Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Seperti Pandangan Pertama


"Berapa lama kamu mengenal Moedya? Kalian menghabiskan waktu bersama bukan hanya dalam waktu satu atau dua bulan saja, Arum," ujar Puspa.


Arumi tidak menjawab. Keyakinan dalam hatinya mulai tidak dapat ia pegang lagi. Arumi kini seakan sudah kehilangan penglihatan mata hatinya atas diri Moedya. Ia seakan tidak dapat menilai pria itu dengan baik.


"Apa menurutmu akan semudah itu bagi Moedya untuk melupakanmu? Sementara kamu sendiri begitu kesulitan untuk dapat melupakannya," ujar Puspa lagi membuat perasaan Arumi kian serba salah.


"Dia bersikap sangat dingin padaku. Dia tidak seperti biasanya, Kak," sanggah Arumi.


Puspa tertawa pelan. "Kamu berharap Moedya bersikap manis padamu, sementara kamu terus memperlihatkan kebersamaanmu dengan Edgar! Bagaimana sikapmu saat kamu melihat Moedya tengah bersama gadis lain? Apakah kamu akan merasa baik-baik saja?" Puspa menggelengkan kepalanya dengan perlahan.


 


"Arum, kamu sangat mengenal Moedya. Kamu tahu dia seperti apa, bukan? Karakternya, kebiasaannya. Sifat dasar seseorang tidak mungkin dapat berubah dengan begitu cepat! Tiga tahun memang bukan waktu yang sebentar, tapi juga bukan waktu yang lama!" Tegas Puspa lagi membuat Arumi semakin berpikir.


"Iya, Kakak benar. Namun kini Moedya sudah menemukan penggantiku," sesal Arumi.


"Kamu yakin itu, Arum? Kamu sudah menanyakan hal itu kepada Moedya secara langsung?" Tanya Puspa.


Arumi lagi-lagi terdiam.


"Jangan hanya menerka, Arum! Semakin kamu menerka maka kamu akan semakin penasaran, dan pada akhirnya kamu mendapatkan jawaban yang datang dari pikiranmu sendiri."


"Jika yang kamu pikirkan adalah benar, maka itu tidak akan menjadi suatu masalah. Akan tetapi, ceritanya akan menjadi lain ketika kamu menerka dan mencari jawaban sendiri yang ternyata merupakan suatu kekeliruan yang besar! Itu tidak bagus, Arum," Puspa terdengar sangat bersemangat dalam memberikan petuahnya untuk Arumi.


Keanu mungkin dianggap salah dalam memilih wanita. Akan tetapi, ia telah membuktikan jika ia tidak keliru dalam memilih ibu untuk anak-anaknya.


Puspa memamg bukan wanita suci dari golongan darah biru. Namun ia telah membuktikan jika dirinya layak, untuk menjadi pendamping seorang Keanu.


"Sejak kalian berpisah, Moedya kerap datang kemari. Aku pernah beberapa kali melihatnya tengah memandangi foto keluarga Winata. Aku yakin jika ia tidak sedang menatap wajah ibu Ryanthi," Puspa kembali memanasi hati Arumi agar gadis itu kembali bangkit untuk dapat memperbaiki keadaan yang kacau, antara dirinya dan Moedya.


Arumi semakin merasa termotivasi dengan adanya perbincangan antara dirinya dan Puspa. Ia baru sadar, jika menyendiri bukanlah ide yang bagus dalam menyelesaikan masalahnya. Ia hanya semakin menutup pintu jalan keluar dan membiarkan hatinya berada di dalam kegelapan.


Malam kian larut. Namun Arumi masih termenung di dekat jendela kamarnya. Ada banyak hal yang tengah ia pikirkan. Tiba-tiba ia teringat pada hadiah yang dibawakan Edgar untuknya. Ada rasa penasaran di dalam hatinya. Akan tetapi, ia terlalu malas untuk membuka hadiah itu. Arumi lebih memilih untuk membuka lemari kaca miliknya.


Lemari besar yang dipenuhi oleh deretan dress cantik miliknya. Arumi menyibakan dress itu satu persatu, semuanya masih tertata dengan rapi.


Pandangannya kini tertuju pada lemari kaca yang lain. Lemari yang tidak kalah besarnya dan berisi deretan sepatu cantik berwarna-warni dengan berbagai macam. Dari mulai flat shoes hingga high heels dengan hak yang cukup tinggi, yang akan membuat tubuhnya kian menjulang.


Arumi tersenyum tipis. Ia memiliki kehidupan nyaman yang telah lama ia tinggalkan, hanya untuk menyendiri. Ia bahkan harus tidur di atas ranjang kecil dan mandi dengan menggunakan gayung. Ya, tidak mungkin ia masuk ke dalam bak mandi berukuran kecil, meskipun dalam hati ia sangat ingin berendam di dalam lautan busa dengan lilin aroma terapi yang menenangkan.


