
Pagi-pagi sekali, Arumi sudah bangun untuk berolahraga. Gadis itu memang selalu melakukan aktivitas olah tubuh setiap harinya, meskipun hanya sekedar berlari di atas treadmill. Ia juga rutin melakukan yoga. Itu semua berawal dari ketika ia diajak oleh sang nenek, yaitu Indira.
Arumi tidak pernah berolahraga dalam waktu yang terlalu lama. Selepas berolahraga, ia lalu mandi dan bersiap-siap. Gadis itu kemudian turun dan menuju dapur. Di sana terlihat Puspa tengah sibuk menyiapkan sarapan.
Sebenarnya, di rumah itu ada dua orang pelayan. Namun, mereka hanya memiliki tugas untuk membersihkan rumah dan urusan cuci-mencuci. Sedangkan urusan dapur, sepenuhnya dipegang oleh Puspa.
Keanu sangat menyukai masakan sang istri. Ia tidak suka jika bukan Puspa yang memasak untuknya, alasannya karena masakan buatan Puspa sesuai dengan seleranya. Maka dari itu, semenjak menjadi istri sah dari Keanu, Puspa terus belajar untuk memasak beberapa menu khas Perancis dengan kearifan lokal tentunya. Namun, Keanu pun jarang sekali meminta Puspa untuk memasak masakan western. Pria jangkung itu sudah mencintai masakan khas Indonesia.
"Hai, Kak!" Sapa Arumi dengan hangat. Ia lalu berdiri di sebelah Puspa sambil menghadap kepadanya.
Puspa menoleh untuk sesaat. Ia tengah sibuk menumbuk kentang. Keanu seperti Adrian. Ia penggemar setia kroket kentang.
"Ada yang bisa kubantu?" Arumi menawarkan diri untuk membantu.
Bukannya menjawab, Puspa malah tersenyum lebar. "Wow ... Arum. Sejak kapan kamu mulai tertarik berada di dapur selain untuk kue?" Sindirnya.
"Sejak hari ini," jawab Arumi dengan entengnya.
"Oke. Lanjutkan ini! Aku akan menyiapkan kornetnya dulu," Puspa menyerahkan pekerjaannya kepada Arumi. Dengan segera, Arumi menyelesaikan sisa pekerjaan kakak iparnya.
"Memangnya hari ini kamu tidak ke toko, Arum?" Tanya Puspa dari dalam kulkas.
"Rencananya hari ini aku akan mampir sebentar," jawab Arumi. "Apa kak Keanu ada acara hari ini?"
"Tidak. Hari ini dia sudah berjanji untuk berlatih renang bersama Dinan," sahut Puspa seraya menutup pintu kulkas. Ia lalu kembali menghampiri Arumi. "Kamu tahu? Dinan iri padamu," ujar Puspa dengan geli.
Arumi melirik kakak iparnya seraya mengernyitkan keningnya. "Why?" Tanya Arumi dengan heran.
Puspa mendahulukan tertawa sebelum ia sempat berbicara. Ia memang selalu merasa tidak habis pikir dengan pemikiran dan kelakuan putra sulungnya itu.
"Dia pernah melihatmu berenang. Dia mengatakan jika dia ingin membeli baju renang seperti punyamu, Arum ...." Puspa menutupi tawanya dengan punggung tangannya.
"What? Anak itu ada-ada saja! Kakak tau? Dia hampir membuatku berada dalam masalah," Arumi tampak masih menyimpan dendam kepada bocah empat tahun itu.
"Ya, Keanu mengatakannya kepadaku. Untung saja Edgar adalah pria yang baik. Aku rasa dia itu tipe seorang family man. Sepertinya dia pria yang lembut," sanjung Puspa dengan tanpa sadar. "Dia juga sangat tampan ... tapi ... kakakmu jauh lebih tampan!" Puspa tertawa cekikikan. Tampaknya hari ini ia sedang bahagia. Wajahnya terlihat sangat cerah dan berseri. Berdeda dengan Arumi.
Kabut hitam itu, tak juga hilang dari hatinya. Terlebih ketika ia melihat Moedya dan Diana kemarin sore. Itu membuktikan jika ucapan Diana tempo hari, bukan sekadar isapan jempol belaka.
......................
Siang itu, cuaca sedikit mendung. Sebelum pergi, Arumi menyempatkan diri untuk menemui Keanu yang saat itu tengah bermain bersama Dinan di halaman belakang.
"Hai, Dinan! Bukannya hari ini kamu mau belajar berenang?" Sapa Arumi seraya menghampiri ayah dan anak yang tengah bermain bola di atas halaman rumput itu.
"Udaranya terlalu dingin," ujar Keanu. Ia menatap Arumi yang saat itu berdiri di sebelahnya. "Mau pergi?" Tanyanya.
"Ya. Aku akan ke toko sebentar," jawab Arumi sambil terus mengawasi Dinan yang sedang asik bermain sendiri.
