Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Titik Balik Moedya


Moedya termenung sendiri di lantai tiga rumahnya. Ditemani sebatang rokok dan sekaleng soft drink, Moedya menikmati malam itu sendirian. Asap tipis mengepul ke udara. Terlihat cukup jelas dalam kegelapan malam.


Ingatan Moedya kembali tertuju kepada Arumi dan perbincangannya tadi. Moedya mulai berpikir dengan sungguh-sungguh. Ia mencoba untuk terus mencerna semua ucapan Arumi dengan baik. Tiba-tiba ingatannya beralih kepada Diana, gadis yang ia tinggalkan begitu saja siang tadi.


Rasa bersalah datang tanpa diduga dan menyapanya dengan tanpa permisi. Sungguh jika itu adalah sesuatu yang tidak biasa baginya. Selama ini, Moedya tidak pernah memikirkan apa yang dirasakan oleh Diana. Ia tidak peduli dan menganggap gadis itu akan selalu menerima segala hal yang dilakukannya.


Moedya kemudian meraih ponselnya. Saat itu sudah lewat tengah malam. Moedya tahu jika Diana pasti sudah tidur nyenyak. Gadis itu hidup dengan teratur, meskipun ia tinggal jauh dari kedua orang tuanya.


Ya, sudah beberapa tahun terakhir, Taraa dan Vincent memutuskan untuk menetap di Amerika, karena Vincent harus mengurus bisnis peninggalan ibunya. Sedangkan, Taraa juga membuka sebuah butik di sana.


Diana menempati sebuah apartemen yang terbilang mewah. Ia hanya ditemani oleh seorang pelayan di sana. Diana bukanlah tipe gadis yang senang menghabiskan waktunya di dapur, apalagi mengakrabkan dirinya dengan segudang pekerjaan rumah tangga.


Pagi itu, Diana baru membuka matanya ketika ia mendapati sebuah pesan dari Moedya. Pria itu setuju untuk menemaninya datang ke pernikahan Arumi dan Edgar. Hal itu membuat Diana mengernyitkan keningnya. Gadis itu merasa heran, apa gerangan yang telah membuat Moedya berubah pikiran dalam waktu secepat itu?


Namun, Diana tidak membalas pesan itu. Ia meletakan kembali ponselnya dan memilih untuk segera beranjak dari tempat tidurnya. Akan tetapi, sebelum ia sempat turun maka dering ponsel telah menghentikan niatnya. Diana kembali meraih ponsel itu.


Sebuah panggilan masuk dari kontak bernama Moedya, muncul di layar ponselnya. Diana tidak mengindahkan panggilan itu. Ia justru memilih untuk meletakan kembali ponselnya, dan berlalu ke dalam kamar mandi. Hari ini, ia akan ke butik dan memilih sebuah gaun untuk ia pakai ke acara resepsi pernikahan Arumi. Diana ingin tampil secantik mungkin.


Sementara itu, Moedya diliputi perasaan heran yang besar. Tidak biasnya Diana mengabaikan dirinya seperti itu, malah justru Diana terkadang membuat Moedya merasa risih dengan sikap pedulinya yang terlalu berlebihan. Namun, kini justru sebaliknya. Diana terkesan seperti menghindarinya. Ia bahkan tidak membalas pesan dan menjawab panggilan masuk dari dirinya.


Moedya kembali mengirimkan sebuah pesan kepada Diana. Namun, lagi-lagi pesan itu hanya menunjukkan dua centang biru tanpa ada balasan sama sekali. Moedya mengela napas dalam-dalam. Ia semakin merasa heran.


Diraihnya jaket kulit yang tergeletak di atas kursi dekat tempat tidurnya. Moedya kemudian beranjak keluar dari kamarnya. Saat itu, ia berpapasan dengan Ranum. Sang ibu terlihat sudah rapi, sepertinya ia akan pergi.


“Mau ke mana, Bu?” tanya Moedy dengan penasaran, berhubung sudah lama Ranum tidak keluar dari rumahnya.


“Ibu akan ke butik. Bisakah kamu mengantar Ibu sebentar?” tanya Ranum seraya menatap putra semata wayangnya dengan tatapan yang aneh.


Moedya terdiam dan berpikir. Tadinya ia sudah berniat untuk menemui Diana, tapi ia juga tidak mungkin menolak permintaan sang ibunda.


“Ibu sedang malas menyetir sendiri,” Ranum mencari alasan. Sementara Moedya tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Pria itu akhirnya mengangguk setuju.


“Aku harap aku tidak harus menunggui Ibu selama seharian di dalam butik,” ujar Moedya seraya masuk ke dalam mobilnya. Ranum hanya tersenyum seraya mengikuti Moedya masuk.


Moedya mengela napas panjang. Malas rasanya jika harus membahas sesuatu yang berhubungan dengan Edgar. Terlebih karena Ranum juga memuji paras rupawan Edgar. Itu terasa semakin menyebalkan bagi Moedya.


“Dia berasal dari Perancis, Bu,” dengan terpaksa Moedya menjawab pertanyaan dari sang ibu.


