Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
Episode 16: Gara-gara File


"Baiklah kalau begitu kita mulai rapatnya sekarang." Tegas Dimas sambil memegang remote kontrol layar monitor.


Mila pun menjelaskan dulu beberapa materi dan proposal yang ia ingat di luar kepala nya. Setelah menjelaskan semua nya,Fani pun memberikan kartu memorinya kepada Vino untuk di tayangkan di monitor.


"Yang mana nama berkas nya?" Tanya Vino sambil mendekati Fani, jiwa-jiwa buaya memang selalu bergejolak apabila ada mangsa di sekitarnya.


Seketika Dimas merasa suhu tubuhnya naik, melihat Vino yang curi-curi kesempatan dengan Fani.


"Yang ini pak," Fani menunjuk File di layar laptop Vino yang bertuliskan Future1.


"Untuk Desain interiornya Fani yang akan menjelaskan, karena dia juga memiliki peran penting yang sama dengan saya." Mila kembali ke kursi nya, dan mempersilahkan Fani untuk maju.


Fani pun berdiri menuju ke layar monitor, di iringi tepuk tangan para tim-nya. Sungguh ia tak menyangka di perlakukan dengan sama rata, pasalnya ia tak pandai dan tak terlibat dengan desain interior. Ia hanya menyusun tata letak, sesuai selera dan imajenasinya.


Saat hendak menayangkan Desainnya. Vino malah menekan daftar penyimpanan yang tertulis future2. Dimana File tersebut berisi foto 10 tahun silam, yang berisikan foto Dimas saat masih muda,tampak Dimas sedang duduk bersama gadis kecil yang tak lain adalah Fani.


Seketika seisi ruangan menjadi hening, dan ada juga yang mengusap matanya untuk memastikan lelaki di foto tersebut, adalah Dimas.


Fani memandang ke layar monitor dan ia juga sangat terkejut kenapa malah foto Dimas yang keluar.


"Ayo Fani di jelaskan." Ujar Dimas sambil terus mengetik sesuatu di laptop nya.


Menyadari tidak ada jawaban dari Fani dan ruang rapat menjadi hening, Dimas pun megangkat kepalanya. Betapa terkejutnya ia saat melihat foto masalalu terpampang jelas dilayar monitor.


"Apa..,apa itu.!" Dimas menjadi panik, namun tetap berusaha pasang wajah datar.


"Bukankah Bapak yang harus menjelaskan ini." Goda Vino sambil memandangi Dimas. Para karyawan disana pun memandangi Dimas dan Fani secara bergantian.


-


-


Saat keluar dari ruang rapat, para karyawan masih saja bertanya-tanya tentang foto tadi.


"Apa kamu penggemar beratnya Pak Dimas? Sampai-sampai kamu simpan fotonya." Tanya salah satu karyawan.


"Nggak lah, bisa saja foto itu dari laptop nya pak Vino kan?" Fani mencoba meyakinkan teman-teman nya,namun wajahnya tetap saja tidak bisa tenang.


"Iya juga sih.." Sahut yang lainnya sambil manggut-manggut.


Sementara itu di kantor Dimas, Vino terus saja menatap Dimas sambil senyum-senyum. Ia bahkan seperti menelisik, menerka-nerka ekspresi wajah Dimas yang begitu tegang.


"Apaa..!" Dimas melotot ke arah Vino.


"Apa Fani yang ada di foto itu?" Vino mendekat ke arah Dimas.


"hmmm.." Jawab Dimas ragu-ragu.


"Apa hubungan mu dengannya? Seingatku di keluarga kita tidak ada anak perempuan." Bisik Vino sambil menaikkan bola mata, dan mengerutkan dagu nya.


"haishh, berhentilah mencampuri urusanku.!" Dimas melempar Vino dengan tutup bolpoin.


Vino pun hanya cengengesan karena melihat wajah Dimas menjadi merah.


Sementara dalam hatinya Dimas berbunga-bunga, ketika mengingat nama Folder foto yang disimpan Fani bertuliskan future (masa depan ).


"Apa dia akan menjadikanku masa depan nya." Batin Dimas sambil tersipu.


...~...


Jam istirahat...


Fani tidak ikut bergabung makan siang bersama rekannya, ia pergi ke taman kantor yang terletak di lantai paling atas. Di saat sedang merindukan ayahnya, Fani selalu memilih menyendiri agar lebih bisa mengekspresikan rasa rindu dengan menangis.


