
Hari itu akhirnya tiba. Hari ketika Arumi harus pergi untuk mengikuti sang suami ke Perancis. Keharuan dirasakan wanita yang telah menyandang nama Nyonya Hillaire itu, ketika ia berpamitan dengan Keanu, Puspa, dan kedua keponakan kecilnya.
“Kami akan berkunjung ke sana kapan-kapan. Aku masih harus memenuhi janjiku kepada Puspa, untuk mengajaknya naik kapal pesiar,” ucap Keanu sebelum Arumi dan Edgar benar-benar pergi. Puspa mengangguk pelan. Ibu dua anak itu terlihat ingin menenangkan Arumi, agar sang adik ipar tidak merasa sedih atas perpisahan mereka.
Arumi tersenyum kecil. Ia kembali memeluk kakak iparnya. Namun, tidak lama kemudian Edgar segera mengajaknya untuk pergi dari sana. Waktu keberangkatan mereka telah tiba. Arumi melambaikan tanganya hingga ia menghilang dari pandangan Keanu dan Puspa.
Keanu merangkul pundak sang istri yang saat itu tengah memegangi pundak Dinan, agar anak itu tidak berlarian ke mana-mana. Sementara Jenna berada dalam gendongan sang ayah. Perasaan Keanu bercampur aduk saat itu. Ia telah memenuhi janjinya kepada Adrian dan Ryanthi untuk menjaga Arumi. Kini ia mengalihkan tanggung jawab itu kepada Edgar. Keanu yakin jika pria itu akan menjaga Arumi dengan jauh lebih baik.
“Aku tidak menyangka karena akhirnya Arumi menikah juga. Tadinya aku sempat berpikir jika ia akan kembali kepada Moedya. Siapa sangka jika ternyata ia berakhir dengan Edgar,” ucap Puspa dengan senyum lembutnya.
“Itulah jodoh, Sayang. Aku juga tidak pernah menyangka akan bertemu dan menikah denganmu,” sahut Keanu dengan kalemnya.
“Aku jauh lebih tidak menyangka karena bisa menjalani hari-hariku denganmu. Kamu pria paling luar biasa, Sayang,” sanjung Puspa seraya menepuk lembut pipi sang suami.
“Tentu saja,” jawab Keanu dengan bangganya. “Bagaimana jika hari ini kita makan di luar?” tawar Keanu. Pandangannya kemudian beralih kepada putra sulungnya. “Dinan mau makan apa hari ini?” tanyanya.
Dinan menoleh kepada sang ayah. Bocah yang sudah memasuki usia lima tahun itu tidak menjawab. Matanya terlihat berkaca-kaca. Dengan segera, Puspa menurunkan tubuhnya dan menghapus air mata anak itu. “Kenapa, Dinan?” tanyanya cemas.
Dinan segera memeluk sang ibu. Anak itu menangis sambil berkata, “Aku ingin tante Arum, Mommy,” isaknya.
Puspa dan Keanu saling pandang. Segera, Puspa mengambil Jenna dari gendongan sang suami. Keanu lalu meraih putra sulungnya dan menggendongnya. Ia membawa anak itu keluar dari dalam bandara sambil terus membujuk Dinan agar segera menghentikan tangisnya.
Sementara itu, Arumi duduk bersebelahan dengan Edgar. Pria itu tertidur lelap. Akan tetapi, tangannya masih terus menggenggam tangan Arumi. Wanita itupun tersenyum seraya memandangi wajah tampan pria yang kini telah menjadi suaminya.
Edgar terlihat begitu manis ketika ia dalam keadaan tidur pulas seperti itu. Usia tiga puluh tidak terlihat sama sekali pada dirinya, mungkin karena Edgar selalu menjaga penampilannya.
Arumi kemudian menyandarkan kepalanya. Pikirannya mulai menerawang ke mana-mana.
Ada banyak hal yang telah terjadi dalam hidupnya. Segala sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, termasuk dengan pernikahan ini.
Pria itu adalah pria yang selalu ia tolak mentah-mentah. Akan tetapi, kini pria itu menjadi sebuah cinta yang sangat indah bagi dirinya. Arumi kemudian tersenyum ketika ia teringat kepada Moedya. Meskipun berakhir dengan mengecewakan, tetapi ia tidak harus menyesali kebersamaannya dengan putra dari Ranum dan Arya itu. Kini, Arumi hanya ingin menggenggam erat tangan Edgar dan menemaninya, bahkan duduk manja di atas pangkuannya.
Setelah hampir tujuh belas jam berada di perjalanan, akhirnya Arumi, Edgar, dan Carmen tiba di Perancis. Rasanya baru kemarin Arumi kembali dari negara itu, dan kini ia telah kembali lagi ke sana.
Rasa haru kembali menyelimuti hati Arumi, karena saat ini ia datang ke kota Paris sebagai Nyonya Hillaire. Arumi juga tidak lagi menempati kamar tamu di kediaman mewah milik Edgar. Kali ini, tentu saja ia akan tidur di dalam kamar utama milik Edgar. Kamar yang indah dan sangat nyaman, dengan nuansa Eropa modern.
