
"Dengar Juna!" Ranum kembali berbicara. "Kamu bukan anak remaja lagi! Usiamu sudah dewasa, Nak! Belajarlah untuk konsisten! Belajarlah untuk bertanggung jawab pada keputusan yang telah kamu ambil!" Tegas wanita setengah abad lebih itu.
"Kamu bukan pria yang bodoh! Ibu sangat mengenalmu. Ibu yang mendidikmu! Namun, kenapa kamu menjadi seperti ini?"
"Jangan lakukan hal yang macam-macam! Ingat jika kamu sampai menyakiti hati Diana, maka Ibu akan menggundulimu dengan tangan Ibu sendiri!" Ancam Ranum dengan tegas. Ia benar-benar gemas melihat sikap putranya.
Moedya tidak menjawab. Ia juga tidak berani menatap Ranum. Dalam hatinya, pria itu mengakui semua kebodohan yang telah ia lakukan selama ini. Ia juga menyadari jika dirinya memang seorang pecundang yang labil, tidak memiliki pendirian yang kuat.
Pada awalnya, Moedya merasa yakin dengan pertunangannya bersama Diana. Terlebih ketika ia melihat Arumi dan Edgar bersama-sama. Akan tetapi, setelah kejadian malam itu, Moedya kembali berpikir keras. Seharusnya pertunangan itu tidak pernah terjadi. Seharusnya ia melanjutkan niatnya untuk kembali pada gadis yang sangat ia cintai.
"Ibu mohon, Nak! Belajarlah untuk bersikap tegas dan teguhkan pendirianmu! Seharusnya kamu sudah belajar dari kisah cintamu dengan Delia! Namun, nyatanya ... kamu sama sekali tidak melakukan hal itu! Apa yang kamu cari, Nak? Apa yang kamu inginkan?" Ranum terlihat begitu resah. Sesaat kemudian, ditangkupnya wajah putra semata wayangnya. Moedya memang terlihat begitu kacau.
"Aku ingin Arum kembali padaku, Bu. Namun, aku tidak mampu untuk membawanya kembali!"
"Kamu sudah melepaskan semuanya, Juna! Kesempatanmu. Waktumu kamu buang percuma dengan berlari dan bersembunyi! Kenapa kamu membiarkan waktu tiga tahun itu berlalu dengan begitu saja? Kenapa kamu tidak berusaha untuk memperbaiki semuanya?" Protes Ranum.
"Kamu adalah seorang pria. Jangan andalkan Arumi! Arumi itu seorang gadis yang manis yang ... Ibu juga pernah berada di usianya. Setegas dan sekuat apa pun, wanita tetaplah seorang wanita! Kami menunggu. Ada harga diri yang harus kami pertahankan! Ada rasa malu yang harus selalu kami kedepankan! Seharusnya kamu datang padanya, dan tunjukan seberapa layaknya seorang Arjuna Moedya Aryatama untuk memilikinya! Namun, kamu justru malah berlari. Ibu pikir kamu tidak akan seperti itu, Nak! Namun, langkah yang kamu ambil memang sudah salah sejak awal," tandas Ranum dengan penuh kecewa.
"Baiklah, Bu. Salahkan aku!"
"Ya, kamu memang salah!"
Ranum menatap Moedya dengan tajam. Pria yang ada di hadapannya adalah pria dewasa. Haruskah ia memberi petuah kecil yang sudah sepantasnya telah Moedya ketahui? Ranum yakin jika Moedya bukanlah tidak memahami hal seperti itu.
Ya, tentu saja. Moedya sangat dekat dengan sang ayah. Arya banyak memberikan petuah dan juga kerap berbagi pengalaman hidup dengannya. Lalu, what's wrong with Moedya? Lagi-lagi, pertanyaan itu muncul begitu saja.
"Kamu putraku satu-satunya. Kamu adalah kebanggaan Ibu. Tolong, Nak! Jangan sampai kamu melakukan hal yang akan kamu sesali lagi!" Pesan Ranum. Setelah itu, ia berlalu membawa keresahan hatinya dan membiarkan Moedya untuk berpikir.
Sementara itu, Arumi sudah bersiap untuk pulang. Seperti ucapannya tadi, Edgar yang akan mengantarkannya pulang. Pria itu juga sudah terlihat segar dengan T Shirt panjangnya.
"Pulang sekarang, Arum?" Tanya Edgar seraya menaikan lengan T Shirt-nya.