Hanya ada Fani di taman itu, karena letaknya yang sangat jauh jadi jarang karyawan datang disaat jam istirahat. Mereka berkumpul di taman itu hanya saat ada acara, barbequ-an bersama atau sekedar nongkrong sehabis pulang kerja.


Fani menyandarkan diri di kursi santai dengan posisi setengah duduk. Ia memejamkan matanya, namun buliran bening tak henti-henti nya mengalir.


"Kamu sudah makan?" Tanya Dimas.


Fani terkejut mendengar suara Dimas, ia langsung menghapus air mata nya. "om Dimas?"


Dimas duduk di sebelah Fani, lalu memberinya sapu tangan untuk menyeka air mata. "Kamu rindu ayah ya?" Tanya Dimas lembut.


"Kok om bisa tau?"


"Ya tau lah, saya tau dan masih ingat semua kebiasaan kamu." Jawab Dimas sambil memandangi wajah Fani yang sembab.


"Tapi kamu yang banyak lupa tentang saya." Sambungnya lagi sembari menundukkan pandangan.


"Kan Fani masih kecil dulu om." Elak Fani membela diri, memang tak banyak hal yang ia ingat dari Dimas.


"Tapi saya senang kamu masih simpan foto kita."


"Fani bahkan nggak ingat kalau punya foto itu." Jawabnya enteng.


Dimas menghela nafas berat, "kenapa tidak ada yang kamu ingat tentang saya?" Lirih Dimas, sedikit kesal.


Sementara Fani hanya memandangi Dimas sambil mengedip-ngedipkan kelopak mata nya. Ekpresi itu sangat datar, tidak seperti Dimas yang banyak berharap.


Wwuushhhhh..........


Tiba-tiba angin bertiup kencang, Dedaunan dan kelopak bunga di taman itu beterbangan seriring berhembusnya angin.


"aduh.. aduh..!" Fani mengusap matanya yang sepertinya kelilipan debu.


"Kenapa..?" Tanya Dimas terkejut.


"Kelilipan kaya nya, om." Fani masih terus mengusap matanya.


"Sini saya bantu.." Dimas segera memegang kepala Fani dan membuka kelopak matanya. Kemudian Dimas meniup bola mata indah itu perlahan, dengan penuh penghayatan.


"aduh, yang kuat om.. Biar cepat keluar nya, kalau pelan gitu mana terasa." Protes Fani, mana ada orang mau ngeluarkan kotoran mata dengan slow motion seperti itu.


"Maaf, sini saya ulangi." Ujar Dimas ragu-ragu. Sungguh ia tak kuat dengan situasi ini. Perasaan macam apa ini?


Sementara itu tanpa sepengetahuan mereka, ada dua orang karyawan lelaki yang juga akan ke taman, namun mereka berhenti di balik pintu karena melihat Dimas sedang berduaan dengan perempuan.


Terlebih lagi saat mendengar percakapan terakhir Dimas dan Fani, karyawan itu pun langsung saling memandang sambil menutupi mulut nya. Lalu mereka segera berbalik arah dan tidak ingin menganggu Bos mereka.


"wahh..wah..! Ternyata Pak Dimas bukan H*mo." Karyawan(1) itu terlihat sangat kaget dan bersemangat.


"Iya benar.! Dan apa kau dengar tadi mereka seperti nya sedang hihihihihih..." Jawab yang satunya sambil cekikikan.


"Tapi kenapa Pak Dimas melakukannya di taman? Kan Pak Dimas bisa menyewa hotel agar lebih leluasa." Timpal karyawan(1) sambil menggaruk kepalanya.


"Mungkin Pak Dimas, ingin yang nuansa outdoor hahahahahah..." karyawan(2) bertubuh gemuk itu langsung terkekeh saat membayangkan apa yang terjadi.


Mereka memang melihat Dimas, akan tetapi mereka tidak melihat Fani karena kepala Fani hanya tampak dari belakang.


Kembali ke Dimas dan Fani....


"Bagaimana, sudah mendingan?" Tanya Dimas setelah meniup mata Fani dengan kencang.


"Udah om..hhngikk..! makasih yaa.." Ucapan Fani terpotong oleh cegukan. Wajahnya memerah dan, jantungnya berdegup sangat kencang, karena posisi wajah mereka tadi sangat dekat.


"Sekarang kamu cegukan, apa butuh bantuan saya lagi?" Dimas melirik ke arah Fani dengan tatapan sedikit nakal.


"om..! Jangan liatin Fani kaya gitu ahh.. merinding Fani jadi nya." Tukas Fani dengan masih diiringi cegukannya. ia merasa pandangan Dimas mengandung maksud tertentu.


...************...