
Sambil mengeratkan gigi geraham nya,
Vino menatap sinis ke arah Nurul dan
si pedagang yang terus terusan tertawa.
"aku.. sayang..kamu.."
ucap Nurul lagi sambil terkekeh.
"asu.. kayang.. kamu.."
lidah asing tetaplah asing,
walaupun kalimat nya sangat mudah
tetap saja di pedagang keseleo
mengucapkan nya.
Semakin terbahak bahak lah Nurul
melihat ekpresi si pedagang yang
sangat percaya diri.
"nagapin kamu ketawa ketawa sama dia?"
tegur Vino membuat mereka terkejut
karena intonasi nya sangat galak.
"aku sayang kamu.."
ucap pedagang itu lancar jaya,
Nurul langsung terpukau mendengar nya,
sedangkan Vino semakin terbakar jenggotnya.
"APA??!!
hei.. dia ini calon istri ku, jangan
berani kamu menggoda nya ya."
biji mata Vino hampir keluar saking
kesal nya.
"apa? apa salah kamu?
kami cuma bilajar saja..."
pedagang itu tentu jadi bingung.
Nurul langsung membawa Vino pergi
dari saja sebelum suasana semakin keruh.
"Pak.. jangan salah paham dulu..
Nur cuma ngajarin dia kata kata.."
"mmmwwwmwmwmwm"
Vino menirukan nada bicara Nurul.
"Sayang......"
rayu Nurul.
Rontok rasa nya ketombe Vino saking
merinding nya saat Nurul memanggil
sayang. namun ia tetap stay Cool sok
jual mahal.
"mana mungkin sih Bunda melirik
lelaki lain sedangkan calon suami Bunda
ganteng nya kaya gini..."
ia mencolek dagu Vino sambil tersenyum
manis.
Goyah lah hati Vino mendengar
sebutan itu.
"aaahhhh.. kamu manis banget sih..
uumhhhhh... gemes banget sih.."
ia mengunyel pipi Nurul saking gemas nya.
Nurul sampai terheran, ternyata sosok
predator seperti Vino bisa menggemaskan
juga jika sedang salah tingkah.
Vino memeluk hangat tubuh mungil
Nurul.
"jangan berani berani lirik pria lain ya..
atau saya akan buatkan kamu seribu anak
tanpa henti."
"seribu? memang nya Nur induk kecoa."
sahut nya membalas pelukan Vino.
"nyaman banget sih kamu di peluk.."
bisik Vino.
"itu karena jantung kita bertemu..
jadi semakin kuat sinyal cinta kita🤭"
bibit bibit bucin sudah mulai bersemi
di diri Nurul.
"bertemu? perasaan jantung kamu
ketemu nya sama lambung saya deh."
lagi lagi mulut nyablak Vino mengacaukan
momen uwu tersebut.
💔🗿
Nurul mendongak ke atas menatap mata
Vino sambil manyun.
"maka nya jadi orang jangan tinggi
banget."
ucap nya dengan bibir mengkerut.
"ululululu......
bibir nya mau di gigit hmm??"
"gigit?! bapak ganas banget sih
ntar bibir Bunda sobek dong.."
seperti nya ia mulai terbiasa memantaskan
diri sebagai Bunda nya El walau
keceplosan.
"Ayah gigit nya nggak sakit kok.."
balas Vino tersenyum nakal.
"ehm! ehm..!
calon pengantin baru lengket banget sih.."
ledek Mila yang berjalan sedikit tertatih.
Vino langsung bisa menerawang apa
penyebab nya.
"cie... habis lembur ya.."
ledek Vino balik.
"lembur gigi mu angus!
kesemutan ini,kelamaan duduk tadi."
tukas Mila menaikkan sebelah bibir nya.
Sementara di sebelah Mila, Riko menatap
penuh makna sambil berdoa dalam hati.
"semoga jadi.. semoga jadi..."
"Pa.. kita balik aja yuk..
mama sudah capek banget nih.."
keluh Mila berjongkok.
"balik??"
Riko seperti keberatan karena ia
masih ingin jalan jalan.
"ya udah balik aja...
biar Sam sama saya.."
sahut Fani yakin, karena memang
Sam juga anteng banget kalau sama Fani.
"serius??"
Riko langsung semangat 45.
"serius Fan? kembar gimana?
ntar kamu repot loh?"
tanya Mila khawatir.
"tenang aja Buk.. kan ada Oma
sama Bina nya yang bantu jaga.."
"yupz..betul banget."
sahut Duma dan Rianti.
"iya Buk.. mendingan pulang aja,
ntar pingsan di jalan malahan.."
imbuh Nurul.
"terimakasih dan maaf sudah merepotkan.."
ujar Mila meringis kelelahan.
"titip anak ku ya bro.."
ucap Riko pada Vino.