Keanu terus menatap wajah Arumi. Selama ini, hubungan mereka sebagai kakak beradik sangatlah dekat. Mereka selalu berbagi cerita dalam segala hal. Keanu merasakan jika ada sesuatu yang aneh pada rona wajah sang adik. Ia tahu, pasti ada yang tidak beres dengan Arumi.
"Oh iya, ada sesuatu yang kamu temukan di kamar lama ibu?" Tanya Keanu. Ia memulai perbincangannya dengan sesuatu yang ringan.
Arumi menoleh. Ia lalu mengangguk pelan. "Aku rasa ... ibu mungkin lupa untuk membawanya," jawab Arumi pelan. Ia kembali mengalihkan tatapannya kepada keponakan kecilnya.
"Apa itu?" Tanya Keanu penasaran.
"Buku catatan milik ayah," jawab Arumi masih dengan nada bicara yang tidak berubah. Tatapannya pun belum teralihkan dari bocah empat tahun itu.
"Aku sudah membaca semuanya. Selain itu, ayah juga menuliskan sesuatu sebelum ia berpacaran dengan ibu."
Seketika Keanu menoleh dan memasang wajah penasaran. Sepertinya ia sangat tertarik untuk mengetahui hal itu. "Ceritakan padaku!" Pintanya.
"Kenapa tidak Kakak baca sendiri bukunya!" Arumi kemudian merogoh sesuatu dari dalam tas-nya yang tiada lain adalah buku catatan milik Adrian. Ia lalu menyerahkannya kepada Keanu.
"Di situ ayah menuliskan jika ibu sedang patah hati. Itu artinya, ibu pernah memiliki pacar sebelum berhubungan dengan ayah kita. Aku jadi penasaran, siapa pria itu? Ibu tidak pernah bercerita sama sekali kepadaku."
Keanu menatap Arumi dengan lekat. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam hatinya. "Kenapa kamu ingin tahu, Arum? Dia mungkin bukanlah pria yang penting," ujar Keanu.
"Entahlah, Kak. Aku hanya merasa jika ... apa Kakak mengetahui sesuatu?" Selidik Arumi. Ia melirik Keanu dan menatapnya dengan lekat. Sementara Keanu masih tampak tenang, tetapi Arumi sangat mengenal sang kakak.
"Ayo, Kak! Katakan sesuatu padaku!" Desak Arumi.
"Tidak, Arum! Aku tidak tahu apa-apa!" Sanggah Keanu tanpa menoleh kepada Arumi.
"Jangan berbohong padaku!"
"Untuk apa aku berbohong padamu? Aku memang tidak mengetahuinya," bantah Keanu lagi.
"Ayolah, Kak! Jika Kakak tidak mau bercerita padaku, maka aku akan membeberkan nama mantan-mantan pacar Kakak kepada kak Puspa!" Ancam Arumi.
"Hey, jangan mengancamku!"
"Karena itu, ayo katakan! Eh ... kak Puspa ...."
Terkejut karena Arumi menyebut nama Puspa, maka seketika terlontarlah nama seseorang dari mulut Keanu, "Om Arshan!"
Seketika Keanu tertegun. Sementara Arumi menatapnya dengan rona tidak percaya. "Om Arshan?" Arumi mengulangi nama yang Keanu sebutkan.
Dengan berat, Keanu mengangguk. "Ya," jawabnya.
Arumi tersenyum kelu. Ia tidak dapat membayangkan ternyata suami tantenya adalah mantan kekasih ibunya sendiri. "Dunia ini ternyata sangat sempit," gumam Arumi.
"Ya. Begitulah, Arum. Karena itu, jangan heran jika kamu akan dipertemukan kembali dengan orang-orang dari masa lalumu," ucap Keanu.
"Bagaimana ibu bisa berpacaran dengan om Arshan? Lalu ... bagaimana om Arshan bisa menikah dengan tante Ve?" Arumi terlihat berpikir.
"Sudahlah, Arum! Itu masa lalu yang sudah lama berlalu. Untuk apa harus diungkit lagi? Lagi pula itu bukanlah urusan kita," ucap Keanu dengan wajah yang terlihat cemas.
Akan tetapi, kecemasan di wajah Keanu tidak sebanding dengan keresahan di wajah Arumi. Saat itu Arumi melihat seseorang yang datang menghampiri mereka. Seorang pria yang selalu membuat hatinya menjadi gundah. Arumi terdiam ketika pria itu kini sudah berdiri di sana, bergabung dengan dirinya dan Keanu.
"Ken," ia menyalami Keanu dengan akrab. Ia juga melirik kepada Arumi. "Hai, Arum," sapanya.
Arumi menoleh dan tersenyum kecil. "Hai, Moedya," balas Arumi pelan. "Kakak, aku harus pergi dulu," Arumi kemudian mencium pipi kanan sang kakak. Ia kemudian berlalu tanpa menoleh lagi kepada Moedya. Namun, sesaat kemudian langkah Arumi seketika terhenti ketika samar-samar ia mendengar sesuatu yang Moedya katakan kepada Keanu.
"Ajak Puspa sekalian! Aku dan Diana akan bertunangan lusa."
Tim sukses Moedya, mari kita sama-sama cubit pria meresahkan ini! 😊😁😍