
Edgar tidak memedulikan suara dering telepon yang sejak tadi terus berbunyi. Ia lebih memilih untuk melanjukan permainan yang sudah ia mulai dengan Arumi. Tentu saja, Edgar tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sangat langka itu. Ia lebih menyukai untuk menjelajahi pegunungan dan lembah bersalju, daripada harus harus membuka layar ponselnya yang tidak terlihat menarik.
Arumi sendiri saat itu sudah benar- benar pasrah. Gadis itu sudah melupakan semua rasa cemas yang tadi ia rasakan, karena lemparan batu yang masuk ke kamar paviliunnya. Kini, ia merasa begitu nyaman berada dalam dekapan hangat Edgar di atas tempat tidur kamar paviliun Edgar.
Satu persatu semua yang dikenakan gadis itu sudah terlepas, dan hanya menyisakan pakaian dalamnya saja. Arumi membiarkan sentuhan Edgar yang terus menjalar dan mulai memanjakannya bagaiakan sebuah treatment ala rumah kecantikan.
Bagi Edgar, ini seperti sebuah pengalaman pertamanya dengan Arumi, meskipun mereka pernah melakukan hal itu sebelumnya. Akan tetapi, apa yang terjadi tiga tahun yang lalu tidaklah berkesan bagi Edgar. Itu semua karena kondisi Arumi yang sedang di bawah pengaruh alkohol.
Lain halnya dengan saat ini, gadis itu mentapanya dengan penuh hasrat yang seakan ingin segera ia tuntaskan.
Lagi, sentuhan demi sentuhan halus Edgar terus memanjakan tubuh indah Arumi. Gadis itu tidak menolak. Ia justru memberikan respon yang membuat Edgar semakin bersemangat untuk terus mencumbuinya, membawanya hingga ke surga ketujuh dan membuat Arumi berkali- kali mengerang dan menggelinjang manja. Arumi membiarkan dirinya takluk dalam kekuasaan pria yang telah lama menantikan sambutan hangat darinya.
“Ed ....” de’sah Arumi pelan. Dire’masnya rambut belakang pria itu dengan lembut. “Take me fly!”
“You wanna fly, Arum?” Bisik hangat Edgar di telinga Arumi. Ia pun membenamkan wajahnya di antara leher dan pundak gadis cantik itu. Seiring dengan makin panasnya permainan mereka berdua, dering ponsel milik Edgar pun tak juga berhenti berbunyi.
“Ponselmu, Ed,” ucap Arumi pelan. Ia merasa terganggu dengan suara berisik itu.
Dengan malas, Edgar mengangkat tubuhnya. “Biar kumatikan,” ucapnya. Ia yang saat itu hanya memakai celana chino panjang, segera turun dari tempat tidurnya. Edgar kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Ponsel itu kembali berdering sebelum Edgar sempat mematikannya. Adalah sebuah panggilan dari asisten kepercayaannya di Perancis. Ia sudah berkali-kali menghubungi Edgar sejak tadi. Edgar pun tertegun untuk sejenak. Setelah itu, Edgar lalu melirik Arumi yang sudah setengah telanjang di atas tempat tidur.
“Sebentar, Arum! Sepertinya ini panggilan penting untukku,” ucap pria tiga puluh tahun itu. Ia lalu beranjak keluar, dan berdiri di dekat kolam renang. “Louisa ....” Edgar menyebutkan nama si penerima telepon itu.
Arumi hanya mendengar samar-samar pembicaraan Edgar yang dilakukan dengan menggunakan bahasa Perancis. Sepertinya Edgar tengah membahas masalah pekerjaan. Wajahnya terlihat serius, bahkan lebih dari serius. Pria itu tampak begitu tegang. Sementara Arumi terus memerhatikannya sambil terduduk di atas tempat tidur.
Tidak berselang lama, Edgar kembali masuk. Ia lalu duduk di tepian tempat tidur dengan sedikit membungkukkan badannya. Ponselnya ia letakan begitu saja di sebelahnya. Edgar terlihat sangat bingung. Ia menangkup wajahnya kemudian menyibakan rambutnya ke belakang.
“Ada apa, Ed? Apa ada masalah?” Tanya Arumi dengan khawatir. Ia lalu mendekati Edgar dan duduk di dekatnya. Tampak keresahan yang sangat dalam pada paras rupawan itu. “Ada apa?” Sekali lagi Arumi bertanya. Ia berharap kali ini Edgar bersedia untuk bicara.
