
Abiyan Duduk termenung di beranda mesjid sambil mengamati lalu lalangnya warga yang seakan tiada henti untuk pergi mengambil Air bersih di sungai yang terletak di ujung kampung mungkin bagi yang tinggal di dusun Atas jarak yang di tempuh tidaklah terlalu jauh tapi bagaimana dengan Warga Dusun bawah.,
"Asalamualaikum.,? " Ujar Arfan yang baru saja selesai mengajar baca tulis pada anak-anak
"Waalaikumsalam., Gimana Fan,? sudah selesai mengajarnya!? " ujar Abiyan dengan sedikit tersenyum.,
"Alhamdulillah sudah kelar semuanya tinggl menunggu waktu magrib., keliatannya hatimu sedang gundah? Apa gerangan yang membebani pikiranmu? " Tanya Arfan sambil duduk di samping Abiyan.,
"Coba kamu lihat di jlan depan sana? Menurutmu apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Abiyan sambil menunjuk kearah lalu lalangnya warga.,
"mereka mau ambil Air di sungai di ujung kampung lihat saja mereka semua bawa kendi memang mau apa lagi? " Jawab Arfan yang mulai tidak mengerti Arah pertanyaan Abiyan.,
"Menurutmu jauh tidak dari dusun bawah menuju Sungai? " Lanjut Abiyan bertanya
"Lumayan jauh sih., memangnya ada apa kak? " ujar Arfan semakin bingung., mendegar jawaban Arfan Abiyan hanya tersenyum., lalu bergegas berdiri
"Hari sudah sore sebaiknya kita pulang mandi yuk? " Ajak Abiyan pada arfan yang langsung ikut berdiri dan berjalan berdampingan untuk pulang kerumah.,
"Biyan!? " Pangil Aryo saat dilihatnya Abiyan sudah siap dengan pakaian shalatnya.,
"Iya bi., " Jawab Abiyan sambil duduk di depan Aryo.,
"Besok kamu tolong masuk kedalam hutan di ujung kampung terus kamu lihat apakah sekitaran tempat itu layak di jadikan pemukiman sekalian kamu cek apa yang cocok di tanam di dalam sana? " Ujar Aryo
"Baik Bi., itu saja., kalau sudah Tidak ada saya mau pamit ke masjid sudah mau masuk maghrib., Asalamualaikum., " Ujar Abiyan sambil mencium punggung tangan Ayahnya.,
"Waalaikumsalam., Oh ya Biyan., Ajak sekalian sama Arfan " mendengar ucapan ayahnya Abiyan hanya mengangguk sambil tersenyum tipis., dan Abiyan pun berlalu menuju masjid.,
saat suara Azan berkumandang Aryo dan Rindi serta Ratmi ibu mertuanya melangkah beriringan menuju masjid.,
Pagi Buta seusai melaksanakan shalat subuh berjamaah Aryo dan Arfan telah bersiap berjalan menuju Hutan dengan perbekalan seadanya mereka memasuki hutan lebih jauh lagi untuk melakukan peninjauan lokasi bukan tampa alasan karena semakin banyaknya jumlah penduduk yang terus berdatangan dari setiap sudut wilayah-wilayah perairan lembayung., mereka terus memasuki hutan lebih dalam hingga langkah kaki Aryo terhenti saat seekor ular Piton besar menghadang langkah keduanya.,
"Astaghfirullah., apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus membunuhnya? " Ujar Arfan yang sedikit terperanjat dan mundur beberapa langkah dan bersiap memasang jurus.,
"Sabar kita tidak boleh sembarangan membunuh makhluk hidup., mundurlah biar saya coba mengusir ular itu Agar memberi kita jalan" Lalu Abiyan maju mendekati ular besar itu yang telah siap mematok mangsanya sedangkan Arfan segera mundur beberapa langkah lagi.,.
