
Seperti biasa, Nurul yang tengah duduk di kantin seorang diri kembali di kerumuni geng Violet.
kali ini mereka di buat salah fokus pada kalung yang di kenakan Nurul yang tak lain pemberian Vino. harga nya? jangan di tanya.. cuma Vino yang tau๐
"hei.. mau gabung geng kita nggak?"
ujar Gaby di sahuti anggukan yang lain nya.
"maaf, nggak tertarik" cetus Nurul.
"btw kita ngikutin kamu sampai kerumah kemarin, ternyata kamu orang kaya ya.."
ujar Gaby lagi.
"sstt! By, kok bilang bilang sih.." bisik salah satu teman nya.
Nurul tak menanggapi mereka dan asik melihat ponsel nya.
"kalau kamu nggak mau masuk geng kita nggak apa apa..santai... tapi boleh nggak kasih tau dia ini siapa?" wajah Gaby berbinar binar sambil menunjukkan foto Dika yang ia ambil diam diam kemarin.
"kakak ku..
ku kasih tau ya, memotret orang tanpa izin itu nama nya pelanggaran privasi! jadi lain kali izin dulu kalau kamu ngambil foto orang"
Nurul memandang sinis kearah mereka lalu beranjak dari sana.
"sialan.. sombong banget sih!" ujar Meilinda.
"tau tuh.. songong amat, mentang mentang anak orang kaya.." timpal yang lain nya.
"heh.. jangan gitu dong, lagian yang di bilang dia bener kok memang aku yang salah karena melanggar privasi kakak nya. eh tapi nama nya siapa ya, aku lupa tanya lagi.."
imbuh Gaby, menyadari kesalahan nya ia langsung menghapus Foto Dika dari ponsel nya.
"oke guys.. sekarang kita harus fokus gimana cara nya buat Kirana masuk geng kita" ucap Gaby. di pikiran nya geng Violet akan semakin cetar menggelegar jika bertambah satu lagi anak sultan. cuma itu yang ada di pikirannya, untuk gaya gaya an doang.
"By.. ngapain ngajak dia, nggak penting banget.
lihat aja gaya nya sok banget" nyinyir Mei dengan bibir sinis nya.
ddrrt... drrrt....
Melihat panggilan masuk dari bapak nya, Mei mengabaikan dan menutup layar ponsel nya.
Sementara Bapak dan ibu nya sudah menunggu di depan sekolah ingin meminta kunci kos kosan sebab mereka akan singgah untuk jadwal chek UP sore ini. sengaja dari siang mereka datang agar nanti tidak terburu buru saat mau chek UP.
Karena tak kunjung di jawab, orang tua Mei pun masuk ke sekolahan untuk menghampiri Mei.
"dek.. kenal Meilinda nggak? anak kelas 12 A"
tanya ibu nya pada salah satu siswa.
"ohh Mei yang pinter itu ya Bu?"
"iya.. iya.."
"maaf tapi saya tidak lihat hehe.."
siswa itu langsung melipir pergi.
Ibu nya Mei tersenyum bangga karena kepintaran anak nya benar benar di kenal semua orang.
"wahh.. Mei hebat ya pak, di kenal sebagai murid pintar" ucap nya bangga.
"iya Buk, bapak juga bangga banget"
sahut sang Bapak tersenyum lebar, ia merasa perjuangan nya mencari uang tak sia sia karena berhasil terbayarkan oleh prestasi Mei.
selama ini ia memang sedikit tertekan dengan biaya kos an Mei yang lumayan mahal yakni 10 juta per enam bulan.
Mereka pun bertanya lagi pada salah satu murid yang tak lain adalah Nurul.
"dek.. lihat Meilinda anak kelas 12 A nggak?"
"tadi di kantin Bu.."
sekilas Nurul merasakan sesuatu yang berbeda saat menatap Pak Rudi yang tak lain adalah ayah kandung nya. namun ia tak menghiraukan itu, lagi siapa yang sangka mereka akan bertemu seperti itu. dan tentu saja kedua nya tak saling ingat, Nurul masih kecil saat di tinggal dulu, begitu juga Rudi yang tak mengenali anak kandung nya karena sudah tumbuh menjadi gadis Remaja yang sangat cantik.
"kantin nya sebelah mana ya dek..?"
tanya ibu nya Mei lagi.
"mari saya antarkan kalau gitu.."
Nurul berbaik hati kepada mereka karena tak tega melihat kondisi si Bapak yang kaki nya membengkak karena asam urat. padahal si ibu sudah menyuruh untuk tunggu saja di luar, tapi bapak nya malah ingin masuk dan melihat langsung kemegahan sekolah putri nya itu.
"yang sekolah di sini kaya kaya ya Buk..
apa cuma anak kita aja yang orang miskin.."
Rudi tampak minder melihat hampir semua siswa di sana berpenampilan modis.
"jangan gitu Pak. sekolah itu yang penting niat nya, anak kita kan berprestasi pak jadi jangan minder" ujar ibu nya Mei menyemangati.
Nurul berpura pura tak mendengarkan mereka.
walaupun dalam benak nya bertanya tanya kenapa Bapak nya Mei menyebut diri mereka miskin, bukan nya pengusaha?
...-...
...-...