Kamar itu begitu luas. Di sana bahkan ada sofa dan meja berwarna senada dengan segala ornamen yang ada di dalam kamar itu.
Arumi menoleh dan tersenyum. Ia kemudian menyandarkan kepalanya di pundak sang suami. Edgar pun mengelus lembut rambut Arumi seraya mengecup keningnya. “Aku sudah berbicara dengan bibi Carmen. Bagaimana jika kita mengadakan pesta dalam minggu ini?” tanya Edgar. Sesekali, ia mencium jemari Arumi dengan mesra. “Katakan berapa banyak tamu yang akan kita undang? Jujur saja aku merasa bingung dengan hal ini. Kolega ayahku sangat banyak, ucapan selamat dari mereka bahkan telah membanjiri akun media sosialku. Aku merasa menjadi seorang selebritis dadakan,” ujar Edgar dengan tawa geli.
Arumi segera menegakan tubuhnya dan menatap Edgar. “Terserah kamu, Sayang. You are the boss!” sahutnya seraya tertawa pelan. “Aku juga tidak mengenal siapapun di sini. Jadi, silakan kamu atur semuanya!” lanjut wanita muda itu.
Edgar kembali merengkuh pundak sang istri dengan mesra. “Tidak bisa begitu, Sayang! Aku tidak mau kamu hanya duduk diam dan menikmati pesta,” protesnya.
“Lalu, apa yang harus kulakukan?” tanya Arumi. Wanita muda itu kemudian berdiri di hadapan Edgar. “Apa kamu ingin melihatku menari salsa?” tanya Arumi seraya menggoyangkan tubuhnya dan seketika membuat Edgar mengusap-usap keningnya seraya mengeluh pelan. Pria itu kemudian berdiri dan segera merangkul pinggang Arumi. Ia memeluk sang istri sambil menahan tawanya.
“Aku rasa kamu butuh istirahat, Sayang. Apa harus kupanggilkan pelayan untuk membantu membereskan barang-barangmu?” tawar Edgar seraya mengulum senyumnya.
Sementara Arumi tidak menjawab. Wanita muda itu hanya tertawa sambil terus menggoda sang suami, hingga Edgar benar-benar merasa geli karenanya. Pria itu tidak dapat menahan tawanya lagi. Entah kenapa ia terlihat begitu bahagia.
Edgar seperti telah melupakan sikap kalem yang selalu menjadi ciri khas dari dirinya.
Edgar terkekeh. Pria itu bahkan tertawa terbahak-bahak dan membuat Arumi mengernyitkan keningnya. Wanita itu lagi-lagi merasa heran. Belum pernah ia melihat Edgar tertawa begitu lepas seperti itu. Arumi justru melihatnya dengan sangat aneh. Wanita itu tertegun dan memerhatikan sikap Edgar yang terlihat tidak biasa.
“Apa yang membuatmu sangat bahagia, Sayang?” tanya Arumi. Pada akhirnya, ia berani bertanya dan membuat Edgar mulai menghentikan tawanya.
“Kamu, Sayangku,” jawab Edgar seraya mempererat dekapannya.
“Apa yang salah denganku?” tanya Arumi lagi seraya memainkan bola matanya yang berwarna hitam.
“Kamu masih belum paham, Nyonya Hillaire?” Edgar menatap lekat Arumi seraya menautkan alisnya. Pertanyaan yang juga telah membuat Arumi melakukan hal yang sama.
“Jelaskan padaku!” pinta Arumi.
Edgar melepaskan dekapannya dari Arumi. Pria itu kemudian duduk di tepian tempat tidurnya yang berukuran besar. Ia lalu meraih tubuh Arumi hingga wanita itu berdiri tepat di hadapannya.
Edgar kemudian membenamkan wajahnya pada tubuh sang istri. Sementara Arumi segera mengelus lembut rambut sang suami. Ia tersenyum melihat sikap manja Edgar terhadapnya.
“Apa kamu selalu bersikap manja seperti ini kepada bibi Carmen?” tanya Arumi pelan.
Edgar mengangkat wajahnya dan memandang wajah Arumi yang saat itu tengah menunduk menatapnya. Pria itu tersenyum lembut. "Tentu saja tidak! Aku hanya melakukan hal ini kepadamu. Aku tidak ingin semua orang mengetahui jika sebenarnya aku adalah pria yang manja," ungkap Edgar seraya kembali membenamkan wajahnya pada tubuh Arumi.
Sementara Arumi terus membelai rambut Edgar dengan lembut dan penuh cinta. Mulai saat ini, Edgar akan menjadi suami, sahabat, dan segalanya bagi Arumi. Pria itu adalah musim dingin, musim panas, musim semi, dan tentu saja musim gugur yang penuh dengan cerita indah bagi mereka berdua.