Tersenyum lebar, Arumi menyapu seluruh ruangan itu. Walk in closet miliknya yang akan membuatnya menjadi Arumi yang dulu, dan ia siap untuk terlahir kembali.


Arumi menyentuh bagian depan sedan putih miliknya. Sudah sangat lama ia tidak membelah jalanan kota dengan mobil yang merupakan hadian dari almarhum Adrian, sebagai penyambutan atas kepulangannya dari Paris.


Dengan mini dress berwarna biru elektrik yang dilengkapi pump shoes tiga sentimeter berwarna putih, Arumi menggerai rambutnya yang indah. Rambut layer panjang dengan sedikit poni samping sebagai pemanis, ia biarkan menjuntai dengan cantik di atas bahu sebelah kirinya.


"Mau pergi, Arum?" Terdengar suara Keanu yang telah berhasil mengejutkan gadis dua puluh enam tahun itu. Arumi kemudian menoleh dan tersenyum kepada sang kakak.


Keanu lalu menghampiri adik tersayangnya. Ia sudah terlihat rapi dengan memakai kemeja lengan pendek. Seperti biasa, ia selalu terlihat kalem dan juga formal.


"Kakak akan pergi?" Arumi balik bertanya.


"Ya. Kakak sudah janji akan mengajak Dinan ke arena bermain. Kamu tahu sendiri bukan, jika Dinan adalah anak laki-laki yang cerewet," jawab Keanu sambil menggelengkan kepalanya perlahan.


"Ya ... dan aku harus membuat perhitungan dengannya!" timpal Arumi dengan gemas.


Keanu seketika tergelak mendengar ucapan Arumi. Ia mengerti kenapa Arumi sampai berkata seperti itu. "Mulai hari ini kamu harus berhati-hati dalam mengatakan sesuatu kepada Dinan! Dia akan membuatmu dalam masalah besar, Arum!" Keanu kembali tergelak. Sedangkan Arumi terlihat menahan rasa gemasnya kepada keponakan kecilnya itu.


"Boleh aku tahu kamu mau ke mana?" Selidik Keanu, meskipun sepertinya ia sudah dapat menebak ke mana Arumi akan pergi siang itu.


Arumi melirik sang kakak. Ia kemudian tersenyum. Sebuah senyuman yang telah lama menghilang dari wajah cantiknya.


"Aku harus membereskan sisa-sisa bencana yang masih berantakan," jawab Arumi dengan gaya bicaranya yang khas.


Keanu tersenyum lebar. Meskipun nada bicara gadis itu terdengar sedikit keras dan agak ketus, namun itu justru sesuatu yang Keanu sukai, karena itu artinya Arumi telah kembali pada dirinya yang dulu.


"Akhirnya jiwa yang mengembara itu telah kembali pada si pemilik tubuh," celoteh Keanu. "Aku harap kamu tidak lupa bagaimana caranya menyetir, Arum!" Lanjut Keanu membuat Arumi mendelik ke arahnya.


"Kakak tidak perlu khawatir! Meskipun aku sudah terlalu lama bertapa, tapi itu tidak akan membuatku menjadi pikun sebelum waktunya," sahut Arumi dengan seenaknya. Ia kemudian menurunkan kaca mata hitam yang sedari tadi berada di atas kepalanya. Arumi pun masuk ke mobilnya.


Membunyikan klakson sebanyak tiga kali, Arumi menyuruh Keanu untuk menyingkir dari jalannya.


Pria itu tertawa lebar seraya mengangkat tangan kanannya. Ia lalu bergeser ke sebelah kiri dan mempersilakan mobil Arumi untuk segera lewat. Tidak lupa Keanu juga melambaikan tangannya ketika mobil sedan putih itu mulai melaju dan meninggalkan halaman rumah megahnya.


Dengan wajah yang berseri, Arumi terus memacu kendaraannya diiringi alunan penuh semangat dari LeAnn Rimes-Lifes Goes On.


Selang beberapa saat lamanya di perjalanan, Arumi akhirnya tiba di tempat yang ia tuju, yaitu bengkel milik Moedya. Arumi segera memarkirkan mobilnya dan keluar. Kedatangannya di bengkel itu, tentu saja menjadi pusat perhatian semua yang ada di sana, tidak terkecuali pria berambut gondrong yang memakai kaos singlet hitam dengan lengannya yang dihiasi tato.


Arumi menaikan kaca mata hitamnya dan membalas tatapan pria itu. Pandangan mata keduanya begitu lekat dan seakan-akan menjadi sebuah pandangan pertama bagi mereka berdua.