
Hari sudah beranjak malam, ketika Arumi baru selesai membersihkan dirinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan bathrobes putih dan rambut yang digulung handuk putih pula. Arumi kemudian meraih ponsel yang sejak tadi berdering.
Arumi tertegun untuk sejenak, ketika ia melihat nama si pemanggil yang tertera di layar ponselnya, Moedya. Ia tidak dapat menahan dirinya untuk tidak menjawab panggilan itu.
"Arum?" Terdengar suara berat Moedya di seberang sana.
"Moedya?" Balas Arumi dengan ragu.
"Ya, ini aku. Apa aku mengganggumu?" Tanya Moedya lagi.
"Um ... tidak. Aku ... aku baru selesai mandi," jelas Arumi. Tiba-tiba ia merasa gugup.
Terdengar Moedya tertawa pelan. "Kamu selalu menghabiskan waktu yang lama saat mandi," ucapnya pelan, membuat darah di dalam tubuh Arumi berdesir dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Ya ... kamu sangat mengetahui hal itu," sahut Arumi dengan perasaan yang terasa kian aneh. Ini seakan menjadi pengalaman pertama lagi bagi Arumi, di mana ia merasa sangat malu. Moedya adalah orang yang sangat mengetahui semua kebiasaannya.
Arumi berdiri di dekat jendela kamarnya dan menatap keluar. Suasana di luar sudah gelap gulita. Lampu-lampu taman di halaman luas rumah megah itu sudah mulai dinyalakan.
"Arum? Kamu masih disitu?" Terdengar suara Moedya yang seketika membuyarkan lamunan Arumi. Arumi menjadi gelagapan karenanya.
"Um ... iya. Maaf aku hanya sedikit ...." Arumi lagi-lagi merasa gugup.
"Kenapa, Arum? Apa kamu merasa gugup?" Tanya Moedya lagi. Pertanyaan yang membuat Arumi menjadi semakin tidak karuan.
"Tidak juga," jawab Arumi bohong. "Ada apa menghubungiku?" Tanyanya kemudian.
Moedya tidak langsung menjawab. Ia seakan tengah berpikir dan merangkaikan kata-kata yang akan mampu membuat hati Arumi kembali luluh untuknya.
Asap tipis mengepul dari rokok yang tinggal sedikit lagi. Moedya lalu mematikan rokoknya di dalam asbak hingga benar-benar padam.
"Apa kita bisa bertemu besok sore? Di tempat biasa," akhirnya terucap juga ajakan yang sejak tadi hanya ada dalam pikiran Moedya. Ia berharap agar Arumi bersedia untuk memenuhi ajakannya.
"Ada apa? Memangnya tidak bisa lewat telepon saja?" Tanya Arumi, di sela-sela perasaan tidak menentu yang terus mengusik dan menggelitik hatinya.
"Aku ingin berbicara secara langsung. Rasanya akan jauh lebih lengkap jika aku mengatakan semuanya sambil menatap wajahmu, Arum," jawab Moedya membuat jantung Arumi berdegub dengan kencang.
Arumi tidak tahu harus menjawab apa. Ini bukan pertama kalinya ia mendengar kata-kata manis dari seorang Moedya. Akan tetapi, kenapa kali ini ia marasa sangat aneh? Perasaan yang berkecamuk menjadi satu dan membuatnya seakan terombang-ambing dengan tidak karuan.
"Kenapa kamu terus menggangguku? Aku tidak mau jika Diana sampai mengetahui hal ini."
Moedya tertawa pelan saat menanggapi ucapan Arumi yang terdengar sangat kekanak-kanakan. "Sejak kapan Arumi menjadi seorang penakut?" Sindirnya. Ia kembali tertawa pelan.
"Hey! Apanya yang lucu? Kenapa kamu meledekku seperti itu?" Protes Arumi.
"Kamu, Arum. Kamu sangat lucu sampai-sampai aku ingin sekali mencubit pipimu, seperti ...." Moedya tidak melanjutkan kata-katanya. Tatapannya mulai menerawang dan menembus langit malam yang gelap.
Arumi menghela napas dalam-dalam. Pandangannya kini mulai menerawang dan menembus langit malam, yang tampak sangat muram. "Ya, aku melihatnya, Moedya," jawab Arumi pelan.
