
Setelah menempuh beberapa jam di dalam perjalanan, akhirnya Edgar dan Arumi tiba di Paris. Mobil jemputan pun sudah menunggu mereka di depan pintu keluar bandara. Tanpa banyak membuang waktu, mereka segera menaiki mobil tersebut dan meninggalkan tempat itu.
Selama di dalam perjalanan, Edgar terus menggenggam tangan Arumi dengan erat. Tak jarang ia menatap gadis itu dengan penuh cinta.
Sementara Arumi bersikap biasa saja, meskipun sesekali ia melirik kepada pria tampan itu. Arumi sadar jika saat itu Edgar terus memerhatikannya. Akan tetapi, gadis itu tidak ingin menanggapinya dengan terlalu berlebihan.
Beberapa saat kemudian, Edgar tertegun. Pria itu melihat ke sekeliling jalanan yang mereka lalui. Edgar baru sadar, jika itu bukanlah jalan menuju ke tempatnya.
Perasaannya mulai tidak enak. Diliriknya Arumi yang saat itu juga tengah menoleh kepada dirinya. Gadis itu tersenyum dengan begitu manis. “Katakan padaku, kamu akan menculikku ke mana?” Bisik Arumi. Ia mengira jika saat itu Edgar sedang membuat kejutan untuknya.
Edgar terlihat sedikit bingung. Ia memaksakan dirinya untuk tersenyum, tetapi Arumi sepertinya dapat menangkap keresahan di wajah sang kekasih.
“Ed ....” bisik Arumi seraya menggenggam tangan Edgar dengan sangat erat.
“Tenanglah, Arum!” Balas Edgar pelan.
Tiba-tiba sopir itu menghentikan laju mobilnya. Edgar dan Arumi kembali saling pandang. Sang sopir lalu menoleh ke arah mereka. Pria itu menunjukkan seringai jahatnya.
Edgar menatap pria itu dengan sangat tajam. Ia yakin jika pria itu bukanlah sopir dari perusahaannya. “Siapa kau?” Tanya Edgar dengan tegas. Raut wajah manis dan ramah yang selalu ia tunjukan di hadapan Arumi, kini tidak terlihat sama sekali. Wajahnya saat itu terlihat sangat serius dengan sorot mata yang sangat menakutkan.
Pria yang berpura-pura menjadi sopir itu tertawa pelan. Bukan jawaban yang ia berikan kepada Edgar, melainkan sebuah todongan senjata api. Pistol itu mengarah langsung kepada Edgar, dan membuat Arumi sontak terpekik. Gadis itu begitu ketakutan karenanya.
“Tenanglah, Arum!” Ucap Edgar. Ia berusaha untuk membuat Arumi agar tidak panik.
Sementara pria yang tengah menodongkan senjata itu hanya tertawa lebar melihat ketakutan Arumi. “Hallo, Cantik! Tendanganmu keras juga malam itu,” ucapnya seraya terus tertawa.
Arumi membelalakan matanya. Ia lalu melirik Edgar untuk sesaat, sebelum akhirnya kembali mengarahkan pandangannya kepada pria yang tengah menodongkan senjata kepada Edgar.
“Kau!” Tunjuk Arumi dengan tegas. “Jadi kau adalah bajingan yang sudah mengikutiku hingga ke toilet?” Sentak Arumi. Ketakutan yang tadi sempat ia rasakan, seketika hilang dan berubah menjadi sebuah rasa marah yang luar biasa. Terlebih ketika pria itu kembali tertawa puas.
“Di mana Henry?” Tanya Edgar dengan nada bicaranya yang terdengar sangat dingin. Ia menanyakan pria yang ditugaskannya untuk mengawasi Arumi.
Jadi, selama ini yang telah mengikuti Arumi bukanlah orang suruhan Edgar. Ternyata, pria bernama Henry kini berada dalam sekapan pria itu. Pria yang belum Edgar ketahui bekerja untuk siapa.
“Dia ada di suatu tempat. Anda tenang saja Tuan Hillaire, pengawal pribadi Anda masih bernyawa meskipun sedikit berdarah. Aku rasa, luka dan darah sekecil itu tidak akan membuatnya mati dengan mudah,” jawab pria itu dengan entengnya.
“Turun!” Perintah pria itu kepada Edgar, sambil menggerakan pistolnya ke samping sebagai tanda bahwa ia menyuruhnya untuk menyingkir.
Edgar tidak langsung menurut begitu saja. Ia masih duduk dan menatap tajan pria yang sama sekali tidak ia kenal.
“Siapa yang menyuruhmu?” Selidik Edgar tanpa mengubah mimik dan nada bicaranya. Sementara pria itu lagi-lagi hanya tertawa.
Edgar sadar jika posisinya sedang tidak menguntungkan. Ia tidak pernah menduga, karena dirinya dan Arumi akan mendapat sambutan seperti itu. Edgar kemudian melirik gadis di sampingnya. “Ayo, Arum!” Ajak Edgar seraya meraih tangan Arumi. Ia bermaksud untuk mengajak gadis itu keluar bersamanya.
