Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Kembali Bertemu


"Ya, Arum ... aku tahu itu. Aku hanya merasa tidak enak padamu, karena ... karena aku tahu dulu kamu dan Moedya ... um maksudku ...." Diana berkata dengan rasa tidak enak di hatinya. Akan tetapi, Arumi sudah dapat menebak ke mana arah pembicaraan gadis itu.


Arumi tidak menjawab. Ia terlalu malas untuk menanggapi ucapan dari Diana meskipun hal itu cukup mengganggu pikirannya. Hatinya kian terusik ketika membayangkan Moedya dengan gadis lain.


Arumi kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia berusaha untuk terus berkonsentrasi pada pekerjaannya. Sebisa mungkin, ia jangan sampai terlihat kehilangan fokus dan kontrol dalam dirinya.'


"Aku minta maaf, Arum. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk ... um ... kamu tahu bukan jika aku dan Moedya sama-sama lajang dan juga ...."


Mendengar hal itu, Arumi kembali menghentikan pekerjaannya. Ia lalu menatap Diana dengan tajam. "Silakan, Di. Aku sama sekali tidak keberatan jika memang ada kecocokan di antara kalian berdua. Lagi pula ... aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Moedya," ujar Arumi dengan sedikit sesal di hatinya. "Sudahlah! Aku tidak ingin membahas hal seperti itu di dapurku, karena semua itu hanya akan mengganggu konsentrasiku saja," tolak Arumi dengan tegas.


Seharusnya Diana mengerti dengan sikap tegas Arumi. Akan tetapi, gadis itu seakan ingin lebih meyakinkan dirinya tentang pendapat Arumi. "Kamu yakin, Arum? Kamu tidak apa-apa jika aku menjalin hubungan dengan Moedya?" Tanyanya dengan wajah berseri.


Arumi menghela napas panjang. Ingin rasanya ia melemparkan loyang kosong itu ke wajah manis Diana. Entah sengaja atau tidak, mengerti atau pura-pura bodoh, namun apa yang dilakukan Diana telah membuat Arumi harus menahan emosinya dalam-dalam.


"Aku masih punya banyak pekerjaan, Di. Aku tidak bisa berkonsentrasi jika bekerja sambil mendengarkan ocehanmu. Jika kamu ingin bercerita padaku, maka nanti saja setelah aku benar-benar santai!" Arumi berusaha untuk mengakhiri percakapan itu. Ia muak dengan sikap yang ditunjukan Diana kepadanya.


Diana akhirnya mengerti dengan sikap Arumi. Ia tahu jika Arumi tidak menyukai pembahasannya. Ia juga tidak ingin memperpanjang urusan dengan gadis itu.


"Baiklah, Arum. Aku tahu kamu sedang sibuk. Lagi pula, hari ini aku berencana untuk mampir ke bengkelnya Moedya terlebih dahulu. Mau titip salam untuknya?"


Arumi menatap tajam gadis berambut pendek itu. Sesaat kemudian, Arumi kembali mengalihkan pandangannya pada kue-kue di hadapannya. "Tidak usah! Aku bisa menyampaikannya sendiri. Kami baru bertemu kemarin," sahut Arumi dengan tenangnya.


Seketika raut wajah Diana tampak berubah. Ia menjadi sedikit cemas. Kesombongan yang ia pamerkan baru saja sirna seketika saat mendengar jawaban dari Arumi.


"Kalian masih sering bertemu?" Selidik gadis dengan mini dress itu.


Arumi menoleh untuk sesaat dan tersenyum puas. "Ya. Kemarin kami bertemu dalam waktu yang berturut-turut," sahut gadis dengan sanggul asal-asalan itu. Ada sedikit rasa puas dalam nada bicaranya.


Diana terdiam. Ia terus memperhatikan Arumi yang terlihat begitu tenang. Tidak ada rona sedih, kecewa, apalagi menunjukan rasa cemburu yang berlebihan dari gadis itu.


"Kenapa Moedya tidak bercerita kepadaku?" Gumam Diana pelan seperti pada dirinya sendiri.


Arumi menyudahi pekerjaannya. Ia lalu melepas sarung tangan plastik yang dipakainya dan meletakan kedua benda itu di atas meja. Setelah itu, ia kembali mengarahkan tatapannya kepada Diana.


Putri dari Adrian Winata itu tahu persis jika sahabat lamanya itu memang berniat untuk pamer kepada dirinya. Mungkin juga gadis itu ingin agar Arumi cemburu dan memperlihatkan reaksi yang berlebihan, tapi nyatanya Diana telah salah. Arumi tidak sebodoh itu.


