
"Sudah kukatakan jika aku tidak peduli hal itu! Dengar, Sayang! Letakan semua pekerjaanmu saat nanti waktunya makan siang tiba! Kita keluar dan makan siang bersama," ucap Edgar dengan yakin meskipun Arumi tidak mempedulikannya.
"Biar kulanjutkan ceritaku," Edgar kembali bicara. "Aku juga sudah yakin untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan kakakmu, dengan begitu ... hubungan di antara kami akan terjalin dengan semakin baik, meskipun aku sebenarnya tidak terlalu mengerti dengan bisnis di bidang pe ...."
"Tolong ambilkan mangkuk itu!" Suruh Arumi. Ia memotong ucapan Edgar dengan seenaknya.
"Yang mana?" Tanya Edgar. Ada beberapa mangkuk di atas meja yang sedang menjadi tempatnya bersandar.
"Yang itu!" Tunjuk Arumi. "Yang berisi mentega cair."
Edgar melihat mangkuk berisi cairan warna kuning. Ia lalu menyodorkannya kepada Arumi.
"Terima kasih," ucap Arumi tanpa menoleh.
"Okay, Arum. Aku tidak terlalu paham dengan perusahaan penerbangan, tapi aku sudah sangat yakin dengan kerja sama ini. Aku bahkan memutuskan untuk membeli sebuah rumah di sini, di Indonesia. Aku rasa aku akan sangat membutuhkannya," tutur Edgar lagi.
"Untuk apa kamu membeli rumah di sini? Rumahmu di Paris sudah jauh lebih dari cukup. Lagi pula ... kamu tidak tinggal di sini, Ed. Menurutku sayang sekali. Kamu hanya akan menghamburkan uangmu," tanggap Arumi meskipun tanpa menoleh kepada Edgar.
"Aku melakukannya agar aku dapat lebih sering berkunjung kemari," sahut Edgar.
"Jangan katakan jika kamu ingin tinggal di Indonesia! Tolong ambilkan mangkuk berisi tepung itu!" Arumi kembali menyuruh Edgar tanpa rasa canggung sedikitpun.
Untuk kali ini, Edgar merasa semakin bingung. Di atas meja ada dua buah mangkuk dengan isi yang sama. "Yang mana, Arum?" Tanyanya.
"Itu yang berisi tepung. Payah sekali kalau kamu sampai tidak tahu!" Ledek Arumi.
"Mereka terlihat sama," sahut Edgar dengan pelan seraya mengernyitkan keningnya.
"Ada perbedaannya, Ed," ujar Arumi. Ia menghentikan aktivitasnya untuk sesaat, kemudian menatap Edgar. Setelah itu, Arumi meraih satu mangkuk dan menyodorkannya kepada Edgar. "Sentuhlah, tapi sedikit saja! Aku tidak mau kamu mengotori bahan-bahanku," ujar gadis itu dengan seenaknya.
Edgar menuruti apa yang Arumi perintahkan. Ia menyentuh permukaan tepung itu dengan ujung telunjuknya dan merasakannya. Setelah itu, Arumi meraih mangkuk kedua. Ia menyuruh Edgar untuk mengulangi hal yang sama. Edgar kembali menurut. Pria dengan postur 180 cm itu, kemudian tertegun dan berpikir. "Bagiku sama saja, Arum," ujarnya.
Arumi tertawa pelan. Ia kembali meletakan mangkuk itu dan mengambil mangkuk pertama. "Ini yang aku butuhkan," ucapnya seraya memperlihatkan mangkuk itu kepada Edgar. Ia lalu memasukan tepung itu ke dalam mixer dan mencampurnya dengan bahan yang lain.
"Mereka berbeda, Ed," ucap Arumi lagi. "Bagimu mungkin mereka terlihat sama. Akan tetapi, tidak bagiku. Ada perbedaan yang sangat besar di antara kedua tepung itu," tutur Arumi.
"Orang-orang memakai terigu protein tinggi untuk membuat donat, tapi aku lebih suka memakai terigu protein sedang. Alasannya karena mereka menghasilkan tekstur yang berbeda ketika donat itu sudah matang nantinya. Pastinya ada kelebihan dan kekurangan dari kedua tepung itu. Ada kalanya aku mencampur mereka, tapi aku sering lupa. Yang kuingat hanyalah terigu protein sedang," terang Arumi. Ia masih melayangkan tatapannya kepada Edgar yang tampak tengah mencerna ucapan dari Arumi.