"oke.. aman tu...
jangan lupa kasih Vitamin istri mu
biar bugar. Hahahahah...."
Berjalan lah para bocil di depan,
perjalanan mereka bak ketua koloni.
"Ca... kamu jalan nya yang lurus dong.."
komplain Keenan.
"Kei jangan berisik deh..
Ica lagi konsentrasi nih nungguin
salju turun."
sahut Ica sebal.
"menurut berita, salju akan turun besok
jam dua siang. jadi percuma Ica tunggu
sekarang."
ujar El, seperti biasa ia menjadi yang
paling pintar di sana.
Sam pun tak mau kalah.
"kata nya kalau minta permohonan
di salju pertama bakalan di kabulin loh.."
Ica: "wah... serius..?"
El : "iya benar.. dulu waktu turun salju
El sering berdoa agar di kasih
mama yang baik, dan ternyata di kabulin."
Nurul dan Vino yang mendengar itu
tersenyum lebar dan bangga.
"besok El mau minta dede bayi deh..
siapa tau di kabulkan.." tambah nya
lagi.
Keenan: "kalau minta dede bayi, minta nya
sama Ayah Vino dong. kan dia yang
bisa kasih dede bayi."
Sam: "bukan.. yang bisa kasih dede bayi
itu wanita, bukan laki laki."
Ica: "untuk dapat dede bayi, wanita dan pria
harus bekerja sama."
"bener tuh kata Ica, harus bekerja sama."
sahut Duma.
"kerja sama nya gimana Oma?"
tanya mereka berempat serentak.
"Hahahhahahaha.......
rasain tuh.. udah tau cucu nya
pada pinter malah di sahutin."
ujar Rianti.
"kalian ini masih kecil, besok kalau
udah sekolah pasti paham.
jadi berhenti ya bahas soal proses dede bayi,
karena kalian belum cukup umur.
paham kan?"
tutur Fani lembut.
"PAHAM....."
sahut mereka sambil tersenyum.
...~~~~...
Di Villa...
Di kamar, Ayu sedang berbaring.
pusing dan mual di perjalanan kemarin
masih terasa hingga membuat nya belum
bisa beraktivitas banyak.
"ahhh... payah..
niat nya mau jalan jalan malah
hampir mati di jalan."
rutuk nya sambil berusaha bangkit
menuju ruangan untuk mengambil
buah buahan.
"loh? kamu di sini? tidak ikut
jalan jalan?"
tanya Rey sambil memeriksa
beberapa berkas.
"nggak.. masih pusing.
Bapak kok sini? bukan nya
ikut Mas Dimas ke...kemana itu?"
"baru pulang.."
sahut nya datar.
"Mas Dimas nya mana?"
tanya Ayu khawatir, sebab mereka
hanya berdua di sana.
"masih di sana.
tenang saja, saya tidak macam macam kok."
tingkat kepekaan Rey memang di atas
rata rata. bukti nya ia bisa merasakan
kekhawatiran di wajah Ayu.
"mau ikut saya??"
tanya Rey.
"kemana..?"
...~~~~...
Sampai lah Ayu dan Rey ke sebuah
toko baju di salah satu kota Paris.
bukan toko sembarangan pasti nya,
karena harga baju di sana rata rata setara
dengan harga motor di Indonesia.
"Bapak nggak bawa baju ganti?"
tanya Nurul heran.
"malas.."
sahut Rey datar.
Beberapa staff toko itu datang
membawakan jenis dan model baju
yang di minta oleh Rey.
Rey pun masuk ke kamar pas untuk
mencoba beberapa.
anggep aje dialog pake bahasa inggres yak😅"
"maaf nona, bisakah carikan ukuran yang
lain?" tanya Rey kepada mbak mbak cantik
yang melayani nya.
"maaf tuan, yang itu tinggal satu.
bagaimana dengan yang ini?
saya akan bantu anda mengenakan nya."
si mbak staff beramput pirang itu pun
membantu Rey memakaikan kemeja
berwarna cream terang bermotif salur.
Melihat adegan itu Ayu pun risih.
bagaimana bisa mereka tidak canggung
padahal baru pertama bertemu.
walaupun hal itu wajar di lakukan
si staff agar barang nya laku terjual,
tapi menurut Ayu itu sedikit berlebihan.
maklumlah, budaya barat.
Ayu hanya menatap risih ke arah mereka.
"cchhh...!"
decak nya sambil nyengir kuda.
Melihat prilaku Ayu, Rey dengan insting
tingkat dewa nya tanpa segan mengatakan.
"kamu cemburu?"
"apa? saya? cemburu? ccchhh.!
ngapain??? kurang kerjaan."
bantah Ayu sambil memutar posisi nya
membelakangi mereka.
Rey hanya tersenyum tipis melihat
ekpresi Ayu.
"biar saya pakai sendiri.."
bisik nya kepada mbak mbak staff.
...*********...