
Arumi melangkah masuk dengan anggunnya. Ia tidak menghiraukan tatapan nakal dari teman-teman Moedya yang berada di bengkel itu. Arumi masih terus fokus kepada pria berambut gondrong yang juga tidak mengalihkan pandangannya sejak tadi, kepada dirinya.
"Bisa tolong periksa mobilku?" Tanya Arumi yang kini sudah berdiri tepat di hadapan Moedya. Lagi-lagi ia tidak menghiraukan sekelompok pria yang kini melayangkan tatapan mereka kepada dirinya.
Moedya tidak segera menjawab. Ia hanya mengernyitkan keningnya seraya menggaruk telinganya untuk sesaat. Setelah itu, ia tersenyum dengan kalemnya. "Hari ini kami tutup," ucapnya dengan ramah.
"Bagaimana bisa tutup? Aku lihat bengkel ini buka," sanggah Arumi seraya menunjuk ke arah rolling door yang terbuka lebar.
Moedya tersenyum simpul. Ia kemudian melirik teman-temannya yang rata-rata dari mereka memakai jaket dengan warna dan corak yang sama. Sepertinya mereka merupakan teman-teman dari anggota club motor, di mana Moedya merupakan salah satu pengurusnya.
"Kami sedang rapat, Nona," jelas Moedya dengan tenangnya. Ia merasa tidak enak dan pastinya tidak nyaman dengan hal itu. Akan tetapi, ia juga tidak dapat menyembunyikan rona bahagia dari wajahnya, meskipun hanya ia tunjukan dengan tersenyum kalem. Moedya memang seperti sang ayah, Arya. Mereka bukan tipe pria yang suka memperlihatkan sesuatu secara berlebihan.
"Aku pikir tidak akan lama. Kamu tinggal memeriksanya sebentar dan memastikan semuanya baik-baik saja. Kamu akan memastikan jika mobil itu aman untuk kukendarai dan menjamin keselamatanku tentunya," ujar Arumi dengan sikap tak acuhnya. Ia bersikap seakan-akan saat itu hanya ada dirinya dan Moedya di sana.
Moedya tertawa pelan meski dengan sikap yang terihat semakin kikuk. "Keselamatanmu juga tergantung dari bagaimana caramu mengemudi, Nona," sahut Moedya. Sesekali ia melihat ke arah teman-temannya. Ada beberapa dari teman-temannya yang tengah memperhatikan mereka. Moedya yakin jika bukan dirinya yang tengah menjadi pusat pethatian. Apa lagi saat itu Arumi memakai mini dress di atas lutut.
Seandainya saja gadis itu masih menjadi kekasihnya, maka ia pasti sudah menyuruh Arumi untuk segera menyembunyikan diri dari tatapan nakal teman-temannya. Namun kali ini, ia tidak dapat berbuat lebih.
"Kembalilah besok jika kamu mau!" Ucap pria itu lagi.
"Mau apa?" Tanya Arumi dengan tidak disangka-sangka. Sebuah pertanyaan sederhana yang sempat membuat Moedya sedikit kebingungan.
"Tentu saja untuk mengecek mobilmu, Nona," jawab Moedya. Ia terus berusaha terlihat tenang dan sebisa mungkin tetap dapat menguasai dirinya.
Arumi terlihat kecewa. Akan tetapi, sesaat kemudian ia lalu tersenyum. "Apakah aku harus menunggu di sini hingga acara rapatmu selesai?" Tanya Arumi dengan setengah berbisik dan membuat Moedya merasa tidak nyaman. Ia lalu mendehem pelan. Moedya pun terdiam untuk sejenak. Beberapa saat kemudian, ia lalu menghampiri teman-temannya.
"Silakan lanjutkan! Aku harus mengurusi mobil nona ini sebentar," ucap Moedya seraya melirik Arumi. Ia tahu jika teman-temannya sejak tadi memperhatikan gadis itu, apa lagi dengan penampilan Arumi yang terbilang cukup seksi. Karena itu, ia ingin segera menyuruh gadis itu untuk pergi dari sana.
Tanpa berlama-lama, Moedya segera mempersilakan Arumi untuk keluar dan menuju di mana mobilnya terparkir. Arumi tersenyum manis dan menurut saja. Ia berjalan lebih dulu dari Moedya. Ia membiarkan Moedya mengikutinya dengan tatapan yang tidak jauh berbeda dengan tatapan sekelompok pria tadi.
Berdiri di depan mobil sedan putih milik Arumi, Moedya terlihat sangat serius. Fokusnya tertuju pada rangkaian mesin yang tampak membingungkan. Sedangkan Arumi justru malah asyik memperhatikan pria bertato di sebelahnya.
Moedya terlihat jauh lebih dewasa saat ini. Ia tampak sangat matang dan semakin maskulin. Moedya memang tidak setampan Edgar dan serapi Keanu. Akan tetapi, di mata Arumi pria itu jauh lebih seksi dan menggoda. Moedya terlihat jauh lebih menantang dengan penampilannya yang eksentrik.
