
Edgar tidak langsung menanggapi ucapan Arumi. Berkali-kali ia membetulkan mantel yang dikenakannya saat itu. Ia juga terlihat salah tingkah.
Edgar merasa bingung harus berkata apa. Sementara Arumi masih menunggu pernyataan dari pria itu. Ia ingin sebuah jawaban yang masuk akal tentunya.
Ditatapnya wajah tampan yang tidak ia lihat selama beberapa hari ini. Sejujurnya jika Arumi sangat merindukan sang kekasih yang kini sudah berada di hadapannya. Akan tetapi, karena adanya penguntit itu maka semua rasa rindu Arumi tiba-tiba menguap begitu saja.
Arumi masih berdiri dengan angkuhnya. Dilipatnya kedua tangannya di dada. Tatapan tajam pun masih terus ia layangkan kepada Edgar yang saat itu semakin terlihat kikuk.
Arumi terus memberi isyarat agar Edgar segera bicara. Akan tetapi, pria rupawan itu masih berpikir dan mungkin tengah merangkaikan kata-kata yang paling tepat untuk ia sampaikan kepada Arumi.
“Jadi, tuan Hillaire yang pria itu sebutkan memang dirimu?” Selidik Arumi dengan nada dan rona kecewa. Edgar iagi-lagi tidak menjawab. Pria itu hanya mengusap-usap keningnya untuk sesaat.
“Ayo, Ed! Bicaralah!” Arumi tidak dapat bersikap sabar lagi. Ia sudah tidak tahan untuk mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya.
“Sejak kapan kamu menjadi seorang pengecut seperti itu?”
“Arum ....” Edgar terlihat sedikit memohon. Sementara Arumi tampak mengusap-usap kedua lengannya. Udara malam itu terasa begitu dingin, sementara Arumi malam itu hanya memakai mini dress lengan pendek.
Menyadari hal itu, Edgar segera melepas mantel yang dipakainya. Ia kemudian melingkarkan mantel itu di tubuh Arumi, membuat gadis itu sedikit meluluhkan tatapan tajam dan ekspresi marahnya. “Sorry,” ucap Edgar pelan.
“Hanya itu?” Arumi tampak mengernyitkan keningnya. Rasa marahnya kembali hadir.
Edgar menatap wajah gadis pujaannya dengan lekat. Ia merasa bingung harus menjelaskan seperti apa kepada Arumi. Semua yang ia lakukan demi menjaga Arumi, ternyata justru membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
“Arum, dengarkan aku, Sayang!” Edgar mencoba untuk menenangkan gadis itu. Ia sangat tahu akan watak Arumi yang agak keras dan pembangkang. “Sayang, aku melakukan semua ini demi dirimu,” ucap Edgar.
“Demi diriku? Kamu mengirimkan seorang penguntit demi diriku?” Protes Arumi tidak mengerti. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
“Kamu terlihat sangat bodoh, Ed!” Tunjuk Arumi dengan begitu jengkel.
“Baiklah, aku minta maaf karena aku sudah melakukan hal yang bodoh. Namun, aku yakinkan padamu jika aku melakukan semua ini untuk manjagamu, Arum!” Terang Edgar lagi. Ia mencoba untuk memegang kedua tangan Arumi. Akan tetapi, dengan segera Arumi menepiskannya.
“Menjagaku dari apa? Kenapa kamu menjadi sangat posesif, Ed? Kamu pikir aku terlalu nakal sehingga kamu tidak dapat memercayaiku sama sekali? Kenapa kamu sangat keterlaluan? Aku tidak sejahat itu, Ed!” Arumi tampak kecewa dengan sikap Edgar.
“Tidak, Babe! Aku sama sekali tidak pernah meragukanmu. Aku tahu jika kamu adalah pacar yang setia. Kita pernah pacaran dulu, dan aku sudah sangat mengenalmu,” bantah Edgar seraya menangkup wajah Arumi. Akan tetapi, dengan segera gadis itu lagi-lagi menepiskan tangan Edgar dari wajahnya.
“Lalu kenapa kamu menyuruh seseorang untuk mengawsiku, Ed? Kamu tidak tahu jika aku sangat ketakutan! Aku menjadi sangat tidak nyaman dan merasa jika dunia ini terasa begitu sempit bagiku!” Protes Arumi dengan tegas.
"Malam ini ... malam ini adalah malam yang sangat menakutkan bagiku! Itu semua karena pria tegap yang kamu kirimkan untuk menguntitku!" Tegas Arumi lagi.