"Apa yang terakhir kita lakukan di bawah langit malam gelap itu, Arum?"
Ah ... tidak! Arumi tentu saja tidak akan pernah lupa untuk semua hal yang ia lakukan dengan Moedya. Entah itu hal kecil ataupun hal yang istimewa, bagi Arumi semuanya sangat berkesan. Arumi tersenyum lembut saat teringat malam itu. Malam di mana ia masih menjadi milik seorang Moedya.
Malam itu, sekitar tiga tahun yang lalu.
Moedya mengajaknya untuk menikmati suasana malam di tepi danau. Di sana sangat gelap. Satu-satunya penerangan hanya berasal dari lampu motor yang sengaja Moedya nyalakan.
"Aku tidak tahu kenapa kita berada di sini, malam-malam begini? Kamu benar-benar kurang kerjaan!" Ujar Arumi. Ia melihat sekeliling tempat itu yang gelap dan sepi.
Moedya tersenyum. Ia duduk di atas motornya dengan posisi menghadap ke belakang. Sementara Arumi berdiri di dekatnya dengan wajah sedikit tegang. Perlahan, diraihnya tangan Arumi. "Kemarilah, Arum! Ayo, naiklah!" Suruhnya.
Arumi menoleh. Ia kemudian melakukan apa yang Moedya perintahkan. Arumi lalu naik dan duduk sambil menghadap kepada sang kekasih. Ia bahkan meletakan pahanya di atas paha kanan dan kiri Moedya. Itu adalah hal yang sudah biasa ia lakukan bersama pria itu.
"Jangan katakan jika kamu merasa takut berada dalam suasana seperti ini!" Ucap Moedya dengan suaranya yang dalam, dan hanya terdengar seperti sebuah bisikan.
"Apakah salah jika aku merasa takut?" Tanya Arumi seraya meingkarkan kedua tangannya di leher sang kekasih.
Moedya tersenyum kalem. Ia menatap wajah Arumi dalam keremangan malam. Namun, ia masih dapat melihat dengan jelas paras cantik itu. Sesuatu yang selalu ia rindukan dan memberinya semangat setiap hari dalam menjalani segala aktivitasnya.
"Ya, itu salah besar! Kamu tidak seharusnya merasa takut jika sedang bersamaku! Alasannya ... karena aku pasti akan selalu menjagamu dari apapun," ujar Moedya seraya menyibakan poni samping yang menutupi kening Arumi dengan lembut.
Arumi menatap lekat wajah maskulin itu. Wajah yang tidak begitu terawat, tapi tampak sangat memesona dan seksi.
Disentuhnya wajah dengan jenggot tipis itu menggunakan ujung telunjuknya yang lentik. Arumi kemudian memainkan jari itu di dagu Moedya, membuat si pemiliknya tersenyum lebar.
"Jangan nakal!" Bisik Moedya membuat Arumi tersipu. Akan tetapi, suasana malam itu terasa begitu indah. Sayang sekali untuk dilewatkan.
"Mendekatlah!" Bisik Moedya lagi.
Arumi kemudian memajukan tubuhnya sehingga kini ia seakan duduk di atas pangkuan Moedya. Pria itu pun merangkul pinggang ramping Arumi dengan hangat.
"Beri aku satu ciuman!" Pinta Moedya.
"Banyak pun pasti akan kuberikan," sahut Arumi kemudian mulai menyentuh bibir Moedya dengan lembut dan segera berbalas dengan lumat•an yang menggairahkan dari pria itu.
Makin lama, ciuman itu semakin terasa panas. Terlebih ketika Moedya menurunkan blazer yang dikenakan Arumi dan mengekspos pundak serta lehernya yang indah. Moedya pun mulai menjalarkan ciumannya ke sana, membuat Arumi berkali-kali menggelinjang yang disertai dengan de•sahan-de•sahan kecilnya yang manja. Malam itu, suasana di sana menjadi tidak terlalu sepi dan dingin lagi.
Arumi segera tersadar dari lamunanya. "Aku ingat semuanya, Moedya," ucap gadis itu dengan perlahan.