
Di kantor polisi....
"Pak,saya tidak terima dengan tuntutan Dimas!! bapak lihat saya juga hampir mati di hajar oleh dia! bukankah itu juga percobaan pembunuhan?!" Sean menunjuk Vino dengan tangan dan wajah penuh balutan perban.
"Aku bisa saja membunuh mu saat itu! tapi aku ingin kau mendapat hukuman yang sesuai atas apa yang kau lakukan pada Dimas dan istri nya!"
Vino kembali tersulut emosi mendengar bualan Sean yang merasa menjadi korban.
hampir saja ia memukul Sean lagi,namun di tahan oleh polisi yang mengintrogasi mereka.
"apa sebenar nya mau mu hah!! kenapa kau selalu berusaha menghancurkan ku?! bahkan kau mencoba membunuh anak ku yang belum lahir. kau benar benar gila!!!"
dari sisi kanan Dimas juga tersulut emosi dan hampir juga menghajar Sean.
"Pak!! jika kau menahan ku dengan kasus berlapis maka tahan dia juga! dia orang yang membantu ku selama ini!! dan dia juga memakai narkoba."
kali ini Sean menunjuk Zey.
Plakkk!!!!!!
Zey memukul kepala Sean dengan sepatu nya.
Zey: "kau yang selalu memaksa ku!!"
Sean: "kenapa kau mau hah?!!"
"karena kau selalu mengancamku baji*ngan!!!"
Zey hendak memukul Sean lagi. tapi lagi lagi di tengahi oleh polisi.
"kenapa kau menikmati nya hah?!! kalau kau tidak suka seharus nya kau rela meninggalkan karir mu dan menolak ku! itu sama saja kau juga melakukan hal yang sama dengan ku!!
kita selalu melakukan nya bersama jadi kita harus menanggung nya bersama!!"
Sean meracau tak karuan.
seperti nya efek narkotika yang di konsumsi dalam waktu lama membuat otak nya seperti kehilangan akal.
"menikmati nya? melakukan bersama? apa sebenar nya pembahasan Mereka?"
batin 2 orang saksi mata dari kantor yang tak tau apa apa antara Zey dan Sean.
sempat sempat nya mereka berpikiran ngeres dan menebak yang di bahas itu 'melakukan' cangkul menyangkul.
"apa yang membuat mu begitu membenci ku hah?!!" Dimas menatap Sean dengan penuh kemarahan.
"karena kau masih hidup sampai sekarang!!"
tukas Sean tajam.
Dimas semakin emosi mendengar jawaban Sean yang tidak bisa di terima akal sehat.
"haishh!! memang nya hidup ku menambah beban mu hah?! ku pijak pulak mulut mu itu nanti!!!"
(loh kok jadi org medan pulak si Dimas🤔)
Jangankan Dimas,Zey saja tak pernah tau apa penyebab nya hingga Sean begitu membenci Dimas.
Karena perdebatan semakin sengit.
polisi pun menyuruh Dimas dan Vino pulang dan mempersiap kan diri untuk persidangan yang akan datang.
Sean pun di masukkan ke dalam sel tahanan.
"kapan persidangan ku di mulai?"
"minggu depan" tegas pak polisi.
"astaga!! tidak bisakah langsung besok? dan kenapa wanita licik itu tidak di tahan juga?"
"dia sudah dalam proses rehab Pak." polisi memampangkan selembar kertas keterangan dari Lapas di mana Zey di rehabilitas.
"kalau gitu kenapa aku di tahan!!!!! aku juga akan menjalani rehab jadi lepaskan aku!!!"
Sean memberontak dengan separuh otak nya yang sudah melayang akibat belum menghisap barang haram nya.
Buuugg!!
Polisi yang sedari tadi menahan diri nya atas kekakuan Sean pun menonjok wajah Sean.
"ini bukan tentang rehabilitasi!! anda sudah melakukan tindakan kriminal dan hampir menghilangkan nyawa orang!!"
tegas pak polisi tersebut sambil mendorong tubuh Sean ke dalam jeruji besi.
"Aaaaggrrr!!!!!! aku akan membunuh mu Dimas!!!"
teriak Sean sambil menonjok dinding penjara seperti orang gila.
...~~~~...
Sampai di rumah pukul 21:00
"pakai lah mobil yang ada untuk kerumah mu. aku malas mengantarkan mu" ujar Dimas saat sampai di depan rumah nya.
"aku juga malas pulang.. izinkan aku tidur di sini ya.." alasan Vino.
padahal ia hanya ingin melihat sang gadis perawan pujaan hati siapa lagi kalau bukan Nurul.
"cchh.. terserah mu!" Dimas langsung masuk kerumah.
Vino: "yesss!!!!"
Di ruang keluarga,semua orang sedang menonton tv sambil memakan popcorn ala ala bioskop.
sementara Adit dan Dika sedang asik bermain catur di meja.
"skak.!" teriak Adit penuh semangat.
"upss. jangan seneng dulu pa.."
Dika menggerakkan kuda nya dan melahap raja catur Adit.