Edgar yakin jika Arumi tidak sedang memberinya kelas memasak. Gadis itu selalu berbicara dengan gaya bahasanya yang memang perlu dicerna dengan sungguh-sungguh. Untunglah karena Edgar merupakan seseorang yang cakap. Tidak butuh waktu yang terlalu lama bagi dirinya untuk dapat menangkap maksud dari ucapan Arumi.
"Jadi ... kamu anggap aku yang mana?" Tanya pria dengan tatapan lembut itu.
Arumi kembali menghentikan pekerjaannya dan menoleh kepada Edgar. "Aku rasa kamu sudah tahu, Ed. Kamu dapat menebaknya dengan baik," jawab Arumi pelan.
Edgar terdiam untuk sejenak. Ia tampak kecewa meskipun tatapan penuh cintanya, masih tetap ia layangkan kepada Arumi. Gadis itu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Kenapa, Arum? Apakah kesalahanku terlalu besar, sehingga aku tidak pantas lagi untuk mendapatkan cintamu?" Edgar terlihat galau dengan suaranya yang terdengar kecewa.
Arumi tidak segera menjawab. Ia meletakan loyang yang sejak tadi di pegangnya di atas meja. Ia pun tertegun lalu menundukan wajahnya.
"Kita semua pernah melakukan kesalahan, Ed. Aku, kamu, kita berdua tidak lepas dari kesalahan. Aku tidak tahu kenapa kamu terus mengejarku, padahal aku sudah menolakmu dengan sangat tegas. Aku bahkan terkadang bersikap kasar kepadamu, tapi kenapa kamu sangat keras kepala?" Lirih Arumi.
"Karena kamu juga sangat kerasa kepala, Arum! Dulu, aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat mendekatimu dan menjadikanmu milikku. Namun sayangnya, aku memang terlalu bodoh dan ... tidak seharusnya aku membiarkanmu pergi," ujar Edgar dengan penuh sesal. Ia lalu meraih tangan Arumi yang berlumuran tepung karena kebetulan Arumi saat itu lupa memakai sarung tangannya.
"Tidak, Ed! Tanganku kotor," tolak Arumi. Ia merasa risih karenanya. Akan tetapi, Edgar tidak peduli. Ia malah membersihkan telapak tangan Arumi dengan tangannya. Tanpa banyak bicara, Edgar melakukan hal itu. Ia terlihat sangat fokus. Sementara Arumi hanya menatapnya dengan lekat.
Edgar memang pria yang sangat manis dan tahu bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita. Ia memang layak disebut sebagai seorang casanova.
Sesaat kemudian, Arumi tersadar. Ia segera menarik tangannya dari Edgar. Arumi pun melanjutkan pekerjaannya. "Pergilah, Ed! Aku masih punya banyak pekerjaan," usir Arumi dengan datar, tanpa menoleh sedikitpun kepada Edgar.
"Kamu tidak akan menerima ajakanku, Arum?" Edgar masih belum kehilangan semangatnya untuk mengajak Arumi makan siang bersama.
Arumi menggeleng dengan tegas. "Mungkin lain kali," jawab Arumi dengan tidak yakin. Dalam pikirannya kini hanya ada Moedya seorang. Pria yang tadi pagi menemuinya dan membawakan sebuah ciuman manis untuk dirinya.
Sementara Edgar masih terlihat kecewa, tetapi dengan segera ia tersenyum. "Okay, mungkin lain kali. Tidak apa-apa, Arum," ucap Edgar pelan. "Ya, sudah. Silakan lanjutkan kembali pekerjaanmu. By the way, Arum ... aku harap kamu berhenti untuk bersikap egois. Tidak ada salahnya melakukan sesuatu seperti orang kebanyakan. Aku rasa, hal itu tidak akan membuatmu kehilangan keunikanmu," ucap Ergar dengan pelan.
Arumi masih terdiam. Sesaat kemudian, ia lalu menatap Edgar. Pria itu, sepintas telah mengingatkannya kepada Adrian.