Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Bienvenue à Marseille


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya Arumi kini sudah berada di rumah keluarga besar Adrian. Emanuelle dan istrinya Brigitte, segera menyambut kedatangan keponakannya yang cantik dengan sangat antusias. Pasalnya, sejak pemindahan makam Ryanthi ke sana, Arumi ataupun Keanu belum berkunjung lagi ke kediaman mereka.


Seorang gadis berambut coklat datang menghampiri Arumi. Ia memeluk Arumi dengan hangat. Gadis itu adalah Chantal. Ia merupakan anak angkat dari Emanuelle dan Brigitte.


“Apa kabar, Arum?” Sapa gadis yang berusia dua tahun lebih muda dari Arumi. Ia adalah gadis yang ramah dan ceria.


“Seperti yang kamu lihat, aku sangat bahagia kali ini,” jawab Arumi tanpa melepas senyumannya. Ia lalu mengikuti Chantal menuju kamar yang sudah disiapkan untuknya.


“Aku harap kamu tinggal sedikit lebih lama di sini, Arum,” ujar Chantal seraya duduk di tepian tempat tidur. Wajah khas gadis Eropa terlihat jelas padanya.


“Memangnya kenapa?” Tanya Arumi seraya melirik sepupunya itu


Chantal naik ke atas tempat tidur dan memeluk sebuah bantal. “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa senang karena ada teman mengobrol,” jawab gadis dengan bola mata berwarna hijau itu. Bola mata yang terlihat sangat indah.


Arumi tersenyum lembut. Belum sempat ia menanggapi ucapan dari Chantal, ponselnya telah lebih dulu berdering. Arumi segera menjawab panggilan itu, terlebih setelah ia melihat nama si pemanggil. Siapa lagi jika bukan panggilan dari tuan Hilaire yang tampan.


Edgar menanykan keberadaan Arumi saat itu. Arumi mengatakan jika dirinya baru saja tiba di kediaman keluarganya di Marseille. “Kamu tenang saja! Usiaku sudah dua puluh enam tahun dan aku mengikuti kelas taekwondo,” ujar Arumi menanggapi semua petuah dari Edgar dengan sangat tenang.


Hanya sebentar mereka berbincang dalam sambungan telepon, lagi pula Arumi merasa tidak nyaman karena sejak tadi Chantal tersenyum ke arahnya dengan tatapan menggoda. Gadis berambut coklat itu sudah dapat menebak dengan siapa Arumi berbicara barusan.


Setelah Arumi selesai dengan panggilan teleponnya, ia kembali melirik sepupunya yang sejak tadi terus memerhatikannya.


“Siapa pria beruntung itu, Arum?” Tanya Chantal dengan setengah menggoda dan membuat Arumi sedikit tersipu.


“Seseorang yang sangat luar biasa. Pria yang paling tampan tentunya,” jawab Arumi seraya tertawa geli.


“Wow! Aku menjadi gadis yang sangat penasaran saat ini,” balas Chantal diiringi tawa geli pula. “Kapan-kapan, kenalkan dia padaku!” Pintanya.


“Tentu,” sahut Arumi yang saat itu tengah sibuk membereskan isi kopernya.


Chantal kemudian beranjak dari atas tempat tidur. Ia menghampiri Arumi yang sedang membereskan pakaiannya ke dalam lemari. “Jika kamu sudah tidak lelah, aku ingin mengajakmu keluar,” ucap gadis itu.


Arumi menghentikan pekerjaannya. Ia lalu melirik ke arah sepupunya. “Ke mana?” Tanyanya. Penasaran dan sangat tertarik, itulah yang dirasakannya saat itu.


“Hanya jalan-jalan, makan ... kita bersenang-senang!” Chantal berseru pelan. Ia tidak ingin jika suaranya sampai terdengar oleh sang ibu.


Brigitte memang memiliki peraturan yang cukup ketat bagi putrinya. Karena itu, Chantal hanya bisa mencuri-curi kesempatan jika ingin pergi dengan teman-temannya.


“Bagaimana jika besok saja, Cha? Sore ini aku ingin ke makam orang tuaku dulu,” ucap Arumi.


Rumah milik Emanuelle terletak tidak terlalu jauh dari pelabuhan, bahkan pemandangan pelabuhan pun dapat terlihat dengan jelas, melalui beberapa bagian dari rumah itu. Salah satunya dari kamar yang Arumi tempati saat ini.


Kamar itu memang tidak semewah kamar yang Arumi tempati di kediaman Edgar, tetapi suasana kamar itu sangat nyaman. Nuanasa Eropa terasa begitu kental di dalam kamar itu.


Sore itu, Arumi tengah menuju ke tempat dimakamkannya Adrian dan Ryanthi. Tempat pemakaman itu tidak terlalu jauh dari kediaman Emanuelle, karena itu merupakan tempat pemakaman keluarga besar Adrian.


Arumi pergi ke sana dengan berjalan kaki. Setelah membeli bunga, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju ke tempat tujuannya.


