
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi sebelah kiri Moedya. Tamparan dari tangan seorang ibu, yang merasa kecewa atas keputusannya dan juga sikap putranya.
Moedya hanya terdiam. Pria itu tidak protes sama sekali, ketika melihat kemarahan yang ditunjukan Ranum kepada dirinya. Moedya menerima semua kebodohan yang telah ia lakukan.
"Kamu tidak pantas menyandang nama Aryatama!" Bentak Ranum dengan penuh amarah. Meskipun ia sudah tidak muda lagi, tapi ketegasan seorang Ranum masih tetap melekat di dalam dirinya.
"Kenapa kamu bisa berbuat bodoh?" Sentak Ranum lagi. "Ibu membiarkanmu selama tiga tahun ini, bukan berarti kamu bebas melakukan kebodohan, Juna!" Ranum benar-benar tidak dapat mengendalikan emosi dalam dirinya.
"Ayahmu ... dia ... dia pria yang katanya merupakan panutanmu! Dia orang yang sangat kamu idolakan ... dia tidak seceroboh dirimu!" Tunjuk Ranum pada foto Arya yang terpajang di dinding, dengan ukuran yang cukup besar. Sementara tatapan tajam wanita itu masih tertuju kepada Moedya, putra semata wayangnya.
Ranum terdiam untuk sejenak. Napasnya masih terengah-engah. Ia lalu memilih untuk duduk. Bagaimanapun juga, ia tidak sebugar dulu. Ranum juga baru sembuh sembuh dari sakitnya.
Sementara Moedya masih berdiri tanpa berkata apa-apa. Ia merasa bingung. Entah apa yang harus ia katakan? Moedya tidak berniat untuk membela dirinya sama sekali. Pria itu sudah menyadari kesalahannya. Ia juga terus berpikir sejak kemarin.
Dulu, Moedya berlari dari Nancy ke dalam pelukan Arumi. Lalu saat ini, ia berlari ke dalam pelukan Diana demi menghilangkan rasa sakitnya terhadap Arumi. Sekali lagi, ada apa dengan Arjuna Moedya Aryatama? Kenapa ia begitu penakut.
Moedya, tidak takut jika harus menghadapi sepuluh orang preman sendirian. Akan tetapi, kenapa ia harus selalu melarikan diri dari seorang wanita? Seberapa lemah seorang Moedya di hadapan cinta? Tato dan rambut gondrongnya, seakan tidak mencerminkan betapa ia adalah seorang pria yang pemberani.
"Aku memang tidak mampu untuk menjadi seperti ayah. Aku terlalu pengecut. Aku hanya tahu bagaimana caranya menyemai benih, tanpa memikirkan cara untuk memeliharanya agar dapat tumbuh subur dan tetap terjaga dari hama," ucap Moedya dengan lirih. Ia lalu duduk bersimpuh di hadapan Ranum. Diciumnya kedua tangan sang ibu dengan lembut. Moedya pun membenamkan wajahnya dalam pangkuan Ranum.
"Ini pertama kalinya aku meraskan sakit karena seorang gadis. Aku baru tahu, ternyata aku tidak sekuat perkiraanku. Kenapa pria sepertiku harus merasa begitu lemah dan tidak berdaya karena hal sepele seperti ini?"
Sebisa mungkin, Moedya tidak ingin menitikan air matanya di hadapan Ranum. Ia tidak rela jika harga dirinya semakin jatuh di depan sang ibu. Akan tetapi, rasa itu tidak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Ia pun semakin membenamkan wajahnya di dalam pangkuan Ranum.
"Nyonya Ryanthi sudah menitipkan Arumi kepada Ibu. Sebelum kepergiannya, beliau berharap agar kamu dan Arumi dapat kembali bersama. Itu adalah wasiatnya, Juna. Akan tetapi, jika seperti ini ceritanya ... bagaimana Ibu bisa melaksanakan wasiat beliau!" Ranum berusaha mengendalikan dirinya agar tidak kembali tersulut emosi.
"Juna ... apa yang menyebabkanmu menjadi seperti itu, Nak?" Terdengar kembali suara Ranum yang begitu lirih menyebut nama putranya.
"Aku jatuh cinta, Bu. Aku benar-benar jatuh cinta kepada Arumi. Akan tetapi, aku merasa kecewa dan marah. Aku tidak tahu harus bagaimana?" Jawab Moedya tanpa menunjukan wajahnya kepada Ranum.
"Kenapa kamu tidak berusaha untuk berdamai dengan dirimu, Nak? Jernihkan pikiranmu, tenangkan hatimu!"
Moedya mengangkat wajahnya. Sepasang matanya telah memerah. Ia menatap Ranum dan seakan memohon ampun.
Ranum membalas tatapan putranya. Ternyata usia sang anak yang sudah cukup matang, tidak membuat Ranum dapat melepaskan diri dari caranya dalam memperlakukan Moedya. Ia masih saja menganggap pria itu sebagai Moedy kecilnya yang dulu, yang selalu menemani hari-harinya tanpa kehadiran Arya.
