Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Tarian Dalam Rintik Hujan


Mobil sedan milik Edgar terus melaju dan membelah keramaian jalanan kota Paris yang basah. Arumi pun masih setia dengan senyum manisnya. meskipun dari tadi Edgar hanya membawanya berkeliling tanpa turun dari dalam mobil.


Cuaca tidak juga bersahabat dengan mereka. Namun, hal itu tidak membuat Arumi kehilangan moment indahnya bersama sang kekasih tercinta. Terlebih ketika mobil yang Edgar kendarai, kini telah memasuki halaman sebuah bangunan megah dengan dominasi warna putih.


Itulah rumah yang Edgar ceritakan kepada Arumi kemarin. Edgar kemudian memarkirkan mobilnya dan segera mengajak Arumi untuk masuk. Tentu saja, Arumi tidak akan menolaknya sama sekali.


“Kita akan menghabiskan musim panas di sini nanti. Aku harap kamu menyukai rumah ini, Arum,” ucap Edgar ketika mereka telah berada di dalam.


Senyum lebar terus terkembang dari wajah cantik Arumi. Gadis itu mulai mengedarkan pandangannya, ke setiap sudut dari bagian rumah dengan dua lantai yang keseluruhannya di dominasi oleh warna putih.


“Ayo kita lihat ke bagian lain!” Ajak Edgar. Ia mengajak Arumi untuk berkeliling di dalam rumah megah itu. Seperti biasa, kebersamaan mereka selalu dihiasi dengan canda tawa dan sikap jahil Edgar terhadap Arumi.


“Ini rumah yang sangat luar biasa. Aku sangat menyukainya,” ucap Arumi setelah ia dan Edgar selesai menjelajahi setiap sudut dari rumah itu. Arumi kemudian menangkup wajah Edgar, dan mengecup bibir pria itu untuk sesaat.


“Furniture di sini belum terlalu lengkap. Aku sengaja tidak melengkapinya, karena itu akan menjadi tugasmu untuk membuat rumah ini menjadi lebih indah. Apa kamu akan mengisi rumah ini dengan mawar putih?”


“Bolehkah?”


“Apa yang tidak boleh untukmu?” sahut Edgar dengan tenang. “Ah, ada satu hal yang sama sekali tidak akan aku perbolehkan untukmu,” lanjutnya.


“Apa itu?” tanya Arumi penasaran.


Edgar meraih pinggang Arumi dan menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. “Aku tidak akan mengizinkanmu untuk bersikap nakal seperti tadi, di depan siapapun selain diriku,” jawab Edgar seraya tertawa geli saat membayangkan tingkah Arumi, ketika masuk ke ruang kerjanya.


Arumi memasang wajah cemberut. Ia merasa malu karena Edgar mengungkit lagi tingkah konyolnya tadi. “Aku harap Tuhan menghapus memori-mu dan kakak-ku dari hal itu,” ujar Arumi dengan setengah merajuk. Sesaat kemudian, Arumi lalu mengalihkan pandangannya pada kolam renang di sebelah rumah itu. “Sayang sekali,” sesalnya.


Edgar tersenyum kelu. Ia lalu melepaskan pelukannya dan mengajak Arumi menuju ke area kolam renang itu. Mereka lalu duduk di atas sofa yang menghadap langsung ke sana. Tanpa harus diminta, Arumi segera menyandarkan kepalanya di pundak Edgar. Sementara Edgar berkali-kali mengecup lembut pucuk kepala gadis itu.


“Semoga musim panas yang akan datang, kamu sudah resmi menjadi milikku, Arum. Kamu akan dikenal dengan nama Nyonya Hillaire. Aku akan merasa sangat bahagia ketika dapat memberikan nama belakangku di belakang namamu,” ucap Edgar pelan. Ia tidak tahu apakah Arumi mendengarkan perkataannya atau tidak, karena gadis itu tidak menyahut sama sekali.


Ditatapnya wajah cantik Arumi yang saat itu tampak memejamkan matanya. Edgar semakin merekatkan pelukannya. Sementara Arumi  terlihat semakin nyaman bergelayut di dalam dekapan hangat Edgar.


Semakin lama, Arumi semakin terlelap. Ia kembali tertidur di pundak Edgar seperti malam itu, ketika berada di apartemen milik Edgar yang ada di Indonesia.


Edgar kemudian mengarahkan pandangannya ke langit yang terlihat muram. Suasana hari itu terasa begitu menyedihkan. Ingin rasanya ia berlari dan meninggalkan semua kemuraman itu.


Edgar harus segera menemukan tempat yang akan benar- benar menjadi surga untuk bernaung bagi dirinya. Ada banyak hal besar yang telah ia siapkan saat ini, termasuk perasaannya. Ia merasa sangat bahagia, karena pelarian panjang yang telah ia lakukan selama ini, kembali membawanya pada titik awal ia berlari.


