
Arumi menatap lekat wanita yang telah merawat Edgar selama ini. Ia merasa semakin penasaran. Arumi kemudian duduk di dekat wanita itu dengan tatapan yang masih ia layangkan kepadanya.
“Bibi mencintai tuan Guzman?”selidik Arumi.
Carmen mengangguk pelan. “Hingga saat ini, bahkan setelah ia telah lama tiada. Aku masih menyimpan dan menjaga perasaan itu dengan baik. Aku tidak ingin mengakhirinya meskipun itu sebuah kesalahan,” jawab Carmen dengan suaranya yang kembali bergetar. Ia seakan tengah menahan tangisnya.
“Apakah tuan Guzman tidak pernah mengetahui hal itu sama sekali?” tanya Arumi lagi.
Carmen menggeleng pelan. “Aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku terhadapnya,” jawabnya pelan.
“Kenapa, Bibi?”
Carmen menoleh. Tatap matanya masih sayu. Kepedihan itu masih terlihat jelas pada raut wajahnya yang telah dihiasi kerutan di mana-mana. “Tuan Guzman adalah pria yang sangat tampan. Penampilannya selalu rapi. Pakaiannya, rambutnya, ia sangat mirip dengan Edgar saat ini. Aku telah jatuh cinta sejak pandangan pertama, saat aku baru menginjakan kakiku di rumah ini. Akan tetapi, tuan Guzman adalah pria yang setia. Ia tidak pernah berpaling ataupun berbuat nakal. Nyonya Guzman yang mengatakan hal itu kepadaku. Namun, anehnya ... semakin aku mengetahui betapa setianya ia, maka rasa cintaku padanya justru semakin bertambah dan tidak mampu untuk kubendung lagi,” Carmen terdiam untuk sesaat. Ia kemudian menyeka sudut matanya.
Sementara Arumi masih terdiam dan menunggu untuk kelanjutan cerita itu dengan rasa penasaran yang kian besar.
“Tuan Guzman tidak berniat membuka hatinya untuk wanita manapun, bahkan setelah ia menghabiskan waktu yang cukup lama dalam kesendirian. Terlebih dengan kehadiran Edgar saat itu, ia semakin menjauh dari romantisme percintaan dan memilih untuk fokus merawat Edgar. Anak itu sangat beruntung,” Carmen melanjutkan ceritanya. Sedangkan Arumi masih mendengarkanya dengan setia.
Sesaat kemudian, Carmen mengalihkan tatapannya kepada Arumi. Arumi pun balas menatapnya. “Kau tahu kenapa aku meragukanmu, Arum?” tanya Carmen dengan nada bicaranya yang masih terdegar sangat lesu dan tidak bersemangat. Arumi menggeleng pelan.
“Karena Edgar pernah mengatakan padaku jika kau sangat mencintai kekasihmu, bahkan setelah kau berpisah dengannya. Aku tahu seperti apa rasanya menjaga perasaan cinta dan memupuknya untuk terus tumbuh. Hal itu yang membuatku merasa tidak membutuhkan cinta yang lain, meskipun apa yang aku rasakan hanya sebuah cinta sepihak. Namun, perasaan itu begitu indah. Aku yakin kau pasti dapat memahaminya, Arum,” jelas Carmen. Arumi semakin terdiam dan berpikir. Apa yang dikatakan oleh Carmen memang ada benarnya juga. Ia tahu betul, betapa ia merasa kesulitan untuk dapat melepaskan perasaannya dari Moedya.
“Aku sangat memahami hal itu, Bibi. Namun, aku juga tidak mengerti karena perasaan yang telah kukubur dengan dalam untuk Edgar, bisa kembali hadir bahkan dengan jauh lebih besar dari sebelumnya. Aku memang kesulitan untuk melakukan hal itu, tapi Bibi harus tahu jika aku sudah melepskan diriku dari semua kenangan indah masa laluku. Untuk saat ini, aku hanya ingin menatap Edgar seorang, tidak ada pria yang lain,” tutur Arumi.
“Aku tidak akan memaksa Bibi untuk dapat memercayaiku. Namun, satu hal yang pasti, aku mencintai Edgar dengan segenap ketulusan di dalam hatiku,” ucap Arumi lagi dengan begitu yakin.
......................
Beberapa waktu telah berlalu. Musim dingin kini telah berganti menjadi musim semi yang menakjubkan. Bunga-bunga bermekaran dan suasana terasa begitu indah.
Hari ini, matahari bersinar dan memberikan rasa hangatnya. Hal itu membuat Arumi ingin bersantai sejenak di luar. Arumi duduk sendiri pada sofa yang berada di sekitar area kolam renang.
Arumi baru saja mendapat telepon dari Keanu yang mengabarkan bahwa Moedya akan menikah lusa. Tentu saja Arumi merasa senang saat mendengarnya. Ia telah melepaskan semua perasaannya terhadap pria itu, dari semenjak ia mulai membuka hatinya kembali untuk Edgar.
Perselisihannya dengan Carmen pun sudah berakhir. Wanita itu meminta maaf atas semua prasangka buruknya terhadap Arumi. Hal itu ia lakukan setelah perbincangan panjang di antara mereka berdua. Carmen juga selalu memerhatikan kedekatan antara Arumi dan Edgar yang tampak sangat harmonis.
