
Masih flashback....
Hari itu cuaca sangat cerah..
Fani membawa Nurul dan Dika bermain
lompat karet di salah satu rumah teman nya
yang tak jauh dari rumah mereka.
"aduh kak.. Dika kebelet eek.."
keluh nya di saat permainan sedang asik.
"Dika balik dulu ya..."
"eh.. numpang si sini aja.."
ujar anak pemilik rumah itu.
"hehe.. nggak ah..
Dika balik dulu ya.. nanti habis eek
kesini lagi.." ia langsung ngibrit menuju
rumah nya.
"ihh.. anak itu banyak gaya memang!
ledek anak perempuan berusia empat tahun dengan pipi gembul dan rambut keriting
yang tak lain adalah anak si pemilik rumah.
"bisa dek turun tangga nya??"
Fani berlari untuk memastikan Dika
karena mereka bermain di lantai dua.
"bisa kak.."
sahut nya dengan pipi merah
karena sudah tak tahan lagi.
ya, diri nya memang paling tidak bisa
jika harus buang air di rumah orang lain.
...-...
...-...
Di waktu yang bersamaan.
"Mas..?! mau kamu itu gimana sih?
apasih salah ku Mas? sampai tega kamu
selingkuhin aku..
aku sedang hamil dan kamu malah selingkuh?
kamu mikir nggak sih Mas?"
air mata Nita sudah menggenang
di netra mata nya, namun ia menahan
rasa perih itu.
"kamu mau tau salah kamu dimana?
kamu itu terlalu manja Nita!!
bisa nya cuma Mas ini.. Mas butuh itu..
Mas.. Mas.. Mas...
aku capek Nita!! setiap hari ngeladenin
keinginan kamu terus!!!"
"Mas...?
keinginan ku??
yang aku minta itu keperluan rumah tangga.
keperluan kamu dan anak anak juga.
dan ini kamu jadikan alasan untuk selingkuh?"
Pikiran Rudi sudah hampir sepenuhnya
di kuasai wanita pelakor itu.
hingga ia membabi buta menyalahkan Nita
tanpa menyadari kesalahan nya.
"banyak!! nggak cuma itu kesalahan kamu!!
Aku capek Nita!! pagi ketemu pagi cari uang
tapi apa yang aku dapat?
kalau kamu nggak bisa membantu aku
secara finansial setidak nya bantu aku
dengan kesadaran diri mu sebagai istri.
aku capek kerja, pulang ingin istirahat.
bukan ingin mendengar keluhan mu
tentang ini dan itu!!"
"karena kamu suami ku Mas..
kalau bukan sama kamu sama siapa aku
cerita?"
"pernah kamu menyambutku sekali saja
dengan pakaian rapi, wangi, bikin
sejuk mata gitu. pernah?!!"
bentak Rudi semakin meninggikan suara nya.
Seluruh tubuh Nita langsung bergetar
saat Rudi mencela penampilan nya.
ia memegangi perut nya yang sudah
membesar sambil menangis terisak.
"Mas.....
bukan aku nggak mau tampil cantik.
aku juga mau tampil fresh, segar..
tapi aku terlalu sibuk dan mendahulukan
anak anak kita sampai aku lupa
ternyata diri ku sendiri nggak terurus.
maaf karena nggak pernah menyambutmu
dengan penampilan rapi, karena jam
pulang Mas itu bertepatan dengan jam
aku berkutat di dapur untuk mengurus
anak-anak dari mulai mandi,hingga
menyiapkan makan malam.
dan itu semua ku lakukan sendiri
dengan perut besar ini...
kamu pikir aku mau repot begini Mas?
enggak.. aku juga pingin duduk santai
nggak pegang dapur, anak anak ada yang
urus, semua tinggal terima bersih.
tapi aku sadar,aku cuma istri pegawai bank
yang bahkan untuk merawat istri nya
aja dia nggak mampu!"
tukas Nita dengan suara gemetar.
"kamu pikir aku nggak tau Mas?
kamu selalu ngasih selingkuhan mu uang
setiap bulan untuk keperluan nya.
seharus nya kamu mikir!
seandai nya kamu perhatikan istri kamu ini,
kamu rawat, kamu bantu.
maka aku pastikan aku bisa lebih
cantik dari pada pelacur peliharaan
kamu itu!!"
Plakkkk!!!
Rudi menampar Nita sangat keras
hingga ia tersungkur di lantai.
"jaga mulut kamu Nita!
dia itu jauh lebih baik dari pada kamu!
dia jauh lebih layak di pertahankan
dari pada kamu!!!"
Rudi segera mengemasi pakaian nya
tanpa menghiraukan Nita yang tengah
kesakitan karena mengalami pendarahan.
pipi nya pun sampai memar karena
tamparan Rudi tadi.
Dan ternyata Dika menyaksikan
kejadian itu dengan mata kepala nya
sendiri. ia sangat ketakutan, ia berlari
kembali untuk memanggil Fani.
Setelah di beritahu, Fani menggendong
Nurul sambil berlari.
mereka bertiga tergopoh-gopoh menuju
kerumah karena khawatir dengan
kondisi ibu nya.
namun di tengah perjalanan menuju
kerumah, mereka berpapasan dengan
Rudi yang hendak pergi dari sana.