"Apa mobilku baik-baik saja?" Tanya Arumi tanpa mengalihkan tatapannya dari pria yang ada di dekatnya. Moedya kemudian menoleh untuk sejenak. "Ya, aku rasa tidak ada masalah yang serius," jawabnya. "Lagi pula Keanu baru membawanya kemari belum lama ini," lanjut Moedya membuat Arumi membelalakan matanya.
"Mungkin kamu bisa datang lagi besok atau lusa, sehingga bisa kuperiksa dengan lebih menyeluruh," lanjut pria dengan singlet hitam itu.
"Oke. Aku akan datang lagi besok," sahut Arumi. "Semoga besok kamu tidak sedang melakukan seminar," celetuk Arumi yang seketika membuat Moedya tertawa.
"Mereka teman-taman di club motor. Kami hanya sedang berdiskusi tentang acara touring bulan ini," jelas Moedya. Entah kenapa ia harus menjelaskan hal itu kepada Arumi. Hal itu memang biasa ia lakukan, dari semenjak mereka masih menjalin hubungan dulu.
"Ya, aku datang bukan pada saat yang tepat. Aku pikir kamu tidak sedang sibuk, tapi ... ya sudahlah! Mungkin sebaiknya aku pergi saja," ucap Arumi. Ia merasa tidak enak karena melihat sikap Moedya yang sedikit tidak nyaman. Berkali-kali pria itu menoleh ke dalam bengkel, kepada teman-temannya yang tampak tengah berdiskusi.
Mendengar hal itu, Moedya lalu menatap Arumi. Ia memperhatikan gadis dua puluh enam tahun yang dulu pernah sangat ia cintai.
"Kenapa kamu memakai baju seperti itu?" Tanya Moedya. Tiba-tiba ia mengomentari mini dress yang dikenakan Arumi. Bagaimana tidak? Dress berwarna biru elektrik itu adalah dress kesukaan Moedya. Ia akan selalu memuji kecantikan Arumi dengan kulit kuning langsatnya, ketika Arumi memakai dress seperti itu.
"Ini dress lamaku. Sudah terlalu lama juga berada di dalam lemariku dan aku pikir aku mulai merindukannya," pancing Arumi. Ia ingin melihat seperti apa respon Moedya dengan ucapannya barusan.
Moedya hanya menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya. Setelah itu, ia kembali menggaruk keningnya. "Jadi ... kamu sudah memutuskan untuk kembali ke rumah?" Tanya pria dengan gaya rambut man bun itu. Entah hanya sekadar basa-basi atau ia memang masih menaruh perhatian kepada Arumi.
Arumi tersenyum seraya mengangguk pelan. "Ya. Aku sudah memutuskan untuk pulang. Aku rindu rumahku, keluargaku, kamarku, pakaian lamaku, dan ... aku sangat merindukan masa laluku ... ah ... maksudku ... semua kenangan indahku ada di sana. Tidak ada salahnya jika aku kembali bernostalgia, meskipun akan sedikit menyakitkan untukku," tutur Arumi dengan wajah yang sedikit sendu. Akan tetapi, sesaat kemudian ia kembali tersenyum.
"Oke, Moedya. Aku akan kembali besok. Luangkan waktu untukku ... maksudku ... untuk mobilku," ujar Arumi diakhiri dengan sebuah tawa pelan. Arumi kemudian menurunkan lagi kaca mata hitamnya. Ia mulai menyembunyikan tatapannya untuk pria maskulin itu.
Moedya mengangguk pelan. "Datanglah setelah jam makan siang. Mudah-mudahan aku sudah menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda," ucapnya. Arumi mengangguk setuju. Setelah itu, ia memutuskan untuk masuk ke mobilnya.
Arumi mulai menghidupkan mesin mobilnya. Tidak berselang lama, ia lalu pergi meninggalkan halaman parkir bengkel itu, diiringi tatapan nanar dari Moedya.
Ada sedikit percikan yang mulai terasa di hati pria tiga puluh tahun itu. Ada banyak hal yang terlalu indah, yang memang sangat sulit untuk ia lupakan. Jutaan cerita sudah tertulis dalam lembaran kehidupannya.
Moedya sudah menyobek dan membakar habis lembaran-lembaran itu, tapi entah kenapa, karena ia tidak dapat melakukan hal itu pada lembaran-lembaran yang menuliskan tentang kisahnya bersama Arumi.
Harus diakuinya, Arumi memang telah menggiring dirinya untuk menjadi seorang Moedya yang lain. Moedya yang jauh lebih peka dan teratur. Gadis itu telah merubah banyak hal dari dirinya, dan itu Arumi lakukan tanpa harus membuat Moedya kehilangan rasa nyamannya.
Sebuah senyuman kecil tersungging di sudut bibir dengan jenggot tipis itu. Moedya merasa senang ketika melihat Arumi telah kembali. Gadis itu telah menjadi dirinya lagi. Menjadi Arumi yang dulu, yang pernah ia cintai. Lalu, apa yang akan ia lakukan selanjutnya?