Dengan senang hati Arumi memeluk wanita paruh baya itu. Bagaimanapun juga, Carmen adalah wanita yang baik dan sangat perhatian. Tidak ada alasan bagi Arumi untuk membenci wanita itu. Ia juga meminta maaf kepada Carmen, atas sikap lancangnya sebagai seseorang yang jauh lebih muda. Intinya, kini hubungan antara Arumi dan Carmen sudah baik-baik saja.
Sudah dua hari Edgar pergi ke luar kota. Tadinya, Arumi ingin berkunjung ke Marseille, tetapi Edgar tidak mengizinkannya pergi seorang diri. Alhasil, ia harus menunggu sang suami untuk kembali dari urusan bisnisnya.
“Arum, ada tamu untukmu,” Carmen tiba-tiba sudah ada di sana dan mengejutkan Arumi. Wanita muda itu menoleh seraya mengelus dadanya. Sementara Carmen hanya tertawa pelan.
“Siapa, Bibi?” tanya Arumi penasaran. Kali ini ia benar-benar meletakan majalah itu di atas meja.
“Nona Rupert,” jawab Carmen. “Maksudku ... Mirella,” ralatnya dengan agak ragu. Ia tahu jika Mirella bukanlah tamu yang diharapkan kedatangannya oleh Arumi. Akan tetapi, ternyata anggapan Carmen tidaklah tepat. Arumi segera beranjak dari duduknya dan berlalu ke dalam rumah.
Di ruang tamu dengan interior mewah itu, Mirella telah menunggu Arumi untuk menemuinya. Wanita berambut pendek dengan mata abu-abu itu tersenyum kecil ketika melihat yang ia tunggu telah berada di sana. Segera ia menyambut Arumi meski tanpa peluk cium ataupun sebuah jabat tangan yang hangat.
“Hai, Arum. Apa kabar?” sapa Mirella dalam bahasa Perancis tentunya.
“Baik,” jawab Arumi pendek. Ia tidak bersikap ramah sama sekali. Ya, Arumi tidak tertarik untuk memberikan salam persahabatan kepada wanita muda yang merupakan mantan gadis pirang Edgar.
“Di mana Edgar?” tanya Mirella. Dengan tanpa ragu ia menanyakan pria yang telah menjadi suami Arumi.
“Tidak tahu malu!” gumam Arumi dalam hatinya.
“Kau kemari ingin menemuiku atau suamiku?” tanya Arumi dengan ketus. Sebuah pertanyaan yang telah membuat Mirella tertawa geli. Ia dapat merasakan ada kecemburuan dalam nada bicara dan sorot mata Arumi yang ditujukan kepada dirinya.
“Jujur saja, tadinya aku ingin menemui Edgar, tapi bibi tadi mengatakan jika Edgar sedang pergi. Jadi, ya sudah aku bicara denganmu saja,“ jawab Mirella dengan entengnya. “Apa kau tidak akan memersilakanku untuk duduk, Arum?”
Arumi tidak menjawab. Ia masih merasa canggung dengan Mirella, karena mereka belum saling menenal. Lagi pula, Arumi sudah mendengar cerita tentang wanita yang merupakan adik kandung dari Benjamin, pria yang mengaku telah terobsesi kepada dirinya setelah sekian lama. Oh ... mereka sepasang kakak-beradik yang luar biasa.
Tanpa banyak berbasa-basi, Arumi memersilakan Mirella untuk duduk. Setelah itu, ia pun mengikutinya. Arumi melayangkan tatapan tajamnya kepada wanita berambut pendek dengan mata abu-abunya yang indah, yang juga tengah menatapnya.
“Aku tidak menyangka jika kau masih memiliki keberanian untuk datang lagi kemari, setelah semua yang telah kau dan kakakmu lakukan terhadapku dan juga Edgar. Kalian berdua seharusnya tidak pantas untuk kuajak bicara lagi!” cibir Arumi dengan sikap ketusnya.
Mirella tersenyum kecil. Ia tidak membantah ucapan bernada tidak ramah yang ditujukan Arumi kepada dirinya. “Aku bisa memahami hal itu, Arum. Akan tetapi, aku sudah menyadari segalanya. Aku tahu jika aku sudah tidak pantas untuk mengharapkan agar Edgar dapat kembali padaku. Ia sudah melupakan semua hal indah yang pernah kami lalui, tapi itu tak apa. Setidaknya, aku pernah merasakan seberapa luar biasanya Edgar saat di tempat tidur,” Mirella mengakhiri kata-katanya dengan sebuah tawa puas yang terkesan mengejek.
“Dasar ja•lang!” umpat Arumi.
Mendengar sebutan itu, Mirella segera terdiam. “Kau salah, Arum! Dulu aku dan Edgar memiliki sebuah ikatan yang sangat manis dan penuh gairah. Kami menghabiskan banyak waktu bersama. Dia bahkan pernah mengajakku berlibur ke Maldives. Kau tahu bukan pemandangan di sana sangat indah. Edgar selalu memuji kecantikanku. Dia bahkan membelikanku beberapa pakaian renang yang sangat cantik dan sesuai dengan seleranya,” ucap Mirella lagi membuat Arumi ingin segera menendangnya keluar dari rumah itu.