"Apa yang kamu inginkan? " Tanya Aryo pada ular itu
"Maafkan pandangan saya yang kurang jelas ini hingga saya tidak mengetahui jika tuannku yang akan melewati tempat ini., apa yang bisa saya lakukan untuk membantu perjalanan Tuanku? " Ujar ular itu yang langsung menurunkan kepalanya ke Tanah.,
"Kamu cukup mengambarkan saya jalan menuju sumber mata Air yang tidak pernah kering di dalam hutan ini? " Ujar Aryo Yang suaranya tentu saja tidak bisa di dengar oleh Arfan yang merasa heran dengan tingkah laku Abiyan yang Aneh
" Tuan jalan saja mengikuti arah matahari terbit di bawah kaki bukit harapan ada sebuah Telaga yang Airnya tidak akan kering sepanjang masa.? " Ujar ular piton besar itu.,
Sementara itu di Dusun Bawah Tiba-tiba Ada kapal besar sandar dan sekitar seratus orang dengan membawa senjata tajam turun dari Atas kapal., dan langsung mengobrak abrik apa saja yang di laluinya Lalu dari arah belakang Dengan pengawalan ketat seorang gadis cantik memakai mahkota nampak ikut turun dari atas kapal., Warga bawah yang tiba-tiba mendapat serangan menjadi kocar-kacir dan ada juga yang mencoba melawan namun rupanya pasukan Ratu Zalitun semuanya terlatih., Dawung, Bisno,ki palangi dan beberapa orang yang lagi menimbang ikan langsung melawan menghadapi pasukan Ratu Zalitun., Namun mereka terlalu banyak untuk mudah dikalahkan.,
Aryo yang baru saja selesai memberi pelajaran singkat tentang akidah Ahlak pada para santrinya duduk santai di teras mesjid sambil menghirup udara segar., namun dari Arah bawah nampak warga berlarian dengan panik.,
"Kyai!!! Warga di serang orang Asing yang bersenjata lengkap pemimpinnya seorang wanita Kyai.,! " Mendengar laporan Warga Aryo segera berlari dengan kecepatan cahaya yang tiba-tiba sudah berada di samping dawung., sudah terdesak.,
melihat yang mereka yakini itu Aryo serentak pasukan Ratu Zalitun, langsung mundur dan langsung kembali kedalam kapal., Sedangkan Ratu Zalitun dengan ilmu bayangan seribu segera menyerang Aryo dengan pukulan tapak iblis
Hiyaaaaaaa
whusssssss
bhummmmm
pukulan mengandung hawa panas di tepis oleh aryo dengan memiringkn tubuhnya dan mendorong Dawung agar tidak terkena pukulan tapak iblis itu Hingga serangan Ratu Zalitun hanya menghantam pohon kelapa dan pohon itu langsung Rubuh dengan batang yang terbakar.,
merasa gagal Ratu Zalitun kembali melancarkan pukulan dan tendangan dengan cepat
hiyaaaaaaa
dhassssssss
Brakkkkkkk
Bughhhh
pukulan dan tendangan mereka saling beradu
hingga Ratu Zalitun langsung mundur dengan cepat tampa Aryo sadari.,
"Cepat Tinggalkan tempat ini!" titah Ratu Zalitun pada pasukannya yang langsung menaikan layar
Aryo segera mengatur nafas saat menyadari Lawannya telah pergi.,
"Apa yang terjadi Kyai? " Tanya Dawung
"wanita itu memang sungguh sangat hebat kekuatan tenaga dalamnya luar biasa., nanti malam kumpul seluruh warga sebaiknya kita berunding untuk mencari solusi terbaik untuk kenyamanan wilayah kita ini.,? " Ujar Aryo yang merasa ada yang tidak beres dengan pola penyerangan yang di lakukan tiba-tiba lalu mundur dengan tiba-tiba padahal dia yakin betul jika mereka adalah orang-orang tangguh.,
"Baiklah kyai., saya akan memberitahu mereka untuk kumpul di halaman mesjid sesudah shalat Isya.,