
Arumi kembali duduk manis dan memasang sabuk pengamannya. Saat itu, Edgar tengah menerima telepon dari Carmen. Raut wajahnya masih terlihat dingin dan datar, tapi nada bicaranya terdengar jauh lebih lembut kepada wanita paruh baya itu.
Edgar terus menjalankan mobilnya. Hal itu membuat Arumi merasa aneh. Jalan yang dilaluinya bukanlah jalan menuju ke kediamannya, melainkan jalan menuju apartemen milik Edgar.
Arumi ingin bertanya, tetapi niat itu ia urungkan, dan ia lebih memilih untuk diam. Namun, senyum kecil itu terlihat menghiasi bibirnya. Arumi tidak tahu untuk apa Edgar membawanya ke sana.
Apakah Edgar sudah menyiapkan sebuah kejutan untuknya? Arumi tidak ingin menerka-nerka. Lebih baik ia diam dan melihat apa yang akan dilakukan pria itu selanjutnya.
Edgar sudah memarkirkan mobilnya. Tanpa banyak bicara, ia keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Arumi. Gadis itu keluar dengan senyuman manis di wajahnya. Namun, Edgar tidak memedulikannya. Pria itu berlalu begitu saja mendahului Arumi menuju lift.
Selama di dalam lift, tidak ada percakapan di antara mereka. Edgar masih dengan sikap dinginya, dan Arumi hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman. Hingga akhirnya mereka sampai di ruang apartemen milik Edgar.
Pria itu melangkah keluar terlebih dahulu dari dalam lift. Arumi segera mengikutinya. Ia lalu menarik pergelangan tangan calon suaminya, hingga Edgar menghentikan langkahnya dan menoleh.
Masih dengan senyuman manisnya, Arumi berdiri tepat di hadapan pria yang masih memerlihatkan rasa kesalnya. Arumi kemudian menangkup wajah tampan dengan janggut tipis itu. Sesaat kemudian ia segera mendaratkan ciumannya, meskipun Edgar hanya mematung dan tidak meresponnya sama sekali. Arumi tidak memedulikan hal itu. Ia hanya ingin agar Edgar segera mengakhiri sikap menyebalkannya.
“Katakan apa yang harus kulakukan agar kamu berhenti bersikap seperti ini?” bisik Arumi tanpa menyingkirkan tangannya dari wajah tampan Edgar.
Edgar mengembuskan napas beratnya yang terasa begitu hangat di wajah Arumi. “Aku selalu merasa cemburu setiap kali melihatmu dengan pria lain, terlebih pria itu adalah Moedya. Mengertilah, Arum!” ungkap Edgar. Ia telah menurunkan harga dirinya dan mengakui sesuatu yang selama ini pantang dilakukan oleh seorang Edgar Hillaire terhadap para gadisnya. Akan tetapi, tentu saja Arumi sangat berbeda. Edgar selalu menunjukkan rasa cemburunya terhadap gadis itu.
“Seperti yang pernah kurasakan dulu, Ed. Itu juga yang menjadi alasanku kenapa lebih memilih untuk pergi darimu. Namun, aku tidak berharap kamu melakukan hal yang sama terhadapku. Aku tidak ingin ada masalah yang terlalu besar di antara kita. Aku merasa senang jika kamu menunjukkan rasa cemburumu padaku, tapi jangan terlalu lama mendiamkanku seperti ini. Aku tidak menyukainya,” rayu Arumi dengan lemah lembut. Sentuhan halus tangannya masih menguasai sebagian wajah Edgar dan membuat pria itu terdiam.
Edgar menatap Arumi seraya menggelengkan kepalanya. Jelas ia tidak akan sanggup menunjukkan rasa marahnya dengan terlalu lama kepada gadis itu, terlebih mereka akan segera menikah. Edgar kemudian tersenyum dengan kalemnya.
“Aku bukan pria yang mudah cemburu, Arum. Namun, saat ini ... entahlah, terkadang aku merasa bingung dengan diriku sendiri,” Edgar terdiam untuk sejenak. Akan tetapi, tatapannya masih ia layangkan kepada wajah cantik di hadapannya. “Apa yang sudah kamu lakukan padaku? Berapa lama aku mengejarmu, Arum? Apa menurutmu aku akan melepaskanmu begitu saja, dengan sebegitu mudahnya?” Edgar tertawa pelan.
“Bibi Carmen sudah memasak sesuatu yang spesial. Dia ingin agar kamu makan malam di sini,” ucap Edgar lagi. Ia kemudian meraih tangan Arumi dan mengajaknya ke ruang makan. Di sana tampak Carmen yang tengah menyiapkan meja makan dengan aneka menu di atas meja.
Arumi pun memberikan sapaan khas orang Perancis kepada wanita paruh baya itu. Carmen terlihat sangat bahagia melihat Arumi ada di sana. Ia langsung saja menyiapkan segala sesuatunya, berhubung waktu makan malam telah tiba. “Cobalah, Arum! Aku sengaja membawa beberapa bahan dari Perancis, karena menurut Ed ada sebagian yang sangat sulit didapat di sini,” ucap Carmen. Ia menuangkan salah satu menu khas Perancis ke dalam piring Arumi.