"Ya. Aku sudah terlalu lama di sini," sahut Arumi.
"Justru aku merasa senang jika kamu bisa berlama-lama di sini," Edgar tersenyum dengan penuh godaan kepada Arumi. Akan tetapi, gadis itu segera menghindarinya. Ia belum siap untuk kembali ke dalam pesona pria manapun, termasuk Edgar Hilaire.
"Keanu tadi menghubungiku," ucap Edgar seraya mempersilakan Arumi untuk masuk terlebih dahulu ke dalam lift.
"Untuk apa?" Tanya Arumi dengan malas.
"Menanyakanmu. Dia terdengar sangat khawatir. Aku rasa sebaiknya kamu meminta maaf kepadanya!" Saran Edgar.
"Ed?" Arumi memecah kebisuan di antara mereka.
Edgar kemudian menoleh.
"Apakah cerita yang semalam kamu ...." Arumi tidak sempat melanjutkan kata-katanya. Ia melihat Edgar tersenyum kecil dan mengangguk pelan.
Arumi terdiam untuk sejenak. Sesaat kemudian, ia kembali bertanya, "Apa kamu tidak menyukai gadis berambut pirang?"
Pintu lift terbuka. Edgar mempersilakan Arumi untuk keluar. Mereka kini berada di basemen, di mana Edgar memarkikan mobilnya. Mereka pun berjalan beberapa langkah, hingga menuju mobil sedan hitam milik pria Perancis itu. Dengan segera, Edgar membukakan pintu mobilnya untuk Arumi.
"Terima kasih," ucap Arumi seraya masuk dan duduk. Tidak lupa, ia memasang sabuk pengamannya. Setelah itu, Edgar juga mulai masuk dan bersiap.
"Tidak semua gadis berambut pirang, Arum," ucap Edgar. Itu adalah jawaban untuk pertanyaan Arumi tadi. "Hanya si pirang yang nakal," lanjutnya. Beberapa saat kemudian, sedan hitam itu mulai bergerak dengan anggunnya.
"Apa kamu pernah bertemu lagi dengan ibu tirimu?" Arumi kembali bertanya. Entah kenapa, ia merasa begitu penasaran.
"Pernah. Sekitar dua atau tiga kali. Dia sudah tua, keriput, dan tidak bisa tebar pesona lagi. Dia tinggal di lingkungan yang terlihat sangat menyedihkan. Aku rasa mungkin itu balasan untuknya," tutur Edgar sambil terus fokus pada kemudinya.
"Kamu senang melihatnya seperti itu?" Arumi menatap wajah rupawan di balik kaca mata hitam yang dipakai olehnya. Edgar kemudian menoleh.
"Tidak, Arum. Aku tidak senang melihatnya seperti itu. Bagaimanapun juga, dia adalah seorang wanita tua yang harus tetap aku hormati. Aku tidak tega melihatnya," jawab Edgar.
Arumi masih menatap pria yang kini kembali fokus pada lalu lintas di depannya. Meskipun saat itu Edgar menyembunyikan tatapannya di balik kaca mata hitam, tapi Arumi seakan dapat merasakan tatapannya secara langsung.
Apakah itu merupakan sisi lain Edgar yang belum ia ketahui? Rupanya, dulu ia hanya melihat Edgar sebatas di permukaan saja. Edgar yang terlihat angkuh akan kekayaannya dan seakan dapat membeli apa pun, termasuk sebuah pelukan hangat dari para gadis.
Arumi kemudian mengalihkan tatapannya ke luar jendela. Jalanan panjang dengan hiruk pikuk napas perkotaan yang sangat membosankan. Mungkinkah ia butuh sedikit liburan agar pikirannya kembali segar?
"Berapa lama lagi kamu akan tinggal di Indonesia, Ed?" Tanya Arumi yang telah membuyarkan konsentrasi Edgar.
"Tidak lama lagi aku harus segera kembali ke Perancis. Aku harus segera merampungkan semua urusanku di sini," jawab Edgar.
"Apa ursanmu sudah selesai?" Tanya Arumi lagi.
"Sebagian. Memangnya kenapa?" Edgar melirik Arumi untuk sesaat.
Arumi tersenyum kecil. "Tidak apa-apa. Aku hanya merasa bosan. Bagaimana jika kita berlibur di resort milik kakak-ku?" Tawar Arumi yang tentu saja membuat Edgar mengernyitkan keningnya.