
"sstt!!!" Dika mengisyaratkan Vino untuk
tutup mulut.
"kenapa kamu tegang? dia hanya makan bersama, bukan bermesraan atau lainnya."
"masalah nya, si wanita mantan calon
tunangan nya. eh gimana sih.."
Dika bingung bagaimana menjelaskan nya.
"wahh.. impresif...
Ran tau??"
"nggak.. yang Nur tau mereka hanya
bersahabat sejak kecil."
Vino memperbesar foto mereka berdua.
"serius? dari tatapan si wanita terpancar begitu
banyak cinta. cinta yang tak terungkapkan."
"iya. seperti bapak ke Nurul kan?"
ucap Dika sambil melirik tajam ke Vino.
"Ran juga tau kan kalau dia kerja di sana.
jadi kenapa harus di tutupi? toh ini
cuma makan bersama."
Vino sengaja mengalihkan topik nya.
"bapak nggak tau apa apa..
tapi lebih baik nggak tau sih.."
"tunggu, pasti bapak mau pakai info ini
untuk mengacaukan Nur dan pak Bian kan?
biar mereka putus terus bapak embat si Nur."
"ch.. kamu pikir saya pecundang?
saya akan bersaing secara adil.
dan saya akan menunggu Nurul sendiri
yang memilih."
"ohh.. jadi beneran bapak ada rasa untuk Nur?
rasa yang tak terungkapkan..?"
Dika menggoda Vino dengan tatapan nya.
"diamlah.. nafas mu bau!"
ketus Vino.
Dika langsung menghembuskan nafas nya
tak percaya.
"harum kok.."
...~~~~...
Malam ini, El dan Vino pulang ke rumah Duma.
bagaimana pun juga, Vino tak boleh membiasakan El bergantung kepada Nurul
karena tak ada yang tau bagaimana nasib
kedepan nya.
Di meja makan, Nurul celingukan melihat sekeliling ruangan. hanya ada keluarga inti
nya di sana.si kembar pun sudah pulang dari
tadi siang.
"bocil udah pada pulang ma?"
"iya, tante Duma juga rindu dengan El.
jadi gantian tidur di sana." sahut Rianti
sambil membantu bibik menyiapkan makan
malam.
"jadi sepi ya kalau nggak ada mereka.."
"sepi sepi rindu yakan dek.."
timpal Dika usil seperti biasa.
"iya... kalau ada mereka ramai."
ucap Nurul lagi.
"pak Vino tadi titip pesan, kalau rindu
VC aja heheh.." goda Dika.
"ih apaan sih kak, kok pak Vino?"
"ya kan El nggak punya handphone dek.
idih.. kok langsung merah muka nya."
"eh.. ya iya emang.."
Nurul gugup hingga tenggorokan nya terasa
panas.
"tapi kalau rindu sama pak Vino nya juga
kan nggak apa apa."
"iihh.. kak Dika apaan sih, kan kak Nurul
pacar nya pak Bian." timpal Ayu sewot.
"pacar nya emang pak Bian..
tapi baper nya sama pak duda hahah.."
Dika seperti nya lebih mendukung Nurul
dengan Vino.
"ah.. lebih baper ke pak Bian lah.
kan pak Bian pacar nya."
sedangkan Ayu lebih pro ke Bian.
"Pak Vino lah.."
"Pak Bian..!"
"heii!! ini kok malah ribut sih?
mau Vino mau Bian kok kalian yang perang.
kan yang ngejalani Nurul."
tegur Rianti.
Di saat mereka tengah asik berdebat, Nurul
malah asik melamun sambil mengunyah
makanan nya. bahkan ia senyum senyum
sendiri hingga membuat semua orang di meja
makan terheran.
Dika pun berbisik untuk membuat taruhan.
"dek.. kita taruhan ya..
kalau Nurul nggak respon waktu kakak sebut Bian,kamu kasih kakak seratus ribu.
tapi kalau kakak sebut Vino dia respon.
kamu bayar kakak. gimana?"
"oke. setuju!"
ucap Ayu mantap, ia yakin pasti lah
Bian yang bisa menggetarkan hati Nurul.
"pak Bian.."
ujar Dika berpura pura seolah Bian datang.
namun Nurul tetap melamun tak menggubris.
"Pak Vino??"
ucap Dika lagi.
"hah? mana?" seketika Nurul tersadar
dari lamunan nya.
"seratus rebu..." Dika tertawa puas.
sedangkan Ayu, bibir nya maju lima meter
karena tak rela kehilangan uang nya.
Menyadari dia sedang di usili Dika, Nurul menjadi
malu sekaligus bete. namun di luar dugaan,
"Ran..."
