"


tanya El masih dengan baju tidur nya.


Nurul yang sedang membuat nasi goreng


untuk bekal hanya mengangguk sambil


tersenyum.


"kalau nanti bunda sudah menikah


dengan ayah, apa bunda masih sekolah


juga?"


"kenapa.. El keberatan kalau bunda nya


sekolah?" sahut Rianti yang baru saja turun.


"iya.. kalau bunda jarang di rumah


nanti El jadi lama punya adik nya.."


klontangg!!!!!


spatula di tangan Nurul langsung


terjun bebas saat El mengatakan itu.


...*********...