Terpaut 15 Tahun

Terpaut 15 Tahun
S2 episode 47: Cemburu?


Sambil mengeratkan gigi geraham nya,


Vino menatap sinis ke arah Nurul dan


si pedagang yang terus terusan tertawa.


"aku.. sayang..kamu.."


ucap Nurul lagi sambil terkekeh.


"asu.. kayang.. kamu.."


lidah asing tetaplah asing,


walaupun kalimat nya sangat mudah


tetap saja di pedagang keseleo


mengucapkan nya.


Semakin terbahak bahak lah Nurul


melihat ekpresi si pedagang yang


sangat percaya diri.


"nagapin kamu ketawa ketawa sama dia?"


tegur Vino membuat mereka terkejut


karena intonasi nya sangat galak.


"aku sayang kamu.."


ucap pedagang itu lancar jaya,


Nurul langsung terpukau mendengar nya,


sedangkan Vino semakin terbakar jenggotnya.


"APA??!!


hei.. dia ini calon istri ku, jangan


berani kamu menggoda nya ya."


biji mata Vino hampir keluar saking


kesal nya.


"apa? apa salah kamu?


kami cuma bilajar saja..."


pedagang itu tentu jadi bingung.


Nurul langsung membawa Vino pergi


dari saja sebelum suasana semakin keruh.


"Pak.. jangan salah paham dulu..


Nur cuma ngajarin dia kata kata.."


"mmmwwwmwmwmwm"


Vino menirukan nada bicara Nurul.


"Sayang......"


rayu Nurul.


Rontok rasa nya ketombe Vino saking


merinding nya saat Nurul memanggil


sayang. namun ia tetap stay Cool sok


jual mahal.


"mana mungkin sih Bunda melirik


lelaki lain sedangkan calon suami Bunda


ganteng nya kaya gini..."


ia mencolek dagu Vino sambil tersenyum


manis.


Goyah lah hati Vino mendengar


sebutan itu.


"aaahhhh.. kamu manis banget sih..


uumhhhhh... gemes banget sih.."


ia mengunyel pipi Nurul saking gemas nya.


Nurul sampai terheran, ternyata sosok


predator seperti Vino bisa menggemaskan


juga jika sedang salah tingkah.


Vino memeluk hangat tubuh mungil


Nurul.


"jangan berani berani lirik pria lain ya..


atau saya akan buatkan kamu seribu anak


tanpa henti."


"seribu? memang nya Nur induk kecoa."


sahut nya membalas pelukan Vino.


"nyaman banget sih kamu di peluk.."


bisik Vino.


"itu karena jantung kita bertemu..


jadi semakin kuat sinyal cinta kita🤭"


bibit bibit bucin sudah mulai bersemi


di diri Nurul.


"bertemu? perasaan jantung kamu


ketemu nya sama lambung saya deh."


lagi lagi mulut nyablak Vino mengacaukan


momen uwu tersebut.


💔🗿


Nurul mendongak ke atas menatap mata


Vino sambil manyun.


"maka nya jadi orang jangan tinggi


banget."


ucap nya dengan bibir mengkerut.


"ululululu......


bibir nya mau di gigit hmm??"


"gigit?! bapak ganas banget sih


ntar bibir Bunda sobek dong.."


seperti nya ia mulai terbiasa memantaskan


diri sebagai Bunda nya El walau


keceplosan.


"Ayah gigit nya nggak sakit kok.."


balas Vino tersenyum nakal.


"ehm! ehm..!


calon pengantin baru lengket banget sih.."


ledek Mila yang berjalan sedikit tertatih.


Vino langsung bisa menerawang apa


penyebab nya.


"cie... habis lembur ya.."


ledek Vino balik.


"lembur gigi mu angus!


kesemutan ini,kelamaan duduk tadi."


tukas Mila menaikkan sebelah bibir nya.


Sementara di sebelah Mila, Riko menatap


penuh makna sambil berdoa dalam hati.


"semoga jadi.. semoga jadi..."


"Pa.. kita balik aja yuk..


mama sudah capek banget nih.."


keluh Mila berjongkok.


"balik??"


Riko seperti keberatan karena ia


masih ingin jalan jalan.


"ya udah balik aja...


biar Sam sama saya.."


sahut Fani yakin, karena memang


Sam juga anteng banget kalau sama Fani.


"serius??"


Riko langsung semangat 45.


"serius Fan? kembar gimana?


ntar kamu repot loh?"


tanya Mila khawatir.


"tenang aja Buk.. kan ada Oma


sama Bina nya yang bantu jaga.."


"yupz..betul banget."


sahut Duma dan Rianti.


"iya Buk.. mendingan pulang aja,


ntar pingsan di jalan malahan.."


imbuh Nurul.


"terimakasih dan maaf sudah merepotkan.."


ujar Mila meringis kelelahan.


"titip anak ku ya bro.."


ucap Riko pada Vino.