Menyusuri jalanan yang memang tidak terlalu ramai, Arumi sempat tertegun beberapa kali. Entah kenapa, ia merasa jika ada seseorang yang tengah mengikutinya. Arumi memberanikan diri untuk menoleh. Akan tetapi, ia tidak melihat ada siapapun di sekitar sana. Tidak ada hal yang terlihat mencurigakan baginya.


Arumi sudah memasuki area pemakaman itu. Ia mempercepat langkahnya menuju makam kedua orang tuanya. Gadis itu kemudian berdiri di antara makam milik Adrian dan Ryanthi. Ia lalu meletakan bucket bunga yang dibawanya tadi.


Ditatapnya kedua pusara itu. Beberapa tahun telah berlalu semenjak kepergian kedua orang tuanya. Ada banyak hal yang telah berubah tentunya. Ada banyak cerita yang tidak kedua orang tuanya saksikan, dan itu menjadi suatu kepedihan yang tidak dapat dipulihkan sama sekali.


Arumi tidak dapat lagi berbagi air mata dan tawa dengan mereka. Tidak ada nasihat-nasihat dengan kata-kata puitis yang penuh makna dari keduanya.


Perlahan Arumi menyentuh sudut matanya. Ia sudah tidak harus menangis lagi kini. Hidup akan terus berjalan dan waktu tidak akan pernah menunggu siapapun juga. Kita yang harus mengejarnya atau kita akan tertinggal dan akhirnya merasakan suatu penyesalan yang dalam.


“Ibu, dulu ibu selalu mengatakan jika Edgar adalah pria yang baik. Namun, aku selalu membantahnya. Aku bahkan pernah mengatakan ... seandainya aku tidak berakhir dengan Moedya, maka aku tidak akan kembali kepada Edgar. Maafkan aku ibu, aku meralat semua kata-kataku. Edgar ... dia bersikap sangat baik padaku dan membuatku sangat terkesan. Dia mengingatkanku pada cerita ibu tentang ayah. Aku tidak mampu menolaknya. Dia begitu sempurna dan ....” Arumi tersenyum kecil untuk sesaat.


“Ibu tahu jika ia sangat tampan. Aku harap ayah tidak cemburu karena aku mengagumi ketampanan pria lain selain ayah. Ayah akan selalu menjadi Tuan Tampan dan yang paling hebat untukku,” Arumi terdiam untuk sejenak.


Beberapa saat kemudian, Arumi kembali melanjutkan kata-katanya, “Aku ingin sekali bercerita banyak hal dengan kalian. Aku akan berada di sini untuk beberapa hari. Aku berjanji akan membawakan kalian bunga setiap hari, sebagai penebus dari rasa rinduku karena terlalu lama tidak datang berkunjung. Oh iya, kakak menitip salam untuk ayah dan ibu. Anak keduanya sudah lahir. Namanya Jenna. Dia cantik seperti kak Puspa."


Arumi kembali terdiam. Ia merasakan hembusan angin yang terasa begitu sejuk pada senja itu. Sebentar lagi akan memasuki musim gugur. Musim yang sangat Arumi sukai, tapi sayang ia tidak dapat menikmati indahnya musim gugur di Perancis karena ia harus kembali ke Indonesia.


Selang beberapa saat kemudian, Arumi memutuskan untuk pulang. Lagi-lagi, ia harus kembali tertegun. Sesekali, gadis itu menoleh ke belakang. Ia merasa jika ada seseorang yang tengah mengikuti dan mengawasinya sejak tadi. Arumi kemudian mempercepat langkahnya. Akan tetapi, ia tidak langsung menuju ke rumah Emanuelle. Arumi lebih memilih untuk berbelok dan masuk ke sebuah restaurant.


Arumi tertegun di dalam restaurant itu. Ia tidak tahu harus apa, karena pada awalnya ia memang tidak berniat masuk ke sana. Arumi juga tidak merasa lapar, tetapi ia merasa jika dirinya harus bersembunyi untuk sejenak.


Gadis cantik berlesung pipit itu kemudian mulai mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan di sana. Suasananya terasa sangat nyaman dan teduh. Kebetulan, saat itu pengunjungnya juga sedang tidak terlalu ramai. Jadi, tidak ada salahnya bagi Arumi untuk bersantai sejenak di sana.


Gadis itu bermaksud untuk menuju meja yang ia rasa berada di sudut paling nyaman baginya, untuk bersantai dan bersembunyi. Akan tetapi, sebelum ia sempat melangkah, Arumi harus kembali tertegun karena sapaan seorang pria kepadanya.


“Arum, kau di sini?” Tanya pria itu dengan suara beratnya. Suara itu telah membuat Arumi seketika menoleh kepadanya.


"Bienvenue à Marseille ...." ucap pria itu lagi dengan senyum terkembang. Sebuah sambutan yang hangat bagi Arumi, yang mencoba mengingat-ingat siapakah pria yang kini ada di hadapannya.