
Cincin putih berhias permata sudah
siap menunggu di pakai kan ke pemilik nya.
alunan musik menyambut perlahan
para keluarga besar dan kerabat mereka
sembari menunggu Nurul dan Vino
keluar dari kamar rias nya.
Gaun berwarna pink muda dengan perpaduan gold itu tampak membalut
sempurna tubuh Nurul yang molek.
tatanan rambut yang di tata ala
princess kejaraan inggris membuat
aura manis nya semakin keluar.
"maaf...."
lirih nya sedih saat meletakkan
cincin pemberian Bian.
Di sisi lain, Vino dengan tuxedo
abu abu nya tampak gagah menawan.
di belakang nya, Duma dan Steve mengiri
sambil membawakan kotak cincin bersampul
beludru hitam nan mewah.
...-...
...-...
"Dengan sepenuh hati...
saya meminta mu untuk menjadi
calon pendamping Vino anak saya.
saya berharap, kamu akan menjadi
pelengkap kekurangan anak saya.
akan menjadi sumber kebahagiaan
anak saya..."
ucap Duma sambil menahan isak
tangis nya karena terharu akan momen
bahagia itu, momen yang sudah lama
ia nanti nantikan yakni melihat putra
semata wayang nya meminang wanita.
Setelah itu, Duma menyerahkan mic ya
kepada Vino.
"Alisha Kirana...
hh... saya tidak akan bertanya
mau kah kau bla..bla..bla..
saya akan langsung mengatakan nya.
mulai hari ini, kamu akan menjadi
calon istri saya..
calon ibu dari anak anak saya..
maka terimalah lamaran saya
dengan lapang dada..."
basa basi? seperti nya memang tidak
ada di rumus Vino.
Para keluarga dan kerabat yang
menyaksikan itu pun menahan tawa
mereka melihat tingkah Vino.
begitu juga dengan Nurul yang tertawa
padahal tadi air mata nya hampir menetes.
"hmm..
Nur terima lamaran bapak dengan
lapang dada.." sahut nya mengangguk
sambil menahan tawa haru yang bercampur
aduk.
"kalau begitu kemari tangan mu.."
pinta Vino malu malu dan gugup
karena banyak yang melihat mereka.
"harus di pakaikan?
Nur pakai sendiri aja deh pak.."
bisik nya. ia pun sama, merasa malu
karena banyak keluarga yang menyaksikan.
"dimana mana tunangan itu
saling bertukar cincin..
kalau pakai sendiri sendiri ya aneh Ran.."
"Nur malu pak..."
"kamu pikir saya tidak?!"
Melihat mereka berdebat, El pun
turun tangan. ia merebut kotak cincin
yang di pegang Vino.
"ck..ck..ck...
sini El saja yang pakai kan..
keburu lapar tamu nya.."
tukas nya tersenyum kecil.
"hahahahha...."
semua orang di sana tertawa gemas
melihat kepintaran El.
"ini untuk bunda....."
ucap nya sambil memakaikan
cincin ke jari manis Nurul.
"ini untuk ayah.."
ia juga memakaikan nya ke Vino.
"ma... El sudah kabulkan permintaan
mama.. mama bahagia kan?"
ucap nya dalam hati.
Semua orang terharu akan kebersamaan
mereka yang telah melengkapi kesunyian
El, di lihat dari senyuman El yang merekah.
"semoga.. ayah dan bunda bisa
bersama selama nya..."
pinta El.
"amin....."
sahut seluruh keluarga nya di iringi
tepuk tangan meriah.
Senyum bahagia pun saling di lontarkan
Vino dan Nurul bergantian.
akhir nya, setelah sekian tahun mereka
bisa mewujudkan cinta mereka.
cinta yang benar benar tulus karena
tetap utuh setelah melewati beberapa
fase kehancuran.
"terimakasih, bunda..."
bisik Vino lembut.
"sama sama, ayah nya El.."
sahut Nurul tersipu malu.
Setelah acara tukar cincin selesai, para tamu
pun mulai menikmati jamuan yang di berikan.
di antara banyak nya teman Nurul di kampus
hanya Gaby yang ia undang,karena memang
hanya itu teman dekat nya.
"uuuhhh baby....
selamat yaa...."
bisik Gaby terharu sambil memeluk
sahabat nya itu.
"terimakasih Gaby ku...."
balas Nurul juga terharu.
"ayo...Gaby ikutan foto yuk.."
ajak Rianti tersenyum ramah.
"eh, tapi kan saya..."
bukan keluarga. ia hendak mengatakan itu,
karena di sana seluruh keluarga
Nurul yang berjajar hendak berfoto.
"ayo dong by... kenang kenangan nih.."
pinta Nurul, akhirnya Gaby pun menurut saja.
Gaby berdiri tepat di sebelah babang dokter
idola siapa lagi kalau bukan Dika.
namun Dika hanya memandang dingin
ke arah nya.
"payung nya?"
tanya Dika.