Ya, meskipun terkesan hanya berputar-putar di tempat yang sama, tapi ada banyak waktu dan tenaga yang telah ia curahkan untuk dapat mengakhiri pelariannya, dan menghadirkan keyakinan yang sangat besar di dalam hatinya.


Entah kenapa keyakinan itu terasa begitu dalam. Bayangan indah masa depan, sudah semakin bertahta di dalam pikirannya. Edgar bahkan sudah melihat Arumi dalam balutan gaun pengantin putih yang indah. dan berjalan ke arahnya dengan senyum penuh kebahagiaan.


Mengela napas pelan, Edgar kemudian menggeleng perlahan. Kenapa ia bisa menjadi seperti itu? Kini ia menjadi semakin peka dan sensitif, bahkan terkadang ia menjadi begitu melankolis.


Lalu, akhir seperti apa yang telah digoreskan takdir untuknya? Apakah ia akan benar-benar berakhir dengan Arumi si gadis pujaannya? Kenapa Edgar harus merasa begitu khawatir? Seharusnya ia mulai meresapi sesuatu yang dinamakan kekuatan pikiran.


Kembali ditatapnya Arumi yang sudah semakin terlelap. Edgar kemudian melepaskan dekapannya dengan perlahan. dan membuat Arumi merasa terusik. Gadis itu membuka matanya untuk sejenak. Namun, Arumi kembali terpejam ketika Edgar membopong tubuh rampingnya dan membawanya masuk.


Dibaringkannya tubuh Arumi di atas sofa yang berada di bagian dalam rumah. Setidaknya di sana udara dingin tidak terlalu terasa, apalagi Edgar mulai nenyalakan perapian modern yang ada di sana. Namun, kini Edgar tampak mengernyitkan keningnya.


Kedua tangan Arumi masih terus melingkar di lehernya, sehingga Edgar tidak bisa ke mana-mana. Edgar tahu jika gadis itu sudah terbangun. Pria itu tersenyum seraya menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


“Jangan nakal, Arum!” bisiknya.


Perlahan Arumi membuka matanya.”Aku kedinginan,” ucapnya dengan agak parau.


Edgar kembali tersenyum. “Bergeserlah!” suruhnya dengan pelan. Arumi pun menurut. Ia menggeser tubuhnya hingga menjadi lebih dekat pada sandaran sofa itu. Tidak berselang lama, Edgar segera berbaring tepat di dekat gadis itu.


Edgar lalu memeluknya sambil sesekali mencium pipi Arumi dengan penuh kasih sayang. Arumi kemudian membalikan tubuhnya sehingga kini menghadap kepada Edgar. Masih dengan sedikit mengantuk, gadis itu membelai wajah Edgar dengan tangannya yang halus yang membuat Edgar merasa sangat terbuai.


Semakin direkatkan tubuhnya kepada Arumi, tidak ada yang ia lakukan saat itu selain mencium Arumi dengan mesra.


Udara dingin sirna seketika dan terbang menjauh bersama semua kecemasan yang sempat hinggap di hati Edgar. Rasa hangat dari sentuhan kulit kuning langsat Arumi, begitu membakar tubuh Edgar yang sempat merasa kedinginan karena rasa sepi. Ia membiarkan gadis itu berkuasa atas raganya, menjadikannya budak yang patuh.


Edgar membiarkan Arumi berada di atas dirinya dan melakukan apapun yang gadis itu inginkan, untuk melawan rasa dingin dari muramnya cuaca hari itu.


Aaaaaahhh ....


Sebuah de•sahan pelan meluncur dari bibir Arumi. Suara yang mengisi seluruh ruangan itu dan mengalun penuh irama. Setiap helaan napasnya terasa menghangat di wajah Edgar, jauh lebih hangat dari sebuah perapian modern yang sempat dinyalakannya tadi.


Arumi pun terus menari diiringi rintik hujan yang tidak juga berhenti. Sementara Edgar begitu menikmati tarian kecil itu, meskipun begitu lambat tetapi mampu membuat jantung pria itu berdetak dengan jauh lebih cepat dari biasanya.


Sebuah senyuman muncul di sela-sela erangan manja Arumi, ketika ia merasakan tangan Edgar yang begitu nakal dan seakan sudah tahu harus bergerak ke mana. Ia menyusuri setiap sudut dari lekukan indah itu, seolah mencari sesuatu.


“Hanya seperti itu, Arum?” bisik Edgar. Sebuah tantangan yang seakan menjadi cambuk bagi gadis itu. Arumi tersenyum lebar.


"Kamu ingin yang lebih, Ed?" balas Arumi dengan tatapannya yang sedikit sayu, tapi terlihat begitu menggoda.


"Show me!" pinta Edgar, membuat Arumi menari dengan ritme yang jauh lebih cepat dengan diiringi senandung manjanya.