"kamu ngapain hujan hujan begini keluyuran
Vino?" tanya Rianti.
"Ran.. bisa ikut saya? El demam tinggi dan dia
minta di temani kamu." ujar Vino tergesa dengan baju sedikit basah.
belum pun di jawab oleh Nurul, Vino sudah
menarik tangan nya bangkit dari sana.
"Vino permisi ya tante.."
ucap nya terburu buru.
"pak.. Nur.."
ia ingin meminta Vino menunggu sebentar
untuk berganti baju, sebab Nurul hanya mengenakan baju daster saat itu.
namun melihat ekspresi Vino yang sangat
mengkhawatirkan El, Nurul pun mengurungkan niat nya untuk mengganti baju terlebih dahulu.
...~~~~...
"bunda..."
panggil El menggigil. ia tengah terbaring dengan selang infus di tangan nya.
padahal tadi siang ia masih baik baik saja.
entah apa yang membuat nya tiba tiba demam tinggi begitu.
"bunda di sini sayang .."
sahut Nurul yang baru saja datang.
"bunda...." bagaikan dapat vitamin,
El langsung duduk dan merentangkan
tangan nya meminta pelukan dari Nurul.
Nurul pun memberi pelukan hangat nya untuk El.
"ya ampun... badan kamu panas banget nak"
"El rindu sama bunda.."
ujar El merebahkan kepala nya di dekapan
Nurul.
"kalau rindu kenapa El pulang?
kenapa nggak tidur di rumah bunda aja?
bunda juga kangen tau sama El."
"bunda juga rindu sama El..?"
mata El berbinar menatap Nurul.
"iya.. maka nya besok kalau udah sembuh
El bobok nya di rumah bunda aja ya.."
"e.. tapi ayah bilang El nggak boleh
sering sering bikin repot bunda."
"sstt.. El.!"
Vino memberi kode pada El agar tak
mengatakan itu, namun terlambat.
"ayah kamu bilang begitu?!"
tanya Nurul sedikit kesal.
El mengangguk dan mengalihkan pandangannya
dari Vino yang terus saja membelalakkan mata nya .
"ya udah.. El istirahat ya, biar cepat sehat.
biar bisa tidur sama bunda nya lagi.."
imbuh Duma yang datang untuk memeriksa
infus cucu nya.
"maaf ya Nur, lagi lagi kamu harus
di repotin El." ujar Duma.
"nggak repot kok tante.."
"bunda... El mau nasi bola ayam lagi."
"El..?" gretak Vino mengingatkan.
tak mau El sedih, Nurul pun membelalakkan
mata nya tak kalah lebar kepada Vino.
"El, oma nggak punya bahan makanan
di dapur.kita makan sayur yang tadi oma
masak aja ya.."
"biar Nur belikan tante, ke supermaket.
ayo pak anterin!!"
Nurul menarik tangan Vino pergi dari sana.
"yess.. makan nasi bola..
dapat ayah bunda.." batin El kegirangan.
...-...
...-...
Sambil memilih bahan nasi bola ayam,
Nurul tak henti henti nya mengomeli
Vino karena sudah melarang El dekat
dengan nya.
"bapak ngapain sih ngelarang El ?
bapak nggak kasian apa sama El ?"
"justru saya kasihan sama dia, saya nggak
mau dia jadi ketergantungan sama kamu."
"kenapa memang nya kalau ketergantungan?
El itu masih kecil pak, dia butuh kasih sayang
ibu yang nggak pernah ia dapatkan
sebelum nya."
"Ran.. kamu itu punya kehidupan sendiri.
kamu punya pasangan, gimana perasaan
pasangan kamu kalau kita terus dekat?"
"kenapa bawa bawa pasangan? emang
jadi bunda nya El mengharuskan kita untuk
bersatu? kan nggak?"
"memang nggak. tapi El mau perhatian kita
berdua!" Vino mulai kesal karena Nurul
tak juga mengerti maksut nya.
"ya kita kasih perhatian sama sama pak."
"sss!! kenapa kamu nggak ngerti juga!
terserah lah.. kalau memang itu mau kamu
pilih saja, kamu yang tinggal di rumah saya.
atau saya dan El yang pindah ke rumah kamu
karena El nggak akan bisa milih antara saya atau
kamu. ngerti!!" Vino meninggalkan Nurul yang
kebingungan di sana.
"isshh!! kenapa pak tua itu marah?
memang nya nggak bisa apa ngomong
pelan pelan?
kenapa pula harus memilih tinggal di mana?
memang nya nggak bisa seperti biasa.
aarrggh.... orang tua itu membuatku bingung."
...********...