
Whusssss
angin berhembus menerpa layar.,
melesatkankan kapal memecah ombak.,
"Orang-orang yang saya hadapi tempo hari., sepertinya orang jauh, karena aku belum pernah bertemu dengannya sebelumnya" guman paman Dawung seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri., Tapi ucapan Dawung terdengar jelas oleh Aryo yang berada di sampingnya.,
"Ada apa dengan mereka paman.,!?? sungguh jelas terlihat wajah paman seperti lagi risau!?? " tAnya Aryo pada Dawung yang kelihatan gelisah..
"Aryo sungguh Saya tidak merisaukan., apa yang akan terjadi pada diri saya., Tapi yang menjadi beban pikiranku tentang keselamatanmu dan bisno., Aku sungguh takut tidak bisa melindungi kalian berdua., Bagaimana jika mereka menyerang kita di kota!?? " ujar Dawung cemas.,
mendengar keresahan Dawung Aryo hanya tersenyum simpul.,
"Tidak Usah risau paman., bukankah nyawa kita hanya titipan., manusia tidak berhak mencabut nyawa orang., hanya Allah SWT yang punya hak untuk mencabut nyawa siapa saja yang dia inginka., lalu kenapa Paman Risau., toh mereka bukan Allah., percayalah tidak ada satu hal pun yang berlaku tampa izin Allah SWT., kita serahkan saja semuanya pada Yang di Atas., " ujar Aryo tenang tampa ada goresan kepanikan
"Astaghfirullah., Semoga Allah mengampuni saya.,!!! " Ujar dawung sambil memanjatkan doa.,
Suasana kembali hening hanya deru ombak dan suara angin yang terdengar.,
kapal sudah merapat ke dermaga kota Lembo.,
Suasana tampak Biasa-biasa saja tidak ada yang istimewa.,
Aryo dan bisno bergegas menurunkan keranjang ikan dari atas kapal.,
Dawung ikut mengangkat keranjang ikan itu sambil matanya terus mengati sekitarnya tapi dia sama sekali tidak melihat tanda-tanda ke Amehan. ,
Aryo merasakan sesuatu., hanya saja dia belum bisa menerka apa yang akan terjadi.,
mereka bertiga bahu membahu.,
lagi sibuk-sibuknya kerja., Tiba-tiba bahu Aryo ada yang menyentuh.,
"Permisi Anak muda., Bisakah saya yang membeli ikan-ikan ini..!!?? " ujar orang tua berjanggut putih itu.,
tapi dengan cepat Aryo menyembunyikan keterkejutan nya.,
"Maaf Tuan ikan-ikan ini Sudah ada yang membelinya, .kenaapa Tuan tidak membeli langsung pada penampung di dalam pasar??? "
ujar Aryo sambil menjaga kemungkinan yang terjadi., karena lawan bicaranya tak lain adalah Ki Ranu Galang., Orang yang telah menghabisi Ayahnya., Namun Aryo bersikap biasa saja.,
"sayang sekali anak muda., padahal saya mau membeli dengan harga sangat tinggi.,!!., penampung di dalam ikan-ikannya tidak sesegar ikan-ikan ini" Ujar Ki Ranu Galang sambil memegang bahu Aryo.,
Ki Ranu Galang sungguh teramat sangat kaget., dia tidak bisa merasakan akan aura orang tersebut., "Sungguh aneh" batin Ki Ranu Galang.,
Aryo hanya tersenyum mendegar tawaran Ki Ranu Galang.,
"Sungguh di sayang kan tuan., tapi kalau tuan mau tuan bisa membeli pada penampung., ketika saya sudah selesai menjualnya" ujar Aryo dengan tersenyum.,
"oh Terima kasih anak muda., saya cuma mau membeli dari kamu saja., tapi kalau tidak bisa yah., tidak mengapa., kalau boleh tau siapa nama kamu anak muda.. dan dari mana asal kalian sehingga ikan-ikan yang kalian bawa sangat beda dengan ikan yang lainnya..?? " tanya Ki Ranu Galang.,
sungguh pertanyaan ini membuat Aryo sedikit kuatir identitasnya akan terbongkar.,
"nama saya Aryo tuan., Kami dari desa sanggula., tuan terlalu memuji ikan-ikan kami., sebenarnya semua ikan hasil tangkapan para nelayan sama saja., oh iya maaf tuan kalau boleh tau tuan sendiri siapa?? " Tanya Aryo memastikan siapa lawan bicaranya
"perkenalkan saya Ki Ranu Galang.,saya di sini pendatang saya berasal dari kaki gunung awung., " ujar Ki Ranu Galang sambil menjulurkan tangannya mencoba sekali lagi ingin mengetahui tingkat berapa ilmu dalam lawan bicaranya.,
Aryo masih dengan senyuman menyambut tangan Ki Ranu Galang,..
sedangkan Dawung dan bisno hanya mengawasi situasi saja., .
Ki Ranu Galang., mengetahui tidak bisa mendeteksi lawannya., dia tentu tidak mau ambil resiko.,
"oh iya klw bgitu., sampai ketemu lagi., saya pamit.,!!? " ujar Ki Ranu Galang sambil beranjak pergi.,
"baiklah tuan hati-hati Di jalan".. ujar Aryo sambil tersenyum dan terus melihat ke arah Ki Ranu Galang pergi.,
sedangkan Ki Ranu Galang hanya melambaikan tangan mendengar ucapan Aryo.,