"Dengarkan aku, Di! Aku sangat mengenal Moedya! Mungkin kamu harus jauh lebih mendekatkan diri dengannya, sebelum memutuskan untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Itu hanya sekedar saran dariku. Selebihnya ... aku rasa kamu jauh lebih tahu bagaimana caranya menyenangkan seorang pria," Arumi mengakhiri kata-katanya dengan sebuah sindiran yang cukup pedas.


Diana terdiam untuk sesaat. Malas bagi dirinya untuk meladeni gadis seperti Arumi. Ia sangat mengenal watak gadis itu. Arumi, hanya wajahnya saja yang terlihat manis. Akan tetapi, karakternya jauh lebih keras dari yang terlihat di luar.


"Ya, sudah. Sebaiknya aku pulang saja. Mamaku berpesan agar aku pergi tidak terlalu lama. Terima kasih, Arum. Dah ...." Diana melambaikan tangannya dan berlalu begitu saja dari dalam dapur. Ia tidak peduli meskipun Arumi tidak menggubris dirinya.


"Aku ada urusan mendadak dan mungkin akan lama, jadi hari ini kita akan tutup lebih awal," ucap Arumi pada kedua gadis itu.


"Jadi kita akan tutup sekarang, Mbak?" Tanya salah seorang dari gadis itu.


Arumi menganguk. "Lagipula nanti malam adalah malam Minggu. Kalian bisa berdandan dari sekarang untuk persiapan kencan," ujar Arumi sambil tersenyum kecil.


Kedua gadis itu hanya cekikikan mendengar candaan dari Arumi. Tidak berselang lama, mereka pun segera menutup toko sesuai dengan perintah dari Arumi.


Cuaca hari ini tidak jauh beda dengan kemarin-kemarin. Mendung dan dingin. Sepertinya hari ini, hujan akan kembali turun dengan deras.


Arumi mempercepat langkahnya. Akan tetapi, kali ini ia tidak terlalu risau karena ia telah membawa payung lipat di dalam tasnya.


Beberapa saat lamanya melangkahkan kaki menyusuri trotoar, Arumi kemudian memasuki halaman sebuah bengkel yang sudah lama tidak ia datangi semenjak tiga tahun yang lalu.


Berdiri tidak jauh dari bengkel itu, Arumi menunggu si pemilik bengkel keluar dan menyambutnya, meskipun nyatanya si pemilik bengkel tersebut tidak mengetahui jika hari itu ia akan ke sana. Gadis itu hanya mematung ketika ia melihat si pemilik bengkel keluar.


Setelah berpikir untuk sejenak, Arumi kemudian mengeluarkan ponselnya. Ia lalu menghubungi seseorang di seberang sana.


"Hallo ...." terdengar suara berat seorang pria di ujung telepon. Arumi tidak menjawab. Ia hanya berdiri mematung.


"Hallo ...." terdengar lagi suara itu, begitu dalam dan seketika membuat tubuh Arumi merinding.


Pria yang tiada lain adalah Moedya, mengedarkan pandangannya ke sekitar bengkelnya. Pada akhirnya, tatapan matanya terpaku pada sesosok tubuh ramping yang tengah berdiri tidak jauh dari bengkelnya. Gadis yang tengah menatap ke arahnya.


Moedya segera menutup sambungan teleponnya. Untuk beberapa saat lamanya, mereka berdua hanya saling pandang. Mungkin saja, mereka tengah berpikir dan mengumpulkan keberanian masing-masing untuk kembali saling menyapa.


Titik-titik air hujan mulai jatuh. Moedya akhirnya mengetik sebuah pesan dan mengirimkannya kepada Arumi.


Kemarilah!


Arumi tersenyum kecil setelah membaca pesan itu. Akan tetapi, ia tidak menuruti isi pesan dari Moedya. Ia masih tetap berdiri mematung di tempatnya, padahal gerimis sudah mulai turun. Moedya tahu dan sangat mengenal Arumi. Ia juga tahu apa yang harus ia lakukan.


Diambilnya sebuah payung dari dalam bengkelnya. Ia lalu berjalan keluar dari bengkelnya dan menghampiri gadis itu.


Berdiri dengan saling berhadapan di bawah payung yang sama, mereka berdua hanya saling memandang tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Arumi tidak tahu apa yang harus ia katakan, sementara Moedya, ia ingin menikmati untuk dapat menatap gadis itu dengan lebih lama.


Gerimis mulai berganti dengan guyuran hujan deras. Namun mereka masih berdiri di sana dan tidak mempedulikan hal itu. Hingga beberapa saat kemudian, Moedya tersadar. Diraihnya pergelangan tangan Arumi, dan diajaknya gadis itu untuk masuk ke dalam bengkelnya.