Arumi tersenyum manis. Ia mengangguk pelan menunjukkan sikap ramahnya. “Terima kasih, Bibi Carmen,” ucap Arumi. Setelah itu, ia kemudian melirik Edgar. Pria itu masih terlihat kalem. Edgar pun mulai menyantap makanan yang ada di dalam piring di hadapannya.
“Ini makanan kesukaanku, Arum,” ucap Edgar. “Bibi sangat mengetahui semua hal yang aku sukai. Jika kamu merasa belum terlalu mengenalku, maka banyak bertanyalah kepadanya!” Edgar dengan senyum kalemnya yang ia tujukan untuk Arumi. Setelah itu, ia melirik Carmen yang juga sedang tersenyum kepadanya.
Edgar tersenyum seraya mengangguk pelan. Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Arumi. Gadis itu terlihat sedikit aneh ketika mendengar ucapan Carmen. Akan tetapi, senyuman Edgar membuatnya mengabaikan semua perasaan itu. Arumi kemudian mulai mencicipi makanan yang Carmen suguhkan untuknya. Ia merasa yakin jika dirinya bisa membuat makanan seperti itu dengan rasa yang jauh lebih enak.
Tidak ada perbincangan yang berarti di meja makan. Hingga acara makan malam selesai, suasana terasa begitu sepi. Edgar berlalu ke ruangan lain apartemennya untuk menjawab panggilan telepon. Sementara Arumi masih berada di dapur bersama Carmen.
Edgar selalu bercerita tentang betapa baiknya wanita itu. Namun, entah kenapa Arumi merasa begitu canggung ketika berada di dekatnya. Ia ingin bertegur sapa dan berbincang ringan bersama Carmen, tapi wanita itu seakan menjaga jarak dengan dirinya.
Setiap kali Arumi menyentuh sesuatu, pasti selalu ia larang dan langsung ia kerjakan sendiri. Ia seakan tidak ingin jika Arumi ada di sana dan membantunya. Arumi merasa heran. Gadis itupun mengernyitkan keningnya.
“Apakah Bibi ada masalah denganku?” tanya Arumi secara terang-terangan.
Carmen menghentikan aktivitasnya untuk sejenak. Setelah itu, ia kemudian menoleh kepada Arumi yang saat itu tengah menatapnya dengan cukup intens. Gadis itu menyandarkan sebagian tubuhnya pada meja wastafel dan melipat kedua telapak tangannya di dada. Arumi biasa melakukan hal itu setiap kali ia merasa kesal atau tidak nyaman.
“Tidak ada,” jawab Carmen dengan singkat. Setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya.
“Entah kenapa aku melihat sikap Bibi sangat aneh terhadapku. Anggap saja jika itu hanya perasaanku, tapi kenapa Bibi terlihat sangat canggung dan seakan menjaga jarak denganku?” cecar Arumi. Gadis itu memang seperti Ranum yang tidak suka berbasa-basi. Mereka selalu berbicara langsung pada intinya. Begitu lugas.
“Tidak apa-apa, Arum. Aku hanya tidak terbiasa dengan atmosfer di negara ini, di kota ini ....” Carmen terlihat kebingungan. Ia mungkin tidak memiliki persiapan untuk menghadapi Arumi. Carmen tidak mengetahui seperti apa karakter gadis itu, meskipun Edgar seringkali bercerita tentang Arumi kepada dirinya.
Arumi terdiam dengan tatapannya yang masih terus ia layangkan kepada wanita paruh baya itu. Ia masih menantikan sebuah penjelasan atau entah apa yang akan Carmen berikan kepada dirinya. Hingga beberapa saat lamanya Arumi memerhatikan wanita itu. Carmen pun menyadari jika dirinya tengah menjadi pusat perhatian Arumi. Ia sedikit gugup. Tangannya gemetaran dan akhirnya ia menjatuhkan sebuah gelas ketika sedang membilas gelas tersebut. Untung saja gelas itu tidak sampai pecah.
“Kenapa, Bibi? Kenapa Bibi terlihat sangat gugup?” nada bicara Arumi terdengar sangat mengintimidasi bagi wanita paruh baya itu.
Carmen segera mematikan kran yang mengucur di atas bak cuci piring dari bahan stainless yang kini telah kosong. Pekerjaannya telah selesai. Ia kemudian meraih lap dan mengeringkan tangannya yang basah. Setelah itu, ia terdengar mengela napas dalam-dalam.
Entah apa yang menjadi beban dari wanita yang tidak pernah merasakan indahnya berumah tangga di dalam hidupnya. Ia menatap Arumi dengan cukup lekat. Seperti ada sesuatu yang ingin ia utarakan kepada Arumi.
“Bisakah kita bicara sebentar,Arum? Hanya kita berdua. Ini hanya perbincangan antara antara aku dan dirimu.”