
Edgar melangkah dengan gagahnya dalam balutan mantel panjang dan tebal berwarna hitam. Begitu juga dengan Arumi, penampilannya terlihat begitu manis dengan jaket tebal dan sepatu boots hitam yang dikenakannya saat itu. Mereka berdua turun dari mobil, dan berjalan berdampingan masuk ke dalam gedung megah itu.
Untuk sesaat, Edgar merasa aneh dengan suasana kantornya yang terasa sepi. Ia tertegun dan melirik Arumi. Wanita cantik dengan lipstik merah itu hanya mengernyitkan keningnya. “Apa kamu tidak salah melihat tanggal, Sayang?” tanya Arumi pelan. Ia juga ikut merasa heran dengan suasana kantor yang sangat sepi saat itu.
“Aku rasa tidak,” jawab Edgar. “Asistenku mengatakan jika aku harus datang hari ini karena ....” Edgar tidak sempat melanjutkan kata-katanya, ketika ia melihat Louisa muncul dan berjalan ke arah mereka. Wanita cantik dengan sanggul rapi itu tersenyum sopan kepada Edgar dan Arumi.
“Ada apa ini, Lou? Ke mana semua orang?” tanya Edgar dengan heran.
Louisa memerlihatkan ekspresi yang tidak baik-baik saja. Wanita muda itu seperti tengah merasa bingung. Ia juga tampak sangat cemas. “Itulah kenapa saya meminta Anda untuk datang, Pak. Semua karyawan di sini melakukan aksi mogok kerja hari ini,” lapornya dengan nada penuh sesal.
Mendengar hal itu, seketika raut wajah Edgar menjadi tampak sangat serius. Ia menatap tajam ke arah asistennya yang cantik. Sesekali, Edgar memicingkan matanya tanda tak mengerti sekaligus tas percaya dengan laporan dari asistennya yang berambut pirang itu.
“Apa maksudmu, Lou? Kenapa aku baru diberitahu sekarang? Lagi pula semua masalah perusahaan sudah terselesikan. Ada apa lagi ini?” Edgar menunjukan sikap resahnya meskipun dengan tidak terlalu berlebihan. Akan tetapi, merupakan hal yang wajar jika ia bersikap seperti itu.
“Ayo bicara di ruanganku!” ajak Edgar. Tidak lupa ia juga mengajak serta Arumi yang saat itu juga terlihat cukup tegang. Mereka memasuki lift khusus untuk para petinggi perusahaan.
“Sayang, apa semuanya baik-baik saja?” tanya Arumi. Ia berusaha menyembunyikan rasa cemasnya dari Edgar.
“Aku harap begitu,” jawab Edgar dengan datar. Ia masih tidak habis pikir dengan kabar yang diberitahukan oleh Louisa.
"Kau bilang aku harus kemari untuk memeriksa dan menandatangani file penting, karena itu aku mengajak serta istriku. Aku pikir ini tidak akan lama," keluh Edgar. Pria itu terlihat sedikit kesal.
"Maafkan saya, Pak. Saya bingung bagaimana cara menyampaikannya melalui telepon," jawab Louisa pelan. Wanita muda itu masih terlihat menyesalkan keadaan yang sedang terjadi.
"Kau pernah melakukan hal itu sebelumnya saat aku sedang berada di Indonesia!" bantah Edgar dengan tegas. Raut wajahnya terlihat tegang saat itu.
Mendengar nada bicara Edgar yang terkesan begitu kesal kepada asistennya, Arumi segera menggenggam erat jemari pria itu. Edgar lalu menoleh. Ditatapnya Arumi yang tersenyum lembut kepadanya. “Sudahlah, Sayang! Semoga tidak ada masalah yang terlalu serius,” ucap Arumi dengan nada bicaranya yang sangat lembut. Ia harus menenangkan sang suami agar tidak terbawa emosi.
Edgar tidak segera menjawab. Pria itu terlihat berpikir untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia kembali melirik sang istri untuk sejenak, sebelum akhirnya pintu lift terbuka dan ... Edgar saling pandang dengan Arumi ketika ia mendapati sebuah tulisan dengan ukuran cukup besar. Tulisan yang berisikan ucapan selamat atas pernikahan mereka berdua.
Louisa dan para karyawan lain yang merupakan perwakilan dari berbagai divisi di perusahaan itu, bertepuk tangan saat Edgar dan Arumi melangkah keluar dari dalam lift. Rupanya mereka telah menyiapkan sebuah pesta kejutan untuk dirinya dan juga Arumi.
Edgar merasa senang sekaligus tidak percaya dengan pesta kejutan itu. Begitu juga dengan Arumi. Ia berkali-kali melirik sang suami ketika menerima ucapan selamat dari para karyawan di perusahaan itu. “Aku harap sikap terkejut yang kamu tunjukan itu asli, Sayang,” bisik Arumi yang curiga jika ada campur tangan Edgar dalam pesta kejutan itu.