"itu Mei nya Pak Bu.. saya tinggal ya.."
Nurul segera pergi setelah menemukan Mei.
ucap mereka bersamaan.
"Mei......" seru ibu nya dari kejauhan.
Mei langsung beranjak dari tempat duduk nya dan membawa mereka pergi dari sana.
penampilan lusuh orang tua Mei menarik perhatian semua siswa yang ada di sana.
"ihhh!! kalian ngapain sih kesini.."
Mei membawa mereka keluar dari sana.
"bapak mau mampir ke kosan kamu Mei, mana kunci nya? tadi bapak telpon kamu, kenapa nggak di angkat?" ujar Bapak nya.
"hhff!! nih.. buruan pergi!" Mei langsung meninggalkan mereka di luar gerbang sekolah.
"aduhh.. aku harus bilang apa sama mereka? masa ia aku bilang pembantu? kualat nanti aku.
ku bilang orang tua? kan mereka tau nya orang tua ku pengusaha.. duuhh gimana dong..."
sepanjang perjalanan kembali Mei bingung tak tentu arah. akibat kebohongan nya kini ia harus pusing mengarang cerita lagi untuk menutupi ini.
...~~~~...
Di kantor Vino sedang melakukan analisa data kepada para manajer di sana.
biasa nya tugas itu di lakukan oleh Riko, karena Riko baru masuk dari cuti nya jadi dia yang menggantikan kali ini.
Suasana tampak berjalan adem ayem tentrem, mereka semua melakukan analisa data sambil bercanda dan sesekali menggibah.
namun sesaat kemudian Riko masuk dengan wajah beku nya membuat semua orang langsung menutup mulut nya rapat rapat.
"siapa yang membuat gagasan ini?!!
apa kalian bercanda?!kita bisa rugi besar jika begini cara nya!" Riko menghentakkan salinan berkas yang ia dapat dari hasil analisa bulan lalu.
Dengan ragu seseorang mengangkat tangan nya dan memberitahu siapa orang nya.
"Mila pak, dia sudah membicarakan nya dengan kami, dan kami sedang dalam proses memperbaiki nya" ujar salah satu asisten manajer itu.
"Mila?!!" Riko meninggikan suara nya.
"Mila?? apa waktu itu dia sedang depresi karena pernikahan kami? ya.. dia bukan orang yang lalai dalam pekerjaan.
ahhh sebaik nya aku tidak memperpanjang urusan ini. dari pada di banting aku nanti malam.." batin nya bergidik ngeri.
"apa bapak ingin melihat hasil sementara nya?"
tanya asisten itu.
"tidak perlu.." Riko langsung duduk di kursi nya.
"bapak yakin? saya takut kita akan rugi besar jika melakukan kesalahan lagi.."
"tidak apa apa.. saya akan mengganti nya jika kita rugi" sahut Riko datar namun penuh rasa takut. di kepala nya terbang terbang bayangan Mila sedang memegang Vas bunga hendak melempar nya.
...---...
Riko mendatangi Dimas ke kantor nya dengan menbawakan hasil akhir analisa bulan ini.
"bulan lalu? aku belum menerima nya.. mana?"
tanya Dimas.
"Mila mengacaukan nya.." jawab Riko sedikit kesal.
"aahh... santai dong jangan emosi, nanti nggak dapat jatah loh.." Dimas tau betul pasti Riko sedang mengumpat dalam hati nya, pasal nya Riko orang yang sangat kompeten, jadi ia tak suka jika ada hal pribadi yang menganggu pekerjaan nya. tapi mau bagaimana lagi, dari pada perang nanti di rumah.
"bagaimana saran ku waktu itu?"
Dimas malah menutup Map nya dan membahas seputar peperangan anaconda yang memasuki gua kehidupan.
"lumayan berhasil.. walau tak sesuai dengan pengalaman mu"
"kau rubah lah sikap dingin itu.. wanita itu akan senang jika di perlakukan lembut dan hangat"
ujar Dimas menggurui.
"apalagi kalau di belai lembut menggunakan lidah.." celetuk Vino yang tiba tiba masuk dengan map menumpuk di tangan nya.
"aisss!!! kau belum menikah! dari mana kau tau hal hal itu!" Dimas melempar bolpoin ke arah Vino.
"chh.. ku akui keahlian nya lebih hebat dari mu"
Riko tersenyum meledek ke Dimas.
"wahh.. aku curiga kalian pernah mempraktekkan itu bersama" ujar Dimas geleng geleng kepala.
"kalian tau bagian mana yang paling di sukai wanita?" Vino mulai memperagakan wajah sensual nya.
"dimana?" Dimas dan Riko kompak bertanya.
"di......sini...." Vino menunjukkan black card yang baru sehari di miliki nya.
"hahahhaha.... kalian pikir apa hah?
aku akan tetap menyimpan ilmu ku.. jadi cari tau saja sendiri" ledek nya lalu pergi meninggalkan Dimas dan Riko.
"hhh!! Aligator rawa rawa itu minta di patah kan ekor nya!!" rutuk Dimas kesal, sudah berharap dapat referensi baru eh malah Zonk.
Sementara Riko hanya tersenyum smirk melihat tingkah konyol nya Dimas. padahal pro tapi pura pura polos.
...*******...