
Beberapa hari kemudian.
Arumi tengah sibuk membereskan semua barang-barangnya ke dalam koper, karena rencananya besok ia akan kembali ke Indonesia.
Ada rasa senang, sekaligus sedih yang Arumi rasakan di dalam hatinya. Senang, karena ia akan pulang untuk mengurus segala persiapan pernikahannya dengan Edgar. Sedih, karena ia akan berpisah lagi untuk jangka waktu yang cukup lama dengan sang kekasih.
Paris. Kota yang akan selalu menghadirkan sebuah cerita yang mendebarkan untuknya. Ia merasa begitu takut, tapi juga merasa sangat bahagia. Masih terbayang dalam ingatan Arumi, ketika ia melihat Edgar yang berlari mengejar mobil yang membawanya pergi ke ‘Kandang Babi’. Saat itu, Edgar terlihat begitu maskulin. Ia begitu pemberani dan mengagumkan.
Arumi kemudian tersenyum kecil. Ia merasa terkesan akan hal itu. Arumi merasa jika dirinya begitu istimewa. Gadis itupun segera menyudahi kegiatannya dengan isi koper. Ia memutuskan untuk mampir sebentar ke ruang kerja sang kekasih dan menyapanya.
Berdiri sejenak, Arumi tertegun tidak jauh dari ruang kerja Edgar. Gadis itu kemudian merapikan baju dan rambutnya. Setelah itu, ia lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang terletak di ujung lorong.
Tanpa permisi terlebih dahulu, gadis itu langsung saja membuka pintu dan memerlihatkan gaya yang cukup sensual sambil berdiri di pintu. "Hai, Tampan!" sapanya dengan gaya bicara yang sangat menggoda.
Namun, dengan segera Arumi memperbaiki sikap berdirinya yang sangat berlebihan itu. Arumi terlihat sangat malu. Ternyata, Edgar tengah asyik berbincang-bincang bersama Keanu di ruangan itu. Keanu baru pulang dari Marseille kemarin.
Keanu dan Edgar menatap Arumi dengan aneh. Kedua pria itu mengernyitkan keningnya karena melihat tingkah aneh gadis itu. Sementara Arumi hanya mampu tersenyum kikuk. Ia menjadi terlihat salah tingkah dan mati gaya.
“Sorry. Aku pikir ... ya sudah, aku kembali saja,” Arumi membalikan badannya dan bermaksud untuk pergi dari sana. Akan tetapi, terdengar Keanu memanggil namanya. Arumi tertegun. Sejujurnya ia merasa sangat malu dan tidak berani menatap sang kakak.
“Aku harus menemui Puspa dulu,” ucap Keanu seraya melangkah keluar dari ruangan itu sambil menahan tawanya. Sementara Edgar masih memerhatikan Arumi seraya tersenyum tipis.
Arumi menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Namun, ia tidak tahu harus melakukan apa, terlebih saat itu Edgar mulai beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah di mana Arumi berdiri.
Gugup dan semakin tidak tahu harus berbuat apa. Arumi hanya menundukan wajahnya karena merasa malu, apalagi saat itu Edgar berdiri tepat di hadapannya.
“Kenapa, Arum?” tanya Edgar pelan. Ia masih memerhatikan gadis itu dengan cukup lekat.
Arumi tidak segera menjawab. Semua hal yang sejak tadi ada di dalam kepalanya, sirna seketika dan memudar bagaikan asap tipis yang tertiup angin. Sambil terus menundukan wajahnya, Arumi hanya menggeleng pelan.
Edgar tersenyum seraya menggumam pelan. Disentuhnya dagu gadis cantik itu dan diangkat perlahan, hingga wajah Arumi sedikit mendongak. “Sejak kapan kamu menjadi pemalu?” tanyanya dengan setengah berbisik.
Meskipun sedikit risih, Arumi memaksakan dirinya untuk tersenyum. “Aku pikir kamu sedang sendiri,” ujarnya. Akhirnya ia berani mengeluarkan suaranya.
Edgar terus menatap wajah cantik itu. Sebagai seorang pria yang dulunya selalu dikelilingi banyak gadis, ia sepertinya telah mengerti akan maksud dari gadis itu. Namun, Edgar ingin sedikit bermain-main terlebih dahulu.
“Memangnya kenapa jika aku sedang sendirian di sini?” pancingnya. Sebuah pertanyaan jebakan yang membuat Arumi merasa serba salah untuk menjawabnya.
Arumi bukan tipe orang yang pandai menyembunyikan perasaan. Gadis itu termasuk seseorang yang mudah ditebak. Orang yang ada di hadapannya, akan langsung mengetahui apa yang sedang dirasakan olehnya.
Arumi akan terlihat sangat ceria jika ia sedang bahagia, dan ia akan terlihat murung ketika dirinya sedang merasa sedih ataupun kesal. Saat merasa kesal, maka ia akan segera marah dan melampiaskan kekesalannya. Lalu, kenapa ia harus tersipu malu di depan Edgar saat ini?
