Kabut Di Hati Arumi

Kabut Di Hati Arumi
Paris Brest


Hari itu, Arumi melaksanakan niatnya untuk menemui Ranum. Rasa rindu dan haru bercampur menjadi satu, ketika ia berada di hadapan wanita cantik yang tengah duduk bersandar pada kepala tempat tidurnya.


Dipeluknya wanita itu dengan penuh kasih sayang. Ranum pun membalasnya dengan tanpa ragu. Ia bahkan berkali-kali mencium kening Arumi dengan lembut, seakan Arumi adalah putri kandungnya.


Arumi tidak menyangka, karena ternyata Ranum tidak pernah berubah. Sikapnya masih sama seperti dulu. Wanita itu masih bersedia untuk menerima dirinya dengan tangan terbuka.


"Apa kabar, Arum?" Sapa Ranum dengan suaranya yang sedikit parau. Wajah cantiknya terlihat sedikit pucat, namun ia tetap berusaha untuk tersenyum kepada Arumi.


"Kabarku baik, Bu. Akan tetapi ... aku tidak pernah merasa jauh lebih baik dari tiga tahun yang lalu," lirih Arumi.


Ranum tersenyum lembut. Ia lalu mengelus wajah cantik Arumi selayaknya seorang ibu terhadap putrinya. Ia tahu jika saat ini, ada kabut pekat yang tengah menyelimuti hati gadis manis yang beradadi hadapannya.


"Jangan dipendam sendiri, Sayang! Ibu tahu apa yang kamu rasakan," ucap Ranum dengan suara lembutnya.


"Aku merasa sangat terbebani. Tolong maafkan aku, Bu! Aku benar-benar tidak bermaksud melakukannya," lirih Arumi.


"Aku masih mempunyai hutang sebuah penjelasan kepada Ibu. Akan tetapi, aku tidak berani untuk kemari dan berbicara secara langsung," Arumi meremas jemari tangan kiri Ranum. Ia lalu tertunduk. Rasa sesal memenuhi relung hatinya yang paling dalam.


Tersungging sebuah senyuman lembut di wajah cantik wanita setengah abad itu. Tangannya begitu halus membelai rambut Arumi dengan sanggul acak-acakannya.


"Ibu sudah memaafkanmu sejak dulu, Arum. Jauh sebelum hari ini, sebelum kamu datang kemari dengan wajah tertunduk seperti ini," ucap Ranum. Kata-katanya semakin membuat Arumi merasa kian bersalah.


Tanpa berpikir terlalu lama, Arumi segera merangkul wanita yang dulu akan menjadi calon ibu mertuanya. Ia menangis dan menumpahkan segala kesedihannya, di pundak wanita dengan cardigan rajut merah hati itu. Arumi seakan ingin membebaskan air mata yang selama ini tertahan dan hanya ia pendam sendiri.


"Aku sangat merindukan ibuku. Aku juga sangat merindukan Ibu Ranum," isak Arumi seraya melepaskan pelukannya dengan perlahan.


"Sering-seringlah datang kemari. Ibu sekarang lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Salon dan butik sudah diurus semuanya oleh keponakan. Tidak mungkin juga Ibu menyerahkan kedua bisnis itu kepada Moedya," Ranum mengakhiri ucapannya dengan sebuah candaan.


Arumi pun tertawa pelan dan menganggukan kepalanya.


"Ibu rasa, tiga tahun adalah waktu yang sangat panjang bagi kalian berdua untuk saling merenung. Apa lagi yang kalian tunggu? Hilangkan keegoisan di antara kalian berdua!" Saran Ranum. Ia kembali mengelus lembut rambut Arumi.


Arumi kembali tersenyum. Ia pun mengangguk pelan. Akan tetapi, ia tidak ingin terlalu cepat mengambil keputusan.


"Aku masih punya pekerjaan. Kapan-kapan aku akan kemari lagi," ucap Arumi. Ia lalu beranjak dari duduknya dan kembali memeluk Ranum. Sesaaat kemudian, Ranum melirik kresek putih yang Arumi letakan di atas meja kecil sebelah tempat tidurnya. "Terima kasih, Sayang," ucap Ranum dengan senyum hangatnya.


Arumi melirik kresek putih itu dan tersenyum. "Aku harap Ibu merindukannya," balas Arumi pelan.


"Ada yang jauh lebih merindukannya," balas Ranum, membuat Arumi tersipu malu.


"Baiklah. Aku pamit dulu, Bu," ucap Arumi lagi. "Semoga Ibu lekas pulih," lanjutnya.


Ranum mengangguk diiringi sebuah senyuman hangat. Begitu bersahabat dan membuat Arumi merasa kembali menemukan cinta Ryanthi yang kini telah tiada.


Dengan tatapan nanar, Ranum memperhatikan gadis yang kini telah menghilang di balik pintu kamarnya. Ia teringat akan masa lalunya bersama Arya. Ranum melihat dirinya dalam diri Arumi, karena itulah ia sangat menyayangi gadis itu.


Melangkah dengan tenangnya, Arumi meninggalkan halaman rumah Ranum. Tidak berselang lama, Moedya muncul dengan motor retronya. Ia terlihat membawa sebuah kresek kecil berwarna putih.