“Siapa yang mengatakan kau boleh membawanya, Tuan?” Pria itu mengarahkan pistolnya pada tangan Arumi yang tengah dipengangi oleh Edgar saat itu.
Edgar kembali menatap tajam pria asing itu. ”Apa maksudmu, Brengsek?” Sentak Edgar.
Kesabarannya sudah mulai hilang. Rasanya ia sudah tidak tahan untuk untuk segera menghancurkan wajah pria itu. Namun, Edgar harus mengurungkan niatnya dalam-dalam, karena pistol itu kini mengarah tepat kepada Arumi.
Arumi terdiam. Sepasang matanya bergerak dengan tidak beraturan. Edgar tahu jika Arumi saat itu sedang gelisah. Segera disentuhnya lengan Arumi dengan lembut. “Tenanglah, Arum! Semuanya akan baik-baik saja! Tetap nyalakan ponselmu!” Pesan Edgar. Ia sengaja berbicara dalam bahasa Indonesia. Pria itu hanya menatapnya. Setelah itu, ia lalu keluar dari mobil.
“Apa maksudnya, Ed?” Tanya Arumi. Ia sama sekali tidak mengerti. Akan tetapi, belum sempat Edgar menjelaskannya kepada Arumi, pria itu telah terlebih dahulu mengetuk kaca mobil dan mengisyaratkan kepada Edgar untuk segera keluar.
Edgar menatap Arumi untuk sesaat. Dengan cepat ia meraih wajah pujaan hatinya dan menciumnya. Ia pun keluar dari dalam mobil.
Berdiri untuk sesaat sebelum akhirnya Edgar mengangkat kedua tangannya. Pria itu terus menodongkan senjatanya kepada Edgar, bahkan kini Edgar dapat merasakan moncong senjata itu menyentuh punggungnya.
Pria tadi kemudian menggiring Edgar agar menjauh dari mobil. Dengan tenang, Edgar kemudian membalikan badannya. Senjata itu kini tepat berada di depan wajahnya. “Siapa yang menyuruhmu?” Tanya Edgar sekali lagi.
Pria itu lagi-lagi hanya terkekeh. Ia mulai merasa berada di atas angin. Sambil terus tertawa dengan sombongnya, ia mengacung-acungkan senjatanya. Ia tidak sadar jika hal itu memberi kesempatan kepada Edgar untuk dapat melawan dan membalikan keadaan.
Tangan kiri Edgar bergerak dengan cepat dan menepiskan pergelangan tangan pria itu, hingga pistol yang sedang dipegangnya terlepas dan jatuh di atas tanah. Secepat kilat Edgar meraih pistol itu dan balik menodongkannya kepada pria tadi.
Akan tetapi, nahas bagi Edgar. Dari arah belakang, datang seorang pria berperawakan tinggi besar yang langsung memukul tengkuk kepalanya hingga ia terhuyung. Namun, Edgar berusaha untuk tetap menjaga keseimbangannya sebelum ia kembali merasakan sebuah pukulan keras di wajahnya. Ia juga mendapatkan tendangan yang bertubi-tubi dari kedua pria tadi.
Edgar masih terus bertahan. Meski ia hanya seorang diri, tetapi ia terus mencoba untuk melawan. Ia mengarahkan serangannya kepada pria yang hendak mengambil pistol yang tergeletak di tanah, hingga pria itu jatuh tersungkur. Edgar bermaksud untuk mengambil pistol itu, tetapi seorang pria yang lain segera menyerangnya hingga Edgar kembali tersungkur.
Belum sempat ia bangkit, kedua pria itu segera berlari ke dalam mobil dengan membawa pistol tadi.
Sementara Arumi yang saat itu terkunci di dalam mobil, segera menghubungi Keanu. Ia tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Dengan gugup ia mengatakan jika keadaannya sedang tidak baik.
Arumi menceritakan semua yang dilihatnya sambil menangis, dan tentu saja khawatir melihat keadaan Edgar yang hanya sendirian. Akan tetapi, Arumi harus segera mengakhiri perbincangannya dengan Keanu, karena kedua pria tadi sudah masuk ke mobil.
Dengan terburu-buru mereka menjalankan mobil itu. Edgar yang baru saja berdiri segera berlari mengejar mobil itu. “Arum!” Teriaknya dengan lantang sambil terus berlari meskipun kondisi tubuhnya penuh dengan luka.
Arumi menoleh dan menatap sang kekasih yang terus berlari mengejar mobil yang membawanya pergi entah ke mana. Air mata mengalir deras ketika ia melihat perjuangan Edgar. Namun, semakin lama jarak mereka semakin menjauh, hingga Arumi pun tak dapat melihat lagi sosok Edgar yang berlari tanpa kenal lelah dan menyerah.
Tidak ada yang bisa Arumi lakukan selain menutup mulutnya dan menangis. Apa yang akan terjadi pada dirinya setelah ini, ia tidak dapat menerkanya sama sekali. Arumi juga mengkhawatirkan keadaan Edgar yang saat itu mengalami banyak luka dan sendirian di jalanan yang sepi.