Ditangkupnya wajah maskulin itu dengan lembut. Rasa cintanya sebagai seorang ibu, tidak akan pernah pupus meskipun sang putra telah melakukan suatu kejahatan terberat sekalipun.
"Kamu menagis, Nak?" Tanya Ranum dengan suara yang agak parau. Ia terlalu banyak berteriak hari ini demi melampiaskan kemarahannya.
"Apakah itu sebuah dosa bagiku, Bu? Apakah ayah tidak pernah menangis?"
Ranum menggelengkan kepalanya. Ia masih meletakan tangannya pada wajah Moedya. "Ibu tidak menyukai situasi seperti ini. Akan tetapi, Ibu juga harus tetap membina hubungan baik dengan tante Taraa," keluh Ranum. Ia kemudian meletakan tangan kananya dengan lurus di dada dan ia jadikan sebagai penopang tangan kirinya, yang kini ia gunakan untuk memijit keningnya yang terasa pusing.
"Kenapa kamu harus menempatkan Ibu dalam kekacauan seperti ini, Juna? Kamu sungguh merepotkan! Untung saja putraku hanya dirimu, jd kepalaku tidak terlalu pusing!" Gerutu Ranum. Ia lalu menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa dan terdiam.
Ranum membelai rambut gondrong Moedya dengan lembut. Usianya sudah semakin tua. Ia ingin segera melihat Moedya menikah. Namun, kini semuanya menjadi kacau. Hubungan cinta putra semata wayangnya dengan Arumi, tidak tentu arahnya. Sejak awal, hubungan keduanya sudah banyak dilanda masalah.
"Juna ...." sebut Ranum pelan.
"Ya, Bu," sahut Moedya sama pelannya.
"Apa tamparan Ibu terlalu keras?" Tanya Ranum. Ia sepertinya merasa bersalah.
"Aku sudah sering berkelahi. Tamparan Ibu hanya seperti gigitan nyamuk bagiku," ujar Moedya, membuat Ranum kembali menepuk pipi putranya.
"Bagaimana jika kita melakukan sesuatu yang baru? Untukmu," cetus Ranum.
"Contohnya?" Moedya bangkit dan menatap Ranum dengan wajah penasaran. Sedangkan Ranum hanya menatap putranya dengan sebuah kerlingan yang sulit untuk diartikan.
......................
Selesai makan siang, Arumi membantu Vera merapikan meja makan, sementara Edgar sibuk menerima telepon dari seseorang. Ia juga berbicara dalam bahasa Perancis, ketika menjawab pangilan telepon itu.
"Sepertinya Tante harus segera mencari pelayan baru," ucap Vera seraya memasukan semua piring kotor ke dalam bak cuci piring. "Rasanya sangat melelahkan ketika harus melakukan segalanya seorang diri," lanjutnya.
"Memangnya ... ke mana pelayan yang biasa bekerja di sini ... siapa namanya?" Tanggap Arumi, meskipun sebenarnya ia tidak terlalu tertarik dengan pembahasan itu.
"Rahayu," jawab Vera. Ia lalu melirik Arumi. "Apa dia kekasihmu?" Selidik Vera dengan wajahnya yang nakal.
"Ih ... Tante!" Protes Arumi. "Tidak. Dia hanya temanku," Tegas gadis itu.
"Kelihatannya dia pria yang baik. Dia juga sangat tampan, rapi, dan sepertinya ... romantis ...." puji Vera. Ia lalu tertawa pelan.
"Yeah ... he's too romantic," jawab Arumi dengan malas.
"Hey ... dia mengingatkan Tante kepada mendiang Adrian, ayahmu," ucap Vera lagi.
Arumi membelalakan matanya tanda protes kepada wanita berambut merah itu. Sesaat kemudian, ia mulai teringat kepada catatan sang ayah. Arumi merasa penasaran.
"Tante, apa Tante mengetahui siapa kekasih ibuku sebelum dia menikah dengan ayahku?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba dari Arumi, yang telah berhasil membuat Vera menjadi salah tingkah. Wanita itu terlihat kebingungan untuk memberikan jawaban kepada Arumi.
"Kenapa tiba-tiba kamu menanyakan hal itu?" Tanya Vera dengan sedikit gugup. Ia kemudian berpindah tempat dan seakan menghindari Arumi.
"Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran, karena ibu tidak pernah bercerita apa-apa kepadaku. Ia hanya bercerita tentang ayah, ayah, dan ayah. All about Adrian Winata. Ayah seperti sebuah dunia bagi ibuku," tutur Arumi.
"Ya, tentu saja. Itu semua karena ayahmu sangat baik dan dia memperlakukan ibumu seperti seorang ratu," jelas Vera. Ia mencoba untuk terlihat tenang dan sebisa mungkin membelokan arah pembicaraan Arumi. Sesaat kemudian, terdengar dering ponsel milik Arumi.
Sebuah panggilan masuk dari Edgar. Ia mengajak Arumi untuk pulang, karena ia ada acara mendadak.
Lega, itulah yang Vera rasakan saat itu. Ia tidak menahan Arumi terlalu lama di rumahnya. Pertanyaan gadis itu, telah membuat jantungnya berdetak seribu kali lebih cepat dari biasanya.