"Ayah.. mau kemana?"
tanya Fani sambil menaham air mata nya.
"Ayah mau pergi sebentar nak..
kamu jaga adik adik dulu ya..
Rudi mengecup kening Fani dan Dika
lalu mengusap lembut kepala Nurul
kecil yang berada di gendongan Fani.
"iya Ayah..."
ucap Fani melepaskan kepergian sang Ayah
yang tak di ketahui menjadi kebersamaan
terakhir mereka.
Ingin rasa nya ia berteriak untuk ikut
pergi hari itu, tak siap rasa nya jika harus
berpisah sehari saja dari Ayah sekaligus
teman terbaik nya.
namun keadaan seolah olah merubah
bahu kecil nya untuk menopang
ibu dan adik adik nya.
Hari demi hari, bulan berganti tahun..
tak pernah ia melewatkan seharipun
tanpa berharap sang Ayah kembali.
namun janji yang di ucapkan tenyata
tak kunjung di tepati.
hingga akhir nya mereka semua tumbuh
dan beradaptasi dengan pahitnya
kehidupan.
Flashback selesai....
...ππ...
Menyadari ada seseorang di depannya
Dika langsung membuka mata.
dan benar saja, Gaby berjongkok
di depannya sambil memegang payung
milik Dika.
"kenapa itu..? nangis..?"
tanya Gaby sambil menunjuk ke arah
wajah Dika yang di aliri air mata.
Dika langsung menyeka air mata nya.
"letakkan saja di sana."
"apa nya...?"
"payung nya, kamu mau kembalikan
payung kan?"
"mm.. iya, makasih kak.."
Gaby langsung berjanjak pergi
ke arah Nurul.
"Ran.. kamu bohong banget sih,
aura nya kak Dika nggak ada manis manis nya.
suram banget tau..."
bisik nya bergidik.
"tapi dia resek banget sumpah..
jaim doang itu, biasa nya kelakuan nya
kaya raja jin." rutuk Nurul kesal sambil
melempar tatapan tajam ke arah Dika
yang belum berubah dari posisi meditasi nya.
"oh iya.. btw kamu tau?
bapak nya si Mei meninggal kemarin.
dan ternyata orang tua yang waktu itu
ia bilang pembantu nya benar banar bapaknya."
"hmm.. aku tau..
aku juga datang ke pemakaman nya..
kamu tau kenapa dia meninggal?"
Gaby menggelengkan kepala nya.
"karena aku yang menabrak nya..."
"what?!!!!! serius kamu?!"
"hhhhffffff....
sgsyddbxjhdgdkdldhdbfhfyf
bdhfbdbfjdkslahdjfjdhfn
dbhdgddjhfbfjffkfljgnddkjfhdmskd
πππππππππ³π³ππͺπͺπππππππππ"
Nurul menceritakan panjang lebar
dari A sampai Z kronolagi, bibit bebet bobot
kebenaran bahwa bapak nya Mei
adalah Ayah kandung nya.
Hampir saja Gaby terkena stroke mendadak
mendengar kisah Nurul yang ternyata
banyak lika liku laki laki nggak laku laku nya..
ehhhπ
...-...
...-...
Dari pagi sampai hampir terbenam
matahari, seharian mereka berdua
menceritakan apa saja sebenarnya
yang belum Gaby ketahui.
Dari mulai di taman, hingga pindah
ke kamar mereka masih lanjut
bahkan ini belum ada setengah bab
dari cerira Nurul.
"ohh.. pantes aja waktu pertama masuk
sekolah gaya mu cupu banget..
hahahaha...." ledek Gaby.
"terus terus.. gimana tuh awal nya
bunga bunga cinta si kadal gurun
mulai bertebaran??"
tanya Gaby sangat antusias,
dari yang melow, hingga ngakak semua
di ulik oleh Gaby.
"kalian membicarakan saya?"
tanya Vino tiba tiba membuat mereka
terkejut.
"Gabriella Arandita..."
panggil Vino dengan tatapan
maut nya.
"hadir pak!"
sahut Gaby reflek seperti sedang
di absen.
"mohon maaf. saya tidak perduli
dengan rencana mu untuk tidur bersama
calon permaisuri saya malam ini.
saya cuma mau komplain karena gara gara
kedatangan kamu dia jadi tidak punya
waktu untuk saya hari ini.
jadi izinkan saya membawa nya
sebentar untuk melepaskan rindu..
okey..." tanpa bertanya Vino langsung
menggandeng Nurul keluar dari sana.
"Pak.. apaan sih.."
bantah Nurul tersipu tersanjung
ter..ter..ter.. lah pokok nya karena
di sebut permaisuri oleh pangeran
kadal gurun. π¦
"sstt... nanti saya cium kamu di sini mau?"
"nggak.. jangan.."
"El mencari kamu, dia rindu kata nya.."
"heheh iya lupa sekarang Nur
udah punya anakπ" oceh nya gemas.
padahal itu hanya modus nya Vino semata.
"uuuuwwwwuu...
co cwitt banget sih..."
gumam Gaby ikut berbahagia.
"mandi dulu deh.. nanti lanjut lagi
kalau Ran sudah di kembalikan hahah..."
ia pun membuka tas dan mengambil
baju ganti nya.
...*********...