“Aku akan berangkat besok ... jadi ... um ....” Arumi membalikan badannya hingga membelakangi Edgar. Ia meringis kecil sambil menggigit bibirnya perlahan. Ia merasa jika dirinya terlihat sangat konyol saat itu.
“Jangan katakan jika kamu tidak ingin pulang,” ujar Edgar yang tiba-tiba berada tepat di belakang Arumi. Ia juga meletakan dagunya dengan nyaman di atas pundak kekasih hatinya, yang saat itu memakai tunik rajut lengan panjang.
“Tentu saja aku harus pulang,” sanggah Arumi pelan. Dalam hati ia mulai bersorak riang saat kedua tangan Edgar mulai melingkar di perutnya.
“Apa kamu sedih kita akan kembali berpisah, Babe?” bisik Edgar. Sesekali ia mencium pundak Arumi dangan lembut. Sebuah ciuman yang tidak berselang lama, mulai menjalar ke leher gadis itu dan membuat Arumi terbuai hingga ia memejamkan kedua matanya.
“Jangan tanyakan bagaimana perasaanku, Arum!” ucap Edgar lagi dengan pelan, padahal Arumi belum berkata apa-apa. Namun, sepertinya Edgar sudah dapat menebak apa yang akan Arumi katakan kepada dirinya.
“Apa kamu akan segera menyusulku ke Indonesia?” tanya Arumi. Ia terdengar seperti seorang anak yang akan berpisah dengan orang tuanya. Gadis itu terdengar begitu resah dan seakan enggan untuk melangkah keluar, dari dalam kediaman mewah sang kekasih.
“Tentu saja. Aku akan mengurus segala hal di sini. Mungkin aku juga akan mengajak bibi Carmen ke sana. Ia sudah seperti ibu kandung bagiku, Arum,” sahut Edgar. Terdengar helaan napas berat pria itu yang begitu jelas di telinga Arumi, berhubung saat itu wajah Edgar berada tepat di samping wajahnya.
Arumi meliriknya seraya tersenyum lembut. Edgar segera membalas lirikan gadis itu. “Aku sudah terbiasa hidup sendiri, Arum. Namun, kini rasanya aku menjadi takut dengan rasa sepi,” ujar pria dengan janggut yang mulai menebal itu.
Arumi masih menyunggingkan senyuman lembutnya. “Kamu bisa mencari banyak kesibukan, Ed. Apa kamu masih suka sepak bola?”
“Always,” jawab Edgar dengan segera.
Arumi kemudian membalikan badannya, sedangkan tangan Edgar masih melingkar di pinggangnya. Sementara itu, tangan Arumi melingkar di leher sang kekasih.
Kembali terbayang di pelupuk mata Arumi, ketika Edgar mengejarnya di hari nahas itu. Entah kenapa bayangan itu terus muncul di benaknya.
Arumi tahu jika Edgar sanggup melakukan apapun demi dirinya. Namun, jika ini merupakan sebuah hukuman baginya, maka ia sudah sangat menyesalkan segala sikapnya. Kini, ia benar-benar menghadap pada pria itu, dan akan selalu menatapnya dengan penuh cinta.
“Ayo kita jalan-jalan!” ajak Edgar. Arumi menoleh ke arah jendela. Di luar sedang turun hujan, meski tidak terlalu deras.
Musim gugur telah tiba dan membawa aura muram yang sebenarnya terasa begitu syahdu. Arumi kembali mengalihkan tatapannya kepada Edgar. Gadis itu mengernyitkan keningnya dan seakan hendak protes kepada pria tampan di hadapannya. Akan tetapi, sebelum Arumi sempat melayangkan protesnya, Edgar telah terlebih dahulu menarik tangan gadis itu dan membawa Arumi keluar dari ruang kerjanya.
Arumi yang saat itu hanya memakai tunik rajut sebatas lutut, tidak dibiarkan berganti pakaian dulu oleh Edgar. Pria itu langsung saja membawa Arumi masuk ke mobilnya.
“Mau ke mana kita?” tanya Arumi penasaran, ketika mobil yang dikendarai Edgar sudah melaju di jalanan.
“Berhubung ini hari terakhirmu di Paris, maka aku hanya ingin mengajakmu berkeliling. Kita masih bisa melakukan hal yang menyenangkan meskipun tanpa turun dari mobil,” sahut Edgar dengan tatapan matanya yang dalam.
Arumi tidak ingin protes. Ia memilih untuk duduk manis sambil menikmati jalanan kota Paris dari balik jendela kaca mobil yang basah. Ia akan sangat merindukan suasana seperti itu.
Wiper terus bergerak menyapu tetesan air di kaca depan mobil milik Edgar. Cuaca dingin pun tidak terlalu terasa saat itu. Arumi hanya ingin menikmati hari terakhirnya, sebelum ia kembali ke Indonesia.