"hah..?"
"kata nya mau di kembalikan."
"iya kak.. nant.., eh besok ya.."
...---...
"huuufff.. akhir nya bisa nyicipin
kue ini.." ucap Nurul sambil mengunyah
potongan pudding manis berwarna pink itu.
ia langsung lari ke meja makanan saat
acara sudah selesai.
Vino yang melihat itu tentu saja geleng
kepala.
"Ran..? wahh...
saya kira kamu akan mengatakan
kata kata, atau membahas rencana
selanjut nya."
"membahas apa?"
tanya Nurul tampak cuek.
"entah lah.. setidak nya beri saya
kata kata selamat karena berhasil
memenangkan hati mu."
Nurul tersenyum kecil, ia tau bahwasanya
Vino tak mau jauh dari nya.
maka nya ia mencari cari alasan untuk
di jadikan bahan.
"hh.. mau ini? enak loh.."
ia menyodorkan pudding itu.
Dengan tatapan nakal nya, Vino mendekat
dan menempelkan ibu jari nya ke bibir
Nurul kemudian mencicipi itu.
"tidak.. ini terlalu manis.."
bisik nya.
"cieee.....
cieee....."
ledek El,Ica dan Keenan bersamaan.
Terkejut, Nurul yang hampir jantungan
oleh tingkah Vino tadi pun reflek menimpuk
wajah Vino dengan sisa pudding di tangan nga.
"Ran?!!"
Vino terkejut.
"iya..? iya Pakk.."
sahut Nurul gugup sambil berusaha
membersihkan wajah Vino.
"maaf pak... kaget Nur.
lagian bapak ngapain sih tadi pake
acara gitu.."
"gitu gimana??"
tanya Vino, momen saat Nurul salah
tingkah adalah momen yang paling
epik bagi Vino.
"ya.. gitu.. tadi.."
walau tangan nya bergetar, ia berusaha
membersihlan wajah lengket Vino dengan
tissu.
"nunduk sedikit ngapa Pak..!"
tukas nya mengalihkan topik.
"kamu pendek banget sih.."
"bapak yang ketinggian.."
Vino menundukkan badan nya,
tatapan menusuk nya pun membidik
tepat mata Nurul yang terlihat masih
gugup.
"hahaha.. tapi enak sih..
mungil, ringan. jadi mudah nanti
gerak nya kalau di atas."
"hah??"
entah kemana maksut perkataan Vino,
yang pasti Nurul langsung tau kalau itu
pasti hal yang aneh aneh.
...~~~~...
Hari yang panjang nan indah telah mereka
lewati, kini sudah waktu nya untuk mengistirahatkan tubuh di atas kasur yang
empuk dan nyaman.
"kak..."
panggil Ayu sambil mengetuk pintu
kamar Nurul.
Tak lama Nurul membuka pintu kamar nya.
tampak ia baru selesai membersihkan
wajahnya.
"nih.. tadi Ayu dapet titipan.."
ia menyerahkan kotal berukuran 20
cm berwarna biru muda.
"apa ini dek..?"
"kado.. nih ya..
selamat tidur.."
setelah menyerahkan kado itu Ayu
langsung berlari ke kamar nya.
Beberapa detik, Nurul membolak balik
kotak itu mencari nama pemberi nya
namun tidak ada. ia pun masuk ke kamar nya.
"apa ya isi nya.."
gumam Nurul, ia membuka kado
itu perlahan.
"bang Bian..."
seketika ia langsung tau dari siapa kado
tersebut. isi nya sebuah sepatu bayi berwarna
coklat muda.
Sepatu itu...
saat mereka jalan jalan di sebuah mall,
mereka pernah sepakat untuk membeli
sepatu dan barang barang lainnya yang
berwarna coklat terang. karena warna itu
netral untuk bayi laki laki maupun perempuan.
"ishh.. kenapa dia memberiku sepatu bayi?
aku kan bertunangan bukan menikah.."
lirih Nurul sedikit terharu.
...-...
...-...
Sementara itu di kamar nya,
Bian mengumpulkan semua barang barang
kenangan mereka lalu memasukkan nya
ke sebuah kotak.
"berbahagia lah..
jika tidak aku akan menculikmu
dari tangannya."
senyum pahit ia kembangkan
sambil menatap kosong ke arah
kotak tersebut.
...~~~~...
Pagi hari nya...
"bunda mau sekolah..?"
tanya El masih dengan baju tidur nya.
Nurul yang sedang membuat nasi goreng
untuk bekal hanya mengangguk sambil
tersenyum.
"kalau nanti bunda sudah menikah
dengan ayah, apa bunda masih sekolah
juga?"
"kenapa.. El keberatan kalau bunda nya
sekolah?" sahut Rianti yang baru saja turun.
"iya.. kalau bunda jarang di rumah
nanti El jadi lama punya adik nya.."
klontangg!!!!!
spatula di tangan Nurul langsung
terjun bebas saat El mengatakan itu.
...*********...