Moedya langsung menuju kamar sang ibu yang berada di lorong dekat tangga. Ia melangkah dengan sangat gagah, tanpa melepas jaket kulit yang dikenakannya.


"Ini obatnya!" Moedya menyodorkan kresek putih yang dibawanya. "Kenapa Ibu tidak periksa saja ke dokter?" Saran Moedya sambil duduk di tepian tempat tidurnya dan menghadap ke arah Ranum berada.


"Tidak usah! Ibu tidak sakit, hanya sedikit tidak enak badan," tolak Ranum.


"Tidak sakit tapi sepanjang hari berdiam diri di atas tempat tidur," sindir Moedya dengan halus. Ia lupa jika ia sedang berbicara dengan ibunya.


Ranum tertawa pelan. "Ibu pernah melakukan hal seperti ini dulu, saat Ibu sedang mengandungmu," terang Ranum dengan entengnya.


"Ya ... aku harap saat ini Ibu tidak sedang mengandung," celetuk Moedya membuat Ranum seketika melotot tajam ke arahnya. Sementara Moedya hanya terkekeh karena merasa senang telah menggoda sang ibu. Sesaat kemudian, Moedya lalu beranjak dari duduknya.


"Aku harus kembali ke bengkel. Kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungiku!" Pesan pria berambut gondrong yang kini telah berusia tiga puluh tahun itu.


"Hmm ... sejak kapan Ibu merasa sungkan kepadamu?" Sahut Ranum.


Moedya kemudian mendekati sang ibu. Ia membungkukan badannya dan mencium hangat kening Ranum. "Baik-baik di rumah! Aku tidak akan pulang terlalu sore. Lagi pula hari ini pekerjaanku tidak terlalu banyak," ujar Moedua lagi.


Ranum kembali tersenyum. Ia lalu menyodorkan kresek obat yang tadi di bawa Moedya. "Tolong simpan di sana!" Suruh wanita itu seraya menunjuk pada meja di mana terdapat kresek putih dengan ukuran yang jauh lebih besar. Moedya pun menurut saja.


Sesaat, tatapannya tertuju pada isi kresek tadi. Ia tahu betul dengan box berwarna jingga keemasan itu. Moedya pun menghela napas panjang dan kembali mengalihkan tatapannya kepada sang ibu.


"Apakah Arumi kemari?" Tanya Moedya dengan wajah yang tiba-tiba tidak berseri.


"Ya, dia baru saja pulang saat kamu datang," sahut Ranum dengan tenangnya.


Moedya tampak berpikir. Entah apa yang telah mengganggunya. "Untuk apa dia kemari?" Tanya pria itu lagi. Ia seakan tidak tahu harus menanyakan hal apa kepada sang ibu.


"Tentu saja menjenguk Ibu, memangnya kamu pikir apa?" Sahut Ranum masih dengan gaya bicara yang sama. "Arumi bahkan tidak menanyakanmu sama sekali," lanjut Ranum.


Moedya mengernyitkan keningnya. Ia pun mengorek telinganya yang terasa gatal. "Oh, ya?" Tanyanya dengan nada tidak percaya.


"Ya," sahut Ranum lagi dengan tak acuh. "Mungkin dia sudah benar-benar melupakanmu," ucap Ranum membuat hati Moedya kian gelisah. Pria itu pun manggut-manggut pelan.


"Ya, tentu saja. Tidak akan sulit baginya untuk dapat melupakan aku," sahut Moedya. Ucapannya terdengar sangat tenang, namun raut wajahnya mengatakan hal lain. Ia terlihat tidak nyaman.


Ranum tersenyum kecil. Ia sangat mengenal putra semata wayangnya. Ia tahu jika Moedya tidak suka dengan apa yang diucapkannya tadi. Mungkin Moedya kecewa karenanya.


"Bukannya kamu juga sudah melupakannya, Sayang?" Pancing Ranum.


Moedya terdiam. Ia tahu jika sang ibu tengah memancingnya. Akan tetapi, ia tidak akan dengan mudahnya masuk ke dalam jebakan. Moedya lalu tertawa pelan. "Jangan memancingku, Bu!" Cegah Moedya seraya berlalu menuju pintu. "Aku menyayangimu ...." ucapnya lagi sebelum benar-benar menghilang di balik pintu itu.


"Hei ... Juna!" Panggil Ranum dengan cukup nyaring, membuat Moedya kembali melongo dari balik pintu.


"Bawa itu untukmu! Ibu rasa kamu jauh lebih merindukan makanan itu," ujar Ranum. Ia tengah menggoda Moedya. Ranum tahu jika Moedya tidak akan pernah dapat menolak Paris Brest buatan tangan Arumi.


Moedya tertawa pelan seraya kembali masuk. Ia melangkah ke arah meja kecil di sebelah tempat tidur Ranum dan meraih kresek putih itu. "Ibu memang sangat mengenalku," ucapnya sambil kembali berlalu dari dalam kamar sang ibu.


Ranum kembali tersenyum. Meskipun ia tidak mendapat jawaban dari Moedya, namun ia tahu jika putra sulungnya masih merasa terganggu jika ia menyebutkan nama Arumi di hadapannya.