“Aku serius kali ini. Aku benar-benar tidak menyangka jika mereka melakukan hal ini,” balas Edgar dengan berbisik pula. Setelah itu ia kembali membalas jabat tangan dari para karyawan yang mengucapkan selamat terhadapnya dan juga Arumi.
“Maafkan saya, Pak. Saya tidak sempat menyiapkan pesta kejutan yang lebih dari ini. Waktu kami sangat terbatas,” ucap Louisa. Ia mengemukakan alasannya, meskipun itu tidak penting untuk Edgar.
“Ini sudah jauh lebih dari cukup,” ujar Edgar. “Aku dan istriku mengucapkan terima kasih atas pesta ini, dan kami berdua sangat-sangat terkejut. Ingatkan aku untuk memberimu bonus!” ucap Edgar dengan rona bahagianya. Ia melirik Arumi yang saat itu terlihat sama bahagianya dengan dirinya.
Hingga beberapa saat lamanya, Edgar dan Arumi menghabiskan waktu mereka di sana, dalam pesta sederhana yang diadakan karyawan perusahaan itu. Edgar berbaur dengan mereka dan melupakan sejenak jika ia adalah seorang bos besar di perusahaan itu. Tak ubahnya dengan Arumi. Wanita itu berusaha untuk mengakrabkan diri, meski ia tidak mengenal satupun di antara semua yang ada di sana.
Menjelang siang, sepasang pengantin baru itu melanjutkan acara jalan-jalan mereka. Edgar mengajak Arumi untuk berbelanja. Mereka membeli beberapa kebutuhan sehari-hari, terutama camilan. Edgar tahu betul jika Arumi bukanlah tipe wanita yang terlalu menjaga pola makannya dengan ketat. Namun, anehnya ia tetap memiliki tubuh yang indah dan ramping.
Dengan sabar, Edgar mendorong troley dan mengikuti sang istri yang terus berkeliling mencari barang-barang yang mereka butuhkan. Dalam hati kecilnya, pria yang akan berulang tahun pada bulan Juli itu, tersenyum bahagia.
"Jadi, seperti ini rasanya menjadi suami saat menemani istrinya berbelanja?" gumam Edgar sambil memasukan semua belanjaan itu ke dalam bagasi mobilnya.
Arumi tertawa geli. "Aku harap kamu tidak kapok melakukannya lagi, Sayang," sahutnya seraya menepuk pipi Edgar dengan lembut.
Edgar tertawa pelan seraya menutup pintu bagasi mobilnya. "Jika aku merasa kapok, maka itu sama saja dengan bunuh diri. Lagi pula, aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian, Sayang," balas Edgar seraya masuk dan duduk di belakang kemudi. Ia lalu memasang sabuk pengamannya yang diikuti oleh Arumi.
"Kenapa? Apa kamu merasa takut, Sayang?" tanya Arumi seraya melirik sang suami yang sudah mulai menyalakan mesin mobilnya.
Edgar terdiam untuk sejenak. Setelah itu, digenggamnya jemari lentik Arumi dan diciumnya dengan mesra. "Ya. Anggap saja begitu. Meskipun Ben masih mendekam di dalam penjara, tapi kita lihat sendiri jika Mirella dapat bebas dengan jaminan dan hanya menjadi tahanan kota," jawab Edgar dengan raut wajahnya yang terlihat sedikit resah.
Melihat hal itu, Arumi segera menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Edgar yang mulai menjalankan mobilnya, dan keluar dari area parkir swalayan tersebut. "Aku akan selalu aman jika bersamamu, Sayang. Jangan terlalu merasa khawatir. Kamu adalah pria yang hebat dan dapat menjagaku dengan baik. Aku yakin itu," ucap Arumi seraya mencium mesra pipi sang suami yang saat itu tengah fokus mengemudi.
"Aku sudah punya rencana, dan aku harap kamu setuju dengan rencanaku," ujar Edgar tanpa mengalihkan pandangannya kepada Arumi.
"Apa itu?" tanya Arumi. Ia masih menyandarkan kepalanya di lengan Edgar.
Edgar terdiam untuk sesaat. Ia seperti ragu untuk mengatakannya kepada Arumi. Sementara Arumi masih menunggu jawaban dari sang suami.
"Kenapa, Sayang?" desak Arumi.
Edgar menghentikan laju mobilnya di perempatan lampu merah. Setelah itu, ia melirik kepada Arumi. "Aku sudah menugaskan Henry untuk menjadi pengawal pribadimu," jawab Edgar dengan tenang, meskipun ia tahu jika Arumi tidak akan menyukai hal itu.