Dipenganginya kedua lengan gadis itu. Ia mencoba untuk memeluk Arumi, meski gadis itu terus menolaknya. “Ayolah, Babe kumohon!” Pinta Edgar. Akan tetapi, Arumi tidak peduli. Kemarahan yang ia pendam sejak tadi sudah tidak dapat ia tahan lagi.
“Arum, dengarkan aku!” Pinta Edgar dengan tulus.
“Aku muak padamu, Ed! Kamu telah bersikap sangat keterlaluan! Kamu telah membuatku merasa tengah menjalani hidup dalam sebuah teror yang menakutkan!”
“Aku tidak bermaksud melakukannya. Aku hanya ingin memastikan agar keadaanmu baik-baik saja!’ Tegas Edgar.
“Dengan mengirimkan seorang penguntit? Pria itu bahkan mengikutiku hingga ke toilet! Apa itu yang kamu inginkan?”
Edgar tertegun mendegar ucapan Arumi. Ia lalu mengernyitkan keningnya. “Tentu saja tidak. Aku tidak pernah menyuruhya untuk melakukan hal seperti itu,” sanggah Edgar.
“Namun. memang seperti itulah kenyataannya, Tuan Hillaire!” Tegas Arumi lagi masih dengan nada bicaranya yang terdengar sangat kesal.
Edgar kembali terdiam. Ia meletakan kedua tangannya di pinggang, sesekali ia menggaruk alisnya dan menyentuh ujung hidung dengan punggung tangannya. Beberapa saat kemudian, Edgar lalu kambali menghadap kepada Arumi yang masih menatapnya dengan penuh kemarahan. Ia berdiri di tepat di hadapan gadis itu seraya menggosok-gosokan kedua telapak tangannya.
“Arum ... Sayang. Aku bisa menjelaskan semua ini padamu. Sungguh, aku melakukannya demi dirimu. Aku sangat mencemaskanmu, sedangakn aku tidak bisa terus-menerus mengawasimu secara langsung dan memastikan keadaanmu. Aku tidak pernah bermaksud untuk menakutimu sama sekali. Jika memang orang suruhanku telah berbuat diluar batas, maka aku pasti akan membuat perhitungan dengannya. Namun, ada satu hal yang jauh lebih penting, Babe. Keselamatanmu,” tutur Edgar. Ia terus berusaha untuk selalu bersikap lembut kepada Arumi meski gadis itu bersikap sebaliknya.
Arumi masih terdiam. Ia menatap Edgar dengan begitu lekat. Gadis itu merasa semakin tidak mengerti dengan maksud dari ucapan pria yang ada di hadapannya. “Buat aku mengerti, Ed!” Pinta Arum dengan nada bicara yang jauh lebih tenang.
Edgar tersenyum kecil. Disentuhnya wajah cantik Arumi dengan lembut. “Aku akan menjelaskan semuanya padamu, tapi tidak malam ini. Bagaimana jika kita bertemu lagi besok? Aku menginap di salah hotel dekat pelabuhan. Jika kamu mau, kita bisa makan siang bersama besok,” tawar Edgar dengan sorot matanya yang sangat teduh.
Bagaimana Arumi bisa menolak senyuman dengan tatapan seperti itu. Kenapa ia merasa begitu lemah? Kenapa pesona Edgar selalu dapat menghipnotisnya bahkan di saat ia sedang marah sekalipun, hal itu tidak pernah berubah.
Arumi menundukan wajahnya. “Aku harap kamu punya penjelasan yang masuk akal,” ucap Arumi pelan.
Edgar mengguman pelan. Senyuman itu masih terlihat di bibirnya. Perlahan disentuhnya dagu Arumi dan diangkatnya hingga gadis itu tak lagi menyembunyikan wajah cantiknya.
Ada rasa rindu yang harus segera segera ia sampaikan kepada gadis itu. Sesuatu yang selalu mengalahkan semua kemarahan dan rasa lelah yang menghampiri Edgar dalam dua hari terakhir.
Disentuhnya permukaan bibir Arumi dengan mesra. Gadis itupun tidak menolaknya sama sekali. Arumi menyukai dan akan selalu merindukan hal itu.
Berpisah beberapa hari dari Edgar, ternyata telah membuat rasa rindu dalam diri Arumi kian membuncah. Untuk sesaat, mereka terhanyut dan saling melepas rindu. Sementara malam kian larut dan udara terasa semakin dingin. Mereka juga tidak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang terus mengawasi dari balik kaca mobilnya.