"Sayang..." panggil Dimas dengan suara berat nya.
"Mas??" Fani langsung beranjak dari sofa dan berlari menghampiri Dimas.
"Mas pengen mandi..." bisik Dimas menggelitik telinga Fani.
Fani pun langsung paham dengan kode ayo mandi,itu berarti tentara Dimas sudah berdiri tegap dan ingin segera bertempur.
"Masih sore Mas.. nggak enak juga yang lain belum pada tidur" balas Fani setengah berbisik juga.
"Sayang.. Mas pinginnn banget,, udah sesak nih celana Mas menahan pemberontakan preman di dalam" rengek Dimas masih dengan nada berbisik.
"makan dulu yuk.. Mas belum makan kan?"
"tapi yang laper preman Mas.. bukan perut"
Dimas menekuk bibir nya.
"Dimas... makan dulu nak,.." seru Rianti yang sedang menata makanan di meja.
"Vino ikut makan dong.." celetuk Vino yang baru saja masuk ke dalam rumah.
bicara nya memang pada Rianti,tapi mata nya langsung tertuju kepada Nurul yang sedang membantu menyiapkan peralatan makan.
"ayo Mas makan dulu.." ajak Fani lagi.
dengan terpaksa Dimas pun menurut,walaupun jiwa baku hantam nya sudah meronta ronta.
Mereka semua pun berkumpul di meja makan,begitu juga dengan Dika dan Adit yang terpaksa bangkit dari meja catur nya.
"apaan sih pak Vino ngeliatin terus? apa karena uang sisa gelang nya belum ku kembalikan tempo hari?" Nurul jadi merinding karena Vino menatap nya dengan tatapan misterius.
Adit: "bagaimana Sean?! apa dia mendapat hukuman yang setimpal??"
"Dimas akan memberatkan tuntutan nya pa.
dia benar benar sudah keterlaluan"
Fani: "kenapa dia bisa benci banget sama Mas? apa Mas punya salah sama dia?"
"otak nya yang bermasalah" jawab Dimas kesal.
pembicaraan pun terus berlangsung selama makan malam, mereka juga menebak nebak apa kira nya yang membuat Sean begitu membenci Dimas.
jika karena pekerjaan tidak mungkin,karena mereka di bidang yang berbeda,soal wanita apalagi. selera mereka sangat beda jauh,kalau Dimas doyan yang kinyis kinyis,Sean doyan nya yang hot dan menantang.
1 jam berlalu sesi makan dan tebak tebakan pun selesai,karena sudah malam mereka kembali ke kamar masing masing.
Saat hendak menuju kamar nya,tiba tiba Nurul di tarik oleh Vino dari balkon yang ia lewati.
"ya ampun pak Vino!? kaget tau."
Nurul mengatur kembali hentakan jantung nya yang hampir copot gara gara Vino.
Vino tak menjawab,ia hanya memandangi wajah indah nan mungil gadis itu dengan senyuman aneh nya.
"ada apa pak?" Nurul terheran melihat tingkah aneh Vino.
"kenapa kau selalu membuat jantung ku bergetar hebat? sshhh...aku ingin menciummu..tapi usia mu belum cukup untuk itu.."
batin Vino sambil menelan ludah nya yang mencair kala melihat bibir seksi dan masih ori milik Nurul.
"kalau nggak ada apa apa,boleh kah saya pergi Pak Vino??"
"jangan...tunggu sebentar lagi"
Vino meletakkan kedua tangan nya di atas bahu Nurul.
Nurul hanya diam sambil memandang jengah Vino,ntah apa maksud kelakuan nya itu.
bisa bisa nya dia mendekati Nurul padahal sedang di dalam rumah.
...~~~~...
Dimas dan Fani terbaring sambil berpelukan di bawah selimut tanpa mengenakan pakaian.
yapss,, mereka habis berbaku hantam.
Dimas mengelus perlahan perut sang istri memastikan keadaan sang jabang bayi.
"Dimdim gimana keadaan nya sehat kan??"
"Dimdim??" Fani mengulangi perkataan Dimas terheran.
"anak kita..." sahut Dimas dengan mata penuh luapan cinta.
"hhhahahaha.. sehat papa.."
sahut Fani dengan suara di kecilkan.
"terimakasih ya sayang.."
lagi lagi Dimas merasa sangat berterimaksih karena sudah mengandung buah hati nya.
"kenapa Mas terus bilang terimakasih? ini kan hasil kerja keras Mas juga.."
"ya tetap saja,, kamu yang merasakan berbagai macam ketidaknyamanan selama 9 bulan"
"itu sudah kodrat Fani sebagai perempuan Mas.."
"pokok nya terimakasih sayang... karena sudah memberikan aku keturunan.. mwaachhhh"
ia mengecup kening sang istri.
Fani tersenyum sambil mengelus lembut rambut Dimas yang masih lembat sehabis mandi tadi.
ia sungguh merasa senang karena sudah memerikan hadiah terbaik untuk sang suami.
...*********...