Ranum manggut-manngut mendengarnya. “Apa kalian saling mengenal?” tanya Ranum lagi. Ia seakan tengah menyelidiki. Sementara Moedya hanya mengela napas dalam-dalam. Entah apa maksud sang ibu menanyakan hal seperti itu kepada dirinya.


“Jangan katakan jika Ibu akan mencarikanku ayah tiri yang seperti dia!” celetuk Moedya yang seketika membuat Ranum melotot kepadanya. Namun, tidak lama kemudian wanita berusia enam puluh tahun lebih itu tertawa geli. “Apa menurutmu Ibu masih pantas untuk menikah lagi?” tanyanya dengan nada bercanda.


Moedya melirik sang ibu untuk sesaat dari balik kaca mata hitamnya. Setelah itu, tatapnnya kembali ke depan. Ia lalu tersenyum. “Ya pantas,” jawabnya dengan ragu. “Apa Ibu ingin bersaing denganku?”


“Maksudmu?” tanya Ranum  dengan tidak mengerti.


Moedya kembali mengela napas panjang. Ia terdiam untuk sejenak. Sedangkan Ranum masih setia menunggu apa yang akan dikatakan oleh putra semata wayangnya. Hingga beberapa saat kemudian, akhirnya terdengar Moedya kembali berbicara dengan nada bicaranya yang sangat meyakinkan.


“Aku sudah memikirkannya dengan matang, Bu. Aku juga ingin segera menikah dengan Diana,” ucap Moedya. Ia menoleh sesaat kepada Ranum.


Mendengar ucapan dari Moedya, seketika Ranum mengernyitkan keningnya. Ia kini berada di antara rasa senang dan juga rasa heran. Ranum tidak segera menanggapi niat baik sang anak. Ia masih harus meyakinkannya dulu.


“Pernikahan adalah sesuatu yang sangat sakral, terlebih bagi seorang wanita. Bagi Ibu pribadi juga seperti itu. Ibu hanya mengharapkan satu kali pernikahan, meskipun kenyataannya Ibu juga harus menikah sebanyak dua kali. Ibu harap kamu memikirkannya secara matang-matang dan jangan sampai menyesali keputusanmu lagi. Jangan sampai kamu menyakiti perasaan istrimu kelak, dan yang terpenting jangan tiba-tiba memutuskan ingin menikah karena kamu melihat Arumi yang juga akan segera menikah,” petuah Ranum. Ia sangat megetahui karakter Moedya angin-anginan dan mudah terbawa oleh suasana hatinya, barulah setelah itu ia akan menyesali semua keputusan yang telah telah diambilnya.


Moedya tersenyum tipis. Ia lalu menghentikan laju mobilnya karena mereka telah tiba di butik milik Ranum yang kini dikelola oleh anak dari Rania, kakak-nya. Sebelum turun, Moedya  sempat melirik sang ibu yang saat itu tengah melepas sabuk pengamannya.


 “Aku sudah bicara dengan Arumi semalam. Aku ingin belajar untuk menjadi seorang pria yang berkomitmen. Aku tidak mungkin selamanya berada di dalam situasi seperti saat ini. Aku sudah harus meninggalkan zona nyamanku dan mulai mencari sebuah tantangan baru yang membuatku merasa jauh baik dan lebih menjadi seorang pria. Aku ingin seperti ayah yang teguh pendirian dan memiliki komitmen yang kuat dalam hidupnya. Aku rasa sudah saatnya bagiku untuk mengubah cara pandangku,” papar Moedya dengan panjang lebar.


Ranum terharu mendengar hal itu. Ditangkupnya wajah maskulin putranya, ia lalu mengecup kening Moedya dengan penuh rasa kasih sayang. “Tidak ada kata terlambat untuk berubah menjadi lebih baik, Nak. Ibu akan selalu mendukungmu dengan sepenuh hati. Ibu senang jika akhirnya kamu memiliki pikiran seperti itu, karena usiamu akan terus bertambah, sementara waktumu semakin berkurang. Pergunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya, jangan sampai kamu menyesal lagi. Ingat, Anak! Mudah meraih, tapi terasa sulit untuk menjaganya. Namun, selama kita memiliki niat yang tulus, maka tidak akan ada sesuatu yang terlalu sulit untuk kita lakukan, selama kita melakukannya dengan senang hati,” Ranum kembali menasihati putranya.


Moedya mengangguk yakin. “Bulan depan orang tua Diana akan datang. Aku harap ibu bersedia untuk menemaniku menemui mereka,” ucap Moedya lagi.


“Tentu saja, Juna. Jangan cemas! Untuk saat ini, sebuah pernikahan mungkin terdengar sangat menakutkan bagimu. Namun, kamu akan mengetahui seperti apa nikmatnya sebuah pernikahan setelah nanti kamu menjalaninya. Jika ayahmu masih ada, Ibu yakin ia akan sangat setuju dengan pendapat Ibu,” Ranum dengan senyum lembutnya. Setelah itu, ia keluar dari mobil dan Moedya segera mengikutinya.