Edgar kemudian menoleh. Ditatapnya wajah cantik sang pujaan hati dengan cukup lekat. Disentuhnya wajah itu dengan lembut. "Aku harus kembali ke Perancis ... segera!" Jawab Edgar dengan tegang.
Arumi terdiam. Ia seakan ingin protes kepada pria itu. Akan tetapi, Arumi lebih memilih untuk diam dengan wajah yang sedikit cemberut. Gadis itu menggeser duduknya. Ia kini jadi bersandar pada headboard tempat tidur. Ia juga melipat kedua tangannya di dada.
Edgar mengela napas pendek. Ia kembali naik ke tempat tidur dan duduk di sebelah Arumi. "Kenapa?" Tanyanya seraya menatap Arumi yang masih terlihat cemberut.
"Haruskah kamu pulang sekarang?" Tanya Arumi dengan nada protes.
Edgar menggumam pelan. Ia lalu tersenyum simpul. "Bukankah kamu ingin agar aku segera pulang?" Sindirnya.
Arumi kembali protes. Kedua bola matanya terbelalak dengan sempurna. Ia tidak suka dengan apa yang Edgar katakan padanya. Gadis itu kembali memasang wajah cemberutnya, yang menunjukan betapa manjanya ia. Sementara Edgar hanya terdiam. Ia lagi-lagi terlihat berpikir.
"Kamu tidak ingin berbagi denganku?" Tanya Arumi sesaat kemudian, setelah mereka saling terdiam beberapa saat lamanya.
Niat Arumi untuk kembali menikmati hidupnya, memang ia tunjukan dengan segera. Ia tidak lagi menjaga jarak dengan Edgar.
"Ada sedikit masalah dengan perusahaanku. Jadi, aku harus segera pulang," jelas Edgar dengan suaranya yang terdengar begitu berat.
"Apa tidak bisa diwakilkan?" Tanya Arumi. Ia seakan tidak ingin jika Edgar pergi dari sisinya.
"Tidak bisa, Arum. Harus kutangani secara langsung," jawab Edgar meyakinkan.
Arumi tidak menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Arumi juga terus mengelus lembut tato dengan ukiran namanya di dada sebelah kanan Edgar.
"I like it," bisik Arumi.
Edgar membalasnya dengan sebuah kecupan lembut di pucuk kepala gadis itu. Tangannya pun masih mengelus lembut lengan Arumi.
"Boleh kukatakan sesuatu, Ed?"
"Apa?"
"Aku ... tidak ingin kamu pergi," ungkap Arumi dengan agak ragu. "Aku ingin kamu tetap di sini," lanjutnya.
Edgar menggumam pelan. "Apa yang terjadi padamu, Arum? Kenapa kamu membuatku semakin bimbang?"
"Bukankah itu yang kamu inginkan?"
Arumi melepaskan dirinya dari dekapan Edgar. Ia kemudian menatap mantan kekasihnya itu dengan lekat. "Aku ingin memulai hidupku lagi dari awal. Aku tahu jika kamu dapat membantuku untuk melakukannya. Namun, aku tidak ingin kamu beranggapan jika aku telah menjadikanmu sebagai pelarian. Karena itu, aku ingin belajar untuk mencintaimu lagi. Sedikit demi sedikit," terang Arumi dengan sedikit keresahan di paras cantiknya.
Edgar belum memberikan jawabannya. Tatapannya terlihat semakin dalam, ia layangkan untuk Arumi. Tatapan yang dirasa begitu meneduhkan.
Arumi kemudian mendekatkan dirinya kepada pria yang masih duduk bersandar pada headboard tempat tidur itu. Dengan posisi tubuh yang setengah membungkuk, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Edgar. "Aku harap kamu tidak mentertawakanku, Ed! Aku tahu jika ini sangat memalukan, tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
Edgar masih terdiam. Namun, kini ada sedikit lengkungan di sudut bibirnya. "Apa kamu akan belajar untuk mencintaiku, Arum?" Tanyanya dengan sedikit berharap.
Arumi menggigit bibirnya dengan perlahan. Ia lalu menegakan tubuhnya dan duduk di atas pangkuan Edgar. Pria yang segera merangkul pinggang rampingnya dengan mesra.
"I will," jawab Arumi dengan yakin.
Edgar mengangguk pelan. "Namun ... aku tetap harus pergi, Arum." tegas Edgar membuat Arumi kembali menunjukan wajah kecewanya.