"oke.. aman tu...


jangan lupa kasih Vitamin istri mu


biar bugar. Hahahahah...."


Berjalan lah para bocil di depan,


perjalanan mereka bak ketua koloni.


"Ca... kamu jalan nya yang lurus dong.."


komplain Keenan.


"Kei jangan berisik deh..


Ica lagi konsentrasi nih nungguin


salju turun."


sahut Ica sebal.


"menurut berita, salju akan turun besok


jam dua siang. jadi percuma Ica tunggu


sekarang."


ujar El, seperti biasa ia menjadi yang


paling pintar di sana.


Sam pun tak mau kalah.


"kata nya kalau minta permohonan


di salju pertama bakalan di kabulin loh.."


Ica: "wah... serius..?"


El : "iya benar.. dulu waktu turun salju


El sering berdoa agar di kasih


mama yang baik, dan ternyata di kabulin."


Nurul dan Vino yang mendengar itu


tersenyum lebar dan bangga.


"besok El mau minta dede bayi deh..


siapa tau di kabulkan.." tambah nya


lagi.


Keenan: "kalau minta dede bayi, minta nya


sama Ayah Vino dong. kan dia yang


bisa kasih dede bayi."


Sam: "bukan.. yang bisa kasih dede bayi


itu wanita, bukan laki laki."


Ica: "untuk dapat dede bayi, wanita dan pria


harus bekerja sama."


"bener tuh kata Ica, harus bekerja sama."


sahut Duma.


"kerja sama nya gimana Oma?"


tanya mereka berempat serentak.


"Hahahhahahaha.......


rasain tuh.. udah tau cucu nya


pada pinter malah di sahutin."


ujar Rianti.


"kalian ini masih kecil, besok kalau


udah sekolah pasti paham.


jadi berhenti ya bahas soal proses dede bayi,


karena kalian belum cukup umur.


paham kan?"


tutur Fani lembut.


"PAHAM....."


sahut mereka sambil tersenyum.


...~~~~...


Di Villa...


Di kamar, Ayu sedang berbaring.


pusing dan mual di perjalanan kemarin


masih terasa hingga membuat nya belum


bisa beraktivitas banyak.


"ahhh... payah..


niat nya mau jalan jalan malah


hampir mati di jalan."


rutuk nya sambil berusaha bangkit


menuju ruangan untuk mengambil


buah buahan.


"loh? kamu di sini? tidak ikut


jalan jalan?"


tanya Rey sambil memeriksa


beberapa berkas.


"nggak.. masih pusing.


Bapak kok sini? bukan nya


ikut Mas Dimas ke...kemana itu?"


"baru pulang.."


sahut nya datar.


"Mas Dimas nya mana?"


tanya Ayu khawatir, sebab mereka


hanya berdua di sana.


"masih di sana.


tenang saja, saya tidak macam macam kok."


tingkat kepekaan Rey memang di atas


rata rata. bukti nya ia bisa merasakan


kekhawatiran di wajah Ayu.


"mau ikut saya??"


tanya Rey.


"kemana..?"


...~~~~...


Sampai lah Ayu dan Rey ke sebuah


toko baju di salah satu kota Paris.


bukan toko sembarangan pasti nya,


karena harga baju di sana rata rata setara


dengan harga motor di Indonesia.


"Bapak nggak bawa baju ganti?"


tanya Nurul heran.


"malas.."


sahut Rey datar.


Beberapa staff toko itu datang


membawakan jenis dan model baju


yang di minta oleh Rey.


Rey pun masuk ke kamar pas untuk


mencoba beberapa.


anggep aje dialog pake bahasa inggres yak😅"


"maaf nona, bisakah carikan ukuran yang


lain?" tanya Rey kepada mbak mbak cantik


yang melayani nya.


"maaf tuan, yang itu tinggal satu.


bagaimana dengan yang ini?


saya akan bantu anda mengenakan nya."


si mbak staff beramput pirang itu pun


membantu Rey memakaikan kemeja


berwarna cream terang bermotif salur.


Melihat adegan itu Ayu pun risih.


bagaimana bisa mereka tidak canggung


padahal baru pertama bertemu.


walaupun hal itu wajar di lakukan


si staff agar barang nya laku terjual,


tapi menurut Ayu itu sedikit berlebihan.


maklumlah, budaya barat.


Ayu hanya menatap risih ke arah mereka.


"cchhh...!"


decak nya sambil nyengir kuda.


Melihat prilaku Ayu, Rey dengan insting


tingkat dewa nya tanpa segan mengatakan.


"kamu cemburu?"


"apa? saya? cemburu? ccchhh.!


ngapain??? kurang kerjaan."


bantah Ayu sambil memutar posisi nya


membelakangi mereka.


Rey hanya tersenyum tipis melihat


ekpresi Ayu.


"biar saya pakai sendiri.."


bisik nya kepada mbak mbak staff.


...*********...